NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

...Tamparan Es Mambo Naira...

Naira berjalan keluar dari warung kelontong sambil menggigit ujung plastik es mambo rasa kacang hijau yang baru dibelinya. Es mambo yang membeku keras dan dingin itu sengaja ia tempelkan sesekali ke pipinya yang masih terasa panas merona—sebuah usaha keras untuk mendinginkan kepalanya yang masih dipenuhi pikiran "nakal" akibat ocehan ibunya di dapur tadi.

Langkahnya baru sehentak ketika seorang wanita paruh baya bergincu merah menyala mendadak menghadang jalannya, tersenyum memamerkan taring emas di giginya.

"Eh, calon Ibu Persit!" goda Bude Wati pelan, nadanya terdengar centil. Di tangan kanannya, wanita itu membawa kantong kresek hitam berisi sayur bayam yang mencuat keluar.

Naira buru-buru melepaskan gigitannya pada es mambo, tersenyum sopan sambil sedikit menundukkan kepala. "Mari, Bude."

Namun, Bude Wati jelas tidak mau kehilangan momen bergosip. Wanita paruh baya itu dengan gesit memutar tubuh, mengekor di samping Naira. "Dengar-dengar berkas nikah kantornya sudah dikirim ke markas Lettu Arka, ya, Nai? Bude sampai ikut deg-degan. Gagah banget calon suamimu itu!"

Naira hanya bisa meringis canggung, berniat mempercepat langkah. Namun, langkahnya langsung terkunci seketika saat sebuah bayangan muncul dari gang dengan motor bebeknya menghalangi jalan mereka dengan kasar.

Santoso.

Laki-laki berpakaian kusut dengan aroma alkohol tipis yang menguar dari tubuhnya itu berdiri di sana. Matanya yang merah menatap Naira dengan pandangan penuh tuntutan.

"Jalan sama calon tentara, ya, Nai? Gimana? Lebih gagah mana sama aku yang kamu campakkan?"

Bude Wati yang awalnya hobi gosip ternyata punya nyali besar. Wanita itu langsung pasang badan, meletakkan kresek bayamnya ke tanah dengan kasar. "Heh, Santoso! Enggak usah bikin malu diri sendiri di kampung orang! Pergi sana!"

"Diam kamu, Tua Bangka!" bentak Santoso kalap.

Pria yang sudah kehilangan akal sehat karena pengaruh alkohol itu mendorong bahu Bude Wati dengan kasar hingga wanita itu limbung dan jatuh terduduk di atas tanah. Seikat sayur bayam di dalam kreseknya langsung berserakan.

Naira melihat Bude Wati tersungkur, dan seketika itu juga, seluruh pasokan sabar di dadanya habis tanpa sisa. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh ledakan murka. Tangan kanannya yang sedang menggenggam erat es mambo yang membeku keras sekeras batu itu bergerak secepat kilat.

PLAK!

Suara hantaman keras itu menggema pelan di lorong gang. Ujung es mambo yang membeku sekeras batu itu mendarat telak, sukses meremukkan kesombongan di pipi kiri Santoso.

"Kamu jangan kurang ajar, ya!" bentak Naira kesal. Wajahnya memerah padam dengan dada yang naik turun. Napasnya memburu cepat, menahan emosi yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun.

Sementara itu, Santoso limbung dan langsung tersungkur jatuh ke tanah karena kakinya tergelincir kerikil gang. Laki-laki itu terduduk lesu. Satu tangannya memegangi pipinya yang mendadak mati rasa akibat hantaman es batu kacang hijau tersebut. Tatapan nanarnya seketika lurus menghunjam Naira.

"Kamu... sudah berani, ya, sama aku?!" tanya pria itu dengan nada sarkas, suaranya bergetar menahan malu dan amarah.

Naira sama sekali tidak gentar. Kedua tangannya langsung berkacak pinggang dengan dagu sedikit terangkat. Keberaniannya mendadak muncul berlipat ganda saat otaknya memutar ulang insiden di pinggir sungai yang diceritakan oleh Ayahnya.

Pria di bawahnya ini sudah keterlaluan.

"Ingat, ya! Kamu yang kurang ajar!" teriak Naira, suaranya melengking tegas memecah kesunyian gang.

Keributan itu tak pelak memancing perhatian. Beberapa warga mulai keluar dari halaman rumah masing-masing, melongokkan kepala menengok ke arah mereka dengan pandangan penasaran.

Melihat kedatangan warga, nyali Santoso yang tadinya ciut mendadak bangkit karena gengsi. Ia buru-buru berdiri, menatap Naira berang dengan deru napas yang kian tidak stabil.

"Kamu itu cuma cewek murahan yang centil sana-sini! Sekarang dapat pacar tentara aja belagu amat!" teriak Santoso kalap, mencoba membalikkan opini warga yang mulai berbisik-bisik.

Naira membuang napasnya kasar, mendengus remeh. Bukannya mundur, gadis itu justru melangkah maju. Jari telunjuknya menunjuk tepat di depan dada Santoso, sedikit mendorong tubuh pria itu ke belakang.

"Kamu yang kurang ajar! Calon suamiku itu jelas orang baik-baik! Bukan orang mesum yang hobinya mengintip orang mandi di sungai!"

Skakmat.

Wajah Santoso seketika berubah pucat pasi, persis seperti mayat. Efek alkohol di kepalanya mendadak menguap digantikan rasa panik yang luar biasa. Matanya melirik gelisah ke kanan dan ke kiri, menyadari pandangan orang-orang kampung yang kini menatapnya penuh rasa jijik sambil saling berbisik heboh.

"Kurang ajar kamu, Nai!" bentak Santoso murka karena rahasia busuknya dibongkar. Laki-laki itu spontan melayangkan tangannya ke udara, bersiap membalas Naira.

Namun, sebelum tangan kasar itu menyentuh Naira, Bude Wati yang sudah bangkit dengan sigap menepis lengan Santoso dengan sisa kekuatannya. Wanita paruh baya itu langsung pasang badan, merengkuh pundak Naira posesif.

"Heh, Santoso! Kamu sama Nak Arka itu jelas beda jauh bagai langit dan bumi! Bapaknya Nak Arka itu pengacara terpandang, anaknya perwira tentara! Lah, kamu? Cuma bisa mengandalkan bapakmu yang pamong carik, tapi kamunya sendiri cuma pengangguran modal mabuk!" cibir Bude Wati tajam, taring emasnya berkilat-kilat penuh kepuasan.

Bude Wati melotot, menatap Santoso dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Modal kayak begitu mau dapetin guru PNS kayak Naira? Mimpi kamu!"

Beberapa warga mulai berjalan mendekat untuk melerai. Terdesak oleh situasi, Santoso akhirnya memilih mundur dan pergi dengan wajah merah padam antara menahan malu dan amarah. Ia menaiki motor bebeknya, lalu beberapa kali menarik tuas gas dengan sangat tinggi. Suara raungan knalpot yang sengaja digeber keras itu bergemuruh, menjadi luapan kekesalan Santoso kepada seluruh warga yang menatap sinis kepergiannya.

"Bude enggak apa-apa?" tanya Naira cemas begitu kondisi kembali tenang.

Bude Wati tersenyum lebar ke arah Naira. "Enggak apa-apa, Nai. Kamu tadi berani banget!" Wanita paruh baya itu mengacungkan kedua jempolnya dengan antusias ke hadapan Naira. "Cocok banget kamu kalau sama Nak Arka."

Mendengar itu, rasa jengkel Naira kepada Bude Wati yang selama ini ia cap sebagai biang gosip kampung seketika luruh tanpa sisa. Wanita paruh baya di hadapannya ini, nyatanya memiliki sisi yang jauh lebih tulus dari yang ia kira.

...----------------...

Naira duduk sendirian di teras rumahnya sambil menikmati sisa es mambo kacang hijau yang mulai mencair. Hawa panas terik matahari siang itu turun bersama sapuan angin musim kemarau yang kering. Tangan kirinya bergerak mengipas leher menggunakan kipas anyaman bambu berbentuk kotak, sementara matanya menatap kosong ke arah pekarangan rumah.

"Nai, Ibu mau ke sawah dulu, ya. Mau antar makan siang buat Bapak," pamit ibunya yang mendadak keluar dari dalam rumah sambil membawa sebuah rantang susun.

"Iya, Bu. Hati-hati di jalan."

Naira melepas kepergian ibunya dengan pandangan mata. Keheningan kembali merayap di teras rumah. Namun, sesaat setelah sosok ibunya menghilang di tikungan, suara dering nyaring dari telepon rumah di dalam ruang tengah mendadak memecah kesunyian.

Kringgg!

Gadis itu tersentak kecil. Ia segera bangkit berdiri, berhambur masuk ke dalam rumah dan langsung menyambar gagang telepon putih gading tersebut.

"Halo?" suara lembut Naira menyahut, napasnya masih sedikit memburu karena sisa lelah dari keributan tadi.

Di seberang sana, suara berat dan familiar yang sangat dinantikannya terdengar menyahut dari balik gemeresak mesin telepon umum koperasi batalyon.

"Halo, Nai."

"Mas Arka?" dada Naira seketika berdesir hangat. Rasa lega yang luar biasa langsung merayapi sudut hatinya.

"Iya, ini Mas. Kamu lagi apa?" tanya Arka di seberang sana.

"Di rumah, Mas. Eh, Mas... tadi Bude Wati nanya..." Naira menjeda kalimatnya ragu, menimang apakah ia harus menceritakan keributan di gang tadi atau tidak.

 "Terus?"

"Aku ketemu Santoso," aku Naira akhirnya. Suaranya terdengar kembali menggebu-gebu saat emosi pasca-kejadian tadi mendadak naik lagi ke permukaan.

"Kamu baik-baik saja?" Suara dari seberang terdengar dingin.

"Bude Wati bela Nai, terus..." Suara dari seberang sempat terdengar agak terputus-putus karena kendala sinyal kabel.

"Terus kenapa, Nai?" tuntut Arka, suaranya merendah penuh intimidasi yang kentara.

"Aku nampar Santoso karena dia mukul Bude Wati." Ucapnya menggebu.

"Bagus."

"Hah?" Naira terdengar cengo, tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu dari calon suaminya yang biasanya kaku dan tertib aturan.

"Bagus. Kamu memang harus berani," tegas Arka tanpa keraguan sedikit pun.

Naira terdiam sesaat, pipinya mendadak merona hangat mendengar dukungan mutlak dari Arka. Demi menyembunyikan rasa salah tingkahnya, gadis itu buru-buru mengalihkan topik pembicaraan dengan suara yang sengaja dibuat ceria kembali. "Mas, aku tadi masak soto daging, lho."

Naira kemudian mulai mengoceh panjang lebar, menceritakan betapa nikmatnya kuah gurih kaldu soto sumsum buatannya, lengkap dengan kesegaran es mambo kacang hijau dingin yang baru digigitnya beberapa saat lalu sebelum insiden tamparan terjadi.

Namun, dari rentetan cerita seru itu, Naira sengaja menyisakan satu bagian. Ia mengunci rapat-rapat mulutnya dari cerita tentang perkataan ibunya di dapur tadi soal energi pria yang berbeda setelah menikah. Bagian itu jelas harus disensor demi keselamatan jantungnya sendiri.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!