Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
BAB 12: Panggilan dari Kediaman Utama
Pagi hari di apartemen penthouse selalu menjadi waktu favorit bagi Elva. Sejak konfrontasi besar di lobi apartemen beberapa hari lalu, kehidupan gadis itu berubah total. Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan yang menghantuinya. Hari-harinya kini dipenuhi oleh ketenangan yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidup.
Pagi ini, Elva sedang sibuk di dapur, menata beberapa potong pancake pisang buatannya di atas piring. Rambut hitam panjangnya diikat asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah polosnya yang tampak semakin berseri. Setelah menuangkan sirup mapel, dia berbalik dan mendapati Zayn sudah berdiri di dekat meja konter, memperhatikan gerak-geriknya dengan tangan bersedekap.
Zayn hanya mengenakan kaus hitam polos dan celana jins gelap, namun aura dominan yang melekat pada tubuh tegapnya tidak pernah pudar. Matanya yang tajam menatap pancake buatan Elva, lalu beralih pada wajah gadis itu.
"Bau masakannya sampai ke kamar," komentar Zayn, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur. Dia melangkah mendekat, lalu tanpa permisi meraih sepotong pancake menggunakan jemarinya dan langsung mengunyahnya.
"Zayn! Pakai garpu, dong," tegur Elva sambil mengerucutkan bibirnya lucu, pura-pura kesal meski matanya memancarkan binar kebahagiaan.
"Nggak perlu. Gini lebih enak," sahut Zayn lempeng, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat manis. Dia menarik kursi bar, lalu duduk di sebelah Elva, bersiap menghabiskan sarapan pagi mereka.
Namun, kedamaian pagi itu mendadak terusik saat ponsel pintar milik Zayn yang tergeletak di atas meja dapur bergetar hebat. Sebuah nada dering khusus yang sangat jarang berbunyi bergema di dalam ruangan sepi itu. Zayn melirik layar ponselnya, dan dalam sekejap, ekspresi santai di wajah tampannya langsung lenyap, berganti dengan kekakuan yang amat sangat.
Nama yang tertera di layar adalah: Papa.
Alexander Dominic. Pria paruh baya yang memimpin jalannya roda bisnis Dominic Group dengan tangan besi, sekaligus sosok yang paling dihormati oleh Zayn sendiri.
Zayn menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponselnya ke telinga dengan gerakan yang kaku. "Halo, Pa," ucap Zayn, nadanya mendadak berubah menjadi sangat formal, dingin, dan penuh dengan jarak.
Di seberang telepon, suara bariton yang sangat berat, berwibawa, dan sarat akan penekanan mutlak terdengar. "Zayn. Papa baru saja mendarat di Jakarta setelah perjalanan bisnis dari New York."
"Ada apa, Pa?" tanya Zayn singkat, tidak ingin berbasa-basi.
"Papa sudah mendengar semua kehebohan yang kamu buat di SMA Pelita selama seminggu ini. Termasuk soal penarikan massal investor di proyek Jakarta Barat milik keluarga Ileana yang kamu minta lewat asisten pribadi Papa," Alexander men jeda kalimatnya sejenak, membuat atmosfer di dapur apartemen Zayn mendadak terasa begitu pekat dan menegangkan.
"Dan Papa juga tahu, kamu menyembunyikan putri kedua keluarga Ileana di apartemen pribadimu sampai detik ini."
Rahang Zayn seketika mengeras sempurna. Cengkeraman tangannya pada ponsel mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Dia melirik sekilas ke arah Elva yang kini tengah menatapnya dengan pandangan mata bulatnya yang dipenuhi rasa cemas. Elva bisa merasakan ada ketegangan yang luar biasa dari cara Zayn menerima telepon tersebut.
"Elva di sini karena dia dalam bahaya di rumahnya sendiri, Pa. Keluarga Ileana memperlakukannya dengan kejam," bela Zayn, suaranya sengaja direndahkan agar tidak membuat Elva semakin panik.
"Aku nggak akan membiarkan siapa pun menyentuh dia lagi."
Di seberang sana, Alexander Dominic terdengar menghela napas pendek, namun tidak ada nada kemarahan dalam suaranya. Hanya ada ketegasan khas seorang penguasa tertinggi.
"Papa tidak peduli apa alasanmu, Zayn. Tapi seorang pria dari keluarga Dominic tidak boleh menyembunyikan sesuatu di balik punggung keluarganya sendiri. Jika kamu menganggap gadis itu berharga dan berada di bawah perlindunganmu, maka bawalah dia ke kediaman utama malam ini. Papa dan Mamamu ingin melihat langsung seperti apa gadis yang sudah membuat seorang Zayn Dominic bertindak impulsif demi menghancurkan sebuah perusahaan."
"Pa, Elva masih belum sepenuhnya pulih dari—"
"Ini bukan negosiasi, Zayn. Ini perintah," potong Alexander dengan mutlak tanpa bantahan.
"Malam ini jam tujuh tepat. Bawa dia ke rumah Papa. Jangan terlambat."
PIP.
Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Alexander. Zayn menurunkan ponselnya dengan perlahan, lalu menghempaskannya ke atas meja dengan perasaan frustrasi yang campur aduk. Dia memijit pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut cermat. Dia tahu betul watak ayahnya. Jika perintah sudah dikeluarkan, menolaknya hanya akan membuat situasi menjadi jauh lebih rumit bagi Elva.
Elva perlahan mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh lengan kekar Zayn yang tegang dengan sangat lembut. "Zayn... ada apa? Siapa yang menelepon?" tanya Elva lirih, suaranya menyiratkan rasa takut yang samar.
"Apakah... apakah itu tentang orang tuaku?"
Zayn membalikkan tubuhnya menghadap Elva, lalu menggenggam kedua tangan gadis itu dengan sangat erat, menyalurkan rasa aman yang paling nyata.
"Bukan, Elva. Itu bukan dari orang tua lo. Itu tadi... Papa gue."
"Papa kamu?" Elva terbelalak kecil. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang sangat cepat. Selama seminggu ini, dia tahu bahwa Zayn adalah anak pemilik yayasan yang sangat kaya raya, namun dia belum pernah sekalipun berinteraksi atau memikirkan tentang bagaimana tanggapan keluarga besar Dominic terhadap kehadirannya di sini.
"Iya," Zayn menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Elva dengan kelembutan yang tiada tara.
"Papa tahu lo ada di sini. Dan... Papa menyuruh gue buat membawa lo ke kediaman utama malam ini. Dia dan Mama gue mau ketemu langsung sama lo."
Wajah Elva seketika berubah menjadi pucat pasi. Rasa cemas dan minder langsung menyerang isi kepalanya bagai ombak besar. "Ketemu orang tua kamu? Tapi, Zayn... aku... aku takut. Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku? Aku ini hanya anak dari keluarga yang sedang berada di ambang kebangkrutan... Aku tidak pantas berada di rumah keluarga besar sepertimu..."
Melihat kepanikan Elva, Zayn dengan cepat menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Dia memeluk pinggang Elva erat-erat, sementara sebelah tangannya yang lain mengusap lembut rambut hitam panjang Elva yang tergerai indah.
"Elva, dengerin gue," bisik Zayn tepat di samping telinga Elva, suara beratnya terdengar begitu tegas dan penuh keyakinan.
"Lo nggak perlu minder atau takut sama siapa pun, termasuk sama orang tua gue. Di dunia ini, lo berharga bukan karena status sosial keluarga lo. Lo berharga karena lo adalah Elva Ileana."
Zayn mengendurkan pelukannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi Elva yang halus dengan kedua telapak tangannya yang hangat.
"Papa gue emang keras kepala dan dingin, mirip kayak gue. Tapi dia bukan orang yang picik kayak bokap lo yang cuma mikirin bisnis. Kalau dia mau menghancurkan lo, dia udah lakuin itu dari seminggu lalu lewat pihak berwajib. Tapi dia nggak lakuin itu. Dia cuma mau liat cewek yang udah bikin anaknya berubah jadi pelindung yang posesif."
Elva menatap mata elang Zayn yang berkilat penuh perlindungan yang murni. Genggaman hangat dan kata-kata tegas dari cowok di depannya ini perlahan-lahan berhasil mengusir rasa cemas yang sempat mendera hatinya. Elva menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
"Baik, Zayn. Kalau kamu ada di sebelahku... aku bersedia ikut menemui orang tuamu malam ini."
Zayn tersenyum puas, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Elva selama beberapa detik. "Bagus. Nanti siang, kita pergi ke butik langganan Mama buat cari gaun yang pas buat lo. Gue mastiin malam ini lo bakal jadi gadis paling cantik yang pernah melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Dominic."
...----------------...
Malam harinya, tepat jam tujuh malam, mobil sport hitam milik Zayn berbelok masuk melewati gerbang emas raksasa yang menuju ke sebuah rumah agam bergaya klasik Eropa modern di kawasan elite Menteng. Rumah itu jauh lebih megah dan berwibawa daripada rumah keluarga Elva sendiri.
Lampu-lampu kristal besar menerangi halaman rumput yang luas dan tertata dengan sangat simetris. Zayn turun dari mobil, lalu memutari kap mobil untuk membukakan pintu untuk Elva. Malam ini, Elva tampil sangat memukau. Dia mengenakan gaun brokat sederhana berwarna biru dongker lembut yang panjangnya mencapai lutut, memperlihatkan kulit putih bersihnya yang kini tampak sangat sehat.
Rambut hitam panjangnya ditata sanggul modern yang sederhana, menyisakan beberapa helai rambut di sisi wajahnya.
Zayn mengulurkan tangannya, dan Elva menyambutnya dengan genggaman yang sangat erat. Tangan mereka saling bertautan erat saat melangkah masuk melewati pintu utama kediaman besar keluarga Dominic.
Di dalam ruang tamu utama yang luas, dua sosok paruh baya yang memancarkan aura kelas atas yang sangat kuat sudah duduk menunggu di sofa kulit premium. Alexander Dominic, dengan setelan jas formalnya yang kaku, menatap kedatangan mereka dengan ekspresi wajah datar yang sangat mirip dengan Zayn.
Di sebelahnya, Victoria Dominic—wanita paruh baya yang sangat anggun dan cantik—menatap Elva dengan binar mata yang penuh rasa penasaran dan kehangatan yang samar.
Zayn menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan, masih tidak melepaskan genggaman tangannya pada Elva.
"Pa, Ma. Ini Elva," ucap Zayn dengan nada suara yang tegas, memperkenalkan gadis di sebelahnya kepada kedua penguasa tertinggi di dalam hidupnya.
Atmosfer di dalam ruangan besar itu mendadak hening selama beberapa saat, seolah-olah waktu sedang berhenti berputar untuk menantikan bagaimana penilaian pertama dari keluarga paling berkuasa di kota ini terhadap seorang Elva Ileana.