NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

"Tak apa Nik, inipun bagi kami cukup mewah, kami biasanya lauk pucuk singkong dengan ikan sepat kering saja" sahut Syarif.

Setelah menyerahkan rantangan bekal untuk Syarif dan Kaenan, Niken segera pulang ke Rumah Kediaman nya.

Hari itu adalah hari Sabtu, penghujung Minggu, dimana kerja hanya sampai pukul tiga sore saja, karena orang orang akan menerima gaji mingguan.

Selama bekerja, Kaenan akan melupakan seluruh problem hidupnya, itulah sebab nya dia suka menghabiskan waktu bekerja.

Hasil kerja nya, tidaklah ia habiskan untuk hura hura, hanya secukupnya saja, sisanya akan dia tabung di Bank.

Memang saat bekerja, semua problem nya terlupakan, tetapi saat pulang ke Rumah, problem kehidupan itu muncul kembali.

Malam ini, ia tidak memasak di Rumah, karena tadi, Syarif mengajak nya makan bakso di warung.

Malam ini, setelah selesai sholat isya, Kaenan tidak langsung tidur, dia membuat secangkir kopi panas, lalu duduk di bangku kayu, di teras pondok, menatap keremangan cahaya rembulan.

"Nak!, ada beberapa langkah yang harus kau tempuh sebelum memutuskan sikap mu, pertama pikirkan apa maslahat dan mudarat nya bagi diri mu dan keluarga mu, jika kau menerima, lalu yang kedua, pikirkan apa maslahat dan mudarat nya bagi diri mu dan keluarga mu, jika kau menolak nya, ketiga, setelah kau bisa memikirkan maslahat dan mudarat nya, lalu bisa mengambil keputusan, maka dengan bertawakal kepada Allah, melangkah lah nak, semoga Allah membimbing langkah mu, Abi dan ummi akan selalu mendukung apa pun keputusan mu" ....

Kata kata Kiai Nuruddin kemarin, menggema di ruang ingatan Kaenan.

"Apabila ku terima, hidupku akan sengsara, aku yakin caci maki akan senantiasa ku terima, tetapi papah ku tidak lagi bermusuhan dengan paman ku sendiri, keluarga ku akan tenang, kakek juga akan tenang, hanya saja aku yang akan menjadi tumbal dari keserakahan mereka, hanya aku sendiri yang menjadi korban, sementara yang lain nya selamat, sebaiknya jika ku tolak, hidup ku akan tenang, namun papah akan terus bermusuhan dengan paman memperebutkan harta warisan kakek, bisa bisa sampai saling bunuh bunuhan, efek nya, mamah, kakek dan nenek yang ikut menjadi korban, terlalu banyak orang yang akan menjadi korban jika ku tolak, sebaliknya jika ku terima, hanya aku sendirian yang akan menjadi korban, sementara yang lain nya bisa hidup tenang" pikir Kaenan termenung menatap cahaya kunang kunang di atas pucuk jambu.

Hingga pukul sepuluh malam, Kaenan merenung, memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil.

Dahulu, selagi bersama almarhum ibunya, meskipun ibunya ODGJ, namun tak banyak masalah pelik, paling sekedar penghinaan dan bulian saja.

Kini setelah bersama orang tua kandung nya, jangan kan menemukan kedamaian, justru masalah pelik yang muncul.

Kaenan menghirup sisa kopi nya yang sudah dingin hingga menyisakan ampas nya saja, lalu bangkit berdiri, melangkah ke dapur, mencuci gelas nya, lalu melangkah ke belakang.

Kaenan mengambil air wudhu, lalu masuk kedalam pondok, mengerjakan sholat istikharah, memohon petunjuk dari Allah.

Syarif sedari lepas isya, pergi menggunakan motor metik milik Aisyah, entah kemana, maklum malam Mingguan, mungkin ada acara sendiri.

Selesai sholat mereka istikharah, Kaenan merebahkan tubuhnya diatas tilam tipis yang menjadi alas tidur nya dengan Syarif.

Entah jam berapa Syarif pulang, Kaenan tidak tahu, dia tidur nyenyak sekali, mungkin karena badan nya yang capek habis kerja bangunan tadi siang.

Saat Kaenan bangun pukul tiga malam seperti kebiasaan jam biologis nya, Syarif sudah tidur di samping nya.

Selesai sholat tahajud enam rakaat, ditambah tiga rakaat sholat witir, Kaenan tidak langsung tidur, dia duduk diatas sajadah lusuh nya, melantunkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an hingga menjelang subuh.

Saat Mesjid di kejauhan melantunkan ayat suci Al-Qur'an, Kaenan buru buru pergi ke belakang menimba air di sumur, lalu mandi.

Selesai mandi, dia membangunkan Syarif, mengajak sholat subuh berjamaah.

Pagi ini Kaenan akan membuat sebuah keputusan besar, setelah memikirkan nya tadi malam.

"Tadi malam kemana mas?" tanya Kaenan pada Syarif, saat mereka duduk berduaan menikmati kopi panas.

"Niken ngajak nonton Kae!" sahut Syarif.

"Sudah resmi jadian mas?" tanya Kaenan.

Syarif tersenyum sumringah dengan wajah memerah, "he he he he!, iya Mal!" sahut nya.

"Syukur deh mas, cuma hati hati saja mas, masalah nya kehidupan kita dan Niken jauh berbeda, takut nya mas hanya di permainkan saja!" ucap Kaenan.

Mendengar itu, Syarif menatap kearah Kaenan cukup lama.

"Apa maksud mu Kae?, kau bukan nya memberi semangat untuk ku, malah melemahkan semangat ku, kau iri Kae?, kalau iri bilang dong, jangan begitu cara nya!" semprot Syarif tidak suka.

"Maaf mas, bukan maksud Kae melemahkan semangat mas, Kae hanya mengingatkan saja, sekali lagi maaf mas!" ....

"Aku tahu maksud mu Kae, aku orang miskin dan Niken orang kaya, iya kan?, kau kacang lupa kulit Kae, kau lupa dari mana asal mu, dan siapa ibu mu!" suara Syarif meninggi.

Kaenan menundukkan kepalanya, "maaf mas, saya tidak bermaksud seperti itu, saya selaku adik, hanya mengingatkan mas saja, jika saya salah, saya minta maaf mas!" ....

"Sudahlah kae!, jangan urusi urusan ku, kita hanya saudara angkat, bukan saudara kandung, tak ada hak mu mencampuri urusan ku, kau ku tampung di pondok ku ingin ini saja sudah syukur!" ....

Kaenan bangkit berdiri, dia tidak ingin memperpanjang persoalan, lagi pula sejak bangun tidur tadi, dia sudah memantapkan hati, mengambil satu keputusan akhir.

Dengan membawa tas kecil tempat pakaian nya, Kaenan mengenakan helm dan jaket, lalu keluar dari pondok.

"Mas!, saya pamit mau ke Rumah kakek!" ujar nya yang ingin menjabat tangan Syarif, namun anak muda itu masih marah.

Bahkan saat motor metik yang di naiki Kaenan berlalu menjauh, Syarif tidak menggubris nya.

Hanya saat suara motor Kaenan hilang di tikungan jalan, barulah anak muda itu seperti tersadar dari kekeliruan nya.

"Ah! Apa yang telah ku lakukan?, kenapa aku tidak terima dengan kata kata nya, padahal ucapan nya benar, dan dia hanya mengingatkan aku, apa karena tadi malam aku kurang tidur sehingga otak ku ngebleng hari ini?" pikir Syarif menyesal.

"Bagai mana jika Kaenan tidak kembali?, lalu bagai mana aku kerja?, motor ku kan tidak ada, kalau aku tidak kerja, jangan kan melamar Niken, makan ku saja bagai mana?" ....

Emosi sesaat, akan membutakan mata hati dan pikiran kita, setelah kita sadar, segala nya sudah berlalu, waktu tidak akan berhenti menunggu kita sadar akan kesalahan kita, waktu akan terus bergerak, sadar atau khilaf, siap atau tidak siap, berani mati atau takut mati, waktu akan terus berlari.

Syarif termenung di teras pondok nya, menyesali kekhilafan nya tadi, hingga mata hari mulai meninggi.

Sementara itu, motor Kaenan sudah tiba di Rumah Kediaman tuan besar Baskoro, di sambut dengan senyum ramah nenek Carla.

Memang hingga sampai sekarang, Kaenan tidak ingin pindah ke rumah kedua orang tua nya. Bukan karena membenci mereka, namun lebih pada trauma psikis yang dialami nya.

Bila dia menatap wajah tuan Irfan dan Syafea, serasa ada luka lama yang perih dan tidak mungkin bisa benar benar sembuh serta hilang tanpa bekas. Ibarat kata, luka boleh sembuh, namun kunat (parutan bekas luka) nya akan terus membekas selama nya.

Nenek Carla tersenyum ramah melihat kedatangan sang cucu dengan motor metik nya.

Memang motor metik itu, dahulu sebelum Aisyah pergi ke Mesir, motor itu diserahkan kepada Kaenan untuk dipakai. Dari pada di diamkan selama empat tahun, kata Aisyah waktu itu.

"Sudah sarapan nak?" tanya nenek Carla ramah.

"Sudak ngopi nek!" jawab Kaenan.

Setelah menyalami dan mencium tangan nenek nya, Kaenan segera masuk ke kamar nya yang sudah di persiapkan oleh nenek nya.

Kaenan merebahkan tubuhnya diatas spring bed ukuran king, dengan alas sprei biru kembang kembang.

"Sudahlah kae!, jangan urusi urusan ku, kita hanya saudara angkat, bukan saudara kandung, tak ada hak mu mencampuri urusan ku, kau ku tampung di pondok ku ingin ini saja sudah syukur!" ....

Kaenan menarik nafasnya dalam-dalam, suara ucapan Syarif tadi masih mengga di telinga nya.

"Sudahlah kae!, jangan urusi urusan ku, kita hanya saudara angkat, bukan saudara kandung, tak ada hak mu mencampuri urusan ku, kau ku tampung di pondok ku ingin ini saja sudah syukur!" ....

"Syukur!" ....

"Syukur!" ....

Sembilan tahun hidup bersama keluarga Kiai Nuruddin, sekali pun tidak pernah mereka kelepasan kata, mengucapkan yang tidak enak di dengar.

Sementara dengan Syarif yang mengaku saudara angkat, baru beberapa bulan, bahkan setahun pun belum, sudah muncul sifat asli nya.

Binatang Anjing, meskipun dianggap haram, namun urusan kesetiaan, tidak ada dua nya. Beda dengan manusia yang notabene berakal budi tinggi, tetapi bisa menggunting dalam lipatan, bermanis madu di bibir, namun menyimpan duri berbisa dihati.

Aisyah!, ah kini bayangan gadis cantik jelita yang selalu berbusana muslimah, hanya wajah nya yang sering Kaenan lihat itu, kini terbayang di ingatan nya.

Meskipun rasa itu perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit mulai bergeser dari rasa persaudaraan, menjadi rasa dua insan yang berbeda gender, namun rasa hormat dan kagum Kaenan selalu lebih besar dari rasa lain nya.

Bukan karena tak cinta, namun rasa kagum dan hormat pada wanita Solehah itu, membuat tubuh Kaenan seperti mati rasa dihadapan gadis itu.

Kaenan tidak berani berangan angan yang lebih dari persaudaraan, meskipun rasa itu semakin kuat, dia menyadari jika dia hanya aib bagi kehidupan Aisyah dan Kiai Nuruddin nanti nya.

Terlalu banyak kebaikan yang diberikan keluarga itu kepada nya, rasa nya dia akan menjadi pria yang paling durhaka jika kebaikan itu dia balas dengan sekedar nafsu birahi semata.

"Biarlah aku memuja mu dalam diam, mencintai mu dalam kesunyian" tekad di hati Kaenan.

Walaupun sekarang keluarga nya salah satu orang yang ter kaya di kota ini, tetapi Kaenan tidak pernah bangga dengan semua itu, dan tidak pernah merasa memiliki semua nya, dia lebih merasa seolah olah seorang anak yatim piatu yang di pungut oleh keluarga kaya raya.

...****************...

1
Was pray
makin lama hidup kae bukan semakin tenang tapi makin semrawut
Was pray
telat mikirnya Jeny, makanya otak ditaruh di kepala jangan di lutut biar gak lemot mikirnya
Was pray
kalau memang kamu benar2 cinta sama Jeny maka perjuangkan dan pertahankan, cinta tidak butuh janji tapi bukti. cinta beda tipis dengan suka, cinta butuh pengorbanan dan keteguhan sedangkan suka timbul karena bisa memuaskan diri, disaat sudah puas maka rasa suka akan musnah
Night Watcher
kan bener dugaanku.. ucup terlibat..🤦
Night Watcher
mengerikan sekali amanah yg kau terima kae..
Was pray
ajak kakek Sumantri tinggal bersama aja kae, dan kajet Sumantri angkat kae jadi cucu angkatnya, sehingga tidak perlu meninggalkan indonesia, dan kakek Sumantri tetap bisa nyaman menjalani sisa hidupnya dengan tenang
Night Watcher
lah.. tadi jam sebelas mereka sudah pulang, kok masih ngumpul dan bertanya sama kae??????😇
Night Watcher
nah.. udah punya keberanian melawan penindasan dari siapapun
lanjuuut..
Night Watcher
lumayan puas karna Doris dipatahin tangannya..🤭
Night Watcher
nama aslinya Doris al Darius.. 🤭
Was pray
nah gitu kae... jangan mau direndahkan orang lain hanya karena harta, tahta, itu baru anak Sholeh yg sebenarnya
Was pray
mampus kae kali ini... sakit hati Doris membawa dendam pada kae, semat dari jurang kuni masuk jebakan doris
Night Watcher
letoy upnya.. udah suka ceritanya, udah tak vote, malah gak tentu lanjutinnya😓😓😓
Night Watcher
ternyata masih lanjut nih cerita, kirain udah gak kegarap lagi...🤭🤭
kebanyakan proyek.. 😂😂😂🤭
Was pray: up nya lemot... kayak siput 🤭🤭🤣
total 1 replies
Night Watcher
nanti pas malam2 Kae & Jenny berdua lagi, nyanyi in lagu "TIRAI".. 🤭🤭🤭
Was pray
dua kali jawaban kae yg menunjukan dia bukan orang Sholeh waktu nyawanya disematkan oleh Jeny, pertama waktu ditolong saat dikeroyok preman dan dibawa ke rumah sakit, bukanya berterimakasih tapi malah menyalahkan Jeny, ke dua ya kali ini , susah payah disematkan dari jurang mundung bukan terimakasih tapi malah menyalahkan Jeny Krn repot2 menyematkan, tau begitu gak usah ditolong, katanya anak Sholeh tapi mulutnya gak bisa dikontrol, asal njeplak/mbacot
Night Watcher
lanjut kuy.. jangan kelamaan..
jgn sampe lupa alurnya.
makin penisirin... 🤭🤭🤭
Was pray: pinisirin kae si anak bisa buat anak.... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
horrreeeeee....!!!!!
alhamdulillah.. ketemu kaenan... 😂😂🤭🤭
Night Watcher
kayaknya ucup terlibat ini...
mungkin yg menjongkrok kan kae si ucup...🤭🤭🤭
Night Watcher
rusli atau ramli yg ikut ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!