NovelToon NovelToon
Janji Darah Sang Vampir

Janji Darah Sang Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.

Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.

Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MUSTIKA NAGA

Di padepokan besar tempat Liam menimba ilmu dan berlatih bela diri, suasana sedang riuh rendah namun penuh ketegangan. Berita buruk baru saja terdengar sejak pagi buta: Mustika Naga Pusaka, benda paling sakti dan berharga milik padepokan, yang menjadi lambang kekuatan dan perlindungan seluruh wilayah itu, telah hilang dicuri orang tak dikenal. Pencuri itu masuk dengan cara yang sangat licik dan diam-diam, melewati segala penjagaan ketat, hingga baru diketahui hilang saat gerbang utama dibuka pagi hari.

Kehilangan itu adalah musibah besar. Tanpa mustika itu, konon kekuatan perlindungan padepokan melemah, dan bahaya dari makhluk-makhluk jahat di hutan belantara akan semakin berani mengganggu penduduk desa sekitar. Guru Besar Ardi tampak sangat serius dan muram, memerintahkan seluruh murid dan guru untuk bersiaga dan mencari jejak secepatnya.

Siang itu, di halaman utama, Guru Besar mengumumkan pembentukan kelompok pencari yang akan bertugas menyusuri segala penjuru, menyelidiki setiap desa, hutan, dan jalur lalu lintas untuk menelusuri jejak si pencuri dan benda berharga itu. Di antara kelompok-kelompok yang dibentuk, ada satu kelompok khusus yang ditugaskan menyisir wilayah paling luas dan sulit, wilayah selatan yang penuh hutan lebat dan desa-desa terpencil.

Kelompok ini beranggotakan tujuh orang saja: 3 pemuda dan 4 pemudi.

Dari kalangan pemuda, ada Jaka — yang kini sudah jauh lebih hormat dan segan pada Liam setelah kejadian di perjalanan dulu — ada Dika, murid yang cerdas dan pandai membaca jejak, dan ada Liam. Sosok terakhir ini dimasukkan bukan karena ia murid senior atau berpangkat tinggi, tapi karena Guru Besar tahu betapa tajamnya panca indera Liam, betapa cepatnya ia menangkap hal-hal yang tak dilihat orang lain, dan betapa kuatnya kemampuan bertahan hidupnya. Meski Liam selalu diam, dingin, dan tak banyak bicara, tak ada satu pun yang berani meremehkannya lagi.

Dari kalangan pemudi, ada Sari, Mira, Ratih, dan Diah — empat murid perempuan terbaik, lincah, pandai bela diri, dan memiliki pengetahuan luas tentang medan serta adat istiadat desa-desa terpencil.

Sebelum berangkat, Guru Besar berpesan dengan suara berat dan tegas.

"Mustika itu bukan sekadar batu berkilau, tapi benda yang mengandung tenaga dalam besar. Orang yang mencurinya pasti tahu cara menggunakannya untuk kejahatan. Kalian harus hati-hati, waspada, dan gunakan akal sebaik-baiknya. Temukan di mana benda itu berada, bawa kembali, dan tangkap pelakunya jika mampu. Ingat, tugas ini demi keselamatan kita semua."

Kelompok tujuh orang itu pun berangkat sore itu juga. Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan setapak, menuju ke arah selatan, wilayah yang belum pernah banyak disambangi murid-murid padepokan. Di barisan paling depan berjalan Dika dan Jaka yang saling berdiskusi memikirkan kemungkinan arah lari pencuri. Di tengah, keempat wanita itu berjalan berhati-hati, sesekali berhenti mengamati tanda-tanda di jalan atau bertanya pada warga desa yang mereka temui. Dan seperti kebiasaannya, Liam berjalan di barisan paling belakang, diam, tertutup, matanya menatap ke segala arah dengan pandangan tajam dan kosong, panca inderanya bekerja jauh lebih hebat dibandingkan teman-temannya.

Bagi Liam, mencari benda hilang bukanlah hal sulit. Sejak kepergian Seruni setahun lalu, ia makin sering melatih ketajaman pendengaran dan penciumannya, agar ia bisa merasakan keberadaan gadisnya meski jarak memisahkan. Dan sekarang, kemampuan itu sangat berguna. Ia bisa mencium bau asing yang tertinggal di udara berhari-hari lalu, bisa mendengar suara langkah kaki yang samar jauh di dalam hutan, bisa merasakan getaran tenaga aneh yang dikeluarkan oleh benda sakti itu.

Selama tiga hari berturut-turut, mereka berjalan menyusuri hutan, menyeberangi sungai, dan mendaki bukit-bukit kecil. Mereka bertanya ke mana saja, menyelidiki setiap orang asing yang lewat, namun hasilnya nihil. Tak ada yang melihat, tak ada yang tahu. Jaka mulai lelah dan putus asa, Dika makin sering mengerutkan kening bingung, dan keempat wanita itu mulai merasa cemas karena persediaan bekal mulai menipis.

Hanya Liam yang tetap sama. Wajahnya masih dingin, langkahnya masih segar bugar tanpa tanda lelah sedikit pun, dan matanya masih sama tajamnya.

Pada sore hari keempat, saat mereka beristirahat sejenak di bawah pohon besar di pinggir jalan, Dika mengeluh sambil duduk bersandar lesu.

"Tak ada gunanya kita mencari ke arah sini. Mungkin kita salah arah. Mungkin si pencuri lari ke arah barat atau timur. Sudah tiga hari, tak ada jejak sama sekali."

Jaka mengangguk setuju. "Benar juga. Kita buang-buang waktu saja. Lebih baik kita lapor Guru Besar kalau jejaknya hilang di sini."

Keempat wanita itu hanya diam saling pandang, tak berani memberi pendapat.

Saat itulah, Liam yang sejak tadi duduk diam memunggung mereka, menatap ke arah selatan yang jauh, perlahan membuka mulutnya. Suaranya rendah, berat, dan dingin, namun cukup jelas terdengar semua orang.

"Tak salah arah. Jejak ada di sini."

Semua kepala serentak menoleh ke arahnya. Ini kali pertama Liam bicara sejak mereka berangkat.

"Apa maksudmu, Liam? Kau melihat sesuatu?" tanya Dika cepat, bangkit berdiri penuh harap.

Liam menunjuk ke arah jalan tanah kecil yang sempit dan berlumpur, yang bercabang masuk ke dalam hutan lebat di sebelah kanan jalan besar itu. Jalan itu tertutup semak belukar, tampak tak terpakai dan sepi.

"Di situ," ucap Liam singkat. "Ada bau aneh. Bau yang sama saat mustika itu ada di ruang penyimpanan padepokan. Bau itu... bercampur bau keringat pencuri, dan bau debu desa."

Semua orang bingung dan ragu. Mereka sama sekali tak mencium bau apa pun selain bau tanah dan daun kering. Namun, ingat betapa hebatnya kemampuan Liam saat latihan dulu, mereka akhirnya memutuskan untuk percaya.

Mereka masuk menyusuri jalan sempit itu, membelah semak belukar yang lebat. Semakin jauh masuk, jalan itu justru semakin lebar dan terawat, menunjukkan ada penduduk yang tinggal di sana. Suasana di sekitar berubah hening dan agak misterius. Angin berhembus membawa aroma asap dapur, jerami, dan tanah basah, campuran aroma khas sebuah pemukiman manusia.

Setelah berjalan sekitar satu jam lamanya, pepohonan di depan mereka tiba-tiba terbuka luas. Di hadapan mata mereka, terbentang sebuah desa kecil yang asri, damai, dan tertata rapi. Rumah-rumah panggung berjejer, sawah hijau membentang luas, dan warga desa tampak sibuk dengan kegiatan sore mereka. Asap tipis mengepul dari beberapa cerobong dapur, dan suara hewan ternak terdengar bersahutan.

Desa itu bernama Desa Cemara, sebuah desa kecil yang letaknya sangat terpencil, tersembunyi di antara bukit dan hutan, sehingga jarang dikunjungi orang dari luar.

"Desa Cemara..." gumam Dika mengenali nama itu dari peta wilayah. "Konon desa ini sangat tertutup dan warganya sangat menjaga adat istiadat. Jarang ada orang asing yang berani masuk."

Namun saat itulah, mata Liam yang tajam itu menangkap sesuatu yang lain. Di tengah desa, tepat di atas atap balai desa yang paling besar dan tinggi, ada kilatan cahaya samar berwarna keemasan yang memantulkan sinar matahari sore. Cahaya itu tidak biasa. Cahaya itu berdenyut pelan, berirama, dan memancarkan hawa panas serta kekuatan halus yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang memiliki kepekaan tinggi — atau makhluk seperti Liam.

Jantung Liam berdenyut pelan. Ia mengenali kilatan itu. Ia mengenali tenaga itu. Itulah tenaga dari Mustika Naga Pusaka.

Liam menunjuk tepat ke arah tengah desa itu, wajahnya tetap dingin namun suaranya sedikit lebih tegas dari biasanya.

"Di sana. Mustika itu... ada di desa ini."

Semua teman kelompoknya terbelalak kaget. Mereka sama sekali tak menyangka benda pusaka yang hilang itu ternyata bersembunyi di sebuah desa kecil, damai, dan jauh terpencil seperti ini. Mereka mengira pencuri akan lari ke tempat liar, gua gelap, atau tempat berbahaya, bukan justru di tengah pemukiman warga yang aman.

"Jadi si pencuri membawa benda ini ke sini, dan menyimpannya di tengah warga biasa... berani sekali," ucap Jaka dengan nada kagum dan waspada.

Dika mengangguk mantap, wajahnya kembali bersemangat. "Kalau begitu, tugas kita sudah setengah selesai. Kita masuk ke desa itu, cari tahu siapa yang menyimpannya, dan ambil kembali mustika itu. Tapi ingat, kita harus hati-hati. Ini wilayah orang lain, jangan sampai menimbulkan keributan atau ketakutan warga."

Keempat wanita itu mengangguk setuju, menyiapkan diri untuk masuk.

Namun Liam diam saja, menatap desa itu lebih lekat dan dalam. Di balik kedamaian dan keindahan desa itu, panca inderanya menangkap sesuatu yang lain. Ada rasa curiga, ada hawa tak wajar, ada bisikan-bisikan samar yang tak terdengar telinga manusia biasa. Benda itu memang ada di sana, tapi rasanya benda itu bukan disimpan semata, melainkan sedang digunakan atau dijaga untuk sesuatu tujuan tertentu.

"Di sana... ada rahasia," bisik Liam pelan untuk dirinya sendiri.

Ia menghela napas panjang, mengingat janjinya pada Seruni untuk selalu berhati-hati dan pulang dengan selamat. Ia pun melangkah maju mengikuti teman-temannya masuk ke Desa Cemara, dengan kewaspadaan penuh. Ia tahu, menemukan letak mustika itu baru awal dari tugas berat ini. Di desa itu, di tempat yang kelihatan damai itu, ujian yang sesungguhnya baru saja menanti mereka.

Matahari perlahan tenggelam di balik bukit, menyelimuti Desa Cemara dalam cahaya kemerahan yang indah namun misterius. Kelompok tujuh orang itu berjalan masuk melewati gerbang desa kayu yang sederhana, siap mengungkap rahasia besar di balik hilangnya pusaka padepokan, dan siap membawa pulang benda berharga itu kembali ke tempat asalnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!