NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Cemburu Menjadi Nyata

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak itu dimulai, kehidupan di The Obsidian terasa... normal.

Dan justru itulah yang berbahaya.

Tidak ada ancaman misterius.

Tidak ada pesan anonim.

Tidak ada rekaman rahasia Aurora.

Tidak ada dokumen yang tiba-tiba muncul di depan pintu.

Hanya ada Adrian dan Alea.

Dua orang yang perlahan mulai melupakan bahwa mereka seharusnya menjaga jarak.

Malam setelah makan bersama itu menjadi awal dari sesuatu yang tak pernah mereka rencanakan.

Pagi hari di The Obsidian biasanya berlangsung seperti rapat bisnis.

Efisien.

Cepat.

Formal.

Namun pagi ini berbeda.

Alea turun ke ruang makan sambil membawa tablet kerjanya.

Rambut panjangnya masih sedikit basah setelah mandi.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain hitam.

Penampilannya jauh lebih santai dibanding biasanya.

Begitu memasuki ruang makan, ia langsung mencium aroma kopi.

Dan tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibirnya.

Adrian sudah duduk di sana.

Seperti biasa.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Pria itu sudah menyiapkan sarapan.

Dua cangkir kopi.

Dua piring roti panggang.

Dan buah-buahan yang dipotong rapi.

Alea berhenti beberapa langkah dari meja.

"Kau mulai berubah."

Adrian mengangkat alis.

"Maksudmu?"

"Dulu kau bahkan tidak peduli apakah aku sudah sarapan atau belum."

Adrian menyesap kopinya.

"Dulu kau juga tidak pernah datang ke meja makan tepat waktu."

Alea mendengus.

Lalu duduk.

Mereka saling melempar tatapan datar selama beberapa detik.

Kemudian, entah siapa yang memulai lebih dulu, keduanya tertawa kecil.

Suasana itu terasa begitu ringan.

Begitu alami.

Sampai-sampai mereka hampir lupa bahwa semua ini berawal dari sebuah kontrak.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Karena dunia luar tidak pernah membiarkan segalanya berjalan mudah.

Menjelang siang, Adrian menghadiri acara peluncuran teknologi terbaru Hutama Industries.

Acara itu berlangsung di Grand Meridian Hotel.

Salah satu hotel termewah di Valerika.

Ratusan tamu hadir.

Investor.

Media.

Tokoh bisnis.

Dan tentu saja...

Para wartawan gosip.

Adrian datang sendiri.

Awalnya ia mengira acara ini akan berjalan cepat.

Namun ketika memasuki ballroom utama, langkahnya langsung terhenti.

Karena seseorang sudah berdiri di dekat panggung.

Clarissa.

Wanita itu mengenakan gaun biru tua yang sederhana namun elegan.

Rambutnya dibiarkan terurai.

Ia tampak jauh lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya.

Dan yang membuat Adrian terkejut...

Clarissa adalah salah satu pengisi acara pameran seni digital yang menjadi bagian dari peluncuran teknologi tersebut.

"Kau di sini?"

tanya Adrian saat menghampiri.

Clarissa tersenyum.

"Aku juga baru tahu minggu lalu."

"Aku diundang sebagai seniman utama."

Adrian mengangguk.

Mereka mulai berbincang ringan.

Membahas proyek seni.

Pameran.

Dan beberapa hal lain yang tidak terlalu penting.

Tidak ada yang salah.

Tidak ada yang berlebihan.

Namun dari sudut lain ballroom...

Seseorang sedang melihat semuanya.

Sementara itu, di kantor Corisand Group.

Alea sedang menghadiri rapat bersama para editor senior.

Namun konsentrasinya mulai buyar ketika salah satu staf masuk dengan membawa tablet.

"Maaf mengganggu, Bu."

"Ada artikel yang sedang viral."

Alea mengangkat kepala.

"Artikel apa?"

Staf itu tampak ragu.

Kemudian menyerahkan tablet tersebut.

Dan seketika...

Seluruh suasana hati Alea berubah.

Di layar terpampang sebuah foto.

Adrian.

Dan Clarissa.

Mereka sedang berbicara di ballroom Grand Meridian.

Jarak mereka dekat.

Ekspresi mereka terlihat nyaman.

Dan tentu saja...

Media langsung memberi judul yang sensasional.

"Mantan Kekasih Kembali Muncul! Akankah Pernikahan Adrian Hutama dan Alea Corisand Bertahan?"

Jari Alea menegang di sekitar tablet.

Ia membaca artikel itu hingga selesai.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Semakin dibaca, semakin kesal.

Karena sebagian besar isi artikel hanyalah spekulasi murahan.

Namun tetap saja...

Ia tidak bisa mengabaikannya.

"Bu Alea?"

Suara salah satu editor membuyarkan lamunannya.

"Kita lanjut rapat?"

Alea meletakkan tablet.

Wajahnya kembali dingin.

Profesional.

Tak terbaca.

"Ya."

Namun sepanjang rapat berikutnya, ia tidak mendengar setengah dari apa yang dibicarakan.

Sore hari.

Ketika Adrian kembali ke kantornya, ia sama sekali tidak tahu bahwa artikel itu sudah menyebar ke seluruh kota.

Ia baru menyadarinya ketika sekretarisnya masuk dengan ekspresi aneh.

"Tuan Adrian."

"Ada masalah?"

"Ada sekitar dua puluh tujuh panggilan dari wartawan."

Adrian mengernyit.

"Kenapa?"

Sekretarisnya menyerahkan tablet.

Dan Adrian langsung menghela napas panjang.

"Hebat."

gumamnya.

"Manusia memang tidak pernah kehabisan waktu untuk membuat gosip."

Namun yang membuatnya sedikit gelisah bukanlah artikel itu.

Melainkan reaksi Alea.

Entah kenapa, hal pertama yang muncul di pikirannya adalah:

Apa Alea sudah melihat ini?

Jawabannya adalah ya.

Dan ketika Adrian pulang malam itu...

Ia langsung tahu.

Karena Alea sedang duduk di ruang tengah.

Dengan tablet di tangannya.

Dan ekspresi yang sangat dingin.

Terlalu dingin.

"Selamat malam."

ucap Adrian hati-hati.

Alea tidak menjawab.

Ia hanya memutar tablet.

Mengarahkan layar ke Adrian.

Menampilkan artikel yang sama.

Adrian menghela napas.

"Tentu saja."

Alea akhirnya berbicara.

"Nampaknya mantan kekasihmu sedang menjadi berita utama."

"Nampaknya begitu."

"Dan kau terlihat sangat menikmati waktumu bersamanya."

Adrian mengangkat alis.

Nada itu.

Nada itu jelas bukan nada netral.

"Itu hanya percakapan biasa."

"Benarkah?"

Alea berdiri.

"Mungkin media salah."

"Mungkin aku juga salah."

"Tapi dari foto-foto ini kalian terlihat cukup akrab."

Adrian mulai menyadari sesuatu.

Dan semakin ia menyadarinya...

Semakin sulit menahan senyum.

"Kau cemburu."

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Alea langsung membeku.

"Apa?"

"Kau cemburu."

"Tidak."

"Ya."

"Tidak."

"Ya."

"Aku tidak cemburu!"

seru Alea.

Adrian kini benar-benar tersenyum.

Dan itu membuat Alea semakin kesal.

"Aku hanya tidak suka jika reputasi perusahaan terganggu karena gosip murahan seperti ini."

"Tentu."

"Kau tidak percaya?"

"Tidak."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Alea hampir melempar tablet ke kepala pria itu.

Namun beberapa jam kemudian...

Keadaan berbalik.

Karena kali ini giliran Adrian yang merasakan apa yang dirasakan Alea.

Semuanya bermula dari sebuah pesan.

Pesan dari Julian.

Yang entah bagaimana berhasil sampai ke ponselnya.

Pesan itu hanya berisi satu foto.

Dan satu kalimat.

Foto tersebut memperlihatkan Alea dan Julian.

Diambil beberapa hari lalu di sebuah kafe.

Namun sudut pengambilan gambarnya membuat mereka tampak sangat dekat.

Sangat intim.

Sementara di bawah foto itu tertulis:

"Setidaknya aku masih mengenalnya lebih baik darimu."

Adrian menatap layar ponselnya.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian sesuatu mulai muncul di dalam dadanya.

Sesuatu yang panas.

Mengganggu.

Dan tidak masuk akal.

Ia tahu Julian sengaja memancingnya.

Ia tahu foto itu tidak berarti apa-apa.

Ia tahu semuanya.

Namun tetap saja...

Ia tidak menyukainya.

Sama sekali.

Malam itu.

Ketika Alea keluar dari ruang kerjanya untuk mengambil air minum, ia menemukan Adrian sedang duduk sendirian di ruang tengah.

Pria itu terlihat tidak biasa.

Terlalu diam.

"Ada masalah?"

tanya Alea.

"Tidak."

"Kau yakin?"

"Ya."

Alea menyipitkan mata.

"Kau terlihat kesal."

"Aku tidak kesal."

"Kau berbohong."

Kini giliran Alea yang tersenyum tipis.

Karena ia mulai mengenali pola yang sama.

Persis seperti tadi.

"Apa karena Clarissa?"

tanyanya sengaja.

Adrian mendengus.

"Bukan."

"Kalau begitu?"

Adrian diam.

Dan diam itu sudah cukup menjadi jawaban.

Alea mulai tertawa kecil.

"Kau cemburu."

Adrian langsung menatapnya tajam.

"Aku tidak cemburu."

"Kau yakin?"

"Aku sangat yakin."

"Seperti aku tadi?"

Alea menyeringai.

Dan Adrian menyadari bahwa dirinya baru saja terjebak.

Untuk pertama kalinya...

Mereka saling menatap.

Lalu tertawa bersamaan.

Karena keduanya tahu.

Keduanya sama-sama kalah.

Malam semakin larut.

Namun setelah percakapan itu berakhir, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung kembali ke kamar.

Mereka tetap berada di ruang tengah.

Berbincang.

Tertawa.

Membahas hal-hal sederhana.

Dan tanpa mereka sadari...

Jarak di antara mereka semakin dekat.

Bukan hanya secara fisik.

Tetapi juga secara emosional.

Sementara di dalam hati mereka masing-masing...

Sebuah kenyataan perlahan mulai terbentuk.

Cemburu bukan lagi sekadar emosi sesaat.

Bukan lagi sekadar reaksi spontan.

Karena seseorang hanya bisa benar-benar cemburu ketika orang lain mulai memiliki tempat yang penting di dalam hidupnya.

Dan malam itu...

Baik Adrian maupun Alea mulai menyadari sesuatu yang sama-sama mereka takuti.

Mereka mungkin masih bisa berbohong kepada dunia.

Masih bisa berbohong kepada Clarissa.

Masih bisa berbohong kepada Julian.

Bahkan mungkin masih bisa berbohong kepada satu sama lain.

Namun mereka tidak akan bisa terus berbohong kepada hati mereka sendiri.

Karena perlahan...

Dan tanpa bisa dihentikan...

Kontrak itu mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Cinta.

1
Vanni Sr
bnr² woyyyy di bab ini blg lg wallianm ayah adrian , gmn sih nulis ny
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Vanni Sr
g nyambungggg, george itu kakek apa ayah alea?? clarissa itu apa bianca ganti² , ngaco sih ini
typ
apa part 40 dan 41 terbalik?
Althea Shalmaira: benar, terima kasih mengingatkan,, akan saya coba althe perbaiki yah🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!