NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 ​Celah di Balik Tirai Besi

Malam harinya, rumah besar keluarga Prawijaya terasa begitu sunyi dan dingin bagi Aruna. Setelah menolak ajakan makan malam bersama dari ayahnya dengan alasan lelah, Aruna mengunci diri di dalam kamarnya yang luas. Ia duduk bersila di atas tempat tidur mewah berukuran king size, dikelilingi oleh tumpukan berkas perkara hukum yang ia bawa dari kantor hukum relawan.

​Di bawah temaram lampu meja, Aruna mencoba memfokuskan pikirannya pada barisan undang-undang agraria. Namun, setiap kali ia membaca bait pasal hukum, wajah kaku Baskara di ruang rapat sore tadi selalu berkelebat di benaknya.

​Aruna menghela napas panjang, meletakkan pulpennya dengan kasar di atas kasur. Ia menyentuh dadanya yang kembali terasa berdenyut nyeri. Fisiknya belum sepenuhnya pulih pasca koma panjang di London, dan stres yang menderu sejak kepulangannya ke Jakarta kian memperburuk kondisi batinnya. Namun, ia menolak untuk menyerah pada rasa sakit itu.

​Tiba-tiba, ponsel genggamnya yang tergeletak di atas nakas bergetar halus, menampilkan sebuah nomor baru tanpa nama yang masuk melalui pesan teks singkat.

​Jika kamu ingin memenangkan pasal 14 minggu depan, periksa kembali laporan audit logistik Dirgantara Group tahun 2024. Ada celah yang sengaja mereka tutupi.

​Aruna mengernyitkan dahi. Ia langsung duduk tegak, menatap layar ponselnya dengan saksama. Siapa yang mengirimkan pesan ini? Apakah ini jebakan baru dari pihak lawan, atau ada seseorang di dalam internal Dirgantara Group yang sengaja ingin membelot?

​Tanpa membuang waktu, Aruna langsung membuka laptopnya. Jemarinya menari dengan cepat di atas papan ketik, meretas masuk ke dalam jaringan arsip digital sekunder milik perusahaan untuk mencari berkas audit tahun yang dimaksud. Rasa kantuk dan pening yang sejak tadi mendera kepalanya seketika menguap, digantikan oleh adrenalin pertempuran yang membakar semangatnya.

​Ia tidak tahu siapa yang berada di balik pesan misterius itu, namun satu hal yang pasti, jika celah audit itu benar-benar ada, Aruna akan menggunakan belati hukum tersebut untuk meruntuhkan keangkuhan Baskara Dirgantara di meja sidang minggu depan.

​Di luar jendela kamar, angin malam kota Jakarta sangat kencang, membawa serta hawa dingin yang kian menusuk tulang. Di balik pekatnya malam, roda takdir di antara Aruna dan Baskara kini tidak lagi sekadar tentang memori kelam di London, melainkan telah bergeser menjadi sebuah laga catur korporasi yang sarat akan intrik, di mana satu langkah salah akan menyeret salah satu dari mereka jatuh ke dalam jurang kehancuran yang tak berdasar. Dan di dalam kesunyian kamarnya, Aruna bersumpah tidak akan menjadi pihak yang kalah untuk kedua kalinya.

Pukul dua dini hari. Suasana di dalam kamar Aruna hanya diterangi oleh pendar biru dari layar laptop yang kontras dengan kegelapan ruangan. Jarinya yang mungil terus menari di atas keyboard, menelusuri barisan angka dan laporan keuangan digital yang berhasil ia akses melalui portal data sekunder perusahaan. Napasnya terdengar pendek-pendek, berbaur dengan detak jam dinding yang seolah sedang menghitung mundur sisa kekuatannya malam ini.

​Aruna berhenti sejenak, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut nyeri. Matanya yang memerah menatap lekat pada sebuah sub bab dalam draf audit tahun 2024 milik Dirgantara Group. Pesan misterius itu benar. Ada sebuah pola aliran dana yang tidak wajar di sana sebuah pengalihan modal yang disamarkan melalui biaya operasional logistik di wilayah barat, tepat di area yang ingin dikuasai Baskara melalui Pasal 14.

​"Jadi ini alasanmu begitu ngotot, Pak Baskara?" bisik Aruna dengan nada dingin.

​Baskara tidak sedang mencari efisiensi. Ia sedang mencoba menambal lubang besar di perusahaannya dengan cara menelan aset Prawijaya Group. Jika Aruna bisa membuktikan manipulasi ini di depan dewan komisaris dan ayahnya, bukan hanya Pasal 14 yang akan gugur, tetapi reputasi Baskara sebagai CEO yang "tanpa cela" akan hancur berantakan.

​Namun, di tengah kemenangannya yang selangkah lagi, rasa sesak itu kembali datang. Aruna mencengkeram tepi meja, mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Kondisi fisiknya pasca koma memang seperti bom waktu sedikit saja ia memaksakan diri melampaui batas stres, tubuhnya akan memberikan sinyal peringatan yang menyakitkan. Ia meraih botol obatnya, menelan satu pil tanpa air, dan bersandar lesu pada kursi kerja.

​Siapa sebenarnya pengirim pesan itu? Aruna menatap layar ponselnya. Pesan itu sangat spesifik. Hanya seseorang dengan akses tingkat tinggi atau dendam yang sama besarnya dengan dirinya yang bisa mengetahui celah ini. Apakah ini bantuan, atau justru umpan untuk menyeretnya ke dalam masalah yang lebih besar?

​Di sisi lain kota, di dalam ruang kerja pribadinya yang didominasi warna gelap, Baskara Dirgantara duduk dengan segelas wiski yang belum disentuh. Pria itu menatap sebuah dokumen lama yang ia tarik dari arsip universitas di London melalui asisten pribadinya.

​Itu adalah laporan ketidakhadiran mahasiswa tahun terakhir atas nama Aruna Prawijaya.

​Baskara menyipitkan matanya. Selama ini, ia hanya tahu Aruna menghilang dari radar akademis setelah ia memberikan tekanan terakhir pada draf skripsinya. Ia mengira Aruna hanya melarikan diri karena mentalnya yang lemah. Namun, catatan medis yang terlampir secara resmi yang dulu sengaja ia abaikan karena menganggapnya hanya alasan yang dibuat-buat olehnya kini tertulis dengan jelas di depan matanya.

​Diagnosis, Gagal napas akut dan koma berkepanjangan akibat komplikasi jantung.

​Tangan Baskara yang memegang dokumen itu sedikit menegang. Kalimat Aruna di ruang rapat tadi "Manusia belajar dari rasa sakit"kembali bergema di telinganya. Ada sebuah kenyataan pahit yang perlahan mulai ia sadari; rasa sakit yang dialami Aruna bukan hanya sekadar ego yang terluka, melainkan sebuah pertarungan nyawa yang dipicu oleh tangannya sendiri.

​"Pak Baskara?" suara asistennya terdengar melalui interkom. "Ada anomali pada sistem pemantauan data sekunder pusat. Seseorang mencoba mengakses laporan audit tahun 2024 sekitar sepuluh menit yang lalu."

​Baskara terdiam. Sebuah seringai tipis yang dingin muncul di sudut bibirnya. Hanya ada satu orang yang memiliki alasan untuk mencari celah itu sekarang. Aruna Prawijaya.

​"Biarkan saja," jawab Baskara singkat.

​"Tapi Pak, itu data sensitif yang.."

​"Aku bilang biarkan. Aku ingin melihat sejauh mana dia bisa melangkah dengan informasi itu," potong Baskara dengan nada otoriter yang tak terbantah.

​Baskara menyandarkan tubuhnya, menyesap wiskinya perlahan. Ia tidak merasa terancam. Justru, ada sebuah rasa penasaran yang aneh yang membakar dadanya. Ia ingin tahu, apakah Aruna yang sekarang sudah cukup kuat untuk menghancurkannya, ataukah ia masih gadis kecil yang akan hancur berkeping-keping saat ia memberikan tekanan balik.

​Keesokan paginya, lobi gedung Prawijaya Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Aruna melangkah masuk dengan setelan blazer berwarna merah marun yang tajam. Meskipun wajahnya tampak sedikit pucat di bawah polesan makeup, sorot matanya berkilat penuh tekad. Ia membawa sebuah map hitam yang berisi "bom" untuk Baskara.

​Saat ia sedang menunggu lift, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan lobi. Pintu terbuka, dan Baskara Dirgantara melangkah keluar dengan aura yang mendominasi seperti biasa.

​Tanpa diduga, Baskara melangkah lurus menuju lift yang sama dengan Aruna. Para staf di lobi tertunduk segan, sementara Aruna tetap berdiri tegak, menatap pintu lift di depannya seolah Baskara hanyalah kepulan asap.

​Ting.

​Pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam. Hening yang mencekam menyelimuti kubus logam itu saat lift mulai bergerak naik. Bau parfum maskulin Baskara yang tajam memenuhi ruangan, memicu memori traumatis Aruna tentang aroma ruang dosen di London yang selalu membuatnya menggigil.

​"Tidurmu tidak nyenyak semalam, Aruna?" suara berat Baskara memecah kesunyian.

​Aruna tidak menoleh. "Bukan urusan Bapak."

​"Tentu saja menjadi urusanku jika mitra bisnisku terlihat seperti mayat hidup saat akan menandatangani kontrak penting," sindir Baskara dengan nada dingin yang menusuk.

​Aruna menoleh, menatap Baskara dengan senyum tipis yang sarat akan kemenangan. "Bapak tidak perlu khawatir tentang kesehatanku. Sebaiknya Bapak lebih khawatir tentang audit logistik tahun 2024 milik Dirgantara Group. Saya dengar... ada beberapa angka yang 'tersesat' di sana."

​Langkah lift terhenti sejenak karena sensor, namun Baskara tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Ia justru melangkah satu jengkal lebih dekat ke arah Aruna, mempersempit jarak hingga Aruna bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu.

​"Begitu?" bisik Baskara, suaranya terdengar begitu rendah dan berbahaya di dekat telinga Aruna. "Menarik. Kamu sudah belajar cara mencari kelemahan lawan. Tapi ingat satu hal, Aruna... terkadang seekor mangsa yang menemukan rahasia pemburunya bukan menjadi lebih aman, melainkan justru menjadi target yang lebih menarik untuk dihabisi."

​Baskara menjauh, tepat saat pintu lift terbuka di lantai eksekutif. Ia melangkah keluar dengan santai, meninggalkan Aruna yang berdiri mematung dengan tangan yang mencengkeram erat map di dadanya.

​Aruna menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang liar. Baskara tahu. Pria itu tahu dia sedang menyelidiki audit tersebut, dan anehnya, Baskara tidak mencoba menghentikannya. Ini bukan lagi sekadar rapat bisnis, ini adalah permainan mental yang jauh lebih berbahaya.

​Aruna melangkah keluar lift dengan rahang yang mengeras. Ia tidak peduli jika Baskara menganggapnya target menarik. Kali ini, ia tidak akan membiarkan sang pemburu menang tanpa luka. Aruna berjalan menuju ruang rapat ayahnya, siap meledakkan bom yang ia bawa, tanpa menyadari bahwa di balik bayang-bayang, ada seseorang yang sedang mengamati setiap gerakannya dengan rencana yang jauh lebih gelap.

1
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
Anonim
lanjut ka 😍
Desi Santiani
apa sbnrnya isi flasdisk itu, apaa ad hubungannya sikap bagaska saat dlondon terhadap arunaa ?
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Aduh, jd bulan-bulann para warga 🤭🤦🙈
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!