NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^34

Di malam terangnya langit mulai berani menyapa sang angin yang tengah menyampaikan sebuah salam penutup untuk rembulan. Karena menghadirkan kecanduan bagi para pemacu chaturanga yang berperan sebagai ster dalam ruang vertikal maupun horizontal untuk melindungi sang ratu dari musuh lawan.

Walaupun rasa bosan menyusup masuk merusak pikiran, yang berusaha manahan fokus pada pandangan. Agar menang dari kelengahan yang sendari tadi telah mengincar strateginya tengah merancang sebuah peperangan batin.

Merasa tertipu akan ajakkan yang tidak seharusnya gadis itu terima. Duduk di hadapan pemuda dermawan yang tengah menikmati makanannya itu, tanpa tahu jika gadis itu sesekali membuang napas berat akan kelakuan dari sang pemuda.

"Makanlah dengan perlahan, jika kau tidak ingin tersedak." Rendah sang gadis, begitu prihatin menatap temannya satu itu yang terlihat seperti tidak makan berhari-hari.

Menelannya terlebih dahulu sebelum bicara. Karena itu salah satu tata krama yang telah diajarkan oleh keluarganya. Pemuda itu tersenyum girang. "Ini sangat enak, kau harus coba." Memberi tawaran sembari menyodorkan satu tusuk sate-satean yang Aldi pesan.

"Makanlah, menerima kenyataan itu butuh energi yang banyak." Tanpa menerima pemberian Aldi, kini Yuna malah menegak minumannya. Membuat Aldi mengangguk paham dan melahapnya dengan riang.

"Kau harus mencobanya sekali seumur hidup." Ucap Aldi yang kembali menikmati makanannya.

"Apa kau tidak punya teman? Hingga mengajakku makan disini." Kesal Yuna yang sendari tadi gadis itu tahan, untuk tidak menampar kepala Aldi.

"Hanya dirimu yang masih tinggal." Ambigu Aldi, tidak peduli akan kekesalan yang di perlihatkan Yuna. Karena bagi Aldi yang terpenting saat ini adalah makan, agar perutnya tidak kosong sama sekali.

"Kau bisa menelpon destan untuk menemanimu."

"Dia ingin pulang dan ingin tidur secepat mungkin__" belum juga Aldi menuntaskan perkataannya, tubuh pemuda itu spontan tersentak akan seruan dari Yuna.

"Bagaimana dengan ku?"

Diam sejenak, untuk menormalkan emosi dalam dirinya. Yuna menatap Aldi dengan mencondongkan sedikit tubuhnya. "Aku juga butuh tidur Aldi." Sangat rendah, tapi begitu tajam dan mematikan di pendengaran Aldi.

Kepala Aldi pun mengangguk paham, dengan melanjutkan kembali menyumpal mulutnya. Pandangan meliar untuk mencari suasana baru, tetapi netranya malah terhenti pada tiga wanita dewasa yang terlihat tengah berdebat satu sama lain.

Hal itu membuat Yuna mengerutkan samar keningnya, sebelum menoleh ke belakang-- mengikuti arah pandang Aldi. "Apa yang mereka lakukan di sana?"

"Apa aku harus menyapanya?" Tanya Aldi begitu saja. Berusaha untuk tidak peduli dengan orang-orang dewasa itu.

Yuna kembali menatap Aldi. "Tentu, kau harus menyapanya. Karena salah-satu di antara mereka adalah ibu mu. Jika pun, dia sudah tidak ada hubungan apapun dengan ayah atau keluarga mu."

Seketika Yuna merasa tidak enak sendiri, akan raut wajah Aldi yang benar-benar terlihat suram. Walaupun Yuna tipe orang yang dingin, dan tidak bisa di sentuh. Tapi Yuna selalu menepatkan kesadaran dalam dirinya.

"Surat cerai itu belum ayah ku ajukan kepengadilan. Jadi," kepala Aldi mengangguk kecil dengan menelan ludah getirnya. "Wanita itu masih terikat hubungan dengan keluarga ayahku."

Tersenyum masam, pandangan terus menatap makanannya. Sebelum mengimbuhkan perkataannya. "Dan entah kenapa dia malah keluar rumah dari pada bertahan untuk memperbaiki."

"Apa itu salah satu alasan ayah mu membuka coffe shop di samping rumahnya?" Tebak Tessa yang menarik perhatian Aldi. Perlahan membalas tatapan dari gadis di hadapannya.

"Apa maksudmu?" Masih belum paham, Aldi bertanya.

"Jika mereka tidak saling kenal, wanita itu tidak akan menemui ibu mu. Dan mungkin ada alasan lain kenapa ayahmu memilih tempat bisnis di sana. Kemungkinan, ada hal yang ingin ayahmu cari. Karena, ibuku sering sekali datang ketempat bunga itu. Hingga, suatu hari, aku memesan bunga dari sana. Dan, Anna yang mengantarkannya. Aku kira pemilik tempat itu bukan ibunda dari Anna." Terang Yuna yang sedikit pajang. Sampai Aldi pun juga tidak percaya, jika Yuna bisa melontarkan kalimat selama itu dalam adu argumen.

"Kau sudah tahu sebelumnya?" Imbuhnya yang memang ingin tahu. Karena selama ini Aldi juga tidak pernah cerita apapun kepadanya, ataupun yang lain.

"Pertama kalinya aku mengunjungi coffe shop ayahku, satu tahun yang lalu." Menjawab pertanyaan bukan hal yang sulit bagi Aldi. Karena pemuda itu juga tidak menyembunyikannya lagi, jika pun larangan tanpa sengaja itu sempat Anna katakan pada Aldi.

"Dia menyuruh mu untuk tutup mulu?"

"Tidak juga." Cepat Aldi kini menegak minumannya.

"Tapi kau melakukannya." Sangat rendah Yuna mengatakannya.

"Tanpa ku beritahu pun, kalian juga sudah tahu. Dia masuk kesekolah kita melalui beasiswa, dan tidak hanya dirimu. Semua orang di sekolah langsung tahu di mana tempat posisi Anna."

"Dan karena itu juga kau menyukainya?" Bukan cemburu, Yuna benar-benar ingin tahu.

"Entah benar-benar menyukainya, atau hanya sekedar ingin melindungi karena kasian. Austyn sering sekali merundungnya, karena nilai Anna jauh lebih bagus dari pada gadis itu." Balas Aldi apa adanya.

"Tidak seharusnya kau membantunya karena kasian." Sungguh tidak punya hati. Mungkin itu yang akan di batin oleh siapapun yang belum mengenal siapa Yuna. Karena Yuna tidak seburuk itu.

Diam, tidak langsung membuka suara. Aldi membuang napas sedikit gusar. "Bagaimana jika kau ada di posisinya."

"Aku akan melawan, tanpa peduli jika posisi mereka jauh lebih di atas ku. Karena, harga diri akan menjadi prioritas utama bagi siapapun yang tidak ingin di rendahkan." Diam sejenak, Yuna menelan ludahnya. "Tapi, Anna memilih untuk tetap di rendahkan. Jadi membuat siapapun akan senang mengganggunya."

"Sifat manusia itu berbeda. Mungkin ada alasan kenapa Anna tidak melawan, dan hanya memilih mematikan obrolan saat bersama para penyihir." Pelan Aldi, yang tidak ingin memancing rasa kesal di dalam diri Yuna. Karena energinya tidak begitu cukup untuk melawan.

"Kemungkinan, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dia dapatkan. Dia memilih diam dan tidak bertingkah, karena beasiswa sebagai taruhannya." Menambahkan perkataannya, kini Aldi beranjak dari duduknya untuk membayar pesanannya dengan milik Yuna yang hanya membeli air minum.

"Jika dia tidak bersalah, beasiswa tidak akan lepas darinya." Rendah Yuna, kini berdiri dari duduknya sembari mencangklong tas punggungnya. Saat Aldi kembali di hadapannya. "Jadi, seharusnya dia mengajukan pembelaan diri."

Tersenyum miris, Aldi mendengar sahutan dari Yuna. "Itu tidak akan di gubris oleh kepala sekolah. Karena, kepala sekolah sangat gila dengan uang. Dia akan berpihak pada orang-orang yang mengeluarkan nominal uang paling besar untuk sekolah."

Berjalan beriringan di bawah langit malam yang di hiasi beberapa lintang-lintang di atas sana.

"Yang menjadi pertanyaan di sini. Di mana uang-uang itu berada? Fasilitas sekolah? Apa kau pernah melihat sekolah di renovasi? Atau pihak sekolah memberi perlengkapan untuk para murid saat di sekolah?" Sebentar Aldi, melihat Yuna dari samping yang tidak membalas tatapannya. "Sekolah itu sudah punya segalanya, sebelum wanita itu menjabat sebagai kepala sekolah. Sedangkan renovasi? Sekolah tidak harus melakukannya sebulan sekali bukan?"

Tidak langsung memberi tanggapan, Yuna engah memikirkan suatu hal yang memang sudah pasti. "Tidak hanya ibu dan ayahku, nenekku pun juga menjadi donatur di sekolah itu. Mereka ingin aku di perlakukan jauh lebih baik dari murid lain. Dan itu memang nyata__"

Membalas tatapan Aldi dengan langkah yang terhenti. Yuna kembali meneruskan perkataannya. "Aku merasakannya. Mereka memberi contoh soal di mana tidak semua murid bisa mendapatkannya. Dan hal itu juga, membuat para wali murid berbondong-bondong mengeluarkan uang hanya untuk contoh soal. Padahal, apa yang di katakan Austyn itu benar,"

"Belum tentu contoh soal itu sama dengan soal ujiannya." Tersenyum masam. Yuna mengakuinya. "Aku hanya beruntung mendapat posisi itu. Kemenangan yang selalu aku dapatkan di setiap perlombaan."

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!