Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.
Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.
Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.
Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Pagi itu, mentari baru saja mengintip malu-malu dari ufuk timur, menyinari gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang mulai sibuk dengan hiruk pikuk aktivitas kota besar. Namun bagi Reno Wijaya, pagi ini bukan pagi biasa. Ini adalah pagi yang ia benci seumur hidupnya, pagi di mana ia harus meninggalkan segala kemegahan, kenyamanan, dan kekuasaannya yang selama ini ia miliki, demi menjalankan hukuman yang dijatuhkan oleh ayahnya sendiri.
Di halaman depan kediaman keluarga Wijaya yang luas dan mewah, dua koper besar berbahan kulit asli tergeletak di aspal. Isinya bukan lagi pakaian jas mahal, kemeja sutra, atau aksesori bermerek yang biasa Reno pakai setiap hari. Atas perintah tegas Pak Hartono, isinya hanyalah pakaian sederhana, kain katun polos, dan perlengkapan pribadi yang sangat mendasar, tak ada satu pun barang yang mencolok atau bernilai tinggi. Reno berdiri di sana dengan wajah masam, rahangnya mengeras menahan amarah yang meluap-luap. Ia mengenakan kaos oblong dan celana panjang biasa, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. Matanya melirik tajam ke arah mobil jeep tua berwarna hijau yang sudah terparkir menunggu, kendaraan yang akan membawanya menuju tempat pembuangannya, begitu pikirnya.
“Ingat pesan Ayah, Reno. Jangan coba-coba menghubungi siapa pun, jangan mencoba memanfaatkan nama atau uang, dan jangan pulang sebelum waktu dua tahun habis. Di sana, kamu bukan siapa-siapa. Kamu bukan CEO, bukan anak orang kaya, kamu hanya santri biasa. Dan satu lagi, jangan harap Ayah akan menolong atau memberi uang sepeser pun jika kamu melanggar aturan,” ucap Pak Hartono dengan nada tegas namun ada kilat kekhawatiran samar di matanya. Meski keras, dalam hati tua itu ia berharap perjalanan ini benar-benar menjadi obat bagi sifat anak tunggalnya yang sudah terlalu parah.
Reno hanya mendengus kasar, memalingkan wajah tak mau menatap ayahnya. “Sudah, Ayah tidak perlu ceramah panjang. Aku tahu tugasku. Aku akan pergi, aku akan menjalani hukuman bodoh ini, dan setelah dua tahun nanti aku pulang, aku harap Ayah sadar kalau semua ini cuma buang-buang waktu saja. Tempat macam itu tak akan bisa mengubah apa pun di diriku.”
Tanpa menunggu jawaban, Reno menyambar kopernya dan melemparnya ke bak mobil dengan kasar, lalu melompat naik ke kursi penumpang depan. Pintu dibanting keras, menutup segala perpisahan yang tak ia inginkan. Mobil pun melaju meninggalkan gerbang megah itu, meninggalkan kehidupan yang selama ini ia anggap segalanya, dan membawa Reno semakin jauh menuju sesuatu yang sama sekali tak ia kenal.
Perjalanan yang harus ditempuh sungguh melelahkan dan membuat frustrasi. Pesawat terbang mendarat di Bandara Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah, namun perjalanan belum berakhir. Justru di sini, siksaan yang sesungguhnya bagi Reno baru dimulai. Dari kota besar yang masih punya sedikit kemiripan dengan Jakarta, ia harus melanjutkan perjalanan darat menggunakan mobil jeep tua yang berguncang hebat, membelah jalanan tanah merah yang berdebu saat kering dan becek saat hujan. Jalanannya berlubang-lubang, sempit, dan di kiri-kanannya hanya terlihat hutan tropis yang lebat dan pepohonan raksasa yang seolah tak berujung. Tak ada sinyal telepon, tak ada jaringan internet, dan tak ada tanda-tanda peradaban manusia selain jalan tanah ini.
Berjam-jam lamanya Reno terpaku diam di kursi, matanya menatap kosong ke luar jendela. Debu halus masuk ke dalam mobil, membuat tenggorokannya kering dan pakaiannya kotor. Berkali-kali ia mengeluh dalam hati, mengumpat ayahnya, mengumpat nasibnya, dan bersumpah akan membalas semua ini begitu ia pulang nanti. Baginya, perjalanan ini rasanya seperti menuju ujung dunia, menuju tempat yang paling terasing dan menyedihkan di muka bumi ini.
Hingga akhirnya, saat matahari sudah mulai condong ke barat dan sinarnya berwarna keemasan, gerbang kayu besar yang kokoh tampak di depan mata. Di atasnya tertulis ukiran tangan yang rapi: PESANTREN AL-FALAH.
Reno turun dari mobil dengan gerakan malas dan wajah yang semakin masam. Kakinya terasa kaku karena duduk terlalu lama, dan saat sol sepatunya menyentuh tanah, ia langsung merasa jijik. Tanah merah yang lembap, rumput liar yang tumbuh sembarangan, dan aroma khas hutan bercampur sungai langsung menusuk hidungnya. Ia memandang sekeliling dengan tatapan meremehkan, menilai segala sesuatu yang ada di sini dengan standar kemewahan yang ia miliki sebelumnya.
Pemandangan di dalam pesantren ini memang luar biasa hijau dan asri. Dikelilingi pohon-pohon besar yang rindang, terdapat sungai besar yang airnya jernih sekali mengalir tenang membelah kawasan pesantren. Bangunan-bangunannya mayoritas terbuat dari kayu ulin yang kokoh dan tahan lama, berdiri tegak namun sederhana, ada yang bertiang tinggi, ada pula yang menempel tanah. Terlihat banyak anak muda, laki-laki maupun perempuan, berjalan beriringan dengan pakaian sopan: kemeja koko, sarung, atau gamis dan jilbab sederhana. Wajah-wajah mereka tampak bersih, cerah, dan penuh semangat, sesuatu yang sangat jarang Reno lihat di wajah orang-orang kota yang penuh tekanan dan kepalsuan.
Namun bagi Reno, semua ini tak lebih dari sekadar pemandangan kampung yang membosankan. Dasar orang desa. Dasar orang kampung. Semuanya terlihat miskin, sederhana, dan tidak berpendidikan, batinnya sinis. Ia merasa dirinya bagai raksasa yang tersesat di tengah kumpulan semut-semut kecil. Ia merasa posisinya di sini jauh di atas mereka semua, meski tubuhnya berdiri sama tinggi.
Saat ia masih sibuk meludah dalam hati dan menatap sekeliling dengan pandangan setengah mati, seorang lelaki tua berjalan pelan namun memancarkan wibawa yang tak bisa dijelaskan kata-kata menghampirinya. Itu adalah Kyai Ahmad, pendiri dan pemimpin tertinggi Pesantren Al-Falah. Lelaki yang usianya sudah menginjak hampir 75 tahun itu tampak sangat sederhana. Mengenakan jubah katun berwarna putih yang sudah agak kusam karena sering dicuci, bersandal jepit karet biasa, bersorban putih yang agak lusuh, dan wajahnya dipenuhi kerutan usia namun bersinar binar ketenangan yang mendalam. Sorot matanya teduh, lembut, namun tajam seolah bisa menembus sampai ke dasar hati manusia yang paling tersembunyi sekalipun.
Kyai Ahmad sama sekali tidak terpesona, tidak terkesan, bahkan tidak sedikit pun melirik koper-koper mahal Reno atau penampilan fisiknya. Beliau hanya mengangguk pelan, senyum tipis penuh kebijaksanaan menghiasi bibirnya yang keriput.
“Selamat datang, Nak Reno. Nama saya Ahmad. Ayahmu sudah memberitahu maksud kedatanganmu ke sini,” ucap Kyai Ahmad dengan suara berat namun lembut, suaranya menggema pelan namun jelas terdengar sampai ke telinga Reno. “Di sini, Nak, tidak ada gelar, tidak ada jabatan, dan tidak ada kekayaan. Semua sama rata di mata Tuhan, dan sama rata saat melangkah di halaman pesantren ini. Yang membedakan seseorang di sini hanyalah ketekunan dalam beribadah dan kehalusan akhlak yang dimilikinya. Semua orang sama, mulai dari saya sebagai pemimpin, hingga santri yang paling muda sekalipun.”
Mendengar itu, alis Reno langsung terangkat tinggi, ia tertawa kecil sinis. “Oh begitu? Semua sama? Maaf ya Pak Tua, tapi saya rasa itu cuma omong kosong biar terlihat sopan dan religius saja. Dunia ini jalannya pakai kasta, pakai harta, dan pakai kekuasaan. Dan saya, Reno Wijaya, bukan orang yang sama dengan mereka-mereka yang pakai baju lusuh ini,” jawabnya ketus, nada bicaranya tinggi dan tak ada rasa hormat sedikitpun.
Bukannya marah atau menegur kasar, Kyai Ahmad justru makin melebarkan senyumnya. Beliau seolah sudah menduga betul akan karakter anak muda yang ada di hadapannya ini. “Waktu yang akan menjawab semuanya, Nak. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Di sini kamu akan belajar banyak hal yang mungkin tidak pernah kamu temukan di sekolah mahal atau kantor gedung tinggimu dulu. Kita lihat nanti, siapa yang sebenarnya lebih mulia.”
Reno mendengus lagi, memalingkan wajah tak tertarik. Ia merasa lelaki tua ini terlalu sok bijak dan sok tahu.
Kyai Ahmad kemudian memanggil seorang santri muda yang tampak tegap dan ramah, namanya Dani, untuk mengantar Reno ke asrama laki-laki. Dani tersenyum sopan, menyapa dengan salam yang ramah, lalu berniat membantu mengangkat koper Reno. Namun dengan cepat Reno menepis tangan Dani dengan kasar.
“Jangan sentuh barang-barangku! Aku bisa bawa sendiri. Kamu jalan saja di depan, jangan sok akrab,” bentak Reno dingin. Dani terkejut, sedikit kaget namun tetap menahan senyumnya dan mengangguk patuh, lalu berjalan mendahului.
Perjalanan menuju kamar yang akan ditempatinya selama dua tahun ke depan membuat Reno makin ingin meledak marah. Bangunan asramanya berbentuk memanjang, terbuat dari kayu, berlantai papan yang sudah mulai retak di sana sini karena usia. Di dalamnya berjejer kamar-kamar berukuran kecil yang dipisahkan sekat kayu, dan di bagian tengahnya ada ruang terbuka bersama yang beralaskan tikar anyaman bambu. Baunya khas anyaman alami dan kayu tua, sesuatu yang sama sekali tak pernah Reno hirup seumur hidupnya.
“Ini kamarmu, Mas Reno. Semoga betah ya di sini,” ucap Dani sopan sambil membukakan pintu kayu nomor 17.
Reno melangkah masuk, dan begitu melihat isi ruangan itu, mulutnya langsung terbuka kaget lalu mengerut jijik. Ruangan itu berukuran sangat kecil, hanya sekitar 3x4 meter. Isinya sangat minim: hanya ada satu kasar kapuk tipis yang terlihat sudah lama, satu bantal yang kain sarungnya sederhana, satu selimut tipis, dan satu meja kayu kecil di sudut ruangan. Tidak ada kursi empuk, tidak ada lemari kaca, tidak ada AC, tidak ada kamar mandi di dalam, dan bahkan tidak ada colokan listrik yang terlihat jelas. Hanya ada satu jendela kayu yang terbuka lebar menghadap langsung ke arah pepohonan tinggi dan sungai yang mengalir tenang.
“GILA! AYAH GILA! Dia benar-benar mau membunuhku pelan-pelan di sini!” teriak Reno begitu Dani keluar dan menutup pintu. Ia melempar kopernya ke lantai dengan kasar, membuat debu halus beterbangan. Ia mengacak-acak rambutnya yang klimis, napasnya memburu karena emosi yang tak tertahankan.
Ia berjalan mondar-mandir sempit di ruangan itu, matanya menatap tajam segala sudut yang ada. Baginya, tempat ini bukan tempat tinggal manusia, melainkan kandang hewan atau penjara yang menyedihkan. Ia teringat kamarnya di Jakarta yang luasnya puluhan kali lipat ruangan ini, lengkap dengan segala kemewahan, fasilitas hiburan, dan kenyamanan kelas dunia. Perbedaannya bak langit dan bumi.
Sore itu dan malam itu Reno lewati dengan perasaan amarah, kecewa, dan kesepian yang luar biasa. Saat jam makan malam tiba, ia enggan sekali keluar. Namun karena perutnya sudah keroncongan, ia terpaksa melangkah ke ruang makan bersama. Di sana ia melihat santri-santri lain duduk bersila di atas tikar, makan dengan tenang dan rapi menggunakan tangan, saling berbagi lauk dan bercanda dengan riang. Di piring mereka hanya ada nasi hangat, sayur bening, dan sedikit tempe atau ikan asin.
Begitu melihat menu itu, Reno langsung kehilangan selera makannya. Ia mengambil porsi sedikit, duduk di pojok paling ujung menjauh dari kerumunan, dan makan dengan wajah masam. Rasanya tawar, hambar, jauh dari rasa mewah yang biasa ia santap setiap hari. Ia merasa ingin muntah, tapi ia tahu ia harus makan agar tetap hidup. Sepanjang makan, ia terus menatap orang-orang di sekelilingnya dengan pandangan sinis. Ia tak mengerti apa yang membuat mereka bisa tersenyum dan tertawa lebar di tengah kehidupan yang serba kekurangan dan sederhana begini.
Malam pertama tidur di Pesantren Al-Falah menjadi mimpi buruk nyata bagi Reno. Langit di luar gelap pekat, hanya diterangi cahaya bulan dan lampu-lampu bohlam yang redup. Suara jangkrik bersahutan nyaring, suara air sungai yang mengalir terdengar jelas, dan suara hewan malam lainnya membuatnya makin gelisah. Udara dingin menusuk tulang, tapi selimutnya terlalu tipis. Kasurnya keras, membuat punggungnya terasa sakit dan pegal-pegal. Ia berguling ke kiri dan ke kanan, tak bisa terpejam barang sedetik pun.
Dalam kegelapan malam itu, Reno duduk bersandar di dinding kayu yang dingin. Ia menatap langit-langit yang berlumut di sana sini, dan hatinya makin membara.
“Aku benci tempat ini! Aku benci semua orang di sini! Ini neraka! Aku tidak akan berubah! Aku tidak akan mau mengalah sedikitpun! Aku akan tetap menjadi Reno Wijaya yang hebat ini, meski di sini. Aku akan membuat mereka semua tahu siapa aku. Aku akan membuat mereka sadar, bahwa Reno Wijaya itu berbeda! Aku janji, dua tahun ini akan menjadi neraka bagi mereka juga, bukan cuma buatku!”
Batinnya bersumpah mati, mengeras sekeras batu karang. Ia sama sekali tidak tahu, di balik kedatangan yang penuh kebencian dan paksaan ini, takdir Tuhan sedang menyusun skenario yang jauh lebih indah. Di tempat yang ia anggap sampah dan tak berharga ini, benih-benih jati dirinya yang sesungguhnya sedang menunggu waktu untuk tumbuh. Dan di sini pula, ia akan segera bertemu sosok yang akan mengguncang seluruh dunianya, sosok yang perlahan tapi pasti akan mencairkan hatinya yang beku dan mengubah jalan hidupnya selamanya. Sosok itu bernama Zahrana. Namun saat ini, Reno masih buta, masih keras kepala, dan masih sangat jauh dari kenyataan itu. Baginya, Pesantren Al-Falah hanyalah tempat pembuangan, dan ia adalah tahanan yang terpaksa tinggal di sini.