NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4.

Luis hanya diam wajahnya murka, ia terus menarik tangan Laura menuju ke arah gedung sekolah kosong yang baru dibangun.

Lalu keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan, Luis melemparkan tubuh Laura ke lantai lalu mengunci pintu.

"Tuan muda Luis ... Apa yang akan kamu lakukan?"

Luis tidak menanggapi ucapan Laura, ia membuka kancing baju gadis itu dengan kasar.

Sebelum melakukan hal lebih lanjut, Luis memilih memfoto bagian dada Laura.

Laura merasa direndahkan, air mata pun luruh dari kedua pelupuk matanya. Tiba-tiba Luis menghisap dadanya dengan takut, lalu menggigitnya.

"Tuan Muda Luis, tolong jangan mengigitnya ini sangat sakit!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan.

"Tuan muda ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis melepaskan dadanya dan beralih mencium bibirnya.

"Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... "

Laura hanya menggelengkan wajahnya, ia merasa tidak melakukan hal yang menyinggung Luis.

Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat tangan Luis mengarah ke arah sela pahanya.

"Tuan muda, ini nggak benar kita masih sekolah!!" Teriakan Laura akhirnya membuat Luis tersadar.

Luis pun langsung bangkit berdiri. "Aku nggak ingin orang-orang melihat dadamu secara gratis. Mulai sekarang, kalau disekolah aku ingin kamu memakai jaket."

Setelah itu, tiba-tiba Luis pergi meninggalkan Laura meninggalkan ruangan digedung kosong itu sendirian.

Melihat Luis yang pergi ngacir, Laura mengerutkan alisnya. Ia bingung dengan sikap aneh Luis, "sebenarnya apa sih yang membuat dia marah?"

Laura merapikan bajunya, lalu ia berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke taman.

Perutnya sangat lapar, dan ia tidak memiliki uang sepeserpun. Semua uang sakunya sudah diambil oleh Luis.

Harapannya hanya ada pada bekal makanannya.

Namun sayang, saat sampai taman. Ada petugas kebersihan yang membuang makanannya.

Dalam hatinya, sekarang ini Laura mengutuk Luis. Dia yang terbiasa makan porsi banyak, semalam sudah melewatkan makan malam karena tingkah Luis yang menggila, ditambah tadi pagi tidak sarapan, dan bekalnya.

Saat sedang meratapi nasib tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya, Laura menoleh.

Laki-laki dengan jersey basket berwarna hitam menyala itu berdiri di depan Laura, menatapnya dengan mata penuh kepastian.

Suaranya tegas ketika menyebut namanya, "Laura, ternyata kamu sekolah di sini!"

Namun sorot matanya bukan sekadar pengenalan biasa, melainkan ada kehangatan yang tersembunyi di balik raut wajahnya yang agak asing bagi Laura.

Alis Laura mengerut, ntah kenapa hatinya berdebar kencang.

Wajah laki-laki itu benar-benar asing, tak ada satu pun kenangan yang tersisa di benaknya. "Kamu Laura Ana, kan?" tanya Nigel dengan nada yakin, seolah dia tahu segalanya tentang masa lalu Laura.

Laura menggeleng pelan, bibirnya bergetar kecil, "Kok bisa kenal aku?" Suaranya terdengar ragu, diselimuti kebingungan yang mendalam.

Nigel melangkah mendekat, ekspresinya berubah menjadi lembut, tapi tetap ada beban berat di matanya.

"Namaku Nigel Ronan, teman masa kecilmu. Sepertinya setelah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuamu, kamu hilang ingatan."

Perkataan itu bagai petir di siang bolong bagi Laura.

Jantungnya berdegup lebih cepat, kepala terasa berat seolah ingin pecah. Sebuah kilasan ingatannya saat kecelakaan melintas.

"Kecelakaan? Kedua orang tuaku? Bukankah yang meninggal hanya ibuku?" gumamnya dalam hati, tatapannya kosong, berusaha menangkap kebenaran dari setiap kata yang keluar dari mulut Nigel.

Sementara itu, Nigel menatap Laura dengan penuh simpati, seolah memahami betapa hancurnya dunia kecil itu ketika ingatan mulai menghilang dan kenyataan pun terasa asing.

Laura berdiri terpaku, wajahnya berubah menjadi campuran antara ketakutan, kebingungan, dan kesedihan yang tak terucapkan.

Nigel yang melihat wajah Laura berubah sedih, sontak buru-buru mengubah topik pembicaraan. "Maafkan aku, aku nggak bakalan bahas kecelakaan paman Steven dan bibi Grace lagi."

Ntah kenapa, air mata keluar dari pelupuk mata Laura, setelah Nigel menyebut nama 'Steven' walaupun terdengar asing. Tapi Laura merasa begitu dekat dengan nama itu.

Tiba-tiba lamunan Laura buyar saat Nigel menunjukkan beberapa foto keduanya diponselnya.

"Laura, sejak umur enam tahun kita jadi tetangga. Kamu selalu mengikuti ku, katanya aku tampan dan saat dewasa nanti mau jadi istriku. Tapi sejak kecelakaan tiga tahun lalu, kamu pindah dan menghilang. Dan akhirnya sekarang aku menemukanmu," ujar Nigel seraya memeluk Laura.

Laura yang dipeluk tiba-tiba oleh orang yang tidak dikenalnya hanya membeku. Tapi ia merasa pelukan itu sangatlah nyaman dan familiar.

Sementara itu, Luis yang berdiri di lantai tiga gedung SMA Bintang, kedua tangannya mengepal erat hingga urat-urat di punggung tangan tampak menonjol.

Matanya membara, menatap tajam sosok Laura, yang sedang dipeluk oleh seorang laki-laki dari tim basket SMA Garuda yang akan menjadi musuhnya.

Amarah dan cemburu berbaur menjadi satu, seperti bara api yang siap meledak kapan saja.

Napasnya memburu, dada terasa sesak seolah ingin meledakkan kemarahan yang menggerogoti hatinya.

Di sampingnya, Aron meledek dengan suara santai, "Bukankah itu Laura, anak pelayan rumahmu? Lihat, dia malah peluk-peluk sama pemain musuh kita. Konyol sekali." Senyum sinis Aron makin menambah panas suasana di hati Luis.

Dean, yang berada tak jauh dari situ, terlihat membeku. Tatapannya kosong, tapi jelas ada pergolakan batin yang dalam. Dia menyukai Laura, namun bingung harus berbuat apa.

Wajahnya menegang, bibirnya tercekat, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.

Luis menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. "Langsung ke lapangan basket saja!" katanya ketus, suaranya penuh dendam.

Ia berjalan lebih dulu, meninggalkan Aron dan Dean. Tak berselang lama Aron dan Dean pun menyusul.

Di lapangan basket pertandingan antar sekolah belum dimulai, Luis berdiri di pinggir lapangan dengan wajah dingin yang hampir tak berubah.

Matanya yang tajam memancarkan ketegangan, bibirnya terkatup rapat tanpa senyum sedikit pun.

Anggota tim yang lain, termasuk Emma, pacarnya, hanya berani menunduk dan menghindari tatapannya, takut memancing amarah yang tiba-tiba bisa meledak.

Sebelumnya Emma sempat bertanya pada ketiga sahabat dekat Luis, alasan kenapa pacarnya bisa marah seperti ini. Tapi tidak ada yang tahu jawabannya.

Suasana makin tegang saat Laura datang, langkahnya ragu tapi tetap berani maju ke arah Luis.

Luis langsung menyambutnya dengan nada dingin dan penuh penghinaan, "Kamu ini anak pelayan, jangan pikir kamu pantas ada di sini." Suaranya menusuk, membuat beberapa anggota tim menahan napas.

Tanpa memberi ruang bicara, Luis memerintahkan Laura mengambil handuk dan air minum, lalu mengutusnya pergi ke sana kemari tanpa jeda. "Cepat! Jangan bikin aku tunggu lama," katanya sambil menatap tajam, seolah Laura hanyalah beban yang mengganggu.

Kadua alis Naura mengerut, merasa bingung dengan sikap Luis yang berubah-ubah. Sebelumnya saat bertemu laki-laki itu nampak perhatian, sekarang tiba- tiba berubah marah dan menghinanya.

Lapangan basket yang beleumnya sepi, semakin lama semakin ramai.

Laura berusaha menahan malu dan lelah, melangkah dengan tangan gemetar membawa barang-barang yang diminta.

Namun saat Laura kembali membawa air, mata Luis menangkap sosok laki-laki lain yang tadi memeluk Laura hal itu membuat dadanya sesak, wajahnya berubah menjadi lebih kelam, bibirnya mengepal menahan amarah dan cemburu yang membara.

Tanpa pikir panjang, Luis menuntut Laura mengulangi tugasnya dengan lebih cepat.

Langkahnya yang terburu-buru membuatnya terpeleset dan jatuh terjerembab di aspal kasar.

Suara benturan itu membuat semua mata tertuju padanya.

Luis malah tertawa dingin, tanpa menolong, "Dasar payah, nggak becus!" katanya sambil memandang rendah.

Dean hanya bisa mengepalkan tangannya, ia juga merasa sakit Laura diperlakukan begini.

Tapi ia tidak bisa melawan Luis.

Laura menahan air mata, tubuhnya bergetar bukan hanya karena sakit, tapi juga karena luka hati yang semakin dalam.

Saat kesulitan berdiri, tiba-tiba sebuah tangan terulur ke arahnya.

"Nigel ... "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!