Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Cukup Menunjukkan Posisi
Mukenna yang disiapkan masih baru. Putih bersih. Terlipat sempurna. Lengkap dengan sajadah. Shafiya menerima dengan senyum. Menggenggam mukenna itu beberapa saat.
“Mas… saya wudhu dulu,"
ucapnya pelan pada Sagara.
Sagara mengangguk tipis.
Lalu mengangkat tangannya.
Menunjuk ke salah satu sisi dinding.
“Di situ.”
Shafiya menoleh.
Dinding yang ditunjuk itu terlihat biasa saja. Rapi. Berlapis panel seperti PVC.
Tidak ada gagang yang terlihat.
Tidak ada tanda apa pun.
Ia sempat ragu.
Namun tetap melangkah mendekat.
Tangannya menyentuh permukaan dinding itu. Dan ternyata bergeser. Itu sebuah pintu tersembunyi yang mengubungkan ruang di dalamnya.
ruang kecil yang bersih, sangat terang.
Dan terasa… sangat privat.
Bukan kamar mandi biasa.
Semua tertata lengkap dan rapi di sana.
Wastafel dengan aliran air yang tenang.
Lantai kering. Tidak ada kesan lembap.
Tidak ada bau.
Shafiya berhenti sejenak di ambang pintu.
Masih memperhatikan dengan seksama. Lalu menarik napas pelan dan masuk.
Ia keluar beberapa saat kemudian dengan wajah basah. Memilih tempat di sudut. Sajadahnya ia hamparkan lebih dulu sebelum memakai mukenna.
Sagara masih tetap di tempatnya. Tidak melihat. Atau mungkin memang sengaja tidak melihat. Perhatiannya utuh pada layar laptopnya.
Namun, ada satu jeda. Di mana tatapannya terangkat. Menatap Shafiya yang berdiri khusyu dengan ibadahnya. Terbungkus mukenna warna putih, tampak rapi dan tenang. Tatapannya tertahan di sana, seolah mengikuti gerakan sholat Shafiya.
Ia lalu kembali fokus pada laptopnya. Pintu diketuk pelan.
"Masuk."
Agam yang datang. Ia langsung duduk di kursi depan Sagara.
"Direktur PT Megah Utama sudah sampai."
Sagara menatap jam. Tepat waktu seperti yang dijanjikan.
"Mereka sudah menunggu di ruang tamu VIP," lanjut Agam.
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya terangkat ke arah sudut ruangan.
Shafiya sudah duduk. Dalam zikir yang pelan. Belum benar-benar selesai.
Sagara kembali ke Agam dan berkata,
“Tunggu sebentar."
Agam juga menatap ke arah yang sama. Lalu mengangguk.
"Beberapa poin sudah disampaikan?"
tanya Sagara kemudian.
"Belum. Kami menunggu, Pak."
Sagara memgangguk. Dan ia tidak bergeser dari tempatnya. Masih menunggu.
Agam sedikit mengerutkan kening.
Ini bukan kebiasaan Sagara. Ia tak biasa menunda waktu, apalagi dalam urusan bisnis. tidak barang satu detik pun.
Tapi kali ini ia masih diam. Menanti Shafiya selesai sholat sebelum ditinggal keluar.
Shafiya memang sedang berdzikir. Tapi bukan berarti ia tak mendengar, dan paham. Bahkan jemarinya yang bergerak pelan di antara untaian tasbih itu sempat berhenti.
Shafiya menyingkat dzikirnya, dan mengakhiri dengan doa. Tidak panjang, namun penuh harap. Setelahnya ia bangkit. Berjalan mendekat dengan tanpa melepas mukenna. Dalam beberapa langkah ia berhenti.
"Mas, saya sudah selesai."
Sagara mengangguk. Barulah ia bangkit membawa tabletnya.
Agam mengikuti.
"Jasnya, Mas." Shafiya mengingatkan sambil menunjuk jas yang ada di sofa.
"Tidak usah."
Dengan balutan kemeja hitam dan dasi senada, tubuh tinggi tegap itu keluar ruangan dengan langkah terukur seperti biasa.
Shafiya mengikutinya dengan pandangan hingga pintu itu menutup kembali.
Rabb…
Saat ini aku belum tahu apa yang aku inginkan.
Tapi kuatkan aku untuk menerima takdir-Mu dengan lapang.
Bimbing aku menjalaninya dengan benar.
Dan jadikan semuanya… bernilai ibadah.
Aamiin.
Ia membisikkan doa itu di kedalaman hati.
Akhirnya jam pulang kantor tiba.
Sagara berdiri di dekat pintu menanti Shafiya yang sedang berkemas.
"Mukennanya ditinggal saja ya, Mas." Shafiya menatap Sagara sejenak dan memindahkan mukenna putih itu ke sofa.
"Jika sewaktu-waktu saya ikut, biar gak ngerepotin lagi," lanjut Shafiya.
Sagara mengangguk saja.
Shafiya mendekat dengan membawa tas kecilnya serta jas milik Sagara yang disampirkan di lengannya.
Sagara membuka pintu. Mereka keluar bergantian. Lalu pintu menutup sendiri.
Agam sudah menunggu beberapa langkah di depan. Berdiri bersisian dengan sekretaris Sagara. Bahkan mereka sempat terlibat obrolan kecil sebelum sama-sama mengakhiri karena Sagara sudah keluar dari ruangan.
Di depan pintu itu Sagara menghentikan langkah. Menatap jasnya di tangan Shafiya.
"Kalau dingin, pakai."
Dan ia melangkah tanpa menunggu Shafiya menjawab.
"Dipakai saya?" Shafiya masih bertanya takut salah memahami. Seraya mengikuti.
"Hampir semua ruangan di sini, suhunya dingin." Itu ucapan Sagara. Ia mulai memberi penjelasan.
"Gak papa kalau saya pakai, Mas?" Shafiya masih ragu. Tapi ia setuju kalau dengan jas itu tubuhnya akan merasa lebih hangat.
Sagara menoleh.
"Kalau jadi pertanyaan, gimana?" lanjut Shafiya.
Sagara berhenti. Mengambil jas itu dan menyampirkannya ke Shafiya. Tidak dengan gerakan terlalu hati-hati. Tidak diletakkan dengan posisi sempurna. Namun itu cukup.
Cukup membuat waktu seolah berhenti.
Shafiya diam.
Agam yang melihat di depan juga diam.
"Saya tidak hidup dari penilaian orang."
Usai menitip kata itu Sagara melangkah. Shafiya sedikit tertinggal. Karena ia tak langsung menyusul. Seolah masih menata ulang dirinya.
Sekeretaris Sagara membungkukkan badannya sedikit saat Sagara melintas di depannya. Saat kembali mendongak tatapannya bertemu dengan Shafiya. Ia tersenyum. Senyum yang tetap mengandung banyak kata tanya.
Di depan lift, Sagara membiarkan Shafiya masuk lebih dulu--seolah menjaga kejadian di lift tadi saat naik ke atas tak terulang lagi.
Dalam lemari besi yang meluncur ke bawah itu, tak ada percakapan apa-apa lagi. Hening. Di posisi masing-masing.
Tiba di lantai bawah. Mereka melangkah dengan jarak yang tetap terjaga. Tidak terlalu dekat. Tidak terlihat akrab. Tapi jas Sagara yang membalut tubuh Shafiya, itu cukup dikenali. Dan cukup menunjukkan posisi.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering