NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ga Jadi Tidur—11

Pintu kaca balkon bergeser menutup dengan bunyi yang halus. Udara dingin dari pendingin ruangan kembali menyambut kulit mereka begitu keduanya melangkah masuk ke dalam kamar yang temaram. Aletha menaiki ranjang terlebih dahulu, menyusup di balik selimut tebal bernuansa abu-abu gelap, disusul oleh Danny yang mengambil posisi di sisi sebelahnya.

Awalnya, skenarionya adalah tidur membelakangi seperti tadi. Namun, atmosfer setelah obrolan di balkon seolah menyisakan energi yang membuat mata mereka enggan terpejam.

Alih-alih berbalik membelakangi, Danny justru menggeser tubuhnya miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sembari menghadap penuh ke arah Aletha. Di bawah remang lampu tidur, sepasang mata elang pria itu menatapnya lurus, sangat intens namun tampak jauh lebih rileks dari biasanya. Aletha yang menyadari hal itu ikut memiringkan tubuhnya, membuat mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang hanya dipisahkan oleh selembar bantal pembatas di tengah.

"Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Aletha, memecah keheningan dengan bisikan pelan.

"Gak apa-apa. Cuma ngerasa aneh aja, kamar yang biasanya sepi ini tiba-tiba ada bocah rewel kaya lo," sahut Danny, ada nada bercanda yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.

Aletha mendengus pelan, namun sedetik kemudian tatapan matanya berubah sedikit lebih redup. Kata-kata Danny di balkon tentang "pernikahan tanpa manipulasi perasaan" dan kebencian pria itu pada kepalsuan mendadak melintas lagi di otaknya. Rasa penasaran Aletha terusik untuk memancing lebih jauh, menguji sedalam apa batas toleransi seorang Danny Atonio.

"Dan..." panggil Aletha pelan. Ia memainkan ujung selimut dengan jarinya. "Sebenarnya... gue ini apa ya di mata lo? Gimana kalau misal... gue ternyata nggak sebaik apa yang lo pikir selama ini?"

Aletha menatap tepat ke dalam manik mata Danny, mencoba mencari tahu apakah topeng yang dipakainya selama ini adalah taruhan yang berbahaya atau tidak. Jika Danny tahu fakta bahwa dia suka ngebungkus cowok bayaran dan menjadikannya target taruhan, apakah pria ini akan murka?

Mendengar pertanyaan serius yang tiba-tiba itu, Danny tidak langsung tegang. Sebaliknya, sebuah tawa kecil yang terdengar tulus justru lolos dari bibir tegasnya. Bahunya bergerak rileks di bawah selimut.

"Ya gimana?" Danny balik bertanya dengan nada santai, senyum ringannya belum hilang. "Gue harus bereaksi kayak apa emang?"

Danny membetulkan posisi tidurnya sedikit, lalu melanjutkan dengan suara baritonnya yang menenangkan di tengah malam, "Hidup lo, ya hidup lo. Itu urusan pribadi lo sebelum ketemu gue. Kecuali kalau gue beneran cinta sama lo... mungkin gue bakal ngerasa kecewa berat kalau lo bohong. Tapi buat sekarang? Karena hubungan kita murni kontrak bisnis, ya gue nggak bakalan marah juga kalau lo ternyata punya sisi lain."

Aletha tertegun sejenak mendengarnya. Jawaban Danny terasa begitu logis, namun di satu sisi entah mengapa terasa sangat jujur. 'Kecuali kalau gue beneran cinta sama lo...' Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Aletha. Pria di depannya ini benar-benar membatasi hatinya dengan pagar kawat yang sangat tebal.

"Nggak marah sama sekali? Walaupun dugaan lo tentang 'gadis elegan' itu meleset jauh?" tanya Aletha lagi, memastikan.

"Nggak. Buat apa?" Danny menatap Aletha dalam-dalam, mengunci pandangan gadis itu. "Gue cuma butuh status lo sebagai istri di depan nyokap gue. Selebihnya, lo bebas jadi diri lo sendiri di dalam kamar ini. Jadi, lo nggak perlu repot-repot pura-pura jadi orang suci atau perempuan sempurna di depan gue, Aletha."

Aletha menarik sudut bibirnya, mengulas sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan. Di satu sisi, dia merasa jalannya semakin mulus karena Danny memberinya kebebasan mutlak. Namun di sisi lain, jiwa manipulator Aletha justru semakin tertantang hebat.

Danny mengira dia aman karena ini hanya bisnis. Dia pikir dia tidak akan kecewa karena dia tidak akan jatuh cinta pada "bocah kampus" di hadapannya ini.

Kita lihat aja nanti, Danny Atonio, batin Aletha licik, taring serigalanya kembali bergetar penuh gairah di balik senyum manisnya. Gue bakal bikin lo ngelanggar ucapan lo sendiri. Gue bakal bikin lo jatuh cinta sampai pagar pembatas lo ini hancur, dan di saat itu terjadi... gue mau lihat sekecewa apa lo pas tahu siapa gue yang sebenarnya.

"Oke. Pegang ucapan lo ya, Dan," ucap Aletha manis, lalu memejamkan matanya dengan perasaan puas yang luar biasa.

"Tidur, Aletha. Jangan mikir macem-macem lagi," gumam Danny pelan, ikut memejamkan matanya saat rasa kantuk akhirnya benar-benar datang melanda mereka berdua. Malam pertama di kamar yang sama itu dilewati bukan dengan sentuhan fisik, melainkan dengan sebuah benang tak kasat mata yang perlahan mulai mengikat leher sang serigala dan sang singa tanpa mereka sadari.

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar Danny yang super luas, menciptakan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai marmer. Di balik selimut tebal bernuansa abu-abu gelap, Aletha menggeliat pelan. Begitu matanya terbuka sepenuhnya, hal pertama yang ia rasakan adalah rasa malas yang luar biasa hebat untuk bangkit dari kasur empuk ini.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Seharusnya, dua jam lagi dia ada jadwal kelas matakuliah teori komunikasi di kampus Universitas Pelita Bangsa.

Aletha mendengus, jemarinya bergerak lincah membuka grup obrolan bersama ketiga sahabatnya.

Aletha Adinata: Gue gak masuk kelas pagi ini. Bilang ke dosen ada urusan bisnis keluarga mendesak.

Chelsea: Urusan bisnis apa urusan 'menjinakkan singa' nih? Hehe.

Aletha hanya tersenyum tipis tanpa berniat membalas ledakan rasa kepo teman-temannya. Alasan aslinya? Sederhana saja. Dia cuma lagi malas. Berada di bawah satu atap bersama Danny Atonio terasa jauh lebih menarik daripada mendengarkan materi kuliah hari ini.

"Enghh..." sebuah lenguhan berat terdengar dari sisi ranjang sebelah.

Aletha menoleh dan mendapati Danny juga baru saja membuka matanya. Rambut acak-acakan khas bangun tidur dan wajah polos tanpa ekspresi tegas membuat sang CEO Dirgantara Group itu terlihat jauh lebih muda. Danny meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

"Gue males banget kerja hari ini," gumam Danny, suaranya terdengar serak khas bangun tidur. Ia menarik selimutnya kembali sampai sebatas dada. "Rasanya kayak mau hibernasi aja seharian di kamar."

Aletha menaikkan sebelah alisnya, tidak menyangka seorang gila kerja seperti Danny bisa mengucapkan kalimat seruntuh itu di pagi hari.

Danny memiringkan kepalanya, menatap Aletha yang masih setia bergelung di balik selimut piyama satin navy blue-nya. Ia memperhatikan mata sayu Aletha yang menatapnya balik.

"Lo mau di sini apa kuliah?" tanya Danny santai. "Muka lo males banget keliatannya. Mending tidur lagi aja."

Aletha sempat bengong sesaat mendengar kalimat perhatian sekaligus ajakan malas-malasan yang mengalir begitu alami dari mulut Danny. Kamar ini mendadak terasa begitu hangat, mengikis jarak di antara dua orang yang biasanya penuh dengan kalkulasi taktik.

Keheningan pagi itu memicu sebuah pertanyaan liar yang tiba-tiba melintas begitu saja di kepala Aletha. Dengan posisi masih berbaring miring menatap Danny, ia bertanya tanpa penyaringan sama sekali.

"Dan... lo pernah having s*x sama cewek nggak?"

Pertanyaan frontal itu sukses membuat Danny yang tadinya masih setengah mengantuk langsung tertegun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap Aletha seolah memastikan apakah pendengarannya tidak salah di pagi buta begini.

Setelah menguasai keterkejutannya, Danny mendengus pelan, lalu terkekeh geli sembari memalingkan wajahnya ke atas.

"Nggak sih," jawab Danny jujur, nadanya terdengar sangat enteng tanpa ada yang ditutup-tutupi. "Gini-gini... gue nggak pernah ya begituan sama perempuan mana pun."

Aletha kembali terdiam, mencerna jawaban jujur pria di hadapannya. Di dalam hatinya, sebuah ironi besar malam ini terasa semakin lucu.

Dunia luar mengenal Danny Atonio sebagai pria dewasa berusia 27 tahun yang dingin, berkuasa, dan mungkin menganggap urusan ranjang sebagai hal yang tabu atau kaku. Sementara dunia luar mengenal Aletha Adinata sebagai gadis kuliahan yang "bersih" dan tidak tersentuh, padahal sahabat-sahabatnya sendiri di kampus tahu kalau Aletha sering "ngebungkus" cowok-cowok tampan dan anak pejabat untuk dibawa ke penthouse-nya sebagai bahan pemuas.

Namun, inilah rahasia terbesar seorang Aletha Adinata yang sesungguhnya.

Di balik semua rumor "ngebungkus" cowok yang diketahui Angelina, Chelsea, dan Electra, kenyataannya Aletha sama sekali tidak pernah disentuh oleh laki-laki mana pun. Fisiknya tetap utuh, suci, dan tak terjamah. Ego liarnya hanya suka membeli harga diri pria-pria itu. Di dalam penthouse-nya, cowok-cowok bayaran itu hanya ia jadikan pelayan yang harus menuruti perintahnya, memijat kakinya, menuangkan minumannya, dan menghiburnya sampai ia tertawa puas. Bagi Aletha, kepuasan tertingginya bukan ada pada hasrat biologis, melainkan pada kuasa mutlak saat melihat pria-pria tampan tunduk di bawah kakinya.

Dan sekarang, di atas ranjang yang sama, dia sedang menatap seorang pria berkuasa sejati yang ternyata juga memiliki pertahanan yang sama kuatnya dengan dirinya.

"Kenapa lo nanya gitu?" Danny memutus keheningan, menatap Aletha dengan sebelah alis terangkat penuh selidik. "Kecewa karena calon suami kontrak lo ini ternyata nggak se-berpengalaman itu?"

Aletha menarik sudut bibirnya, mengulas senyum licik andalannya yang begitu menawan di bawah siraman cahaya pagi. Ia menarik selimutnya lebih tinggi, menyembunyikan sebagian wajahnya.

"Enggak," bisik Aletha misterius. "Gue cuma mikir... ternyata kita berdua punya lebih banyak kesamaan daripada yang kelihatan di atas kertas."

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!