NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Berkali-kali Rio mencoba menghubungi Baskara di nomor pribadinya tapi tidak juga diangkat. Khawatir terjadi sesuatu, Rio langsung menuju apartemen.

Firasatnya benar, Baskara ditemukan pingsan di depan kamar mandi dalam posisi menelungkup. Dibantu dua orang satpam, Baskara dipindahkan ke atas ranjang lalu Rio menghubungi Hairs, teman sekaligus dokter pribadi Baskara.

“Sepuluh menit lagi aku ke sana. Sementara kompres bagian kepalanya yang memar dengan air hangat.”

“Baik dokter.”

Sambil menunggu Baskara yang masih belum sadarkan diri, tiba-tiba handphone Rio berdering.

Dahinya berkerut saat membaca sederetan angka di layar, bukan dari salah satu operator tapi nomor lokal.

“Halo.”

Seorang pria membalas sapaannya, melakukan konfirmasi dan menjelaskan tujuan menghubungi Rio. Begitu mendengar kantor polisi, Rio langsung menebak yang dihadapinya adalah scammer.

Alurnya persis sama persis dengan yang beredar di media sosial, dari seorang pria yang mengaku polisi, pembicaraan dialihkan pada perempuan yang berbicara tersendat, seperti habis menangis.

“Dasar penipu !” maki Rio.

“Tunggu Pak Rio, jangan ditutup ! Saya sungguh Andara, bukan penipu.”

“Jangan macam….”

Tiba-tiba terdengar suara bayi menangis membuat Rio bukan hanya langsung diam tapi batal menutup handphonenya.

Terdengar suara Andara menjauh sedang menenangkan Lily yang menangis.

“Maaf pak Rio tapi saya benar-benar membutuhkan bantuan, paling tidak tolong bawa Lily pulang. Kasihan kalau terlalu lama di sini.”

Suara Andara sudah jelas lagi, nadanya panik dan memelas.

“Kenapa kamu bisa sampai di kantor polisi ?”

“Ceritanya panjang tapi kejadiannya berhubungan sama nona Savira.”

Mendengar nama Savira, Rio pun menghela nafas panjang.

“Tunggu di situ, aku akan mengirim orang untuk menjemputmu.”

“Terima kasih pak Rio.”

Sebelum sambungan telepon benar-benar terputus, Rio sempat mendengar suara tangisan bayi membuat hatinya mendadak panas karena yang langsung terbayang adalah wajah Savira, perempuan sombong dan licik yang tidak pernah puas mengganggu hidup Baskara.

Sambil menghubungi pengacara, Rio menimbang-nimbang apakah perlu menghubungi Deswita karena Savira sudah melewati ranah pribadi keluarga Pradana

Kenapa harus bias pada Andara padahal tidak pernah ada ceita kalau Baskara punya hubungan dengannya. Masalah Andara adalah ibu susunya Lily tidak ada hubungannya dengan Baskara.

“Selamat pagi Nyonya,” sapa Rio.

***

Tidak sampai satu jam Andara sudah dibawa pulang oleh Deswita.

Datang dengan kuasa hukum keluarga Pradana, Deswita malah menuntut balik Savira dengan pasal berlapis.

Rekaman CCTV yang diserahkan secara sukarela oleh pihak sekolah malah semakin memberatkan posisi Savira yang terlihat jelas melakukan tindakan kasar lebih dulu pada Andara dan membuat Lily dalam posisi bahaya.

“Maafkan saya Bu.”

“Untuk apa ? Bukan kamu yang salah.”

“Kalau saya tidak emosi sampai mendorong nona Savira maka bu Deswita tidak perlu membayar pengacara untuk membebaskan saya.”

Deswita tertawa pelan. “Mereka tetap digaji sekalipun tidak ada masalah hari ini. Aku malah senang mendengar kamu berani melawan perempuan licik itu.”

Andara menghela nafas lalu tersenyum getir. “Saya langsung gelap mata begitu handphone saya hancur bahkan nona Savira sempat menginjaknya.”

“Aku akan minta Rio untuk membelikan handphone baru dan kamu tidak usah memikirkan bagaimana membayarnya.”

“Bukan masalah handphonenya Bu tapi data yang tersimpan di dalamnya. Semua kenangan saya dan Fajar ada di situ.”

Sekarang Deswita yang menghela nafas dan mengangguk pelan. “Aku mengerti. Nanti aku tanyakan suamiku apa masih mungkin data di handphonemu bisa diselamatkan.”

“Terima kasih Bu.”

Tidak ada lagi pembicaraan sampai akhirnya mobil tiba di rumah Baskara.

“Ara.”

Andara yang sudah bersiap-siap turun duduk lagi.

“Apakah dia menyakitimu ?”

“Maksud bu Deswita ?”

Deswita tertawa, sadar kalau Andara pasti memikirkan siapa yang dimaksud, Baskara atau Savira ?

“Tentu saja perempuan itu. Apa dia melukaimu atau Lily ?”

Kepala Andara menggeleng. “Sepertinya malh saya yang membuat nona Savira terluka tapi tidak terlalu parah sampai membuat jalannya pincang.”

“Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan dramanya. Lama-lama kamu akan hafal dengan teknik sandiwaranya. Payah, sejak dulu sampai sekarang sama saja, tidak berkembang, kurang kreatif.”

“Saya akan mengingat nasehat bu Desiwita hari ini.”

“Istirahatlah dan jangan pernah berpikir kalau dirimu yang bersalah.”

“Terima kasih Bu.”

Kali ini Savira bemar-benar turun dari mobil sambil menggendong Lily.

“Aku tidak mampir lagi, titip salam saja pada Daisy. Kapan-kapan aku akan mengajak kalian pergi.”

“Baik Bu.” Andara menganggukkan kepala lalu mundur dua langkah, menunggu pintu mobil Dewita tertutup.

“Jangan sungkan menghubungiku kalau perempuan itu masih berani menganggumu, tidak usah menambah beban perkejaan Rio karena tidak akan memberikan bonus untuk tugas semacam itu,” ujar Deswita sambil terkekeh.

Andara ikut tersenyum. “Baik Bu. Sekali lagi terima kasih untuk hari ini.”

“Hhhhhmmm.” Desiwta mengangguk dan tersenyum tipis.

“Jalan Pak.”

Belum sempat Andara masuk ke dalam rumah, mobil yang biasa mengantar dan menjemput Daisy melewati gerbang.

Sebelum mobil berhenti sempurna, pintu belakang sudah terbuka. Untung saja gerakan refleks sopir tidak membuat Daisy jatuh.

“Kak Ara nggak apa-apa ?” Mata Daisy menelisik seluruh tubuh Andara bahkan sampai ke ujung kaki.

“Kak Ara baik-baik aja. Memangnya kenapa ?”

“Teman-teman Sisi bilang kak Ara dibawa sama polisi gara-gara pukul orang.”

Andara sempat mengernyit lalu tertawa. “Kak Ara nggak pukul hanya tidak sengaja mendorong temannya papa Bas sampai jatuh.”

“Ada yang bilang dia yang salah karena merusak handphone kak Ara.”

“Oh ya ?” Andara pura-pura terkejut sambil tersenyum sedangkan Daisy mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Iya, tante itu tidak sengaja menjatuhkan handphone kak Ara lalu terinjak.”

“Terus kak Ara udah suruh ganti ?”

Andara hanya terkekeh. Untung saja Lily kembali menangis karena lapar dnegan begitu Andara bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan Daisy yang cukup sulit dijawab.

“Kak Ara ajak Lily bobo dulu ya ? Sisi bersih-bersih terus makan sama mbak Lastri.”

Kelihatan jelas Daisy tidak rela tapi tidak punya pilihan karena tangisan Lily semakin keras.

“Pokoknya malam ini Sisi mau tidur sama kak Ara soalnya cerita di sekolah belum selesai. Sisi pasti nggak bisa tidur kalau penasaran.”

Tanpa perlu merayu atau melakukan negosiasipanjang, jawaban Andara yang padat singkat dan jelas membuat Daisy bersorak kegirangan.

“Yeeeaaayyy !”

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!