Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana di Balik Layar dan Aset Masa Depan
Malam itu, suasana di rumah Dika terasa begitu hangat dan damai. Setelah mandi dan berganti pakaian bersih, Dika duduk bersama Ayah, Ibu, dan Rina di meja makan. Makanan yang tersaji begitu lezat: ayam goreng bumbu kuning kesukaannya, sambal terasi, dan sayur bening. Semuanya terasa jauh lebih nikmat dibandingkan ingatannya di tahun 2026, mungkin karena rasa syukur yang luar biasa ada di hatinya saat ini.
Sepanjang makan, percakapan hanya berputar seputar pertandingan tadi siang. Rina yang paling bersemangat, terus meminta Dika menceritakan ulang bagaimana dia mencetak gol, bagaimana caranya melewati pemain lawan, dan bagaimana rasanya terkena hujan deras. Ibu sesekali menyela dengan kekhawatiran agar Dika tidak sampai sakit, sementara Ayah mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk atau melontarkan pertanyaan tajam soal taktik permainan, yang menunjukkan bahwa beliau benar-benar tertarik dan mengikuti perkembangan hobi anaknya.
"Jadi, Raka itu anak yang tinggi besar itu ya? Tadi Ayah lihat dia agak kasar mainnya," kata Ayah sambil mengunyah makanannya perlahan.
Dika tersenyum, mengusap bibirnya dengan serbet. "Iya, Yah. Dia memang kuat dan cepat. Tapi dia anak baik kok, cuma masih kurang pengalaman dan terlalu percaya diri saja. Nanti aku mau ajak dia latihan bareng. Kalau dia mau belajar, dia bakal jadi pemain hebat lho. Fisiknya bagus sekali."
Ayah tersenyum puas. "Bagus sikapmu itu, Le. Olahraga itu bukan cuma soal mengalahkan lawan, tapi juga mengangkat kualitas orang lain. Kalau kamu bisa mengajak teman-temanmu jadi lebih baik, itu nilai tambah yang jauh lebih besar daripada sekadar mencetak gol."
Percakapan itu berlanjut hingga makan selesai. Setelah membantu Ibu membereskan meja dan mencuci piring—hal yang jarang sekali dia lakukan di masa lalu, membuat Ibu terus saja mengelus dada dan tersenyum heran—Dika masuk kembali ke kamarnya.
Dia menutup pintu kamar pelan-pelan, lalu berjalan menuju meja belajarnya yang berderet buku-buku pelajaran SMA. Duduk di kursi kayu yang agak berderit itu, Dika menatap ke luar jendela. Malam itu langit cerah, bintang-bintang bersinar terang, dan udara malam terasa sejuk menembus kasa jendela.
Di sini, sendirian dalam kamarnya, pikiran Dika melayang jauh. Di satu sisi, hatinya penuh semangat untuk sepak bola. Dia sudah punya rencana latihan, dia tahu siapa saja bakat muda yang akan muncul di Indonesia dan dunia, dia tahu gaya permainan apa yang akan berkembang di masa depan. Tapi di sisi lain, ada satu hal penting lain yang terlintas di benaknya sejak dia sadar dia kembali ke tahun 2010.
Uang.
Di masa depan, Dika sering melihat dan mendengar betapa banyak pemain sepak bola hebat yang kariernya hancur atau hidupnya susah setelah pensiun karena masalah keuangan. Ada yang tertipu agen, ada yang boros, ada yang tidak paham cara mengelola kekayaan. Dika tidak ingin hal itu terjadi padanya. Dan yang lebih penting, dia ingin membebaskan keluarganya dari kekhawatiran ekonomi. Dia tahu betul kondisi keuangan orang tuanya saat ini. Cukup untuk makan dan sekolah, tapi jauh dari berkecukupan. Ayah masih bekerja keras, Ibu harus berhemat di mana-mana. Dika ingin mengubah itu semua.
Dan tiba-tiba, seperti ada petir menyambar ingatannya, sesuatu terlintas tajam di kepalanya.
"Bitcoin... Mata uang digital."
Dika tertegun, matanya membelalak lebar. Dia hampir lupa! Di tahun 2026, mata uang kripto sudah menjadi hal biasa, banyak orang menjadi kaya mendadak, banyak juga yang rugi, tapi ada satu nama yang sangat legendaris dan harganya melonjak gila-gilaan nilainya. Dan sekarang, tahun berapa ini? 2010!
Dika segera bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir kecil di kamarnya dengan napas sedikit terengah karena kegirangan bercampur kaget.
Ya! Dia ingat betul. Bitcoin diluncurkan pada tahun 2009. Di tahun 2010 ini, nilainya masih sangat, sangat murah. Bahkan dulu dia pernah membaca berita bahwa ada seseorang yang membeli dua buah pizza seharga 10.000 Bitcoin. Saat itu, nilainya mungkin hanya senilai beberapa dolar saja. Tapi lihatlah di masa depan... Harga satu keping Bitcoin bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah!
"Ya Tuhan... ini kesempatan emas," bisik Dika pelan, tangannya mengepal karena antusiasme yang meluap.
Ini bukan soal ingin kaya raya secara instan dan bermalas-malasan. Ini soal strategi. Dika sadar, untuk menjadi pemain sepak bola kelas dunia, dia butuh dukungan. Butuh peralatan yang baik, butuh asupan gizi yang tepat, mungkin nanti butuh biaya untuk mengikuti seleksi ke klub besar atau akademi. Dan lebih dari itu, dia ingin memastikan orang tuanya tidak perlu bekerja keras lagi saat dia mulai meniti karier. Dia ingin mereka hidup tenang, nyaman, dan bahagia.
"Kalau aku bisa beli sekarang... walaupun sedikit saja. Simpan, diamkan... nanti nilainya bakal meledak di tahun-tahun mendatang. Sekitar tahun 2011, 2013, nilainya mulai naik, dan tahun 2017, 2021... wah, itu nilai yang luar biasa," batin Dika menghitung cepat dalam kepalanya, mengingat grafik dan berita-berita ekonomi yang dulu sering dia baca sekilas tapi sekarang menjadi pengetahuan paling berharga.
Masalahnya sekarang... uangnya dari mana?
Dika duduk kembali di kursinya, menopang dagunya dengan tangan. Uang jajannya saat ini hanya sekitar dua ribu hingga tiga ribu rupiah sehari. Itu belum cukup untuk apa-apa. Dia harus mencari cara mendapatkan uang tambahan, entah itu dari menabung, atau mencari pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu sekolah dan latihan bola. Tapi yang lebih rumit lagi... bagaimana cara membelinya? Tahun 2010, akses internet belum semaju di masa depan. Belum ada dompet digital yang mudah didapat seperti nanti. Belum ada aplikasi jual beli yang terintegrasi.
Tapi Dika ingat, ada situs-situs forum tertentu, ada cara penambangan (mining) menggunakan komputer, dan ada pertukaran antar pengguna.
"Aku harus pelajari cara kerjanya dulu. Aku harus cari informasi. Besok aku harus cari waktu ke warnet," gumam Dika dengan tekad bulat.
Dia tahu ini berisiko. Dia ingat juga ada banyak penipuan, banyak mata uang digital lain yang akhirnya hilang atau bangkrut. Tapi Bitcoin adalah yang paling kuat, yang paling bertahan, yang nilainya paling stabil dan terus naik dalam jangka panjang. Itu adalah taruhan paling aman yang bisa dia lakukan dengan pengetahuan masa depannya.
"Kalau aku punya uang simpanan nanti, jangan beli sepatu bola mahal dulu, jangan beli mainan atau hal lain. Masukkan ke sana. Tahan sampai waktunya tepat untuk dijual," ucap Dika pada dirinya sendiri, menyusun rencana keuangan pribadinya di dalam hati.
Dika tersenyum lebar. Rasanya seperti dia memegang kunci harta karun yang tak bernilai sekarang, tapi nanti akan mengubah segalanya. Di satu sisi dia berjuang di lapangan hijau untuk kemenangan dan kehormatan, di sisi lain dia sedang menyusun benteng ekonomi untuk masa depan keluarganya. Dua misi besar yang akan dia jalankan beriringan.
Malam semakin larut. Dika menutup buku catatannya yang baru saja dia isi dengan tulisan-tulisan rahasia: nama-nama situs, tanggal-tanggal penting kenaikan harga, dan hal-hal yang harus dia ingat. Dia menyembunyikan buku itu di bagian terdalam laci mejanya, ditumpuk dengan buku pelajaran agar tidak ada yang melihat.