NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Perpisahan di Kuil Qingfeng

Pada usia lima belas tahun, Chu Xuan akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini dia abaikan:

Orang tua juga bisa menjadi tua.

Musim semi tiba menggantikan musim dingin.

Salju di Pegunungan Tianyun mulai mencair, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, halaman Kuil Qingfeng dipenuhi sinar matahari.

Namun, Pertapa Qingfeng semakin jarang meninggalkan kamarnya.

"Batuk! Batuk!"

Suara batuk itu kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Kuil Qingfeng.

Chu Xuan yang sedang menyapu halaman berhenti sejenak.

"Kakek."

"Hm?"

"Batukmu semakin buruk."

"Itu hanya batuk."

"Itu yang Kakek katakan tiga bulan lalu."

Pertapa Qingfeng tersenyum pahit.

Anak ini mungkin malas, tetapi dia lebih peka daripada yang terlihat.

"Aku akan baik-baik saja."

"Itu juga yang Kakek katakan bulan lalu."

"..."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Pertapa Qingfeng kalah dalam perdebatan.

Hari itu, Chu Xuan turun gunung seorang diri untuk membeli obat dari tabib desa menggunakan seluruh tabungan mereka.

Hasilnya?

"Tidak ada obat."

Chu Xuan mengernyit.

"Kenapa?"

Tabib tua itu menghela napas.

"Karena gurumu tidak sakit."

"Itu kakekku."

"Bagiku sama saja."

"..."

Tabib tua itu terdiam cukup lama sebelum melanjutkan.

"Anak muda, ada hal yang tidak bisa disembuhkan oleh obat."

Chu Xuan tidak menyukai jawaban itu.

Sangat tidak menyukai.

"Kalau begitu, buat obat yang bisa menyembuhkannya."

"Jika aku bisa membuatnya, aku sudah menjadi dewa."

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya.

Untuk pertama kalinya, Chu Xuan berharap jalan menuju Kuil Qingfeng tidak secepat ini.

Namun, seberapa lambat pun dia berjalan...

...dia tetap akan sampai di rumah.

Sesampainya di kuil, dia mendapati Pertapa Qingfeng sedang duduk di bawah pohon tua di halaman.

"Kau kembali."

"Hm."

"Bagaimana hasilnya?"

Chu Xuan terdiam selama beberapa saat.

"Tabib itu bodoh."

Pertapa Qingfeng tertawa kecil.

"Itu berarti dia mengatakan sesuatu yang tidak ingin kau dengar."

"...Dia bilang tidak ada obat."

Angin musim semi bertiup pelan.

Daun-daun berguguran di halaman kuil yang sunyi.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Apa kau masih ingat malam ketika kita pertama kali bertemu?"

"Tidak."

"Kau bahkan tidak perlu berpikir sebelum menjawab?"

"Aku masih bayi."

"Itu juga benar."

Untuk sesaat, keduanya tertawa kecil.

"Lima belas tahun berlalu begitu cepat."

"Bagi Kakek mungkin."

"Lalu bagimu?"

Chu Xuan berpikir cukup lama.

"Kurasa... juga cepat."

Itu adalah pertama kalinya Pertapa Qingfeng mendengar Chu Xuan mengatakan sesuatu seperti itu.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Jika suatu hari nanti kau bertemu dengan orang-orang yang lebih kuat darimu..."

"Aku akan lari."

"..."

"Kalau mereka lebih cepat dariku, aku akan bersembunyi."

"..."

"Kalau mereka menemukanku—"

"Aku mengerti."

Pertapa Qingfeng tertawa hingga kembali batuk.

Namun kali ini, Chu Xuan tidak ikut tertawa.

Karena dia melihat bercak merah samar pada kain yang digunakan kakeknya untuk menutupi mulut.

Darah.

Tangannya perlahan mengepal.

"Kakek."

"Hm?"

"Jangan tinggalkan aku."

Angin yang bertiup di halaman Kuil Qingfeng seakan berhenti sesaat.

Pertapa Qingfeng menatap cucunya yang telah dia besarkan selama lima belas tahun.

Anak yang dahulu ditemukan dalam keranjang bambu itu kini sudah hampir setinggi dirinya.

Namun, di matanya...

...Chu Xuan tetaplah anak kecil yang meminta tempat tidur pada malam hujan itu.

"Aku sudah tua, Xiao Xuan."

"Itu bukan alasan."

"Semua orang harus pergi pada waktunya."

"Aku tidak suka aturan itu."

Pertapa Qingfeng tersenyum.

"Kalau begitu, jadilah cukup kuat untuk mengubahnya."

Chu Xuan terdiam.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

...dia membenci kenyataan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.

Tiga hari berlalu sejak percakapan di bawah pohon tua itu.

Pertapa Qingfeng tidak lagi keluar dari kamarnya.

Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, Kuil Qingfeng terasa begitu sunyi.

Tidak ada suara sapu yang menyapu halaman.

Tidak ada suara batuk yang terdengar dari kejauhan.

Bahkan atap yang bocor pun seolah memilih untuk diam.

Chu Xuan duduk di depan pintu kamar sambil membawa semangkuk bubur hangat.

"Kakek."

"Hm?"

"Sudah waktunya makan."

"Taruh saja di sana."

"Kalau Kakek tidak makan, aku akan memakannya."

"Kalau begitu, aku akan makan."

Chu Xuan mengangguk puas.

Bagus.

Setidaknya ancaman itu masih berhasil.

Dia membuka pintu perlahan.

Kamarnya sederhana.

Sebuah tempat tidur kayu.

Sebuah meja tua.

Dan seorang pertapa tua yang kini tampak jauh lebih rapuh daripada yang dia ingat.

"Kakek."

"Hm?"

"Kapan Kakek menjadi setua ini?"

Pertapa Qingfeng tertawa pelan.

"Mungkin saat kau sibuk tidur."

"Itu tidak lucu."

"Bagi kakek, itu cukup lucu."

Chu Xuan meletakkan mangkuk bubur di atas meja.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Akhirnya, Pertapa Qingfeng membuka mulutnya.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Masih ingat apa impianmu?"

"Tentu."

"Apa itu?"

"Makan daging setiap hari."

"Lalu?"

"Menambahkan telur."

Pertapa Qingfeng tertawa kecil.

"Lalu?"

Chu Xuan terdiam sejenak.

"Memperbaiki atap."

"Lalu?"

"Membeli tempat tidur yang lebih nyaman."

"Lalu?"

Chu Xuan menghela napas.

"Kapan Kakek mulai banyak bicara?"

"Jawab saja."

Untuk pertama kalinya, Chu Xuan berpikir cukup lama.

"Aku ingin Kuil Qingfeng tetap ada."

Ruangan itu mendadak sunyi.

"Aku ingin ketika orang-orang melihat gunung ini seratus tahun dari sekarang..."

Dia berhenti sejenak.

"...mereka masih bisa melihat kuil bodoh ini berdiri di sini."

Pertapa Qingfeng tidak mengatakan apa pun.

Namun, senyum di wajahnya terasa jauh lebih hangat daripada biasanya.

"Itu impian yang bagus."

"Aku tahu."

"Dan bagaimana kau akan melakukannya?"

Chu Xuan mengangkat bahu.

"Aku belum memikirkannya."

"Itu juga sangat sepertimu."

Malam perlahan tiba.

Setelah memaksa Pertapa Qingfeng menghabiskan buburnya, Chu Xuan bangkit untuk pergi.

Namun, tepat sebelum dia keluar dari kamar—

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Terima kasih."

Langkah Chu Xuan terhenti.

"Untuk apa?"

"Karena telah datang ke Kuil Qingfeng."

Chu Xuan mengernyit.

"Itu bukan pilihanku."

"Aku tahu."

"Lagipula, bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu?"

Pertapa Qingfeng tersenyum.

"Kalau begitu, anggap saja kita impas."

Chu Xuan mendengus pelan.

"Kalau begitu, cepat sembuh."

"Aku akan berusaha."

"Itu tidak cukup."

Pertapa Qingfeng tertawa lagi.

"Itu kalimat favoritmu akhir-akhir ini."

Malam itu, Chu Xuan duduk di depan kamar sang kakek hingga larut malam.

Dia tidak tahu kenapa.

Dia hanya merasa...

...jika dia pergi tidur malam ini, sesuatu yang penting akan terjadi.

Sayangnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

Intuisinya benar.

Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menyinari Kuil Qingfeng.

Chu Xuan membuka matanya lebih awal dari biasanya.

Anehnya, dia tidak mendengar suara batuk.

"Kakek?"

Tidak ada jawaban.

"Kakek, atapnya bocor lagi."

Tidak ada jawaban.

"Kakek, aku lapar."

Tetap tidak ada jawaban.

Entah kenapa, jantung Chu Xuan mulai berdetak lebih cepat.

Dia segera berdiri dan mendorong pintu kamar.

Berderit.

Pintu kayu tua itu terbuka.

Pertapa Qingfeng masih berbaring di tempat tidurnya, sama seperti malam sebelumnya.

Ekspresinya damai.

Seolah-olah...

...dia hanya sedang tidur.

Chu Xuan berdiri di ambang pintu untuk waktu yang sangat lama.

Kemudian, dia berjalan mendekat dan mengguncang bahu sang kakek.

"Kakek."

Tidak ada jawaban.

"Kakek."

Tetap tidak ada jawaban.

Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya.

Angin pagi bertiup pelan melewati jendela yang terbuka.

Di atas meja, mangkuk bubur dari malam sebelumnya telah kosong.

Tidak tersisa setetes pun.

Di bawah mangkuk, ada secarik kertas:

"Maaf, Xiao Xuan. Kakek tidak bisa membuatkan bubur lagi."

Pada saat itu, Chu Xuan akhirnya mengerti.

Orang yang memberinya rumah.

Orang yang membuatkan bubur untuknya.

Orang yang menemukannya pada malam hujan lima belas tahun lalu...

...telah pergi.

Namun anehnya, dia tidak menangis.

Dia hanya duduk di samping tempat tidur dan berkata dengan suara pelan:

"Kakek."

"Aku rasa..."

"...atap Kuil Qingfeng akan tetap bocor untuk waktu yang sangat lama."

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini—

Chu Xuan merasakan arti kehilangan.

Bersambung...

1
obeng min
tambah banyak up-nya tambah jos pula ketua mantap👍👍👍👍👍
obeng min
selalu top
obeng min
top👍👍👍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
sikat😍
Hadi Hadi
bantai💪💪
obeng min
selalu dedepan mantap🤣🤣🤣👍
obeng min
upnya kurg banyak ketua👍👍👍👍👍
andi widya
kerennn
obeng min
mantao ketua 💪💪💪💪💪
Hadi Hadi
bantai
Hadi Hadi
semangat🤭🤭
Hadi Hadi
is good😍😍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
up up💪💪
obeng min
👍👍👍👍👍👍
obeng min
💪💪💪
obeng min
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!