NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Segel Merah dan Benteng Bambu

​Stempel lilin merah di atas amplop cokelat itu tampak seperti setetes darah segar yang membeku. Logonya—sebuah timbangan keadilan yang dibingkai oleh pedang menyilang—tercetak timbul dengan presisi yang angkuh. Itu adalah lambang dari Bratasena & Partners, firma hukum paling buas di ibu kota, yang terkenal tidak pernah melepaskan mangsanya sampai tulang terakhir berhasil dihisap sumsumnya.

​Gani berdiri mematung di teras rumah Kirana. Angin sore yang tadinya terasa sejuk kini terasa menusuk pori-porinya seperti ribuan jarum es. Di kejauhan, sosok Pak Yono yang berjalan menjauh sudah nyaris tak terlihat, namun Gani masih belum bergerak satu sentimeter pun.

​Dengan napas yang tertahan di dada, Gani menyelipkan ibu jarinya di bawah segel lilin tersebut.

​Krak. Suara patahan lilin itu terdengar sangat keras di telinganya, seolah menggemakan retakan pada fondasi kedamaian yang baru saja ia bangun susah payah di desa ini.

​Gani menarik keluar selembar kertas tebal berlogo resmi. Matanya yang tajam memindai deretan kalimat formal yang diketik rapi. Itu bukan sekadar surat pemberitahuan. Itu adalah Surat Peringatan Eksekusi Hak Tanggungan.

​Kalimat demi kalimat ia baca, dan setiap kata yang tercetak di sana mengurai teka-teki busuk yang ditinggalkan oleh Raka.

​Dalam dokumen proyek bodong yang dulu ia tanda tangani tanpa membaca detailnya karena terlalu memercayai sahabatnya itu, Raka rupanya telah menyelipkan klausul jaminan agunan tambahan. Karena apartemen dan aset perusahaan Gani di Jakarta dinilai belum cukup menutupi 'kerugian' fiktif para investor, firma hukum ini sekarang membidik aset pribadi terakhir yang tercatat atas nama Gani Raditya: Sebidang tanah seluas seribu meter persegi di Desa Karangbanyu. Rumah peninggalan orang tuanya.

​"...Apabila dalam batas waktu 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak surat ini diterima, Saudara tidak dapat melunasi sisa kewajiban sebesar Rp 2.450.000.000,- (Dua Miliar Empat Ratus Lima Puluh Juta Rupiah), maka pihak bank didampingi aparat penegak hukum berhak melakukan penyitaan paksa atas aset tanah dan bangunan yang berlokasi di..."

​Angka nol yang berderet panjang itu menari-nari mengejek di atas kertas. Dua miliar lebih. Bahkan jika Gani menjual organ tubuhnya, ia tidak akan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu empat belas hari.

​Kini Gani mengerti dengan sangat jernih. Kedatangan Paman Lukman dan agen properti kemarin bukanlah sebuah kebetulan. Paman Lukman, dengan insting oportunisnya yang licik, pasti sudah mendengar kabar dari Jakarta bahwa tanah ini akan segera disita. Pria tua itu mencoba memanfaatkan situasi dengan membeli tanah tersebut seharga dua ratus juta rupiah—harga yang sangat murah—sebelum bank benar-benar menyitanya, untuk kemudian ia jual kembali dengan harga normal kepada developer.

​Mereka semua adalah burung nasar yang berputar-putar di atas bangkai kehidupannya.

​Tangan Gani yang memegang surat itu bergetar hebat. Kertas tebal itu berderak di bawah cengkeramannya.

​Satu bulan yang lalu, menerima surat seperti ini akan membuat Gani langsung mencari silet, menelan segenggam pil penenang, atau pergi ke hutan membawa tali nilon. Ia akan menyerah, membiarkan dirinya digilas oleh mesin raksasa bernama sistem hukum dan pengkhianatan.

​Namun hari ini, di bawah langit Karangbanyu yang mulai menggelap, reaksi Gani sama sekali berbeda.

​Rasa takut dan keputusasaan itu memang masih ada, bersembunyi di sudut kecil otaknya. Tetapi, emosi itu langsung ditelan mentah-mentah oleh gelombang amarah yang luar biasa besar. Amarah murni yang panas dan protektif.

​Gani menoleh, menatap ke arah pintu kayu yang sedikit terbuka, tempat Kirana sedang tertidur memulihkan diri. Gadis yang jantungnya berdetak lemah itu kini menjadi jangkar bagi kewarasannya. Gadis itu butuh ketenangan. Anak-anak desa butuh taman bacaannya.

​Jika Raka dan para pengacara berjas mahal itu berpikir mereka bisa datang ke desa ini, mengusir Gani, dan merobohkan satu-satunya tempat yang memberinya alasan untuk bernapas, maka mereka telah membangunkan singa yang salah. Gani Raditya mungkin sudah kehilangan uangnya, tetapi ia belum kehilangan otaknya yang jenius.

​Gani melipat surat itu dengan gerakan kaku dan cepat, memasukkannya ke dalam saku belakang celana jinnya. Ia menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya selama lima detik, lalu menghembuskannya pelan untuk mengusir sisa-sisa adrenalin. Ia mengatur raut wajahnya sedemikian rupa, menghapus setiap jejak kepanikan, dan menggantinya dengan ekspresi datar yang tenang.

​Gani melangkah kembali masuk ke dalam rumah.

​Di dalam kamar, lampu tidur sudah dinyalakan. Kirana rupanya sudah terbangun dari tidur sorenya. Gadis itu sedang duduk bersandar, meminum segelas air putih. Saat mendengar langkah kaki Gani, ia menoleh dengan senyum tipis.

​"Kau lama sekali di luar," tegur Kirana pelan. Suaranya terdengar jauh lebih kuat dibandingkan kemarin malam, sebuah pertanda pemulihan yang menggembirakan hati Gani. "Siapa tadi? Aku dengar suara Pak Yono."

​Gani mengambil kembali kursinya di sebelah ranjang, duduk dengan postur rileks yang sangat meyakinkan. "Hanya Pak Yono. Dia memberikan laporan kalau atap Balai Desa sudah dipasangi lampu tambahan untuk pengajian besok lusa. Dia memintaku mengecek instalasi kayunya lagi besok pagi, takut-takut ada yang bergeser."

​Sebuah kebohongan yang meluncur sangat mulus. Gani adalah negosiator tingkat tinggi; menyembunyikan kebenaran demi 'kebaikan klien' adalah keahliannya. Dan saat ini, klien terpentingnya adalah ketenangan batin Kirana.

​Kirana menatap Gani dengan mata sabitnya yang memindai. Meski bibir pria itu tersenyum, Kirana bisa menangkap sedikit ketegangan pada garis rahang Gani. Gadis itu meletakkan gelasnya, lalu perlahan mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lengan Gani.

​"Kau berbohong, ya?" tembak Kirana langsung, intuisinya luar biasa tajam jika menyangkut pria di hadapannya ini.

​Gani tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat natural. "Kenapa aku harus berbohong soal atap Balai Desa?"

​"Bukan soal atapnya," Kirana memiringkan kepalanya. "Tapi ada sesuatu yang mengganggumu. Bahumu kaku seperti kayu jati, dan tatapanmu... kau menatapku seolah kau sedang memastikan aku tidak akan tiba-tiba menghilang."

​Gani terdiam. Ia menatap tangan kecil Kirana yang bertengger di lengannya. Ia membalikkan tangannya sendiri, menggenggam jari-jari gadis itu dengan sangat lembut.

​"Aku tidak berbohong soal Pak Yono," Gani berbicara pelan, memilih untuk menyajikan setengah kebenaran agar Kirana tidak curiga. "Tapi aku memang sedang memikirkan sesuatu yang menggangguku. Paman Lukman kemarin... dia mengingatkanku pada hal-hal di Jakarta yang belum sepenuhnya selesai."

​Mata Kirana meredup menyiratkan pemahaman. Ia tahu masa lalu Gani terlalu rumit untuk diselesaikan hanya dengan berlari ke desa. "Mereka masih mencarimu?"

​"Biar aku yang mengurusnya," Gani memotong lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Kirana. "Tugasku adalah menyelesaikan masalah. Tugasmu adalah sembuh. Kita sudah sepakat soal ini, kan, Tiran Kecil?"

​Kirana menghela napas panjang, akhirnya mengalah. Ia menyandarkan kepalanya ke bantal. "Baiklah, Komandan. Tapi ingat, kalau kau butuh tempat untuk bersembunyi dari para penagih utang, kolong ranjangku masih kosong."

​Gani tertawa lepas mendengar lelucon sarkastis itu. Beban berat di saku belakang celananya seolah terlupakan sejenak. Berada di dekat Kirana, mendengarkan celotehannya, adalah penawar racun terbaik yang bisa Gani dapatkan.

​Malam harinya, setelah memastikan Bibi Ratna kembali menjaga Kirana dan gadis itu sudah meminum obat malamnya, Gani pulang ke rumahnya.

​Bulan bersinar terang, namun rumah limasan tua itu tampak seperti siluet monster yang sedang tertidur di tengah kegelapan pekarangan. Gani tidak langsung menyalakan lampu teplok saat ia masuk. Ia mengunci pintu depan, melangkah dalam gelap menuju ruang tengah, lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi rotan.

​Di tengah kesunyian pekat itu, ia merogoh saku belakangnya, mengeluarkan surat dari Bratasena & Partners. Ia tidak perlu membacanya lagi. Angka '14 hari' sudah terpatri kuat di dalam otaknya seperti cap besi panas.

​Otak Gani mulai bekerja dengan kecepatan penuh, membedah masalah ini dari sudut pandang arsitektur strategis.

​Secara hukum formal, ia kalah. Sertifikat tanah itu sah menjadi agunan akibat tanda tangan palsu yang dirancang Raka sedemikian rupa hingga sangat sulit dibuktikan di pengadilan perdata tanpa biaya pengacara yang fantastis. Jika pihak bank datang membawa juru sita, Gani secara teknis tidak punya hak untuk menghalangi.

​Namun, hukum tertulis di atas kertas sering kali tidak berkutik ketika dihadapkan pada hukum sosial di lapangan. Gani tahu prinsip Sosio-Engineering dalam pembebasan lahan: sebuah perusahaan tidak akan berani melakukan penggusuran paksa jika di atas lahan tersebut berdiri sebuah fasilitas umum yang sangat vital dan dibela mati-matian oleh masyarakat setempat. Risikonya terlalu besar untuk citra perusahaan dan berpotensi memicu konflik komunal yang berkepanjangan.

​Saat ini, rumahnya hanyalah rumah kosong tak berpenghuni yang tidak memiliki nilai sosial bagi warga.

​Tapi... bagaimana jika tanah pekarangan rumahnya ini tiba-tiba menjadi lokasi berdirinya Taman Bacaan Akar Pelangi yang baru? Bagaimana jika fasilitas itu menjadi pusat kegiatan belajar seluruh anak-anak desa, didukung penuh oleh Kepala Desa dan tokoh masyarakat?

​Jika itu terjadi, menyita tanah ini tidak lagi sekadar urusan mengusir satu pria bangkrut, melainkan urusan menghancurkan mimpi dan fasilitas pendidikan satu desa. Bank mana pun akan berpikir seribu kali sebelum mengirim buldoser ke tempat seperti itu.

​Mata Gani terbuka lebar dalam kegelapan. Sebuah senyum miring, tajam dan sangat berbahaya, terbentuk di wajahnya.

​"Kau ingin bermain catur denganku, Raka?" bisik Gani ke arah kekosongan ruang tamunya. "Mari kita lihat, apakah pion hukummu bisa menembus benteng bambuku."

​Gani segera beranjak dari kursinya. Ia menyalakan lampu teplok, lalu berjalan ke pekarangan belakang. Di bawah cahaya remang-remang bulan dan lampu minyak, tumpukan bambu petung yang sudah ia potong dan takik tadi siang terhampar menunggunya.

​Empat belas hari. Ia hanya punya waktu kurang dari dua minggu.

​Rencana awalnya untuk menyelesaikan taman bacaan ini secara diam-diam dan perlahan sebagai kejutan untuk Kirana, harus dibatalkan. Skalanya terlalu besar untuk dikerjakan oleh satu pasang tangan dalam waktu sesingkat itu. Ia harus merakit kerangka utamanya dengan cepat, dan bambu-bambu itu terlalu berat untuk diangkat sendirian.

​Gani butuh bantuan. Ia butuh tenaga manusia.

​Dan untuk mendapatkan itu, Gani Raditya, pria yang selama ini selalu mengandalkan uang untuk membeli tenaga orang lain, harus belajar melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya: Meminta tolong dengan kerendahan hati.

​Keesokan paginya, tepat setelah matahari membasuh embun dari jalanan aspal, Gani melangkah menuju rumah Kang Ujang.

​Bengkel mebel sederhana itu sudah dipenuhi suara ketukan palu dan gesekan gergaji. Kang Ujang dan dua orang pemuda desa sedang sibuk mengukur lemari kayu.

​"Lho, Mas Gani! Pagi-pagi sudah mampir," sapa Kang Ujang riang, meletakkan pensil di belakang telinganya. "Ada desain tambahan buat bengkel saya, Mas?"

​Gani berhenti di ambang pintu bengkel. Ia menarik napas panjang. Ia menanggalkan seluruh sisa-sisa jubah keangkuhan CEO-nya, dan membiarkan dirinya berdiri di sana murni sebagai seorang warga Desa Karangbanyu.

​"Tidak, Kang Ujang," jawab Gani pelan, namun suaranya cukup lantang untuk didengar oleh para pekerja lainnya. "Saya datang... untuk meminta tolong."

​Kang Ujang mengerutkan dahi, berjalan mendekat sambil mengelap tangannya dengan kain lap kotor. "Minta tolong apa, Mas? Bambunya kurang? Atau parang yang kemarin tumpul?"

​"Bambunya cukup. Tapi tangan saya tidak," Gani menatap lurus ke mata pria paruh baya itu. "Saya sedang membangun sebuah struktur semi-terbuka di pekarangan belakang rumah saya. Ukurannya delapan kali sepuluh meter. Semua material bambunya sudah saya potong dan siap dirakit dengan sistem kunci."

​Kang Ujang membelalakkan matanya. "Delapan kali sepuluh meter? Sendirian, Mas? Pantas saja bambunya habis banyak sekali. Buat apa Mas bangun pendopo sebesar itu di belakang rumah?"

​Gani terdiam sejenak. Ia mengingat senyum Kirana, wajah pucatnya, dan anak-anak yang belajar beralaskan tikar di bawah atap seng yang panas.

​"Bukan pendopo," jawab Gani, suaranya dipenuhi determinasi yang menggetarkan. "Saya sedang membangun Taman Bacaan Akar Pelangi yang baru. Untuk Kirana. Dan untuk anak-anak desa ini."

​Hening sejenak menyelimuti bengkel itu. Suara gergaji dari dua pemuda di belakang berhenti total. Mereka saling berpandangan.

​"Taman bacaan... buat Nduk Kirana?" ulang Kang Ujang pelan, seolah memastikan pendengarannya tidak salah.

​"Atap seng di rumah Kirana terlalu panas dan udaranya buruk untuk jantungnya," jelas Gani, suaranya sedikit parau namun mantap. "Dia butuh ruang terbuka, ventilasi silang yang bagus, dan tempat yang aman dari hujan. Sketsanya sudah saya buat. Semua perhitungannya presisi. Tapi saya tidak bisa mendirikan pilar utamanya sendirian."

​Gani sedikit menundukkan kepalanya, sebuah gestur penghormatan tertinggi dari seorang pemuda kepada yang lebih tua.

​"Saya tidak punya uang untuk membayar jasa Akang dan yang lainnya. Saya hanya punya desain, dan tenaga saya sendiri. Tapi jika Akang dan pemuda desa bersedia meluangkan sedikit waktu untuk membantu saya mendirikan struktur utamanya... saya akan sangat berterima kasih seumur hidup saya."

​Kang Ujang terdiam mematung. Matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. Ia telah mendengar desas-desus bahwa Gani adalah orang sombong dari kota yang pulang kampung karena bangkrut. Tapi pria yang menundukkan kepala di depannya ini bukanlah orang sombong. Ini adalah seorang pria yang rela menghancurkan tangannya dan membuang harga dirinya demi berbuat sesuatu untuk gadis yang disayangi seluruh warga desa.

​Tiba-tiba, Kang Ujang melemparkan kain lap kotornya ke atas meja kayu dengan keras.

​"Heh, Maman! Jono!" teriak Kang Ujang pada dua pemuda pekerjanya, suaranya menggelegar penuh semangat. "Tinggalkan lemari pesanan Pak Kades itu! Pesanannya bisa menunggu!"

​Kedua pemuda itu langsung meletakkan alat-alat mereka tanpa banyak tanya.

​Kang Ujang berjalan menghampiri Gani, menepuk bahu pria itu dengan pukulan keras yang penuh dengan kebanggaan persaudaraan.

​"Di desa ini, Mas Gani, gotong royong bangun rumah tetangga itu tidak pernah pakai bayaran uang," ucap Kang Ujang, matanya menyala terang. "Apalagi ini buat Nduk Kirana. Anak itu sudah kayak anak kami sendiri. Kalau Mas Gani yang arsitek saja mau berdarah-darah motong bambu buat dia, masa kami yang tukang kayu malah diam saja?"

​Kang Ujang berbalik, mengambil kotak peralatannya yang paling besar. "Kita butuh tenaga lebih dari tiga orang untuk naikin pilar bambu petung sebesar itu. Maman, kamu lari ke rumah Pak RT, minta tolong kumpulkan pemuda karang taruna yang lagi pada nganggur! Bilang ke mereka, Mas Gani Arsitek butuh pasukan!"

​Hati Gani membengkak oleh emosi yang luar biasa dahsyat. Di Jakarta, saat ia terpuruk, semua relasi bisnisnya berbalik meninggalkannya seperti tikus yang melarikan diri dari kapal karam. Namun di sini, di desa yang miskin secara materi ini, ia hanya mengucapkan satu permintaan tolong, dan seluruh pasukan siap berdiri di belakangnya.

​Setengah jam kemudian, pekarangan rumah Gani yang dulunya sepi dan menyeramkan seperti kuburan, berubah menjadi lautan manusia yang penuh semangat.

​Belasan pemuda desa bertelanjang dada, dipimpin oleh Kang Ujang dan diawasi langsung oleh Pak Kades yang datang menyusul, berkumpul di belakang rumah Gani. Mereka membawa tambang, palu besar, tangga bambu, dan parang. Ibu-ibu desa, termasuk Bibi Ratna yang langsung heboh mendengar kabar itu, berinisiatif menggelar tikar di bawah pohon mangga depan rumah, membawa teko teh manis, kopi hitam, dan nampan berisi singkong rebus.

​Gani berdiri di tengah pekarangan belakang, membentangkan kertas kalender berisi cetak biru taman bacaan itu di atas sebuah meja kayu darurat. Ia menjelaskan sistem interlocking dan titik-titik tumpu yang harus diperhatikan kepada Kang Ujang dan para pemuda. Wibawa Gani sebagai seorang Chief Architect kembali menyala terang, namun kali ini tanpa arogansi. Ia tidak memerintah; ia memimpin.

​"Ayo, angkat pilar pertama!" seru Kang Ujang, memberikan komando.

​Enam orang pemuda bahu-membahu mengangkat pilar bambu petung yang sangat berat itu. Otot mereka menegang, urat leher menonjol, namun diiringi oleh tawa dan teriakan semangat.

​Gani ikut menarik tali tambang, memposisikan dasar bambu itu tepat ke dalam lubang umpak batu yang telah ia siapkan. "Tahan! Pas! Masukkan pasaknya!" teriak Gani.

​Trak! Trak! Trak! Palu kayu menghantam pasak pengunci, menyatukan balok horizontal dengan pilar vertikal. Bunyi hantaman itu bergema di udara Karangbanyu, bukan sebagai suara kehancuran seperti palu hakim di ruang sidang, melainkan sebagai melodi pembangunan.

​Satu per satu, di bawah komando presisi Gani dan semangat gotong royong warga, pilar-pilar bambu raksasa itu mulai berdiri membelah langit. Kerangka sebuah bangunan semi-terbuka yang elegan mulai menampakkan bentuk aslinya. Sudut-sudut lengkung atapnya yang diadaptasi dari bentuk rumah adat mulai terlihat.

​Gani mengusap keringat di matanya yang pedih, menatap mahakarya yang sedang bangkit dari puing-puing halaman belakangnya ini.

​Dada pria itu bergemuruh. Ia merogoh saku belakangnya, menyentuh amplop berisi surat sitaan dari firma hukum di Jakarta itu.

​Silakan datang, tantang Gani di dalam hatinya, matanya berkilat penuh perlawanan. Silakan kirimkan buldoser kalian. Silakan kirimkan pengacara terbaik kalian.

​Gani menatap belasan warga desa yang sedang tertawa dan bekerja keras untuk membangun fasilitas ini, lalu menatap rumah Kirana di kejauhan tempat gadis itu sedang beristirahat.

​Mari kita lihat, apakah kalian berani berhadapan denganku dan seluruh desa ini.

​Hari itu, Gani Raditya tidak hanya membangun sebuah taman bacaan. Ia sedang membangun sebuah benteng pertahanan yang tidak bisa ditembus oleh hukum atau uang. Sebuah benteng yang terbuat dari bambu, keringat, dan cinta yang tak tertandingi.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!