NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 ​Pecahnya Kaca di Ruang Kuasa

Keheningan yang ditinggalkan Aruna di ruang tengah terasa begitu pekat dan menekan. Setelah pintu kamar di lantai atas tertutup rapat, Deon Prawijaya hanya bisa mengembuskan napas berat seraya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut kaku. Di hadapannya, suasana canggung menyelimuti keluarga Dirgantara. Ayah Baskara berdeham pelan, mencoba memecah kekakuan sebelum konflik keluarga ini menjadi semakin larut dalam rasa tidak enak. Mereka kembali berbincang, namun dengan nada yang jauh lebih rendah dan berhati-hati, sementara Baskara hanya terpaku menatap anak tangga, merenungi setiap kalimat tajam Aruna yang membuktikan betapa dalamnya luka yang telah mereka torehkan pada gadis itu.

​Malam itu berakhir tanpa penyelesaian, dan di dalam kamarnya, Aruna menegaskan batas yang jelas, ia tidak ingin diganggu oleh siapa pun.

​Namun, keesokan paginya, Deon seolah membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pria dominan yang enggan tunduk pada pemberontakan sang anak. Seakan tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi psikologis Aruna yang baru saja pulih, Deon sudah berdiri di depan meja makan sejak pukul enam pagi, memerintahkan putri tunggalnya untuk bersiap-siap ikut ke kantor pusat Prawijaya Group.

​Aruna yang baru saja turun dengan tatapan dingin seketika merasakan amarahnya naik ke ubun-ubun. Napasnya memburu, bibirnya sudah terbuka untuk melayangkan penolakan keras yang mungkin akan memicu pertengkaran hebat lainnya. Namun, sebelum kata-kata tajam itu terucap, ia melihat sang ibu yang berdiri di sudut ruangan menggelengkan kepala dengan tatapan memohon yang teramat sangat. Ibunya tampak begitu lelah dan cemas jika rumah ini kembali berubah menjadi medan perang. Menahan rasa sesak di dadanya, Aruna akhirnya terpaksa menurut.

​Ia kembali ke kamar dan bersiap dengan pakaian yang teramat sederhana. Tidak ada setelan blazer formal rancangan desainer ternama atau perhiasan yang mencolok. Aruna hanya mengenakan dress bunga-bunga selutut dengan warna biru pastel, sementara rambut panjangnya disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah tirusnya. Namun, kesederhanaan itu justru memancarkan keanggunan yang mahal dan berkelas saat melekat pada tubuhnya yang kini mulai tampak lebih berisi.

​Sesampainya di gedung pencakar langit milik Prawijaya Group, kedatangan sang pewaris tunggal langsung menyita perhatian seluruh jagat kantor. Di sepanjang koridor luas menuju lift khusus eksekutif, ratusan karyawan berdiri di sisi kiri dan kanan. Mereka semua menundukkan kepala dengan takzim saat Deon berjalan dengan langkah tegap, dengan bangga memperkenalkan Aruna sebagai suksesor tunggal dinasti bisnis mereka. Para staf dan jajaran manajer tampak terpesona, aura dingin Aruna yang dipadukan dengan gaun sederhananya justru menciptakan impresi seorang pemimpin masa depan yang sangat tegas, anggun, dan sulit digapai.

​Namun, binar ketenangan di wajah Aruna lenyap seketika begitu pintu ruang kerja CEO dibuka.

​Di dalam ruangan yang luas itu, telah duduk ayah Baskara bersama putra sulungnya, Baskara Dirgantara. Untuk apa mereka kemari pagi-pagi sekali? batin Aruna bersuara, kilatan sinis langsung terpotret di matanya.

​Baskara segera bangkit dari duduknya begitu melihat Aruna masuk. Dengan gurat wajah yang sengaja dibuat seramah mungkin, ia melangkah maju untuk menyambut kehadiran gadis itu. Namun, lagi dan lagi, Aruna membuang mukanya dengan kasar. Ia melewati Baskara begitu saja tanpa menganggap eksistensi pria itu ada di dalam ruangan.

​Pertemuan pagi itu sedianya membahas tentang integrasi beberapa proyek baru yang akan diserahkan pengawasannya kepada Aruna. Deon mulai mendikte, memaparkan aturan-aturan kaku dan target perusahaan yang harus dipenuhi oleh putrinya. Aruna mencoba menahan diri. Ia tidak ingin berteriak, ia ingin berbicara dengan cara yang elegan dan lembut, menyuarakan pendapat serta perspektifnya sendiri mengenai bagaimana seharusnya ia mulai belajar tanpa harus langsung dibebani oleh ambisi besar sang ayah.

​"Papa, dengarkan aku dulu. Aku ingin memulai dari divisi bawah agar aku bisa memahami.."

​"Tidak ada divisi bawah untuk seorang Prawijaya, Aruna!" potong Deon dengan suara tegas, sama sekali tidak menerima masukan atau kompromi dari putrinya. "Kamu langsung duduk di jajaran direksi. Aturan di perusahaan ini sudah mutlak, dan kamu hanya perlu mengikutinya!"

​Sikap kediktatoran Deon yang sama sekali tidak berubah sejak masa kuliahnya di London menjadi pemantik yang membakar habis sisa kesabaran Aruna. Rasa ditekan, tidak didengar, dan diperlakukan seperti boneka investasi membuat emosinya meledak seketika.

​Prangg!!

​Tanpa diduga oleh siapa pun, tangan Aruna bergerak cepat menyapu vas bunga kaca setinggi setengah meter yang berada di atas meja konsol. Vas itu menghantam lantai marmer dengan keras, pecah berkeping-keping, melesatkan air dan potongan bunga mawar ke segala arah.

​Seketika itu juga, ruangan CEO yang megah itu berubah menjadi sunyi senyap, mencekam bagai kuburan.

​"ARUNAAA!!" panggil Deon dengan suara lantang yang menggelegar, wajahnya memerah padam karena syok dan murka atas tindakan nekat putrinya di depan kolega mereka.

​Aruna tidak peduli. Tanpa sepatah kata pun, ia membalikkan tubuhnya, melangkah lebar keluar dari ruangan itu dengan napas yang memburu hebat. Baskara yang melihat hal itu tidak tinggal diam, insting protektifnya langsung mengambil alih. Tanpa memedulikan seruan ayahnya atau kemarahan Deon, Baskara langsung berlari keluar, mengejar langkah kaki Aruna yang bergerak cepat menuju lift.

​Di dalam ruangan, ayah Baskara langsung memegang pundak Deon, menepuknya dengan keras untuk menenangkan sang sahabat seraya memberikan nasihat tegas bahwa cara kerasnya justru akan membuat Aruna semakin menjauh dan hancur.

​Sementara itu, Aruna yang sudah berhasil keluar dari gedung langsung memesan taksi. Pikirannya kacau, dadanya berdenyut nyeri akibat emosi yang terlalu meluap. Ia meminta sopir taksi membawanya pergi jauh dari pusat kota, menuju ke tepi sebuah pantai yang sepi di utara Jakarta. Aruna turun, melangkah pincang di atas pasir putih, lalu mendudukkan dirinya di sebuah batuan besar. Ia hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut, membiarkan deru angin laut menerpa sanggul rambutnya yang mulai berantakan.

​Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari sana. Baskara turun dengan napas yang terengah-engah setelah mengikuti taksi Aruna sepanjang jalan. Pria itu melangkah mendekati batuan tempat Aruna duduk, lalu berdiri tepat di hadapannya.

​"Aruna... tolong bicaralah padaku," tanya Baskara dengan suara yang teramat parau, menatap nanar ke arah gadis yang tampak begitu rapuh namun keras kepala di depannya.

​Sedikit pun Aruna tidak menganggapnya ada. Ia tetap membeku dalam posisinya, menutup seluruh akses komunikasinya dari Baskara.

​"Aruna, aku mohon padamu... kamu bisa marah atau membentakku, tapi jangan siksa dirimu seperti ini. Jantungmu baru saja pulih," mohon Baskara lagi, bahkan kini pria berwibawa itu bersiap untuk berlutut di atas pasir demi mendapatkan perhatian dari wanita yang mulai ia cintai.

​Mendengar kata-kata itu, Aruna mendongak. Tatapan matanya menghujam lurus ke arah Baskara dengan kilatan benci yang teramat pekat. Merasa muak dengan kehadiran pria itu, Aruna hendak berdiri untuk pergi menjauh. Namun, karena gerakannya yang terlalu terburu-buru dan emosi yang mengaburkan fokusnya, kaki Aruna tersenggol oleh permukaan batu karang yang tajam di bawahnya.

​"Aww!"

​Tubuh Aruna limbung dan jatuh terduduk di atas pasir kasar. Siku tangannya tergores permukaan batu, menciptakan luka lecet kecil yang untungnya tidak terlalu panjang.

​Baskara panik setengah mati. Wajahnya seketika memucat melihat luka goresan di siku Aruna. Dengan cepat, ia berlutut dan mengulurkan tangannya, hendak memeriksa luka tersebut dan membantu Aruna berdiri. Namun, sebelum jemari Baskara sempat menyentuh kulitnya, Aruna dengan santai dan dingin menepis tangan itu dengan sentakan yang kuat.

​Aruna memberikan tatapan sedingin es yang mematikan, menolak mentah-mentah segala bentuk bantuan fisik dari pria yang paling ia benci. Baskara tertegun, ada rasa tidak suka dan frustrasi yang mendalam di dadanya melihat bagaimana Aruna lebih memilih menahan sakit daripada harus disentuh olehnya.

​Tanpa mengeluarkan suara, Aruna bangkit berdiri sendiri dengan sisa tenaganya, mengabaikan perih di sikunya. Ia berjalan menjauh, memanggil taksi lain yang lewat di sekitar jalan pantai untuk membawanya pulang ke rumah. Baskara yang tidak mau kehilangan jejak kembali masuk ke dalam mobilnya, menguntit taksi Aruna dari belakang memastikan gadis itu aman, hingga akhirnya Aruna melangkah masuk ke dalam gerbang rumah megahnya dengan Baskara yang terus mengikuti tepat di belakangnya.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!