Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Dua budak cinta.
Suasana di kamar itu semakin mencekam. Aura pertempuran terasa begitu tebal, Axel terlihat bingung dan frustrasi, ia berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan sendirian melawan musuh yang licik. Sementara Zayn? Ia berdiri dengan sangat percaya diri seolah seluruh situasi sudah berada di dalam genggamannya.
Namun... tiba-tiba...
Gerakan kecil di dalam pelukan Zayn menyita perhatian. Axel yang berdiri di hadapan mereka melihatnya lebih dulu. Matanya membelalak melihat kelopak mata Aruna yang mulai berkedip-kedip.
Dan tepat saat Zayn menunduk menatap gadis itu karena merasakan pergerakan di lengannya...
DUG!!
BRUK!!
Tanpa peringatan sedikitpun Aruna mengerahkan sisa tenaganya. Ia memukulkan bagian belakang kepalanya dengan keras tepat ke arah hidung mancung Zayn.
"AAAAWWWW!!"
Zayn meringis kesakitan luar biasa. Hidungnya terasa perih dan panas. Refleks membuatnya melepaskan pelukannya secara instan, namun tetap berusaha lembut agar Aruna tidak jatuh.
Aruna terhuyung kakinya masih terasa lemas dan sempoyongan akibat sisa obat bius, tapi dengan sekuat tenaga ia berlari kecil mendekat ke arah Axel. Dan Axel langsung menyambutnya dan memeluk tubuh mungil itu erat sekali melindunginya di balik tubuh kekarnya.
Zayn mundur beberapa langkah sambil memegang hidungnya yang mulai mengeluarkan darah segar. Ia menatap Aruna dengan tatapan tak percaya, tapi ada rasa kagum yang tak terbantahkan di sana.
"Aruna... kamu memang luar biasa..." gumam Zayn sambil menyeka darah di hidungnya. "Selalu saja memberikan kejutan yang tak terduga."
Ia menghela napas, lalu menatap heran ke arah gadis itu.
"Tapi aku jadi penasaran... kenapa obat biusnya hanya bekerja sebentar saja? Padahal dosisnya cukup untuk membius orang dewasa semalaman."
"Itu bukan urusanmu!!" bentak Aruna berani meski suaranya sedikit bergetar. "Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga sebelum aku marah."
"Yasudah aku akan pergi. tenang saja..." Zayn mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, tapi wajahnya kembali menyeringai jahil. "Tapi... aku minta satu hal dulu. Cium aku sekali saja sayang. Dengan begitu aku akan pergi tanpa keributan sedikitpun."
Mendengar permintaan gila itu Aruna langsung menoleh dan menatap Axel seolah meminta persetujuan atau pertolongan.
"JANGAN HARAP DIA AKAN MELAKUKANNYA ZAYN!!" seru Axel penuh amarah urat lehernya menonjol.
"Hm... siapa yang mengajakmu bicara hah?" balas Zayn kesal dan sinis. "Aku hanya mengajak Aruna bicara bukan dirimu! urusanmu denganku sudah selesai."
"Sudahlah tidak usah berantem gak jelas!!"
Tiba-tiba suara Aruna memecah keributan itu. Gadis itu justru terlihat santai luar biasa, seolah pertengkaran dua pria tampan itu hanyalah tontonan biasa.
"Mending kalian buatin aku makanan... aku gemetar nih, pengen makan banget rasanya..." rengek Aruna sambil memegang perutnya yang berbunyi keroncongan. "Kayaknya efek obat bius tadi deh bikin laper gak jelas."
Seketika... suasana mencekam itu lenyap begitu saja. Zayn yang tadi galak dan berdarah-darah tiba-tiba langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gadis yang ia anggap ekasih hatinya itu.
"Hahahaha!!" seru Zayn sambil masih memegang hidungnya. "Benar-benar tak ada duanya. Di situasi seberbahaya ini pun pikirannya cuma makan. Ya beginilah dia... selalu begitu, dan akan selalu begitu."
Zayn menggeleng-gelengkan kepala, amarahnya seketika hilang digantikan rasa gemas yang luar biasa pada gadis unik di hadapan itu.
"Baiklah... akan aku buatkan makanan sesuai permintaanmu," ucap Zayn kemudian dengan nada setuju yang mengejutkan.
"Aku tidak setuju!!" potong Axel cepat dengan wajah curiga. "Bisa saja kamu memasukkan obat bius lagi atau racun ke dalam makanan itu. Jangan harap aku biarkan Aruna memakannya!"
"Ah gak usah pada ribet deh!!" seru Aruna sambil melipat tangan di dada. "Aku beneran laper nih perutku bunyi terus. Cepetan buatin aku makanan. Dan kalian berdua buat sama-sama saja biar cepat selesai."
Aruna bersikap sangat santai, bak seorang ratu yang sedang memberi perintah. Ia tahu betul cara menghadapi kedua pria keras kepala ini. Ia tak perlu berteriak atau berontak. Cukup dengan bersikap manja dan tenang, Zayn pasti akan luluh dan Axel pasti tidak akan pernah menolak permintaannya.
Dan siapa sangka... dua pria yang tadi siap berperang sampai mati itu, justru langsung menurut begitu saja.
Axel menggendong Aruna dengan mudah, membawanya turun menuju dapur besar di rumah itu. Aruna lalu didudukkan dengan anggun di kursi meja makan, persis seperti Ratu yang sedang menunggu hidangan.
Sementara itu Axel dan Zayn mulai berdiri di depan kulkas, sibuk mengeluarkan bahan-bahan makanan segar yang tersedia.
Masalahnya adalah...
Dua orang ini sama sekali tidak punya skill memasak. Nol besar. Mereka berdiri bengong memegang ikan, sayuran, dan bumbu-bumbu, wajah mereka terlihat sama bingungnya. Berpikir ini harus diapakan?
Tapi gengsi pasti tetap ada. Zayn yang merasa paling jago segalanya mencoba bersikap sok tahu.
"Hmm, gampang ini mah, pagi pula hanya ikan," gumam Zayn. Ia mengambil ikan kakap segar dan pisau dapur besar.
Wuts! Wuts! Ceklek! Ceklek!
Tapi apa yang terjadi? Alih-alih memotong dengan rapi, Zayn malah memukul-mukul dan menebas ikan itu sembarangan. Bentuk ikannya hancur lebur dagingnya terbelah tak karuan, seolah-olah dia sedang menyiksa ikan itu atau sedang berlatih silat daripada mau memasak.
"Dasar bego, Bukan begitu caranya ! Ikannya jadi mati sia-sia !! " komentar Axel sinis melihat hasil kerja Zayn yang berantakan.
"Ah urus saja urusanmu sendiri..." ballas Zayn tak kalah ketusnya.
Axel pun tak mau kalah. Ia mengambil sayuran hijau dan wortel, berniat mencucinya. Tapi karena tangannya terlalu kuat dan terlatih untuk memegang senjata, bukan untuk urusan dapur...
PRAK! PLEK!
Sayuran itu malah patah-patah, sobek, dan hancur bahkan sebelum sempat masuk ke air.
Melihat pemandangan di depannya itu...
Hahaha!! Hahaha!!
Aruna tertawa terpingkal-pingkal. Ia menutup mulutnya dengan tangan, bahunya terguncang-guncang menahan tawa melihat dua pria tampan, kaya, dan gagah ini bertingkah konyol di dapurnya.
Sementara itu, Aruna santai sekali mengambil potongan buah anggur dan apel di meja, memakannya dengan tenang bak penonton setia.
"Kalian ini mau masak apa mau perang sih?!" tanya Aruna sambil terkekeh wajahnya terlihat sangat puas dan angun.
"Lihat tuh ikannya jadi ancur gak jelas bentuknya. Sayurannya juga pada patah semua. Kalian ini mau bikin aku makan sampah apa gimana sih? Hahaha!"
Aruna benar-benar menikmati momen langka ini, di mana dua laki-laki yang paling berkuasa justru tak berdaya di hadapan kompor dan perintahnya.
Axel dan Zayn tak mau kalah. Mereka kembali adu mulut seru.
"Dasar kurang ajar! Lihat nih rumah jadi kayak kapal pecah. Semua orang pingsan dimana-mana. Gara-gara ulahmu! Dan parahnya Aruna lapar Semuanya jadi kacau dan Semua salahmu!! Dasar Mafia Terkutuk." omel Axel panjang lebar sambil mendorong bahu Zayn. Mencoba mengalihkan fokus Aruna pada kesalahannya.
"Halah siapa suruh lemah banget sih anak buahmu? Itu namanya bukan orang tapi beban. Buang-buang duit saja sampah memang." balas Zayn tak terima, langsung mendorong balik lebih kuat.
Dan tanpa sadar... perang dunia ketiga pun dimulai di dapur itu. Tapi bukan pakai tinju atau senjata melainkan pakai sayuran.
BYUR! DUSH! PLEK!
Tomat, wortel, sampai kubis dilempar sana sini. Mereka saling membela diri merasa paling benar dan paling berkuasa. Dapur yang tadinya berantakan, sekarang jadi benar-benar hancur lebur. Sayuran berserakan di lantai, bumbu banyak yang tumpah dan suasana makin panas.
Aruna hanya memandang dengan wajah datar. Ia tidak berteriak atau panik. Ia hanya diam menonton kekacauan itu sampai ia merasa cukup.
"Sudah cukup!!"
Teriak Aruna dengan suara yang terdengar biasa saja tapi punya efek magis luar biasa.
Seketika itu juga Axel dan Zayn langsung membeku. Sayuran yang ada di tangan mereka terlepas jatuh ke lantai. Mereka langsung menunduk, saling membelakangi satu sama lain enggan saling tatap persis seperti anak kecil yang baru saja dimarahi ibu mereka.
"Sudah kalian duduk aja di sana..." ucap Aruna santai tapi tegas sambil medorong keduanya ke arah kursi meja makan. "Aku yang masak. Gak usah pada nimbrung, makin lama makin kacau saja."
"Tapi sayang... kamu baru sadar bahaya kalau kamu yang masak..." cegat Axel khawatir begitu juga Zayn yang hendak bicara.
"DIAM!!"
Satu kata dari Aruna langsung membuat kedua pria itu terduduk kembali di kursi makan, menatap patuh ke arah gadis itu.
Mereka berpikir jika Aruna pasti pandai memasak, dan tentu akan memasakan makanan yang layak untuk mereka makan.
Namun... harapan seringkali menyakitkan.
Apa yang terjadi? Aruna ternyata sama sekali tidak jago memasak. Skill-nya juga nol besar.
Yang ia lakukan hanyalah mengambil dua bungkus mie instan menyalakan kompor lalu merebus air, memasukkan mie dan bumbunya.
Tak lama kemudian dua mangkok mie tersaji di meja. Tapi penampakannya... membuat kaget luar biasa.
Mienya lembek dan hancur tak berbentuk. Kuahnya kental aneh dengan warna yang mencurigakan. Bau pedasnya sudah menyengat sampai ke hidung meski belum dimakan.
Zayn dan Axel saling lirik. Mereka merasa jijik dan tak tega melihat makanan itu, tapi melihat wajah Aruna yang penuh harap dan bangga... mana mungkin mereka menolak.
"Makanlah... habiskan ya..." ucap Aruna manja sambil menopang dagu menunggu respon.
Dengan napas tertahan keduanya mengambil sendok dan garpu. Tangan mereka langsung gemetar, wajah mereka juga sama-sama tegang. Jelas enggan mencicipi makanan aneh itu. Tapi cinta memang buta, membius siapa saja untuk jadi budaknya.
"Ya demi kamu, harusnya apa saja bisa aku makan." Batin Zayn.
"Aku harus kuat ini buatan calon istriku..." batin Axel memacu semangat.
Mereka menyuapkan mie itu ke mulut... mencoba mengunyah... dan menelan...
DEG!!!
Seketika mata mereka melotot lebar. Wajah mereka memerah padam seketika.
Rasa pedasnya luar biasa. Sampai ke ulu hati. Sampai mata mereka berair. Ternyata Aruna sengaja menaburkan bubuk cabai banyak sampai tumpah-tumpah sebagai hukuman, untuk mereka yang tadi berisik.
"Uuuuuhhh... ai... air.. pedesnya minta ampun!!" Zayn terbatuk-batuk sambil mengipas-ngipas mulutnya. Tangannya mencoba meraih gelas di dekatnya, ingin minum air kala itu juga, tapi dengan cepat Aruna menebas tangan besar itu kasar.
"Jangan minum air. Bos Mafia kan kejam nggak bisa aku kasih keringanan. sudah makan yang tenang, jangan lupa habiskan!! " Tolak Aruna mengancam, Zayn langsung lemas tak berdaya. Bukan karna jadi budak cinta, tapi rasa panas dilidahnya memang membakar jiwa raganya.
"Aruna... Kamu sengaja ya?!" Axel juga terengah-engah keluar keringat dingin, tapi ia tetap berusaha menghabiskannya demi tidak menyakiti hati gadis itu.
Aruna hanya tertawa puas melihat dua pria tangguh itu menderita karena ulahnya sendiri.
Dua pria itu malah menjadi lemah tak berdaya dihadapannya.