Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 2 pemikiran
Nara setengah menarik paksa Nyonya Mu kembali ke dalam Kamar Barat. Setelah mendudukkan ibunya di atas ranjang kayu, Nara menatapnya dengan tatapan mata yang tajam dan serius.
Nyonya Mu menatap balik Nara dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Ara, tolong dengarkan nasihat Ibu sekali ini aja, ya? Pemuda bernama Yang Dajin itu Ibu tahu betul orangnya. Fisiknya tegap dan dia juga rajin bekerja—benar-benar pria yang baik," bujuk Nyonya Mu mendesak.
"Memang dia tipe penurut sama ibunya, tapi bukankah itu tandanya dia anak yang berbakti sama orang tua? Kalau kamu bisa menikah sama dia, nasibmu di masa depan pasti bakal seribu kali lebih baik daripada bertahan di rumah ini," lanjut Nyonya Mu meyakinkan.
Nyonya Mu sebenarnya sudah menyelidiki latar belakang pemuda tersebut, dan Yang Dajin memang termasuk kandidat yang sangat potensial. Dia sengaja memohon bantuan kepada Kakak Ipar Jiang karena tahu wanita itu berteman dekat dengan bibi buyut dari keluarga si pemuda.
"Ibu, dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak mau menikah sekarang. Tolong jangan mencemaskan urusan itu dulu, umurku kan baru tiga belas tahun," potong Nara sambil mengerutkan kening dalam.
"Lagipula, tipe pria yang selalu menuruti semua kemauan ibunya itu tidak bagus. Kalau bahasanya diperhalus memang kelihatan berbakti, tapi kalau blak-blakan, itu namanya anak mami yang bodoh. Apa bagusnya pria begitu?" cecar Nara ketat.
Memiliki rasa bakti kepada orang tua memang sudah sewajarnya bagi seorang pria, tetapi jika sampai kehilangan prinsip dan menuruti segala hal tanpa menimbang benar salah, itu jelas salah besar.
Wanita mana pun yang mendapatkan suami model anak mami begitu pasti bakal makan hati dan menderita seumur hidup karena selalu disalahkan. Nara tentu saja menolak keras menyerahkan masa depannya kepada pria macam itu.
"nak, anak perempuan dari keluarga mana yang belum punya tunangan di usia sepertimu? Lihat saja anak keduanya Bibi Zhao, umurnya baru dua belas tahun tapi sudah resmi bertunangan," sahut Nyonya Mu tidak mau kalah.
Nyonya Mu menggigit bibir bawahnya sejenak, melirik ke arah pergelangan tangan kiri Nara yang terbalut kain kasa, lalu melanjutkan dengan suara lirih, "Kondisi fisikmu kan awalnya... ditambah dengan rumor di desa... Makanya, mumpung ada keluarga baik-baik yang mau melihatmu, tidak ada salahnya dicoba dulu. Jalan ini jauh lebih baik daripada kamu terus-terusan disiksa di sini..."
Nada suara Nyonya Mu perlahan merendah di akhir kalimat. Dia tanpa sadar melirik cemas ke arah luar jendela, lalu mengembuskan napas panjang penuh beban.
"Ibu, apa Ibu sebegitu tidak sabarnya mau menendangku keluar dari rumah ini?" tanya Nara sengaja memasang wajah sedih dan kecewa demi memancing simpati ibunya. "Apa Ibu juga sudah mulai muak dan tidak suka sama Nara?"
Nyonya Mu terperanjat mendengar tuduhan itu. Dia langsung menggenggam jemari Nara dengan panik. "Omong kosong apa yang kamu bicarakan ini?! Kamu itu darah daging yang lahir dari rahim Ibu sendiri, mana mungkin Ibu tidak sayang padamu?"
"Lalu kenapa Ibu terus-terusan memaksaku untuk cepat-cepat menikah?" tanya Nara sambil mengetatkan rahangnya.
"Kalau Ibu masih nekat memaksaku lagi, besok aku bakal mencukur habis rambutku sampai botak dan pergi ke kuil untuk jadi biksu, biar sekalian tidak ada yang menganggapku sebagai beban lagi!" ancam Nara nekat.
Nyonya Mu seketika syok mendengar ancaman ekstrem dari putrinya. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya dengan tubuh gemetar akibat perpaduan rasa panik dan amarah yang membuncah.
"Kamu... kamu ini bicara apa, hah?! Apa kamu memang sengaja mau membuat ibumu ini mati jantungan karena saking cemasnya?!" seru Nyonya Mu dengan mata yang seketika berubah merah dan berkaca-kaca.
Nara sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain untuk mengeraskan hati, tidak mau goyah oleh air mata ibunya.
"Pokoknya intinya cuma satu. Kalau Ibu masih nekat menjodohkanku, aku benar-benar bakal potong rambut jadi biksu. Kalau masih tidak bisa juga, lebih baik aku sekalian mengakhiri hidup saja!" tegas Nara ketat.
Air mata Nyonya Mu langsung mengalir deras mendengar kalimat itu. Dia menatap profil samping wajah Nara yang tampak begitu keras kepala dengan bibir rapat terkunci.
Mengingat tabiat putrinya yang belakangan ini berubah jadi sangat nekat sampai berani memotong jarinya sendiri, Nyonya Mu sadar kalau dia terus-terusan menekan Nara, hal buruk yang lebih mengerikan bisa benar-benar terjadi.
Dia akhirnya memejamkan mata dalam-dalam, mengalah, dan melunakkan nada bicaranya. "Ya sudah, ya sudah... Ibu janji tidak akan memaksamu lagi. Tapi Ara, lalu sekarang kamu maunya bagaimana? Kamu..."
Nara seketika bernapas lega dalam hati. Dia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Nyonya Mu sambil memasang senyuman manis yang menenangkan.
"Ibu, bukan berarti aku anti-nikah atau menolak selamanya, kok. Aku cuma minta waktu untuk menunggu dua tahun lagi saja. Percayalah sama Ara, dalam dua tahun ini, aku pasti bakal mencarikan menantu yang paling cocok dan berbakti untuk Ibu," janji Nara dengan mata berbinar penuh percaya diri.
Nara membatin geli di dalam hatinya. Zaman sekarang memang gila, dia baru berumur tiga belas tahun dan tubuh ringkih ini bahkan baru saja mau mulai memasuki masa pubertas.
Jika dia dipaksa menikah sekarang lalu mendadak hamil di usia sedini ini, dengan fasilitas medis zaman kuno yang sangat terbelakang, proses melahirkan dengan panggul sekecil ini sama saja dengan mengantarkan nyawa ke liang kubur.
Lagipula kalau dipikir pakai logika, dengan reputasi buruknya yang dicap sebagai pembawa sial berjari enam oleh orang sedesa sekarang, mana ada pria lajang dari keluarga terpandang yang sudi meliriknya? Kalaupun ada yang nekat melamar sekarang, pilihannya pasti kalau bukan pria tua bangka, ya pria cacat atau kasar yang butuh budak di rumahnya.
Melihat senyuman Nara yang tampak riang dengan alis melengkung manis, Nyonya Mu hanya bisa mengembuskan napas panjang sambil melempar senyuman getir.
Namun di dalam lubuk hatinya, Nyonya Mu diam-diam tetap membulatkan tekad bahwa jika nanti dia melihat ada pemuda dari keluarga baik-baik yang berpotensi, dia harus tetap bergerak cepat untuk mengamankannya demi masa depan Nara.
Ibu dan anak perempuan itu kini duduk berdampingan dengan pikiran yang saling berseberangan, masing-masing sibuk dengan rencana masa depan yang berkecamuk di dalam kepala mereka.
Sementara itu di saat yang bersamaan, pasangan ibu dan anak di Kamar Timur juga sedang berbisik-bisik, sibuk menyusun siasat licik untuk menyingkirkan Nara dari rumah Keluarga Yan.