Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah
Satu tahun berlalu.
Nyatanya, adegan manis di ruang tamu itu hanyalah awal dari sebuah rumah tangga yang kini terasa benar-benar hampa bagi Farhan. Akhir-akhir ini, ia sering pergi ke luar kota dengan alasan pekerjaan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Farhan memang sering ditugaskan ke bagian lapangan untuk meninjau proyek di luar kota, namun sejujurnya ia sedang mencari alasan agar tetap sibuk. Ia ingin menghindari rumah tangganya, atau lebih tepatnya, ia ingin menghindari Amira.
Perempuan itu masih saja menikmati perannya sebagai seorang istri . Salah satu cita-cita Amira yang ingin merenovasi rumah Farhan pun sudah terlaksana beberapa bulan setelah kondisinya pulih. Lihat saja perubahannya warna cat dinding yang dulunya berwarna netral dan lembut, kini didominasi warna merah muda pastel dan ungu lembayung. Lampu-lampu yang dulunya redup dan menenangkan, kini bersinar terang benderang di setiap sudut. Begitu pula halaman rumah yang awalnya hanya berisi tanaman hijau sederhana, sekarang berubah menjadi taman penuh warna dari bunga yang Amira tanam.
Perubahan inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan utama mengapa Farhan malas sekali pulang ke rumah lebih awal. Bahkan, beberapa kali selesai bekerja, ia memilih mampir ke rumah orang tuanya hanya sekadar untuk beristirahat sejenak dari lelah bekerja. Di sana, ada kamarnya yang tidak berubah masih sama persis seperti saat ia menempatinya bertahun-tahun lalu.
"Kamu pulang ke sini lagi?" tanya Mamah dengan nada penasaran, seolah heran melihat anak laki-lakinya lebih betah diam di rumah orang tua sendiri daripada di rumahnya. Farhan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu berjalan melewati ibunya dan menaiki tangga menuju lantai dua.
"Kamu ini, kalau orang tua ngomong ya didengarin, malah pergi gitu aja," ucap Ayumi kesal melihat sikap anaknya yang terkesan cuek.
Rumah Ayumi saat ini tampak sangat sibuk dan rame. Soalnya, dua minggu lagi akan ada pesta ulang tahun pernikahan Ayumi dan Arhan yang ke-30. Seluruh keluarga besar dari luar kota dilibatkan, kecuali satu orang Amira. Arhan sebenarnya pernah meminta istrinya agar mau melibatkan Amira juga, namun Ayumi menolak tegas. Dia bilang tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan Amira. Begitu juga dengan Farhan ia hanya menyarankan agar Amira cukup diundang hadir saat acara saja, tidak perlu terlibat dalam persiapan.
"Mah, beneran kamu nggak ajak Amira dalam persiapan acara kita? Semua keluarga dari luar kota aja kamu telepon, sedangkan Amira yang rumahnya dekat malah kamu lewati gitu aja," tanya Arhan sekali lagi, berusaha meyakinkan istrinya agar mau membuka hati pada menantunya itu.
"Masih masalah itu juga yang dibahas? Kan Mamah udah bilang, ga ada yang bisa dia lakukan. Memang dia bisa apa, Pah? Sudah, lebih baik nanti pas hari H aja dia datang sebagai tamu. Itu pun kalau dia nggak merasa minder bertemu orang-orang dari kalangan sosialita," ucapan Ayumi itu terdengar tajam dan tidak enak didengar. Seandainya Amira dengar langsung, pasti amira sakit hati.
"Mah, ini sudah setahun Farhan menikah sama Amira. Masih belum bisa ya menerima dia jadi bagian keluarga kita? Dia pasti sedih, Mah. Beberapa hari sekali dia selalu kirim makanan ke sini. Kalau Papah nggak liat dan terima langsung, mungkin makanan itu udah kamu kasi ke pekerja kita yang lain. Kamu sama sekali nggak menghargai niat baik Amira," Arhan benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir istrinya. Ia merasa kasihan pada Amira yang tidak pernah dianggap ada.
"Ya kan bukan selera Mamah, Pah. Daripada Mamah sakit perut , lebih baik dikasih ke orang lain, jadi nggak mubazir," jawab Ayumi santai, seolah ketidaksukaannya itu adalah hal yang paling wajar. Mendengar jawaban itu, Arhan memutuskan untuk menghentikan pembicaraan. Kalau diteruskan, ia yakin hanya akan memicu pertengkaran yang tidak ada habisnya.
"Terserah Mamah aja!" sahut Arhan dingin, lalu beranjak pergi meninggalkan istrinya.
Sementara itu, di rumah yang sepi, Amira sedang duduk menunggu kepulangan suaminya. Ia beranggapan Farhan pasti sedang lembur lagi di kantor. Padahal, sejak pukul lima sore, Farhan sudah pulang, tapi ke rumah orangtuanya. Baru pukul sembilan malam Farhan pulang ke rumahnya. Hal yang tidak akan pernah terlewatkan setiap kali ia pulang adalah sosok Amira yang sudah berdiri menunggu di depan pintu masuk, dengan senyum ramah dan wajah yang terlihat lega setiap kali melihatnya datang. Amira segera menghampiri dan mengambil tas kerja serta jas dari tangan suaminya.
"Lembur lagi, Mas?" tanya Amira dengan suara lembut, berusaha memahami kesibukan suaminya.
Farhan hanya mengangguk lelah sambil melangkah masuk dan mengunci pintu pagar. "Mas mau makan dulu atau mandi dulu?" tawar Amira, menawarkan dua hal yang selalu ia tanyakan setiap hari tanpa pernah absen.
"Aku udah makan sama teman-teman kantor tadi. Nggak enak kalau nolak ajakan mereka, soalnya mereka baru aja dapat proyek baru," jawab Farhan datar.
Di balik itu, hati Amira terasa sedih. Sejak sore tadi, ia sebenarnya sudah menahan rasa lapar, berharap bisa makan malam bersama suaminya. Namun, wanita itu hanya mampu mengangguk pelan dan tetap tersenyum, menyembunyikan kekecewaannya.
"Ya sudah kalau begitu. Aku siapkan air hangat buat mandi ya," ucapnya lembut. Saat Amira hendak berjalan menuju kamar untuk menyiapkan perlengkapan mandi, Farhan menahannya.
"Tidak usah, Sayang. Aku bisa sendiri. Kamu pasti sudah lelah seharian mengurus rumah. Sebaiknya kamu istirahat aja," tolak Farhan.
Amira merasa terkejut untuk kedua kalinya malam itu. Penolakan yang terdengar halus itu justru terasa menyayat hati. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada kesalahan yang ia buat? Namun, ia sadar betul bahwa penolakan seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi.
Amira tidak menjawab apa-apa lagi. Ia hanya meletakkan jas dan tas kerja milik suaminya di kursi yang ada di kamarnya, lalu berjalan menuju dapur untuk makan malam yang sudah sangat terlambat. Dengan perasaan yang kacau, Amira menyendokkan sedikit nasi ke piringnya, lalu mengambil lauk daging rica-rica dan sayur bening tauge menu yang sering ia masak karena kata orang-orang, makanan itu baik untuk kesehatan dan kesuburan .
Suapan demi suapan masuk ke mulutnya, namun gerakan mengunyahnya begitu lambat. Nasi yang seharusnya lembut dan mudah hancur di mulut, terasa begitu keras dan sulit ditelan, seperti sedang menelan batu. Tanpa disadari, air matanya mulai jatuh membasahi pipi. Menangis saat sedang makan seperti ini baru terjadi lagi setelah sekian lama terakhir kali ia menangis sesenggukan sambil makan adalah saat kedua orang tuanya meninggal dunia.
Di balik dinding pembatas ruangan, Ammar mengintip diam-diam. Ia pun ikut mengusap pipinya yang basah karena air mata. Sejak awal, Ammar sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi ia selalu menyimpannya dalam hati. Ia pikir, terlalu dini untuk menilai atau ikut campur urusan rumah tangga kakaknya. Namun, melihat kakaknya berjuang menahan rasa sakit dan menangis dalam diam membuat hatinya ikut perih. Berkali-kali ia menepuk dadanya sendiri, berusaha menahan sesak di dada.
"Rasanya aku ingin peluk Kakak, ingin menenangkan hatinya. Tapi aku takut, Kakak malah akan semakin sedih," batin Ammar. Ia pun kembali jalan pelan-pelan menuju kamarnya, membatalkan niatnya ke dapur untuk mengambil air minum.
Setelah memaksakan diri menghabiskan makanannya, Amira berjalan menuju kamar tidurnya. Di sana suasana sudah gelap gulita, seperti kebiasaan Farhan. Sejak perjanjian renovasi rumah dulu, Farhan hanya minta satu hal saat mau tidur, semua lampu harus dimatikan. Ia memang tidak bisa tidur kalau lampu menyala.
Amira menyalakan lampu kecil dari ponselnya untuk menuntun langkahnya menuju tempat tidur. Saat ia berbaring, ia menghadap ke arah Farhan, namun suaminya itu memunggunginya. Bahkan, setelah mereka melakukan hubungan suami istri pun, Farhan akan segera bangun membersihkan diri, lalu kembali berbaring memunggunginya persis seperti saat ini.
Amira sekali lagi meneteskan air mata. Tempat tidur ini terasa begitu luas dan kosong, seolah jarak di antara mereka berdua sangatlah jauh. Bahkan, Amira hampir tidak bisa menyentuh suaminya karena Farhan tidur menempel tepat di pinggiran kasur.
"Kamu kenapa, Mas? Apa aku ada salah?" tanya Amira sangat pelan, suaranya hampir tak terdengar, hanya cukup didengar oleh dirinya sendiri.