Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cakrawala Baru
Deru mesin jet pribadi milik keluarga Sullivan meredam segala kebisingan yang tersisa di kepala Nora. Di dalam kabin yang sangat mewah, dengan interior berlapis kulit berwarna gading dan aksen kayu mahoni yang dipoles sempurna, Nora duduk termenung di dekat jendela. Ia menatap ke arah bawah, di mana daratan California perlahan mengecil, menjadi sekadar garis pantai yang memudar tertutup kabut tipis.
Ia melihat ke bawah, ke arah titik-titik cahaya yang mungkin adalah rumah-rumah, jalanan, atau mungkin mansion Thorne yang kini terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh.
Selamat tinggal, Adrian.
Kalimat itu bergema di batinnya, tenang namun tajam seperti silet. Lima tahun. Lima tahun ia menyerahkan segalanya—perasaannya, waktunya, rahimnya, bahkan penglihatannya yang sering ia tutup demi memuaskan fantasi pria itu. Nora teringat bagaimana dulu ia selalu menunggu kepulangan Adrian dengan hati berdebar, bagaimana ia membiarkan dirinya menjadi tameng hanya agar pria itu bisa tersenyum pada adiknya.
Semua itu selesai hari ini.
Cinta yang dulu ia pupuk dengan air mata dan kesabaran telah mengering dan pecah. Saat Nora membuka tudungnya dan melihat Adrian mengejar mobilnya dengan keputusasaan, Nora merasa separuh dari jiwanya tertinggal di aspal jalanan itu. Namun, separuh lainnya—bagian yang lebih kuat, lebih dingin, dan lebih waspada—kini sedang terbang menuju sebuah ketidaktahuan yang besar.
Ia tidak tahu apa yang menantinya di New York. Ia hanya tahu satu nama: Declan Sullivan. Pria yang menurut rumor sedang terbaring koma, putra mahkota dari dinasti Sullivan yang kekuasaannya membuat keluarga Leone tampak seperti butiran debu. Nora tidak tahu karakter seperti apa yang dimiliki Declan jika pria itu bangun nanti. Apakah dia akan lebih kejam dari Adrian? Apakah dia akan menjadi penjara baru baginya?
Nora menarik napas panjang, mengusap bekas luka di sudut bibirnya yang mulai mengeras. Ia tidak peduli lagi. Setelah kehilangan dua buah hatinya, tidak ada lagi ketakutan yang bisa menyentuh hatinya. Ia adalah wanita yang telah melewati neraka, dan baginya, New York hanyalah medan perang yang baru.
Penerbangan lintas negara itu memakan waktu beberapa jam. Saat jet mulai menurunkan ketinggiannya, pemandangan gedung-gedung pencakar langit New York yang menjulang gagah menyambutnya. Kota yang tidak pernah tidur ini tampak begitu dingin namun menjanjikan anonimitas yang Nora dambakan.
Sebuah iring-iringan mobil limusin hitam telah menunggu di bandara pribadi. Nora turun dari jet, angin Pantai Timur yang tajam menerpa wajahnya, memberikan sensasi segar yang berbeda dari hawa lembap California. Ia masuk ke dalam mobil, dikawal oleh para pria bersetelan jas gelap yang gerakannya jauh lebih efisien dan teratur daripada pengawal Thorne.
Mobil meluncur keluar dari hiruk-pikuk kota, menuju sebuah kawasan eksklusif di pinggiran New York yang dikelilingi oleh hutan pinus dan pagar batu yang kokoh. Begitu gerbang besi raksasa terbuka, Nora terpana.
Kediaman Sullivan bukan sekadar mansion; itu adalah sebuah estate megah yang strukturnya jauh lebih besar, lebih luas, dan lebih mewah daripada milik Adrian. Jika mansion Adrian terasa seperti pameran kekayaan yang kaku, rumah Sullivan adalah perpaduan antara kemewahan klasik dan keasrian yang hidup.
Bangunannya bergaya arsitektur Eropa klasik dengan pilar-pilar putih yang menjulang setinggi sepuluh meter. Namun yang membuat Nora terkesima adalah taman-tamannya. Rumah itu tampak jauh lebih ramai dan hangat. Puluhan pekerja kebun terlihat sibuk di setiap sudut, memangkas semak-semak mawar, menanam bunga tulip yang sedang mekar, dan merapikan rumput yang hijau sempurna. Ada kehidupan di sini. Ada energi yang berbeda—energi dari sebuah dinasti yang sudah mapan selama berabad-abad.
Mobil berhenti tepat di depan tangga marmer pintu utama yang melingkar indah.
Di atas sana, telah berdiri seorang wanita paruh baya dengan aura keanggunan yang tak tertahankan. Nyonya Sullivan, ibu dari Declan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker yang sederhana namun berkelas, rambutnya yang mulai beruban tertata rapi. Meski wajahnya menunjukkan gurat kesedihan dan kelelahan, matanya tetap memancarkan kecerdasan yang tajam.
Di sampingnya, berdiri beberapa pengawal dengan posisi sigap dan seorang pelayan perempuan muda yang mengenakan seragam rapi, menundukkan kepala dengan hormat.
Pintu mobil dibuka oleh pengawal. Nora keluar dengan perlahan, mengenakan gaun pengantin krem keluarga Sullivan yang kini terasa seperti jirah pelindungnya. Ia berdiri tegak, membetulkan letak tas kecilnya, dan menatap lurus ke arah Nyonya Sullivan.
Nora merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran bahwa langkah pertama yang ia ambil di tangga marmer ini akan menentukan sisa hidupnya. Ia tidak lagi memiliki nama Leone yang melindunginya, dan ia tidak memiliki Adrian Thorne di belakangnya. Ia hanyalah Nora—seorang pengantin yang dijual untuk pria yang sedang tertidur.
Nyonya Sullivan melangkah turun beberapa anak tangga, menyambut Nora dengan tatapan yang dalam, seolah sedang mencoba membaca setiap rahasia yang tersembunyi di balik mata cokelat Nora yang tenang.
"Selamat datang di rumah kami, Nora Leone," ujar Nyonya Sullivan. Suaranya lembut namun memiliki otoritas yang mutlak. "Atau haruskah aku memanggilmu Nora Sullivan mulai sekarang?"
Nora sedikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan, namun matanya tetap menatap mata wanita tua itu dengan berani. "Panggil saya Nora saja, Nyonya. Nama belakang saya tidak lagi berarti apa-apa sejak saya melewati gerbang ini."
Nyonya Sullivan sedikit tersenyum—sebuah senyum tipis yang mengandung rasa hormat yang tak terduga. Ia melihat memar samar di wajah Nora dan cara wanita itu berdiri yang begitu defensif. Ia tahu wanita di depannya ini baru saja melarikan diri dari sebuah badai.
"Mari masuk," ajak Nyonya Sullivan sambil memberi isyarat pada pelayannya. "Perjalananmu sangat panjang. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan mengenai putraku, dan mengenai posisimu di rumah ini."
Nora melangkah maju, melewati ambang pintu utama yang besar. Begitu ia masuk ke dalam lobi yang megah dengan lantai mosaik dan lampu gantung kristal yang luar biasa besar, ia tahu satu hal pasti:
California adalah masa lalunya yang berdarah. New York adalah masa depannya yang misterius.
Dan saat pintu besar itu tertutup di belakangnya dengan dentuman pelan, Nora telah siap menghadapi segala kemungkinan—termasuk menghadapi sosok Declan Sullivan yang masih terbaring kaku di lantai atas, menunggu entah apa untuk membangunkannya dari tidur panjangnya. Di rumah yang lebih asri namun lebih misterius ini, Nora Leone telah lahir kembali sebagai wanita yang tidak akan membiarkan siapa pun menginjaknya lagi.