NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. Kamar Pengantin yang Dingin

"Kenapa kau menikahiku jika menyentuhku saja kau merasa jijik, Damian?"

Suara Valerian bergetar. Jemarinya meremas gaun tidur satinnya yang halus, berusaha menahan air mata yang sudah mengambang di kelopak mata. Malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, dan seperti malam-malam sebelumnya, Valerian kembali menghadapi punggung tegap suaminya yang membeku.

Damian bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Jemarinya yang panjang masih sibuk mengetik dokumen perusahaan.

"Kita sudah membahas ini sejak awal, Valerian," sahut Damian, datar tanpa emosi. "Pernikahan ini murni kalkulasi bisnis untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu. Kau mendapatkan keamanan finansial, dan aku mendapatkan saham itu. Jangan meminta lebih, terutama dari tubuhku."

Jangan meminta lebih.

Kata-kata itu bagai belati yang menghujam jantung Valerian. Dua tahun dia hidup bak pajangan mati di rumah semegah istana ini. Di mata publik, dia adalah istri dari sang penguasa bisnis, Damian Dirgantara. Namun di balik pintu kamar yang terkunci, dia tak lebih dari seorang pengemis cinta yang diabaikan.

Sambil menahan isak tangis agar tidak pecah di hadapan pria kejam itu, Valerian berbalik. Dia berlari keluar dari kamar utama yang terasa mencekik, mengabaikan hawa dingin koridor rumah mewah yang mulai menusuk kulitnya yang terbuka.

"Kenapa takdirku harus sekejam ini..." bisik Valerian lirih, meratapi kemalangannya.

Sret.

Sebuah kehangatan tiba-tiba menyelimuti bahunya yang bergetar. Sebuah jaket rajut tebal dan maskulin sengaja disampirkan dari belakang. Bersamaan dengan itu, aroma parfum yang sangat familiar—perpaduan kayu manis dan cedarwood yang maskulin namun lembut—langsung menyergap indra penciumannya.

Itu bukan aroma Damian. Damian selalu memakai parfum beraroma mint yang tajam dan dingin.

Valerian tersentak dan langsung menoleh. Jantungnya berdesir hebat saat mendapati sosok pria jangkung dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dalam sedang berdiri di belakangnya.

"Aksa..."

Pria itu adalah Aksa Dirgantara. Adik kandung Damian. Pria yang tinggal tepat di kamar sebelah kamar utamanya.

"Sudah kubilang bertali-kali, Kak," suara Aksa terdengar berat dan serak, menyiratkan emosi yang tertahan. "Jangan pernah menangis untuk pria yang tidak bisa melihat betapa berharganya dirimu."

Aksa melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Valerian bisa merasakan deru napas hangat pria itu di tengah dinginnya malam. Jemari Aksa yang besar dan hangat terangkat, dengan lembut menghapus air mata di pipi Valerian.Sentuhan itu begitu tulus, berbanding terbalik dengan Damian yang selalu menepisnya.

"Aksa, ini salah... Aku ini kakak iparmu," bisik Valerian, tubuhnya gemetar bukan lagi karena dingin, melainkan karena kedekatan mereka yang terlalu intim.

Aksa tidak mundur. Justru tatapan matanya berubah semakin menggelap, dipenuhi oleh obsesi dan gairah yang selama dua tahun ini dia pendam rapat-rapat di bawah atap yang sama.

"Kau istrinya di atas kertas, Valerian. Tapi bagi Damian, kau bukan siapa-siapa," bisik Aksa tepat di telinga Valerian, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Tapi bagiku... kau adalah wanita yang membuatku hampir gila setiap malam."

Sebelum Valerian sempat mencerna kata-kata berbahaya itu, Aksa menarik pinggang kecil Valerian, merapatkan tubuh mereka tanpa celah. Detik berikutnya, bibir Aksa mendarat di atas bibir Valerian, meruntuhkan seluruh dinding pertahanan dan akal sehat yang mereka miliki.

Valerian terbelalak, tangan kecilnya sempat memukul dada bidang Aksa sebagai bentuk penolakan terakhir dari akal sehatnya yang tersisa. Namun, pagutan Aksa terlalu menuntut, penuh dengan rasa lapar dan kerinduan yang telah membeku selama dua tahun. Ciuman itu tidak dingin seperti es, melainkan membakar seperti api.

Perlahan, kekuatan di jemari Valerian melonggar. Sentuhan Aksa yang begitu memuja—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Damian—membuat pertahanan Valerian runtuh sepenuhnya. Isak tangisnya mereda, berganti dengan desah pasrah yang tertelan di antara gemuruh hujan.

Aksa melepaskan pagutannya perlahan, menyisakan benang saliva yang tipis di antara bibir mereka yang membengkak. Napas pria itu memburu tajam, menatap wajah Valerian yang merona dengan tatapan posesif yang begitu pekat.

"Kamar sebelah..." bisik Aksa dengan suara parau yang amat seksi. "Masuk ke kamarku, Valerian. Jangan di sini."

Tanpa menunggu persetujuan, Aksa menyusupkan lengannya di bawah lutut Valerian, mengangkat tubuh ramping kakak iparnya itu dalam gendongan bridal yang kokoh. Valerian refleks mengalungkan lengannya di leher Aksa, menyembunyikan wajahnya yang terbakar rasa bersalah di ceruk leher pria itu.

Aksa melangkah dengan sangat pelan dan hati-hati, membuka pintu kaca balkon lalu menyusuri koridor lantai dua yang remang-remang. Hanya ada dua pintu kamar di sana yang saling berhadapan: Kamar Utama milik Damian dan Valerian, serta Kamar Sebelah milik Aksa.

Jantung Valerian berdentum begitu keras sampai rasanya mau copot saat mereka melewati pintu kamar utama. Di dalam sana, suaminya sedang terjaga. Hanya selembar pintu kayu yang memisahkan pengkhianatan terbesar ini.

Cklek.

Aksa berhasil membawa Valerian masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa gelap dan maskulin. Begitu pintu dikunci dari dalam, tubuh Valerian langsung dihempaskan dengan lembut ke atas ranjang berukuran king size.

Malam itu, lembaran dosa yang sesungguhnya terbuka. Aksa mengklaim setiap jengkal tubuh Valerian dengan gairah yang menuntut namun penuh kelembutan, memberikan semua kehangatan intens yang selama ini ditolak oleh Damian. Valerian tenggelam dalam kenikmatan terlarang, melupakan statusnya, melupakan suaminya yang dingin di kamar sebelah.

Tiga jam berlalu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Di dalam kamar Aksa yang senyap, Valerian terbangun dengan napas tersengal. Kesadarannya kembali pulih, dan rasa bersalah langsung menghantam dadanya seperti godam besar. Dia menatap tubuh polos Aksa yang tertidur pulas di sampingnya dengan posisi lengan yang masih posesif memeluk pinggangnya.

"Apa yang sudah kulakukan..." bisik Valerian, air matanya kembali menetes. Dia telah berselingkuh dengan adik suaminya sendiri.

Dengan tubuh gemetar dan menyisakan rasa perih akibat percintaan panas mereka, Valerian menyingkirkan lengan Aksa dengan sangat pelan. Dia memungut gaun tidur satinnya yang berserakan di lantai, memakainya terburu-buru, lalu merapikan rambutnya yang berantakan. Dia harus kembali ke kamar utama sebelum pagi, atau tamat riwayatnya.

Valerian memutar kunci pintu kamar Aksa dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara. Dia melongokkan kepalanya ke luar koridor. Sepi.

Sambil berjinjit, Valerian melangkah menyeberangi koridor menuju pintu kamarnya yang hanya berjarak beberapa langkah. Tangan Valerian yang gemetar terjulur, menyentuh kenop pintu kamar utamanya.

Cklek.

Pintu terbuka. Namun, sedetik kemudian, darah Valerian terasa membeku di dalam sekat jantungnya.

Lampu kamar utama yang tadinya temaram kini sudah menyala terang benderang. Dan tepat di tengah ruangan, Damian sedang berdiri tegak. Pria itu tidak lagi menghadap laptop, melainkan sedang berdiri menyilangkan dada sambil menatap lurus ke arah pintu dengan tatapan mata yang setajam elang.

"Dari mana saja kau, Valerian?" suara berat Damian menggema di ruangan yang sunyi, begitu dingin hingga mampu membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Dan kenapa gaun tidurmu... terbalik?"

Valerian tercekat. Matanya terbelalak horor, sementara di belakangnya, pintu kamar Aksa perlahan kembali bergerak terbuka.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!