Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Semua mata tertuju pada secarik kain yang berada di tangan Shen Yu.
"Mata kami ada di dalam."
Tak ada yang menganggapnya sebagai ancaman kosong. Han Tian mematahkan pegangan kursinya tanpa sadar.
"Berani sekali mereka."
Yan Luo menggeleng pelan.
"Bukan berani. Mereka sedang menunjukkan kepercayaan diri."
Lin Xue tetap tenang. Ia mengambil panah hitam yang menancap pada tubuh elang emas, lalu mengamatinya dengan saksama.
"Panah ini bukan buatan Kuil Kegelapan."
Qin Feng ikut memperhatikan.
"Memang. Ini dibuat oleh pandai besi Kekaisaran Long."
Semua orang langsung saling berpandangan.
Mu Xueyi bertanya pelan,
"Berarti..."
Qin Feng mengangguk.
"Elang ini ditembak menggunakan senjata milik kekaisaran."
Pak Hong mengernyit.
"Mustahil. Persenjataan kekaisaran dijaga sangat ketat."
Lin Xue menggeleng.
"Tidak ada yang mustahil. Kalau mata-mata mereka sudah mampu menyusup ke Kota Qinghe bisa saja mereka juga telah menyusup ke istana."
Kalimat itu membuat suasana semakin berat.
Shen Yu menatap Han Tian.
"Berapa banyak orang yang mengetahui surat dari Yang Mulia akan dikirim hari ini?"
Han Tian berpikir sejenak.
"Hanya beberapa orang. penjaga gerbang dan pengintai. Aku, Pak Hong, Nyonya Lin."
Shen Yu mengangguk pelan.
"Artinya musuh sudah mengetahui pergerakan kita jauh sebelum surat itu tiba."
Qin Feng tiba-tiba berkata,
"Atau mereka tidak mengawasi surat itu. Mereka mengawasi kita."
Di luar Kediaman Shen...
Seorang penjual buah tampak berjalan santai melewati jalan utama. Tak jauh darinya...
Seorang pengemis sedang duduk di bawah pohon.
Di atap sebuah toko...
Seekor burung hitam bertengger tanpa bergerak.
Tak seorang pun menyadari...
Ketiganya sebenarnya saling mengawasi.
Kembali di aula.
Lin Xue berdiri.
"Mulai saat ini tidak seorang pun boleh meninggalkan Kediaman Shen sendirian."
Han Tian mengangguk.
"Akan segera kulaksanakan."
"Tunggu."
Shen Yu menghentikannya.
Semua orang menoleh. Shen Yu tersenyum tipis.
"Kalau kita menutup semua jalan bagaimana kita menangkap tikus yang bersembunyi?"
Han Tian langsung memahami maksudnya.
"Tuan Muda ingin membiarkan mata-mata itu bergerak?"
Shen Yu mengangguk.
"Iya. Kita buat mereka mengira kita tidak menyadarinya."
Qin Feng tersenyum.
"Bagus. Kalau mereka bergerak mereka pasti akan menghubungi orang di luar kota. Dan saat itulah kita menemukan jalurnya."
Lin Xue memandang Shen Yu beberapa saat.
Lalu mengangguk puas.
"Kau mulai berpikir seperti seorang pemimpin."
Shen Yu hanya tersenyum kecil.
Sementara itu...
Di sebuah penginapan sederhana di Kota Qinghe. Tujuh orang sedang duduk mengelilingi meja makan.
Mereka tampak seperti pedagang biasa. Namun...
Begitu pintu kamar ditutup...
Salah seorang mengeluarkan lencana hitam.
"Utusan telah kembali."
Pria berjanggut tipis bertanya,
"Apa perintah berikutnya?"
"Lanjutkan pengamatan. Kita hanya perlu memastikan siapa yang paling sering dilindungi."
Wanita berkerudung di sudut ruangan tertawa kecil.
"Kalau mereka melindungi seseorang secara berlebihan berarti dialah target."
Semua mengangguk.Tak ada yang menyadari...
Di luar jendela penginapan. Seekor burung kecil berwarna putih sedang memperhatikan mereka.
Di Kediaman Shen.
Pak Hong berlari menuju aula.
"Nyonya!"
Han Tian langsung berdiri.
"Ada apa?"
Pak Hong memberi hormat.
"Burung pembawa pesan kita kembali."
Ia menyerahkan secarik kertas kecil.
Han Tian membacanya. Lalu wajahnya berubah.
"Sudah ditemukan."
Shen Yu bertanya,
"Apa?"
Pak Hong menjawab,
"Burung putih yang kita lepaskan mengikuti tujuh orang mencurigakan. Mereka sekarang berada di Penginapan Bunga Musim Semi."
Qin Feng tersenyum tipis.
"Bagus. Berarti salah satu mata mereka telah ditemukan."
Namun...
Lin Xue justru menggeleng.
"Jangan ditangkap."
Semua kembali bingung.
Shen Yu tersenyum.
"Nenek benar. Mereka hanyalah rantai paling bawah. Kalau sekarang ditangkap kita hanya mendapatkan tujuh orang. Tetapi kalau terus kita ikuti mungkin kita bisa menemukan seluruh jaringan mereka."
Qin Feng mengangguk puas.
"Benar. Orang-orang Kuil Kegelapan sangat berhati-hati. Mereka selalu menggunakan beberapa lapis penghubung. Kalau kita sabar kita mungkin bisa menemukan tempat persembunyian Lima Raja Kegelapan."
Mata Han Tian langsung berbinar.
"Itu jauh lebih berharga."
Di saat yang sama...
Di puncak Gunung Tianhuang. Pria bertopeng merah berdiri memandangi Kota Qinghe dari kejauhan.
Seorang bawahan berlutut.
"Tuan. Seluruh mata-mata telah berhasil menyusup. Belum ada tanda-tanda pemilik aura emas."
Pria itu justru tersenyum.
"Tidak masalah. Karena..."
Ia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya muncul bola hitam seukuran kepalan.
Di dalamnya...
Terdengar suara jeritan yang sangat pelan.
"Kita sudah memiliki umpan yang lebih menarik."
Keempat Raja Kegelapan lainnya menoleh. Wanita berjubah hitam tersenyum.
"Akhirnya kau ingin menggunakannya?"
Pria bertopeng merah mengangguk.
"Besok pagi. Kota Qinghe akan mengetahui apa arti keputusasaan yang sebenarnya."
Malam berlalu tanpa ada serangan.
Namun justru itulah yang membuat seluruh Kota Qinghe semakin gelisah. Para murid dari berbagai perguruan berjaga di setiap gerbang kota. Tim pengintai keluarga Shen terus bergerak tanpa henti. Di permukaan...
Semuanya tampak tenang. Tetapi di balik ketenangan itu...
Puluhan mata-mata Kuil Kegelapan mulai menyebar ke setiap sudut kota.
...
Di aula utama Kediaman Shen. Han Tian menerima laporan demi laporan.
"Tiga orang menyamar sebagai pedagang kain."
"Dua orang bekerja di rumah makan."
"Empat orang berpura-pura menjadi pengungsi dari utara."
Pak Hong menggeleng pelan.
"Jumlah mereka terus bertambah."
Lin Xue berkata tenang,
"Biarkan. Tetapi jangan sampai mereka mengetahui keberadaan Mei Lihua."
"Baik."
Saat itulah...
Seekor burung putih kembali terbang memasuki aula. Pak Hong segera mengambil gulungan kecil di kakinya. Setelah membacanya...
Ekspresinya langsung berubah.
"Tuan Muda..."
Shen Yu menoleh.
"Mata-mata yang berada di Penginapan Bunga Musim Semi mulai bergerak."
Qin Feng segera mendekat.
"Ke mana?"
"Mereka tidak berkumpul. Ketujuh orang itu justru berjalan ke arah yang berbeda."
Han Tian mengernyit.
"Mereka ingin menghilangkan jejak."
Qin Feng menggeleng.
"Bukan. Mereka sedang mengirim laporan melalui beberapa jalur sekaligus."
Lin Xue berkata,
"Ikuti semuanya. Tapi jangan bertindak."
...
Sementara itu...
Di luar Kota Qinghe. Di sebuah desa kecil yang berjarak belasan kilometer dari kota. Seorang anak laki-laki sedang berlari membawa kayu bakar. Tiba-tiba...
Ia berhenti.
Di tengah jalan...
Berdiri seorang pria berjubah hitam. Pria itu tersenyum ramah.
"Anak kecil. Di mana kepala desa tinggal?"
Anak itu menunjuk sebuah rumah kayu.
"Di sana."
"Terima kasih."
Pria berjubah hitam mengusap kepala anak itu pelan.
"Sebagai hadiah..."
Seketika...
Kabut hitam keluar dari telapak tangannya. Anak itu langsung jatuh tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian jeritan mulai terdengar dari seluruh desa.
...
Di Gunung Tianhuang.
Kelima Raja Kegelapan berdiri memandang ke arah desa tersebut. Wanita berjubah hitam tersenyum.
"Sudah dimulai."
Pria bertopeng merah tetap memandang ke kejauhan.
"Jangan bunuh terlalu banyak. Kita hanya membutuhkan kepanikan."
Pria berjubah ungu mengangguk.
"Kalau Kota Qinghe mengirim bala bantuan..."
Pria bertopeng merah melanjutkan,
"...pemilik aura emas pasti akan ikut bergerak. Kalau tidak..."
Ia tersenyum dingin.
"...berarti dia memang tidak peduli pada rakyat. Apa pun pilihannya kita yang menang."
...
Tak lama kemudian...
Seorang murid pengintai keluarga Shen menerobos gerbang kota dengan napas tersengal.
"Laporan darurat!"
Han Tian langsung menyambutnya.
"Bicaralah."
"Desa Yunhe diserang!"
Seluruh aula langsung sunyi.
"Mereka menyerang?"
Pengintai itu menggeleng.
"Bukan perang. Mereka hanya menangkap penduduk. Wanita, anak-anak, dan orang tua semuanya dibawa pergi."
Shen Yu langsung mengepalkan tangan.
"Berapa banyak musuh?"
"Kurang dari dua puluh orang."
Han Tian terkejut.
"Hanya dua puluh?"
Pengintai itu mengangguk.
"Namun, mereka sangat kuat. Penjaga desa tidak mampu bertahan bahkan satu jurus."
Qin Feng perlahan menutup matanya.
"Seperti dugaanku. Mereka mulai memancing."
Lin Xue memandang Shen Yu.
"Yuer. Jangan bertindak terburu-buru."
Shen Yu mengangguk. Tetapi tatapannya semakin dingin.
Belum sempat mereka menyusun rencana...
Pengintai kedua kembali datang.
"Nyonya! Desa Qingmu juga diserang! Korban dibawa ke arah Gunung Tianhuang!"
Han Tian menghantam meja.
"Sial! Mereka menyerang dua desa sekaligus."
Yan Luo berkata serius,
"Kalau kita membagi pasukan, kekuatan Kota Qinghe akan berkurang."
Qin Feng mengangguk.
"Itulah tujuan mereka."
Shen Yu tiba-tiba berkata,
"Bagaimana kalau mereka memang ingin kita berpikir seperti itu?"
Semua langsung memandangnya. Shen Yu berjalan menuju peta wilayah. Ia menunjuk dua desa yang diserang.
"Lihat. Dua desa ini berada di jalur menuju Gunung Tianhuang. Lalu surat yang mereka kirim juga menyuruh kita datang ke Gunung Tianhuang."
Han Tian mulai memahami.
"Berarti..."
Shen Yu mengangguk.
"Gunung Tianhuang memang tujuan mereka. Tetapi belum tentu medan pertempurannya."
Lin Xue tersenyum tipis.
"Kau menemukan sesuatu?"
Shen Yu menunjuk jalur di antara kedua desa.
"Kalau aku menjadi mereka aku akan menunggu di sini."
"Tempat ini sempit. Cocok untuk menyergap bala bantuan."
Qin Feng memperhatikan peta beberapa saat.
Lalu perlahan mengangguk.
"Masuk akal. Tetapi, kalau begitu ke mana para penduduk dibawa?"
Suasana kembali hening.
Tak ada yang memiliki jawabannya.
Di saat yang sama...
Di sebuah gua bawah tanah. Ratusan penduduk desa sedang terikat. Mereka masih hidup. Namun di lantai gua...
Terukir formasi raksasa berwarna hitam. Setiap tetes darah yang jatuh ke dalam formasi itu langsung diserap. Di tengah formasi...
Bola hitam yang sebelumnya berada di tangan Raja Kegelapan kini melayang di udara. Retakan kecil mulai muncul di permukaannya. Dari dalam bola itu...
Terdengar suara detak jantung.
Duk...
Duk...
Duk...
Pria bertopeng merah memandang benda tersebut tanpa berkedip.
"Belum cukup. Ritual ini membutuhkan lebih banyak energi kehidupan."
Di belakangnya...
Empat Raja Kegelapan lainnya hanya tersenyum. Permainan yang mereka siapkan...
Baru saja dimulai.