NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke masa lalu

BAB 10 — KEMBALI KE MASA LALU

Gelap. Sangat gelap. Di sekelilingku tidak ada apa-apa, hanya ruang hampa yang sunyi dan tak berbatas. Aku tidak bisa merasakan sentuhan apa pun, tidak bisa mendengar suara apa pun, seolah seluruh panca indraku telah lenyap begitu saja. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah melayang bebas di tengah kekosongan yang tak berujung. Apakah ini kematian? Apakah segalanya telah berakhir untukku selamanya? Entah sudah berapa lama aku berada di tempat yang asing ini—beberapa detik, beberapa jam, atau mungkin bahkan beberapa tahun—aku tidak mampu membedakannya. Satu-satunya hal yang kutahu dengan pasti adalah keyakinan yang mengendap di hatiku: aku telah mati.

Aku masih mengingat dengan sangat jelas peristiwa terakhir dalam hidupku sebelumnya, rasa sakit yang luar biasa saat mobil yang kutumpangi menghantam dasar jurang dengan keras. Aku masih bisa merasakan kembali dinginnya darah yang membasahi seluruh tubuhku, mendengar suara logam yang remuk dan hancur berantakan, serta melihat dengan jelas wajah Arga dan Eliana yang penuh dengan kemenangan dan kepuasan di balik kaca mobil mereka. Aku juga masih mengingat jelas kutukan yang kuucapkan dengan segenap sisa kekuatanku sebelum kesadaran itu perlahan hilang selamanya.

Namun tiba-tiba, di tengah keheningan yang menyelimuti, sebuah suara samar mulai terdengar. Suara itu datang dari kejauhan, sangat lembut dan hampir tak terdengar, seolah berasal dari dunia yang berbeda.

“Nona…”

Aku mengernyitkan dahi, mencoba memusatkan perhatian. Suara itu terasa begitu akrab, seolah pernah kudengar berkali-kali dalam hidupku.

“Nona Violet…”

Kelopak mataku terasa sangat berat, seolah ada beban besar yang menekannya, namun perlahan namun pasti, aku mulai bisa merasakan kembali sesuatu yang nyata. Ada permukaan yang empuk di bawah tubuhku, selimut yang hangat menyelimutiku, dan aroma bunga melati yang khas tercium samar di udara.

“Nona, Anda harus bangun.”

Suara itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih jelas. Dengan susah payah, aku membuka mataku perlahan. Cahaya terang langsung menyinari penglihatanku, membuatku refleks mengangkat tangan untuk menutupi wajah. Napasku terasa memburu dan jantungku berdegup sangat kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dada. Segera aku duduk tegak, lalu pandanganku bergerak cepat menyapu seluruh ruangan di sekitarku, dan seketika seluruh tubuhku terasa membeku di tempat.

Ini… ini adalah kamarku. Kamar yang ada di rumah besar keluarga Wibisono, bukan kamar kecil yang sempit di rumah tempatku tinggal bersama Arga, bukan pula ruangan rumah sakit yang penuh bau obat, dan jelas bukan tempat yang kurasakan sebagai alam kematian. Ini adalah kamar yang sudah lama tidak kutinggali, namun masih begitu lekat dalam ingatanku. Aku menatap sekeliling dengan perasaan bingung yang mendalam: lemari pakaian berwarna putih yang besar, lukisan pemandangan yang tergantung rapi di dinding, meja rias dengan cermin besar di sudut ruangan—semuanya terlihat persis sama seperti yang aku ingat, persis seperti keadaan dua tahun yang lalu, dua tahun sebelum aku memutuskan untuk menikah.

“Tidak mungkin… ini tidak mungkin terjadi,” gumamku dengan suara yang bergetar hebat. Aku segera turun dari tempat tidur, kakiku terasa lemas dan hampir tidak mampu menopang tubuhku, namun aku memaksakan diri berjalan tergesa-gesa menuju meja rias. Di sana, cermin besar itu memantulkan sosok seorang perempuan muda yang masih segar, dengan wajah yang belum dipenuhi luka batin dan kekecewaan yang mendalam. Aku menyentuh pipiku dengan gemetar, tidak ada bekas luka atau memar akibat tamparan, tidak ada jejak darah, dan tubuhku terasa sehat serta utuh sepenuhnya. Aku mundur beberapa langkah sambil terus menatap pantulan diriku sendiri, jantungku berdegup semakin kencang seolah ingin meledak, dan pikiranku dipenuhi pertanyaan yang tak terjawab: apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku?

Tok… tok… tok…

Suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan, sebelum pintu itu terbuka perlahan dan seorang pelayan masuk ke dalam ruangan. Begitu melihat wajah perempuan itu, aku langsung mengenalinya dengan pasti. Itu adalah Mira, pelayan pribadiku yang sudah berhenti bekerja satu tahun lalu untuk merawat ibunya yang sakit parah. Namun saat ini, ia berdiri di hadapanku terlihat masih muda, mengenakan seragam kerja yang sudah lama tidak terpakai, dan menatapku dengan tatapan yang penuh perhatian.

“Nona? Apakah Anda baik-baik saja?” tanyanya dengan nada bingung melihat reaksiku yang aneh.

Aku menatapnya tanpa berkedip, masih terkejut melihat sosok yang kupikir sudah lama tidak ada di sini. “Hari ini tanggal berapa?” tanyaku akhirnya dengan suara yang pelan dan bergetar.

Mira tampak semakin bingung mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba. “Tanggal dua belas, Nona,” jawabnya dengan sopan.

Dadaku seketika terasa sesak dan menegang. “Bulan?” tanyaku lagi dengan nada yang lebih tegas.

“Bulan Juni,” jawabnya.

Tanganku mulai gemetar hebat hingga sulit untuk menahan diri. “Tahun?”

“Tahun 2024, Nona,” jawab Mira, matanya kini menatapku dengan kekhawatiran yang semakin besar.

Seolah disambar petir di siang bolong, seluruh dunia di sekitarku terasa berhenti berputar sejenak. Aku merasa sulit untuk menarik napas, pikiranku menjadi kacau balau, dan tubuhku terasa kaku tak mampu bergerak. Aku mengenal tanggal itu dengan sangat baik, bahkan terlalu baik. Hari ini adalah hari yang menjadi titik balik dalam hidupku sebelumnya—hari di mana Arga datang melamar diriku.

Begitu Mira keluar dari kamar setelah memastikan keadaanku, aku segera berjalan tergesa-gesa menuju meja samping tempat tidur dan meraih ponsel yang tergeletak di sana. Tanganku masih gemetar hebat saat aku menyalakannya, lalu segera membuka kalender yang tertera di layar. Benar sekali, tanggal yang tercatat adalah dua belas Juni 2024, persis seperti yang dikatakan Mira. Aku membuka galeri foto, melihat foto-foto lama yang masih tersimpan rapi di sana, lalu memeriksa pesan singkat, surel, dan berbagai dokumen yang ada di dalamnya—semuanya masih sama persis seperti dua tahun yang lalu, tidak ada satu pun yang berubah. Tanpa sadar, kakiku terasa lemas dan aku terduduk di lantai, sementara air mata perlahan mulai mengalir membasahi pipiku. Air mata ini bukan karena rasa sedih, melainkan karena rasa tidak percaya yang mendalam. Benarkah aku benar-benar kembali? Apakah Tuhan benar-benar memberiku kesempatan kedua setelah semuanya berakhir dengan tragis sebelumnya?

Tangisku perlahan pecah, aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, membiarkan seluruh emosi yang selama ini tertahan dan terpendam meledak begitu saja. Aku masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Papa, untuk mencegah kecelakaan yang merenggut nyawanya, untuk menghentikan segala rencana jahat yang telah disusun oleh Arga dan Eliana. Aku tidak terlambat, belum kali ini. Beberapa menit kemudian, aku memaksakan diriku untuk menenangkan hati dan pikiran, menarik napas panjang berkali-kali agar ketenangan kembali datang, lalu berdiri tegak dengan pandangan yang mulai berubah. Jika aku benar-benar telah dikembalikan ke masa lalu, maka aku tidak boleh lagi mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak boleh lagi menjadi Violet yang bodoh, mudah tertipu, dan buta akan niat jahat orang lain. Aku tidak boleh lagi jatuh ke dalam perangkap yang sama yang telah menghancurkan seluruh hidupku dan keluargaku.

Tiba-tiba, ponsel di tanganku berdering nyaring. Nama yang muncul di layar membuat seluruh tubuhku kembali menegang seketika. Arga. Aku menatap nama itu dalam waktu yang lama, teringat bagaimana dulu nama itu selalu membuat hatiku berdebar bahagia, namun kini hanya menimbulkan rasa muak dan benci yang mendalam. Panggilan itu terus berdering, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya.

“Halo,” ucapku dengan suara yang datar dan tanpa ekspresi.

Suara Arga langsung terdengar dari seberang telepon, terdengar lembut, hangat, dan penuh perhatian persis seperti yang selalu ia tunjukkan selama ini—topeng sempurna yang telah ia gunakan untuk menipu banyak orang.

“Selamat pagi, Violet. Aku menelepon hanya untuk memastikan apakah kau sudah siap dengan acara hari ini,” ucapnya dengan nada yang terdengar tulus.

Tentu saja aku tahu apa maksudnya. Hari ini adalah hari lamaran yang telah direncanakan, hari di mana aku dengan bodohnya menerima cincin pertunangan itu dan secara tidak sadar menyerahkan seluruh hidupku kepada orang yang kelak akan menjadi algojoku sendiri.

“Aku sudah siap,” jawabku singkat, nadaku terdengar sangat datar hingga Arga sempat terdiam sejenak.

“Kau yakin kau baik-baik saja? Suaramu terdengar sedikit berbeda,” tanyanya dengan nada berpura-pura khawatir.

Aku tersenyum tipis, senyum yang penuh sindiran. Andai saja ia tahu bahwa perempuan yang sedang diajak bicara ini bukan lagi Violet yang sama yang ia kenal, bukan lagi perempuan yang mudah dibohongi oleh kata-kata manisnya.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir,” jawabku singkat.

“Bagus kalau begitu. Aku akan datang ke rumah siang nanti seperti yang sudah direncanakan,” ucapnya dengan nada yang terdengar puas.

Aku memejamkan mataku sejenak, mengingat kembali seluruh peristiwa yang terjadi dalam hidupku sebelumnya—mulai dari hari lamaran, pernikahan yang terlihat bahagia di mata orang lain, perselingkuhan yang tersembunyi, pengkhianatan yang menyakitkan, hingga akhirnya kematian yang tragis. Perlahan aku membuka mataku kembali, dan untuk pertama kalinya sejak aku sadar berada di masa lalu, aku tersenyum. Namun senyum ini bukanlah senyum yang lahir dari rasa cinta atau kebahagiaan, melainkan senyum seseorang yang baru saja diberi kesempatan untuk membalas segala kejahatan yang telah dilakukan.

“Aku akan menunggumu di sini,” jawabku sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.

Aku berjalan perlahan menuju balkon kamar, membuka pintunya lebar-lebar dan membiarkan angin pagi berhembus menyentuh wajahku. Matahari pagi bersinar terang menyinari taman luas di halaman rumah, burung-burung berkicau riang di antara pepohonan, dan langit tampak cerah tanpa sedikit pun awan gelap. Dunia ini terlihat begitu damai dan indah, namun tidak ada satu pun orang yang menyadari bahwa aku pernah mati, bahwa aku telah melihat masa depan yang kelam, dan bahwa dua orang yang akan datang ke rumah ini beberapa jam ke depan sebenarnya adalah dua monster yang menyamar sebagai manusia.

Aku menggenggam pagar balkon dengan erat, dan perlahan tatapanku berubah menjadi dingin dan tajam. Arga dan Eliana, kali ini aku mengetahui seluruh rencana jahat yang telah kalian susun, aku tahu siapa yang akan kalian khianati dan siapa yang akan menjadi korban dari keserakahan kalian, serta bagaimana semuanya akan berakhir jika dibiarkan berjalan sesuai keinginan kalian. Kalian berhasil membunuhku sekali di kehidupan yang lalu, namun hal itu tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya. Karena kali ini, aku tidak akan lagi menjadi korban yang pasrah. Aku akan menjadi mimpi buruk terbesar yang pernah kalian rasakan. Dan saat Arga datang melamarku beberapa jam lagi, ia tidak akan pernah menyangka bahwa perempuan yang menunggunya bukan lagi Violet yang dahulu jatuh cinta pada kepalsuannya, melainkan Violet yang telah kembali dari kematian—perempuan yang datang dengan satu tujuan utama: menghancurkan mereka berdua hingga tak tersisa apa pun.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!