Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Timur Kota Anjuk Ladang ( bagian 1 )
Pangeran Mapanji Wijaya mengalihkan perhatiannya ke depan dan empat orang berpenampilan aneh menghadang dengan senjata terhunus. Buru-buru ia keluar dari kereta kuda dan berdiri di samping kusir sambil berkacak pinggang.
"Heh orang berwajah jelek..!!!
Cepat minggir dari jalan ku! Kalau membandel, para prajurit ku akan menghajar kalian sampai babak belur. Cepat minggir sana! ", bentak Pangeran Mapanji Wijaya dengan gaya songongnya.
Cercaan dan hinaan ini langsung membuat empat orang ini mendengus geram.
" Dasar kurang ajar!!
Berani-beraninya kau menghina Empat Setan Goa Siluman hah!! Hari ini akan ku buat kau menyesali apa yang sudah kau ucapkan..!!! ", teriak Setan Kurus sembari memutar sabit di tangannya.
Setan Betina Pemikat Sukma segera menghentakkan tangan kiri nya ke depan dan dua senjata rahasia berbentuk belati kecil melesat cepat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya.
Shhrrriiiiiinnnggggg shhrrriiiiiinnnggggg!!
Saat itulah, Juru Mandhasiya melompat ke depan Pangeran Mapanji Wijaya dan menggunakan tameng nya untuk melindungi sang putra raja.
Thhrraaaaaannnggg thhrraaaaaannnggg!!!
Dua senjata rahasia yang dilepaskan Setan Betina Pemikat Sukma pun bermentalan saat menghantam lempeng baja dari tameng milik sang perwira prajurit.
Begitu Empat Setan Goa Siluman mulai bergerak, para prajurit pilihan yang menjadi pengawal Pangeran Mapanji Wijaya langsung menerjang ke arah mereka berempat.
Setan Kurus dengan ganas mengayunkan senjata sabit nya. Dua anak buah Tumenggung Rengga yang berada paling depan, langsung menggunakan tameng besi nya untuk menghadang serangan maut ini.
Thhrraaaaaannnggg..!!!
Dua prajurit itu langsung terpental meskipun selamat dari amukan lawan. Keduanya muntah darah karena tenaga dalam mereka ada di bawah sang pimpinan Empat Setan Goa Siluman.
Menyaksikan anak buahnya dijatuhkan, Tumenggung Rengga menggenggam erat gagang pedang nya dan melompat ke arah Setan Kurus sembari mengayunkan senjata nya.
Shhrreeeeeeeeeettttttt...
Dari ekor mata nya, Setan Kurus melihat serangan yang datang. Cepat cepat ia menggunakan senjata nya sebagai pertahanan.
Thhrriiiiiiiiiinnngggggg!!!
Keduanya pun segera bertarung dengan seluruh kemampuan beladiri yang mereka miliki.
Di sisi lain nya, sisa anggota Empat Setan Goa Siluman juga bertarung dengan segenap kemampuan. Sepuluh orang prajurit bawahan Tumenggung Rengga sudah terkapar di tangan mereka.
Melihat keganasan mereka, Juru Mandhasiya dan Bekel Ki Pancala segera melesat maju. Ratri yang tidak bisa menahan diri lagi ikut menerjang ke arah Setan Betina Pemikat Sukma.
Shhrreeeeeeeeeettttttt shhrreeeeeeeeeettttttt..
Dua cahaya tebasan pedang Ratri berwarna putih menderu kencang ke arah Setan Betina Pemikat Sukma. Perempuan berbadan semok dengan dandanan menor ini cepat melompat mundur sambil mengibaskan selendang merah nya.
Whhuuuuussssss...
BLLAAAAAAAAARRRRRRR!!!!
Ledakan keras terdengar saat ujung selendang merah Setan Betina Pemikat Sukma bertemu dengan dua hawa pedang yang dilepas oleh Ratri. Keduanya sama-sama terdorong mundur beberapa tombak ke belakang menjadi penanda bahwa keduanya memiliki tingkat tenaga dalam yang seimbang.
Pertarungan antara Ratri dan Setan Betina Pemikat Sukma berlangsung alot dan sengit. Keduanya memiliki kemampuan bela diri yang tinggi dan setara membuat Pangeran Mapanji Wijaya yang menyaksikannya benar-benar kesal.
Ludaka yang melihat kekesalan di wajah majikannya segera menyenggol Subadra yang berdiri di sebelahnya.
"Maju sana.. Bantu perempuan itu, biar Gusti Pangeran juga menghargai keberadaan mu.. ", bisik Ludaka pelan.
Subadra mengangguk mengerti. Dia langsung mencabut sepasang pedang pendek di pinggangnya, pemberian Resi Mpu Kumbahan gurunya.
Sepasang pedang pendek melengkung ini bukanlah senjata biasa. Kedua pedang pendek ini disebut sebagai Pedang Bulan Sabit Kembar, salah satu senjata pusaka yang memiliki daya linuwih tersendiri. Begitu dia keluar dari warangka nya, hawa dingin langsung menyebar di sekitar Subadra.
Tanpa ragu-ragu lagi, Subadra menjejak tanah sedikit keras hingga tubuhnya melesat cepat ke arah Setan Betina Pemikat Sukma. Segera ia mengayunkan kedua pedang pendek di tangannya.
Shhrreeeeeeeeeettttttt shhrreeeeeeeeeettttttt!!
Whhuuuuussssss....
Dua gelombang cahaya berwarna kuning redup berhawa dingin menusuk tulang menderu kencang ke arah Setan Betina Pemikat Sukma yang sedang beradu senjata dengan Ratri. Ekor mata Setan Betina Pemikat Sukma melihat kedatangan serangan Subadra dari samping. Dia pun cepat menghentakkan tangannya sembari melompat mundur.
BLLAAAAAAAAARRRRRRR!!
Ledakan keras yang menciptakan kabur sedingin es mengguncang tempat itu. Baik Setan Betina Pemikat Sukma maupun Ratri yang melompat mundur terkejut bukan main kala melihat bekas tempat bertarung mereka kini penuh dengan bongkahan es. Andai mereka terlambat menghindar sekejap saja, keduanya pasti akan membeku di tempat itu.
"Pedang Bulan Sabit Kembar...??!!
Gadis tengik, darimana kau dapat pusaka itu?! ", teriak Setan Betina Pemikat Sukma penuh keterkejutan.
Subadra tersenyum sedikit begitu mendarat. Dia cepat memutar tubuhnya dan kembali bergerak ke arah Setan Betina Pemikat Sukma.
" Tanyakan saja itu nanti di neraka sana, Nenek Peyot..!! ", jawab Subadra sembari mengayunkan senjata nya.
Whhuuuuuutttt...
Dengan perasaan kesal setengah mati, Setan Betina Pemikat Sukma menangkis sabetan pedang pendek melengkung milik Subadra. Tetapi perempuan berbadan montok ini tak berhenti sampai disitu saja. Serangan demi serangan maut dari ilmu silat yang diajarkan oleh gurunya menghujani anggota Empat Setan Goa Siluman ini tanpa ampun.
Shhrreeeeeeeeeettttttt thhrraaaaaannnggg...
Bllaaaaaaarrrr bllaaaaaaarrrr!!!
Pangeran Mapanji Wijaya yang menyaksikan penampilan apik Subadra, langsung berteriak kegirangan.
"Heh semok..!!
Cepat habisi perempuan tua tak tahu diri itu! Kalau kau bisa melakukannya, aku punya hadiah untuk mu..!! "
Senyuman Subadra langsung melebar mendengar apa yang dikatakan oleh Pangeran Mapanji Wijaya. Dia semakin bersemangat memburu Setan Betina Pemikat Sukma yang mulai keteteran dengan serangan maut nya.
Dengan wajah sedikit panik, Setan Betina Pemikat Sukma langsung menoleh ke arah Setan Gendut yang berada di dekatnya.
"Gendut!!! Bantu aku mengatasi perempuan jalang ini! Nanti malam aku beri kau kesempatan untuk mandi bersama ku...! ", pinta Setan Betina Pemikat Sukma yang membuat Setan Gendut gembira dan bergerak ke arah pertarungan antara Setan Betina Pemikat Sukma dengan Subadra.
Warak yang sedari tadi hanya memperhatikan jalannya pertarungan, langsung menghadang pergerakan Setan Gendut yang badannya sudah memiliki luka dari pertarungan sebelumnya.
"Mau kemana kau, Gigi Jarang?!! Lawan mu adalah aku!" , teriak Warak sambil mengayunkan kapak besarnya.
Whhhuuuuuuuuuuugghhh!!
Setan Gendut pun segera menangkis serangan itu dengan gada bergerigi tajam nya.
Thhrraaaaaaannnngggg..!!
Warak membuat Setan Gendut kerepotan dengan serangan kuat nya. Kapak besarnya terus menerus menghujani Setan Gendut hingga pria bertubuh besar ini sama sekali tidak bisa mendekati area pertarungan Subadra dan Setan Betina Pemikat Sukma.
Thhrraaaaaannnggg thhrraaaaaannnggg..
Dhhaaaaaaaassssss....!!
Aaaaauuuuuuuugggghhhhh!!!
Tubuh Setan Betina Pemikat Sukma terpental ke belakang setelah tendangan keras Subadra telak menghajar perutnya. Perempuan itu langsung muntah darah segar.
"Subadra, cepat bunuh nenek peyot itu untuk ku..!! ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya dari tempatnya berada. Subadra mengangguk paham dan cepat melesat ke arah Setan Betina Pemikat Sukma yang berusaha bangkit dari tempat jatuhnya.
Chhrrraaaaaaasssss!!!
Sabetan Pedang Bulan Sabit Kembar di tangan kanan Subadra menggorok leher Setan Betina Pemikat Sukma. Darah segar muncrat dari luka itu dan mengotori pakaian Subadra. Satu anggota Empat Setan Goa Siluman tersungkur bersimbah darah.
"RAMPEEEESSSSSS!!!!! "
Teriakan keras terdengar dari mulut Setan Cebol yang sedang bertarung melawan Juru Mandhasiya. Dia segera melesat ke arah Nyai Rampes alias Setan Betina Pemikat Sukma yang kini terkapar sambil meregang nyawa.
Tetapi Juru Mandhasiya tak membiarkannya begitu saja.
Bekas pendekar dari Padepokan Tameng Besi di lereng Gunung Arjuna ini langsung melemparkan tameng besi nya ke arah Setan Cebol yang sedang berlari kencang.
Whhuuuuunggggg!!!
Dhhiiiiiiieeeeeesssssss....
Oooouuuuuuugggghhhh!!!!
Hantaman tameng besi Juru Mandhasiya menancap pada punggung Setan Cebol tepat sesaat sebelum dia sampai ke Nyai Rampes. Tubuh mungilnya menyusruk tanah di dekat perempuan yang hampir mati ini. Mulutnya langsung mengeluarkan darah.
Dengan tenaga yang tersisa, Setan Cebol berusaha menggapai tangan Nyai Rampes tetapi sayang dia keburu tewas sebelum sempat menyentuh nya. Dua anggota Empat Setan Goa Siluman itu tewas bersamaan.
Kematian dua orang ini membuat Setan Gendut murka. Dengan sekuat tenaga dia mengayunkan gada bergerigi tajam nya ke arah Warak.
Dhhhaaaaaaannngggg!!!
Warak tersurut mundur dan Setan Gendut memanfaatkan itu untuk berlari ke arah kereta kuda yang ditumpangi Pangeran Mapanji Wijaya sambil berteriak histeris,
"Ku bunuh kau, bajingan..!!!! "