PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : Hadiah di Balik Pintu Lapuk
Pintu kayu paviliun yang sudah rayapan itu berderit nyaring, memecah keheningan yang tegang antara Rosalind dan sistem peri cerewetnya. Sesosok gadis remaja masuk dengan langkah terburu-buru, membawa nampan kayu yang retak di sudutnya.
Gadis itu bernama Mina. Pelayan berusia enam belas tahun yang tampak jauh lebih tua dari usianya karena beban kerja yang tidak manusiawi. Rambut hitamnya di kuncir kuda dengan serabut kasar, wajahnya kusam, dan yang paling mencolok di mata tajam Erika adalah bekas luka bakar kecil yang menghiasi punggung tangannya—jejak permanen dari keberaniannya menyelinap ke dapur utama yang panas hanya demi mencuri sisa makanan untuk Rosalind.
"Nona... akhirnya Anda bangun!" Suara Mina pecah, bergetar hebat menahan tangis yang sudah di ujung mata. Ia meletakkan nampan itu dengan tangan gemetar, lalu berlutut di samping tempat tidur Rosalind.
"Syukurlah... Saya sempat sangat takut saat Nona tidak kunjung membuka mata selama tiga hari ini. Jangan banyak bergerak dulu, ya? Tubuh Nona masih sangat lemah. Biarkan saya ambilkan air hangat, tenggorokan Nona pasti kering sekali."
Mina menatap Rosalind dengan binar mata yang penuh luka sekaligus kelegaan luar biasa. "Maafkan saya, Nona... Saya tidak becus menjaga Anda sampai seperti ini. Melihat Nona terbaring pucat begitu lama... rasanya separuh nyawa saya hilang. Saya merasa gagal melindungi satu-satunya orang yang masih menghargai keberadaan saya di neraka ini. Tapi sekarang Nona sudah di sini lagi. Terima kasih sudah kembali, Nona. Terima kasih sudah bertahan hidup demi saya."
Erika tertegun sejenak. Sebagai agen rahasia ia terbiasa melihat orang mati atau memohon ampun, tapi ia jarang melihat kesetiaan yang begitu tulus di tengah kemiskinan yang mencekik. Ia menatap tangan Mina yang gemetar, lalu beralih pada tangannya sendiri—tangan Rosalind yang kurus kering.
"Nana," panggil Rosalind dalam batinnya, mengabaikan kehadiran Mina sejenak. ["Ganti aku sekarang juga. Aku tidak mau di tubuh ini! Kirim aku jadi pahlawan legendaris kek, atau jadi Naga yang bisa menyemburkan api dan menghancurkan kerajaan ini dalam satu embusan! Terserah, apa saja asal bukan tubuh sampah yang bahkan tidak kuat memegang pisau dapur ini!"]
Nana, sang peri kecil, terbang memutari kepala Rosalind sambil tertawa mengejek. Sayap transparannya meninggalkan jejak serbuk cahaya di rambut perak Rosalind.
{"Nona, jangan banyak protes! Kalau jadi naga, nanti siapa yang mau makan melon? Naga kan makan kambing, bukan makan gosip! Jadi, nikmati saja tubuh cantik bin lemah ini, oke? Lagipula, transmigrasi tidak bisa diretur seperti barang belanjaan online!"}
["Sialan kau, lalat bercahaya!" ]maki Rosalind dalam hati. Amarahnya memuncak. Setiap kali ia melihat jari-jari Rosalind yang rapuh, ia merindukan berat logam dingin dari senapan runduk CheyTac M200 miliknya. Ia merindukan sensasi kasar pelatuk di bawah telunjuknya dan bau mesiu yang membangkitkan adrenalin. Di sini, yang ia miliki hanyalah bau kayu busuk dan pelayan yang menangis.
["Kalau begitu, mana hadiahnya?" ]desis Erika tajam melalui telepati. "[Kau bilang aku terpilih. Jangan bilang 'Semesta' mengirim ku ke sini tanpa modal apa pun untuk bertahan hidup. Aku butuh keuntungan taktis sekarang juga."]
Nana mendengus, lalu menjentikkan jari kecilnya.
[DING! HADIAH PEMULA DIBERIKAN: AKTIVASI PENGLIHATAN TAKTIS.]
Seketika, dunia di mata Rosalind berubah. Pandangannya yang semula redup kini dilapisi oleh layar HUD militer yang transparan dan canggih.
Garis-garis digital berwarna biru neon memetakan setiap inci ruangan. Di sudut matanya, muncul indikator suhu ruangan (4°C), kelembapan, dan yang paling mengesankan, sebuah kotak target terkunci pada Mina.
Di atas kepala Mina muncul data: [Nama: Mina | Status: Malnutrisi Ringan, Kelelahan Akut | Detak Jantung: 92 bpm (Gelisah/Cemas) | Jarak: 0.8 Meter].
Rosalind sedikit menyeringai. Ini dia. Ini bahasa yang ia mengerti. Meskipun tubuhnya lemah, mata ini memberinya keunggulan informasi yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini.
"Mina," suara Rosalind keluar, pelan namun memiliki nada otoritas yang membuat pelayan itu tersentak.
Mina mendongak, menyeka air matanya dengan lengan baju yang kusam. "Iya, Nona? Apa ada yang sakit? Apa Nona lapar? Saya... saya punya sedikit kerak roti yang saya sembunyikan dari dapur tadi pagi."
Rosalind menatap mata Mina melalui lensa taktisnya. "Dengarkan aku baik-baik. Berhenti menangis. Air mata tidak akan membuat perutmu kenyang atau membuat paviliun ini jadi hangat. Mulai sekarang, jangan pernah meminta maaf lagi karena kesalahan orang-orang di kediaman Wiraatmadja ini padaku. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, bahkan terlalu baik."
Mina terperangah. Ia belum pernah mendengar Rosalind berbicara dengan nada sedingin es namun setegas itu. "Tapi Nona... mereka memperlakukan Nona dengan sangat buruk, dan saya hanya pelayan rendah yang tidak bisa melawan."
"Lalu belajarlah untuk tidak sekadar menjadi rendah," potong Erika, matanya berkilat ungu tajam di bawah HUD digitalnya. "Ambilkan air itu. Kita butuh tenaga. Karena mulai detik ini, tidak akan ada lagi Rosalind yang menangis di pojokan. Jika mereka ingin kita mati kedinginan, maka kita akan memastikan mereka terbakar lebih dulu."
Mina menelan ludah, detak jantungnya yang terpantau di mata Rosalind meningkat menjadi 110 bpm. Bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang membakar semangatnya. Ia membungkuk dalam. "Baik, Nona. Saya... saya akan setia di samping Nona, apa pun yang terjadi."
Rosalind kembali bersandar, matanya memindai pintu kayu paviliun. Agen rahasia tidak butuh senjata api untuk membunuh, batinnya sambil mengamati indikator titik lemah pada struktur pintu di depannya
Selama aku punya mata ini dan otak seorang pembunuh, aku akan mengubah paviliun sampah ini menjadi benteng kematian bagi siapa pun yang berani melangkah masuk tanpa izin.
Nana terbang rendah, menatap Rosalind dengan senyum licik. "Nah, begitu dong! Itu baru inang kesayanganku. Mari kita lihat berapa banyak 'melon' yang bisa kita hancurkan hari ini!"