NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|16|Saputangan

Aruna melihat disamping ranjang masih ada jas Devara masih tergantung di kursi, dan laci meja di pinggir ranjangnya setengah terbuka. Serta obat yang tergeletak di nakas.

"Siapa yang membuka laci itu..?" Gumam Aruna.

Gadis itu beranjak dari ranjang, melepas infusnya secara kasar dan berjalan menuju laci, Aruna menarik laci itu. Jelas Ia ingat menaruh sapu tangan itu dengan rapi dipojok laci. Namun sekarang sudah berpindah tempat.

"Apa dia kesini tadi malam, Devara.., kenapa dia membiarkan aku hidup dan apa yang dia mau sebenarnya.." Aruna meraih sapu tangan putih polos itu, meremasnya dengan kuat, seolah melampiaskan emosinya kepada pria itu.

Aruna membuka pintu kamarnya, namun Ia sudah dikunci dari luar oleh Devara. Gadis itu tak bisa keluar tanpa persetujuan pria itu. Ia terus menarik ganggang pintu dengan penuh emosi. Matanya melirik keatas setengah tersenyum kearah cctv yang terus memantaunya lalu terduduk lemas dan bersender di depan pintu.

"Apa mau kamu... Aku sudah lelah hidup sebagai peliharaanmu Dev" Jerit Aruna. Pertama kalinya setelah sekian lama Aruna berada di penthouse Ia meluapkan emosinya seperti sekarang.

Diruangan Devara, pria itu menonton Aruna di layar monitor sambil meneguk wine. Semalaman Ia tak tidur, matanya merah, tangannya meremas lighter yang Ia mainkan tadi.

"Ndre.. Siapkan mobil, saya rapat jam 9" Titah Devara, namun pandangannya masih kearah layar.

Andre kembali memasuki ruangan Devara setelah menyuruh supir menyiapkan mobil, Ia mendekat perlahan sambil menunduk takut. "Maaf Pak, apa perlu saya suruh bu Aruna bersiap juga?" tanya Andre dengan hati-hati.

Devara menghentakkan tangannya ke atas meja, tak nyaring namun cukup membuat jantung Andre meloncat keluar. "Saya tidak menyuruh" katanya dengan penekanan.

"Saya sudah menyuruh Alana untuk menjaga dia disini, jadi biarkan dia hari ini. Jangan katakan apapun" ucap Devara, matanya masih fokus memandang layar monitor, bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis.

Setelah bersiap, Devara keluar dari kamarnya matanya menatap jalan kearah kamar Aruna, sambil merapikan dasinya Devara memilih menuju ke pantry, membuat kopi untuk meredakan rasa pusing yang menimpa-nya akibat tak tidur semalaman.

Saat bersamaan Meri datang membawa barang belanjaan, menunduk sambil menyapa Devara. "Pagi Pak Dev, mau saya buatin sarapan dulu?" Tanya Meri dengan hati-hati.

Devara selesai mengaduk kopinya, memandang Meri sekilas "Tidak usah" ujarnya dengan datar, lalu mengambil cangkir kopi-nya dan berlalu pergi, namun baru beberapa langkah Ia berhenti seperti lupa dengan suatu hal, Devara kembali berjalan mendekati Meri.

"Buatkan bubur untuk dia, pastikan dia minum semua obat yang sudah disediakan" titah Devara lalu berjalan pergi meninggalkan pantry.

Meri menaikkan alisnya, bingung. "Dia siapa?" namun pertanyaan Meri terlambat, Ia hanya bisa bertanya dengan dirinya sendiri karena langkah Devara terlalu cepat dan terburu-buru.

...----------------...

"Kunci cadangan, saya lupa ngasih ke bi Meri tadi" Devara melempar kunci kamar Aruna kepada Andre.

"Baik Pak, silahkan masuk" ujar Andre sambil membukakan pintu mobil untuk Devara.

Satu jam kemudian...

Klik.. Pintu Aruna sudah dibuka, Aruna langsung berdiri, mengusap kasar wajahnya yang sembab, melihat siapa yang datang ke kamarnya pagi ini.

"Nyonya, ini buburnya. Obat nyonya harus diminum ya. Nanti saya dimarahin Pak Devara kalau Nyonya gak minum obatnya" Ujar Meri, dengan polosnya Meri berkata jujur seperti apa yang Devara perintahkan tadi.

Aruna menaikkan alisnya, bingung. "D-Devara..?" bahkan Aruna takut salah mendengar ucapan dari Meri, betapa tidak mungkinnya seorang Devara memaksanya minum obat, di mata Aruna Devara tidak pernah peduli dengannya sama sekali.

Aruna masih mematung saat Meri sudah kembali kedapur. Bubur hangat yang disajikan memang wangi dan menggugah selera, namun saat Meri mengatakan nama pria itu, Aruna menjadi enggan untuk memakannya, teringat betapa keji nya pria yang tak pernah menatapnya sebagai manusia itu.

Aruna masuk kedalam kamar, menutup kembali pintunya, Ia taruh bubur yang masih hangat itu di nakas, Aruna kembali membuka laci itu. Sapu tangan Devara. Gadis itu tersenyum, bukan tersenyum bahagia namun tersenyum kecewa. Sapu tangan yang awalnya Ia anggap sebagai pertolongan pria itu, kini tatapannya berubah kepada benda itu. Gadis itu melipat sapu tangan kembali dengan rapih lalu pergi ke lemari, mencari kemeja Devara dan meletakan sapu tangan itu kedalam saku kemeja.

"Harusnya aku buang, tapi kalau dia melihatnya pasti akan melemparkan aku kelaut, sapu tangan itu pasti lebih mahal dari pada nyawaku dimata dia" gumam Aruna, lalu melirik tajam kearah cctv yang berkedip.

Klik... Pintu kamar Aruna dibuka oleh seseorang. Aruna dengan cepat menutup lemari dan berlari kecil menuju ranjang.

Alana muncul dari balik pintu, heels 10cm, rambut terurai panjang, crop-top baby blue, menyilangkan tangannya. Semerbak aroma parfumnya menyebar di kamar Aruna, Aroma parfum yang tak asing, Aruna pernah mencium aroma yang sama saat di Mahesa Hospital, kemeja Devara.

"Gue males banget padahal, tapi demi Devara gue terpaksa datang" ucap Alana, bola matanya memutar malas lalu mengabsen setiap sisi kamar Aruna, seperti mengecek apakah ada jejak Devara didalam kamar itu.

Tak... Tak.. Tak.. Suara heels Alana terdengar sangat nyaring ditelinga Aruna. Alana mendekat, menuju jendela kaca menatap sekilas, lalu menyeringai. "Lo jadi babu gue sekarang"

Aruna mengerutkan alisnya, "Babu..?"

Alana berjalan keluar kamar, sambil tertawa seperti merendahkan. "Gue haus, ambilin minum"

Alana berjalan pergi meninggalkan kamar Aruna, gadis itu tertawa pahit, "Bahkan aku belum bernafas dengan lega, kamu sudah mengirim wanita itu kesini" ujar Aruna sambil menunjuk ke arah cctv.

Pagi hari itu, Aruna menjadi babu Alana. Mengambilkan minum, makan, cemilan dan memijat kaki Alana. Aruna sempat menolak dengan segala keberanian yang Ia miliki namun Alana mengancam.

"Oh, jadi gak mau. Aku telepon Devara deh suruh nyabut alat medis bokap lo sebagai hukuman karena lo gak ngikutin perintah gue" Ujar Alana, Ia memperlihatkan layar ponselnya, sudah tertera nama Devara dan akan memencet tombol panggil.

Aruna goyah, Ia tak bisa melawan perintah Alana. Dengan terpaksa menuruti perintahnya walaupun dengan perasaan kesal.

"Run, gue mau jus jeruk" Ucap Alana, tatapan matanya masih menuju ke ponselnya tanpa memperhatikan Aruna yang sudah mulai terlihat kelelahan.

Aruna membuat jus jeruk didapur lalu berjalan menuju ruang tengah dengan langkah pelan dan nafas yang sudah tidak teratur karena terlalu lelah dan belum sempat sarapan. Aruna mendekati Alana hendak menaruh jus jeruk itu di meja. Namun, Aruna kehilangan keseimbangan akibat kaki Alana yang menghalangi langkahnya. Jus itu jatuh mengenai baju Alana. Mata Aruna membulat, terkejut dan spontan mengambil tisu lalu membersihkannya. Namun crop-top baby blue sudah ternodai oleh jus jeruk yang berwarna orange.

Alana terkejut, beranjak dari duduknya matanya menatap tajam Aruna, rahangnya mengeras dan mengeratkan giginya. "LO TAU HARGA BAJU GUE" suara Alana meninggi, sangat marah.

Aruna diam, tak menunduk tak menjawab hanya menggeleng pelan.

Plakkk... Tamparan keras didapat Aruna saat itu, tangannya memegangi pipinya dengan erat. Aruna tau ada cctv yang memantaunya, jika Ia membalas maka Devara akan lebih kejam.

Aruna diam, bekas tamparan merah masih terlihat jelas di pipinya. "S-saya gak sengaja" ucapnya lirih, menunduk, pura-pura takut.

Alana menyeringai, Ia menjambak rambut Aruna dengan keras. "Jal*ng sial@n, gue gak bisa sabar lagi, lo itu cuma barang gak berharga yang pantes dibuang jauh-jauh" suaranya meninggi, urat dilehernya mulai kelihatan, Alana tak mampu menahan emosinya lagi.

Ditempat lain, Devara melihat Aruna yang ditampar oleh Alana, Ia zoom dibagian pipi aruna, merah bekas tangan Alana, pria itu langsung menutup laptopnya dengan kasar. Map-map dimejanya masih tertumpuk tinggi dan belum Ia sentuh.

"Andre, siapkan mobil" titah Devara dengan suara datar, tak marah, namun raut wajahnya mampu dibaca oleh Andre.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!