NovelToon NovelToon
AEXDREAM HIGH SCHOOL

AEXDREAM HIGH SCHOOL

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.

Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Harapan Sowon yang sempat mereda sejenak setelah pembicaraan di kantin, ternyata belum benar-benar hilang. Dia sadar Jeno sudah punya Karina, tapi keyakinan Sowon bahwa cinta lama tak akan pernah pudar masih tertanam kuat di hatinya. Baginya, hubungan dulu mereka terlalu indah dan terlalu kuat untuk sekadar dilupakan begitu saja. Dia menganggap kehadiran Karina hanyalah selingan, sementara dirinyalah sosok yang sejatinya ditakdirkan untuk Jeno. Maka, dia pun mulai bergerak, gencar sekali, berusaha merebut kembali hati cowok yang dulu sepenuhnya miliknya itu.

Hari-hari di sekolah pun jadi terasa berat bagi Karina. Sowon tak lagi bersikap sopan dan pasif. Dia mulai mengambil langkah tegas, selalu ada di dekat Jeno di setiap kesempatan. Saat jam istirahat, saat jam kosong, bahkan saat jam pelajaran, Sowon selalu punya alasan buat mendekat.

"Jeno, boleh pinjam catatan sejarah lo nggak? Dulu tulisan lo paling rapi dan paling gampang dimengerti lho, sama persis kayak dulu," ucap Sowon sambil sengaja berdiri sangat dekat di sebelah meja Jeno, mengabaikan keberadaan Karina yang duduk tepat di sampingnya. Suaranya lembut, penuh nuansa keakraban masa lalu, berusaha membangkitkan ingatan-ingatan lama.

Belum sempat Jeno menjawab, Karina sudah menyodorkan bukunya sendiri dengan tenang. "Punya gue juga lengkap kok, Won. Kita catat bareng kemarin. Ini aja ambil."

Tapi Sowon sama sekali tak menoleh ke arah Karina. Matanya tetap terpaku pada Jeno, senyumnya sedikit menyeringai penuh kemenangan kecil. "Nggak usah makasih, Karina. Gue lebih ngerti cara Jeno nyatet, isinya pasti lebih dalem dan lebih pas buat gue. Kan kita udah biasa saling bantu dari dulu."

Jeno langsung menutup bukunya pelan, lalu mendorongnya sedikit menjauh dari jangkauan Sowon. Dia menatap perempuan itu dengan tatapan tegas dan dingin, berbeda sekali dengan sikap ramahnya dulu.

"Sowon, catatan gue sama aja kayak punya yang lain. Dan sekarang, kalau lo butuh bantuan, tanyalah ke siapa aja, tapi tolong jangan cuma cari gue. Gue ada tugas dan butuh konsentrasi sama Karina. Lagian... cara gue belajar dan cara gue ngelakuin apa aja sekarang udah beda banget sama dulu. Banyak yang berubah," ucap Jeno datar dan jelas, tak memberi ruang sedikit pun.

Mata Sowon sedikit memicing, kaget mendengar jawaban setegas itu, tapi dia tak menyerah. Dia hanya tersenyum tipis, lalu berjalan pergi sambil berbisik pelan, cukup terdengar oleh Jeno saja. "Perasaan nggak bakal berubah semudah itu, Jeno. Lo cuma belum sadar aja kalau hati lo sebenernya masih nyimpen tempat khusus buat gue."

Kejadian itu cuma satu dari sekian banyak kejadian serupa. Sowon makin gencar. Dia sering mengirim pesan panjang lebar ke ponsel Jeno, menceritakan kenangan indah masa lalu, mengirim foto-foto lama yang terselamatkan, bahkan diam-diam datang ke tempat biasa Jeno lewat atau berhenti, berusaha 'tak sengaja' bertemu.

Di depan teman-teman yang lain, dia berlagak manis, berlagak cuma teman lama yang rindu. Tapi diam-diam dia selalu membandingkan dirinya dengan Karina, merendahkan hal-hal kecil yang dilakukan Karina, dan meyakinkan semua orang bahwa dirinyalah yang paling cocok buat Jeno.

"Lucu ya, Jeno dulu kan nggak suka cewek yang terlalu pendiam dan diam aja. Dulu dia suka cewek yang ceria, yang bisa diajak ngobrol apa aja, kayak gue," kata Sowon dengan suara agak keras saat sedang ngobrol dengan beberapa teman kelas, sengaja supaya Karina dengar. "Kadang gue kasihan liat Jeno, kayaknya dia nahan diri banget deh sekarang, padahal dulu dia paling bebas dan ceria pas bareng gue."

Kata-kata itu menusuk tajam ke hati Karina. Dia memang pendiam, dia memang tak seaktif atau seberisik Sowon. Dan ucapan itu membuat rasa rendah diri perlahan tumbuh di benaknya. Dia mulai membandingkan dirinya dengan Sowon: cantik, berani, punya sejarah panjang, dan sangat mengerti seluk-beluk Jeno masa lalu. Keraguan mulai merayap masuk. Apakah gue emang nggak cukup baik buat dia? Apakah mereka emang lebih cocok? Apakah Jeno sebenernya masih sayang sama dia?

Suatu sore, suasana makin memanas. Setelah bel pulang berbunyi, Sowon sengaja menunggu di depan gerbang sekolah. Saat Jeno dan Karina berjalan beriringan keluar, Sowon langsung menyambut mereka, lalu dengan berani menarik lengan Jeno sedikit menjauh dari Karina.

"Jeno, gue harus ngomong sama lo. Penting banget. Sendiri aja ya," pinta Sowon dengan nada memaksa tapi disamarkan jadi nada sedih dan memelas.

Jeno langsung menarik lengannya kembali, menatap Sowon dengan bingung tapi tetap sopan. "Ada apa? Ngomong aja di sini, nggak apa-apa. Karina kan pacar gue, nggak ada rahasia di antara kita."

Sowon menggeleng kuat, matanya berkaca-kaca seolah dia yang paling menderita. "Nggak bisa! Ini soal kita, soal masa lalu kita yang belum selesai. Gue tau lo masih inget semuanya, Jeno! Gue tau lo masih ngerasa ada yang kurang pas! Dulu kita sempurna banget, kita dipisah cuma karena jarak! Sekarang gue udah balik, semuanya udah bisa balik kayak dulu! Kenapa lo masih nolak kenyataan ini?!"

Suara Sowon makin meninggi, menarik perhatian banyak murid yang masih belum pulang. Dia menatap tajam ke arah Karina yang berdiri diam di belakang Jeno, matanya penuh tantangan.

"Karina, lo denger ya! Lo cuma pengisi waktu aja pas gue nggak ada! Jeno nggak pernah beneran jatuh cinta sama lo sedalem dia sama gue! Coba lo tanyain dia, siapa nama pertama yang dia panggil pas sakit? Siapa yang dia cari pas sedih? Itu semua gue! Lo nggak bakal pernah bisa gantiin posisi gue!"

Hening seketika. Seluruh pandangan tertuju pada mereka bertiga. Karina menunduk, menahan air mata yang siap jatuh. Kata-kata Sowon terlalu tajam, terlalu meyakinkan, dan terlalu menyakitkan. Dia merasa sangat kecil dan tak berdaya saat itu.

Tapi detik berikutnya, Jeno bergerak. Dia berjalan maju selangkah, berdiri tegak di depan Karina, seolah menjadi tembok pelindung yang kokoh. Dia menatap Sowon lekat-lekat, tatapan yang begitu dingin, serius, dan tak tergoyahkan—tatapan yang belum pernah Sowon lihat selama mereka kenal.

"Sowon, cukup," suara Jeno rendah tapi bergema tegas. "Lo udah keterlaluan. Lo udah bikin Karina nggak nyaman berhari-hari, lo udah bikin suasana jadi nggak enak, dan lo sekarang berani ngomong hal yang nggak bener di depan umum?"

Dia menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tenang tapi penuh penekanan.

"Gue hargai apa yang pernah kita punya dulu. Gue inget semuanya, dan gue bersyukur pernah punya kenangan indah sama lo. Tapi itu dulu, Sowon. Itu masa lalu yang udah selesai saat lo pindah dan kita putus baik-baik. Gue udah melangkah maju, gue udah membuka lembaran baru, dan gue udah nemuin kebahagiaan gue yang sesungguhnya."

Jeno menoleh sebentar ke belakang, menatap Karina yang sedang menunduk, lalu kembali menatap Sowon.

"Lo bilang Karina cuma pengisi waktu? Lo bilang lo yang paling gue sayang? Denger baik-baik ya, Sowon. Tanpa Karina, mungkin gue masih jadi Jeno yang kaku, yang tertutup, dan yang nggak percaya cinta lagi. Karina yang ngubah gue. Dia yang ngajarin gue arti sabar, arti ketenangan, arti cinta yang dewasa dan tulus. Dia tau semua sisi gue, yang jelek, yang susah, yang rapuh... dan dia tetep di sini, dia tetep sayang sama gue apa adanya. Sesuatu yang lo mungkin nggak pernah ngerti, karena lo cuma liat gue saat gue terlihat sempurna aja."

Air mata mulai menetes di pipi Sowon, tapi Jeno belum selesai.

"Lo bilang kita sempurna? Nggak, Sowon. Kita mungkin seru, kita mungkin pas di mata orang lain... tapi kita nggak kuat. Kita putus cuma karena jarak, kita nggak bisa bertahan. Tapi sama Karina? Kita udah lewatin banyak hal, lewatin salah paham, lewatin rasa curiga, lewatin ketakutan... dan kita tetep bareng. Cinta kita bukan cuma soal seru dan indah, tapi soal bertahan dan saling menguatkan. Itu jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah kita punya."

Jeno mundur selangkah, meraih tangan Karina erat sekali, mengangkat dagu ceweknya itu supaya berani menatap Sowon.

"Dan satu hal lagi yang harus lo tau. Nama yang gue panggil pas gue sakit, pas gue sedih, pas gue senang, atau pas gue takut... itu sekarang dan selamanya cuma nama Karina. Tempat di hati gue udah penuh sama dia. Nggak ada ruang kosong buat siapa pun, apalagi buat masa lalu yang udah selesai."

Suara Jeno melembut saat dia beralih bicara ke Sowon yang sudah menangis diam.

"Sowon, gue minta sama lo. Berhenti ya. Lo cewek hebat, cantik, pinter, dan pasti bakal nemuin yang lebih baik dari gue. Tapi tolong, jangan ganggu gue dan Karina lagi. Biarin masa lalu jadi kenangan, dan biarin kami ngejalanin masa depan kami dengan tenang. Lo nggak bisa merebut apa yang emang bukan milik lo lagi."

Setelah berkata begitu, Jeno sama sekali tak menoleh lagi. Dia mengajak Karina pergi, berjalan menjauh melewati kerumunan murid yang diam terpukau mendengar pengakuan tulus dan tegas itu. Sowon terduduk di pinggir jalan, menangis, sadar sepenuhnya bahwa pertarungan hatinya sudah berakhir, dan dia kalah telak bukan karena dia kurang baik, tapi karena cinta yang dia lawan jauh lebih kuat dan jauh lebih nyata.

Saat sudah agak jauh dan sepi, Jeno berhenti, lalu langsung memeluk Karina erat sekali, membiarkan ceweknya itu menangis lepas di dadanya.

"Maafin gue ya, Sayang... maafin gue karena bikin lo ngerasa nggak aman selama ini. Gue tau lo sakit hati, gue tau lo takut. Tapi liat kan? Gue udah bilang semuanya. Gue nggak mau ada keraguan sedikit pun di hati lo lagi."

Karina memeluk balik cowoknya sekuat tenaga, tangisnya bercampur rasa lega dan bahagia yang luar biasa.

"Gue takut banget, Jen... gue takut gue kalah sama kenangan lo sama dia, gue takut lo berubah pikiran... Tapi denger lo ngomong gitu, rasanya gue jadi paling beruntung sedunia. Makasih ya... makasih udah milih gue, makasih udah belain gue."

Jeno mengecup kening Karina berkali-kali dengan penuh kasih sayang. "Nggak ada yang bisa ngalahin lo, Karina. Nggak ada masa lalu, nggak ada orang lain. Cinta gue ke lo itu udah jadi keputusan, udah jadi janji, dan udah jadi takdir gue. Kita bakal terus bareng, apapun yang terjadi. Mulai sekarang, nggak ada lagi yang ganggu kita."

Di kejauhan, Ningning, Gisel, dan teman-teman yang diam-diam mengawasi dari tadi, tersenyum lega dan bangga. Mereka tau, hubungan Jeno dan Karina sekarang bukan lagi sekadar pacaran biasa. Itu adalah cinta yang sudah teruji badai, teruji rasa cemburu, dan teruji masa lalu. Cinta yang sekarang berdiri kokoh, tak tergoyahkan, dan siap menghadapi apa pun yang ada di depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!