Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Tiga hari berlalu sejak berita bohong menyebar luas. Suasana di kota pelabuhan berubah drastis: warga yang dulu ramah kini menatap mereka curiga, penjaga keamanan di mana-mana lebih ketat, dan bahkan warung makan enggan melayani orang asing. Rusli berhasil membangun tembok keyakinan di hati rakyat—menjadikan dirinya pelindung kemajuan, dan menjadikan tim Rendra sebagai ancaman yang harus diwaspadai.
“Kita tidak bisa bergerak terang-terangan lagi,” kata Dika saat mereka berkumpul di rumah sewa. “Setiap wajah kita sudah ada di daftar peringatan. Bahkan kamera jalanan pun diprogram untuk memberi peringatan jika kita lewat.”
“Lalu bagaimana cara masuk ke rumah pribadinya?” tanya Surya. “Tempat itu dijaga puluhan orang, dikelilingi tembok tinggi, dan dilengkapi sistem keamanan canggih. Tidak ada jalan masuk yang tidak dipantau.”
Pak Udin yang masih bersembunyi bersama mereka tiba-tiba berbicara: “Ada satu jalan yang tidak dianggap sebagai pintu masuk. Rumah itu dibangun di atas bekas sistem irigasi tua. Ada saluran air yang dulunya mengalir ke kolam belakang rumah. Sekarang saluran itu tertutup beton di kedua ujungnya, tapi tidak ada sensor di dalamnya—karena dianggap tidak mungkin dilewati orang dewasa.”
Mereka segera memeriksa peta kota lama. Benar saja, saluran itu memanjang hingga tepat di bawah taman belakang rumah Rusli. Malam itu, mereka berangkat menuju mulut saluran yang tersembunyi di bawah jembatan tua.
Di dalam saluran itu, air setinggi pinggang beraroma lumpur dan lumut. Mereka berjalan membungkuk dalam kegelapan, hanya diterangi cahaya senter yang sangat redup. Perjalanan memakan waktu hampir dua jam, sampai akhirnya mereka melihat sekat beton yang menutup ujung saluran.
“Ini dia,” bisik Pak Udin. “Ada bagian yang tidak diperkuat besi. Bisa dihancurkan pelan-pelan tanpa menimbulkan getaran besar.”
Dika dan Asep bekerja sama menggunakan alat pemecah batu kecil. Sekitar setengah jam kemudian, lubang cukup besar terbuka. Mereka merangkak naik, dan ternyata sudah berada di ruang bawah tanah gudang belakang rumah Rusli.
Di lantai atas, terdengar suara percakapan. Rendra perlahan menaiki tangga kayu tua, mengintip lewat celah pintu. Ruang tengah rumah itu tampak sederhana namun penuh barang berharga. Rusli sedang berbicara lewat telepon dengan suara serius.
“Ya, rute selatan sudah aman,” katanya. “Persiapan proyek Langit Baru berjalan sesuai jadwal. Hanya ada sedikit gangguan dari Jawa Timur, tapi mereka tidak akan mampu menembus pertahanan kita. Pemimpin pusat sudah memberi perintah: jika mereka terus mendesak, kirim mereka ke Pulau Beras untuk selamanya.”
Ia menutup telepon, lalu berjalan menuju rak buku besar di sudut ruangan. Ia menekan satu ukiran di tiang rak, dan seluruh rak itu bergeser ke samping—menampakkan pintu besi kecil. Rusli masuk ke sana, dan pintu kembali tertutup rapat tanpa suara.
“Itu pasti ruang arsip pribadinya,” bisik Pak Haris. “Di sana tersimpan dokumen yang kita cari.”
Mereka bergerak cepat masuk ke ruang tengah. Tapi saat Rendra menekan ukiran yang sama, bunyi peringatan halus terdengar. Lampu kecil di dinding berkedip merah.
“Pintu itu dikunci ganda,” kata Dika panik. “Sistem keamanan terpisah! Begitu kita menyentuhnya tanpa kode rahasia, sinyal bahaya langsung terkirim ke ponsel Rusli!”
Belum sempat mereka mundur, pintu ruang arsip terbuka kembali. Rusli berdiri di sana dengan senyum dingin, di belakangnya sudah berdiri enam orang bersenjata lengkap.
“Kalian benar-benar gigih,” katanya tenang. “Saya kira kalian sudah cukup takut setelah melihat Pulau Beras. Ternyata kalian malah mencari jalan masuk ke dalam rumah saya sendiri.”
“Kami mencari kebenaran,” jawab Rendra tegas. “Apa sebenarnya proyek Langit Baru itu? Mengapa kalian mengurung orang tidak bersalah dan menguasai kekayaan rakyat?”
Rusli tertawa pelan. “Kebenaran adalah milik mereka yang berkuasa. Proyek Langit Baru adalah masa depan yang kami bangun—di mana kami yang menentukan siapa yang makmur dan siapa yang tidak. Kalian hanya kerikil yang menghalangi jalan.”
Ia memberi isyarat. Pasukan itu maju. Namun tiba-tiba lampu di seluruh rumah mati total. Suara ledakan kecil terdengar dari arah pagar depan.
“Keluar sekarang!” teriak suara Asep lewat komunikasi. “Saya memutus aliran listrik utama! Jalan belakang sudah aman!”
Mereka berlari kembali ke ruang bawah tanah. Di belakang terdengar suara teriakan dan tembakan ke arah gelap. Mereka melompat kembali ke saluran air, berlari secepat mungkin menjauh dari rumah itu.
Saat mereka sampai di mulut saluran lain di pinggir hutan, napas mereka masih memburu. Mereka gagal mengambil dokumen, tapi setidaknya kini mereka tahu satu hal penting: proyek Langit Baru bukan sekadar soal wilayah—itu soal pengambilalihan kendali penuh atas seluruh jalur strategis negara.
“Rusli sudah siap,” kata Pak Haris pelan. “Dia tahu kita akan datang. Dia sengaja membiarkan kita masuk sebentar, hanya untuk memperlihatkan bahwa dia selalu selangkah lebih maju.”
Rendra menatap ke arah kota yang lampunya mulai menyala kembali. Ia tahu tantangan di sini belum selesai. Tapi ia juga sadar: semakin musuh berusaha menyembunyikan proyek itu, semakin penting bagi mereka untuk menghentikannya sebelum terlambat.