No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian darah di Puncak Langit
Udara di puncak Kunlun bukan lagi sekadar dingin; oksigen di sini terasa seperti ribuan serpihan kaca yang menyayat paru-paru Song Yuan. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti memikul beban satu gunung di pundaknya. Busur kayu lamanya akhirnya menyerah—patah menjadi dua akibat tekanan energi alam yang terlalu padat.
"Tanpa busur... aku hanyalah mangsa," gumam Yuan. Darah mulai merembes dari telinga dan hidungnya.
Ia tiba di sebuah gua kristal yang memancarkan cahaya ungu redup. Di tengah gua itu, tergeletak sebuah busur yang bentuknya lebih menyerupai tulang belakang makhluk raksasa. Inilah Busur Kerangka Naga. Namun, busur itu tidak sendirian.
Di atas busur itu, melingkar sesosok makhluk kecil yang nampak lemah namun memiliki aura yang mengerikan. Seekor Anak Naga Langit Hitam.Sisiknya kusam, dan salah satu sayapnya tampak patah—sisa-sisa pertempuran kuno yang membuatnya terasing di puncak ini.
"Manusia lemah... kau datang untuk mati?”
Sebuah suara bergema langsung di dalam kepala Yuan. Itu bukan suara Mo Chen, melainkan suara berat yang penuh dengan kepahitan.
Yuan berlutut, bukan karena takut, tapi karena kakinya sudah tidak sanggup menahan tekanan. "Aku datang untuk mencari kekuatan... untuk membasuh darah dengan darah."
Naga kecil itu merayap turun, mata vertikalnya yang berwarna merah darah menatap dalam ke mata kuning Yuan.
"Aku merasakan aroma ular di tubuhmu, dan dendam yang lebih pekat dari tinta hitam. Kita sama, Manusia. Dibuang, dihancurkan, dan dikhianati oleh langit.”
Naga itu menunjukkan luka di dadanya yang masih mengeluarkan energi hitam.
"Roh bela dirimu masih tertidur, tersembunyi di balik segel darah klanmu. Aku bisa membangkitkannya, tapi harganya adalah jiwamu. Kita akan terikat dalam Perjanjian Darah. Jika kau mati, aku musnah. Jika aku bangkit, kau akan menjadi penguasa langit.”
"Lakukan," jawab Yuan tanpa ragu sedikit pun.
Naga itu menerjang maju, menggigit pergelangan tangan Yuan, sementara Yuan mencengkeram leher naga itu. Darah mereka bercampur, berubah menjadi uap hitam yang menyelimuti seluruh gua.
BOOM!
Sebuah ledakan energi meletus dari dalam tubuh Yuan. Segel di dalam nadinya pecah. Di belakang punggungnya, muncul bayangan raksasa sesosok naga hitam yang melilit sebuah busur emas. Inilah "Roh Bela Diri: Naga Pemanah Langit."
Seluruh rasa sakit Yuan hilang seketika, digantikan oleh kekuatan yang meledak-ledak. Tubuhnya yang tadinya penuh luka kini dialiri oleh energi ungu kehitaman yang pekat.
“Nama aku adalah Ao Kuang, naga itu kini mengecil dan menyatu ke dalam lengan kanan Yuan, membentuk tato naga hitam yang melingkar hingga ke jemarinya.
"Sekarang, ambil busur itu. Itu adalah tulang punggung ibuku. Hanya kita yang layak memilikinya.”
Yuan berdiri tegak. Ia melangkah menuju Busur Kerangka Naga. Saat tangannya menyentuh busur itu, senjata legendaris tersebut bergetar hebat, mengeluarkan raungan naga yang membelah keheningan Gunung Kunlun.
Tanpa perlu anak panah fisik, Yuan menarik tali busur yang terbuat dari energi murni. Sebuah anak panah cahaya hitam tercipta secara otomatis, memancarkan aura membunuh yang sanggup menggetarkan jiwa siapa pun yang melihatnya.
"Gao Shuo hanyalah permulaan," ucap Yuan, suaranya kini bergaung dengan kekuatan naga. "Sekarang, kaisar sendiri yang harus gemetar."
Dengan hewan kontrak Ao Kuang yang bersemayam di dalam tubuhnya, Song Yuan bukan lagi seorang pembunuh bayaran. Ia telah bangkit menjadi seorang Kultivator Pemanah Naga.
Yuan berdiri di bibir tebing tertinggi Kunlun, membiarkan badai salju menghantam tubuhnya. Namun anehnya, salju yang menyentuh kulitnya langsung menguap sebelum sempat mendarat. Aura hitam yang memancar dari tato naga di lengannya menciptakan zona panas yang mematikan.
"Bagaimana rasanya, Manusia? Energi ini... jauh lebih nikmat daripada darah manusia, bukan?" Suara Ao Kuang mendesis di dalam kesadaran Yuan, penuh dengan nada provokasi yang haus darah.
Yuan tidak menjawab. Ia mengangkat Busur Kerangka Naga yang kini terasa ringan di tangannya, seolah senjata itu adalah perpanjangan dari tulang lengannya sendiri. Ia mengarahkan busurnya ke arah langit yang kelabu. Tanpa anak panah fisik, ia menarik tali busur itu hingga maksimal.
Ziiing!
Energi gelap dari sekitar terserap masuk ke tengah busur, membentuk satu anak panah yang berpendar ungu kehitaman. Saat Yuan melepaskan tembakannya, anak panah itu melesat membelah awan badai, menciptakan lubang besar di langit Kunlun hingga sinar matahari senja berhasil menembus kegelapan.
Satu tembakan itu bukan hanya latihan; itu adalah pengumuman kepada alam semesta bahwa penguasa baru telah lahir.
Di dalam bayang-bayang di bawah tebing, Mo Chen muncul dengan senyum yang mengerikan. Ular di lehernya mendesis gelisah, merasakan tekanan energi yang bahkan melampaui kekuatannya sendiri. "Kau benar-benar melakukannya, Cacing Kecil. Kau membelah takdirmu dan memilih menjadi bencana bagi dunia."
Yuan memutar tubuhnya, menatap tajam ke arah Ibukota Lin'an yang berada ribuan mil di bawah sana. Matanya kini tidak lagi hanya kuning, tapi memiliki lingkaran merah darah di tepinya—tanda kontrak abadi dengan naga kegelapan.
"Kaisar mengira dinding batunya bisa melindunginya," batin Yuan sambil mengepalkan tangan kanannya yang bertato naga. "Dia tidak tahu bahwa aku tidak lagi butuh jalan masuk. Aku akan meruntuhkan langitnya, dan membiarkan dia terkubur di bawah reruntuhan takhtanya sendiri."
Dengan langkah yang tenang namun menggetarkan tanah, Song Yuan mulai menuruni Gunung Kunlun. Ia bukan lagi seorang pemuda yang mencari keadilan. Ia adalah pembalas dendam yang membawa murka naga di tangannya.
Dunia mungkin sudah siap untuk seorang Jenderal Pemanah, tapi dunia belum siap untuk seorang Monster yang bisa memanen nyawa dari balik awan. Pesta darah yang sebenarnya... baru saja akan dimulai.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏