Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27: Algoritma Kepedulian
Hujan deras mengguyur kota Hangzhou malam itu. Suara rintik air yang menghantam kaca jendela perpustakaan Universitas Zhejiang terdengar seperti derau statis yang konstan. Aku menggosok mataku yang terasa perih. Layar laptop di depanku menampilkan baris-baris kode neural network yang seharusnya selesai besok pagi, tapi entah kenapa, logikaku terasa buntu.
Ini sudah pukul satu dini hari. Perpustakaan hampir kosong, hanya menyisakan beberapa mahasiswa tingkat akhir yang juga sedang berjuang dengan tesis mereka.
"Coba cek looping di baris 402," sebuah suara berat yang familiar terdengar tepat di belakang telingaku.
Aku menoleh kaget. Lukas berdiri di sana, mengenakan trench coat hitam yang tampak basah karena hujan. Wajahnya yang biasanya terlihat sangat cool dan berwibawa, kini tampak sedikit cemas. Di tangannya, dia membawa sebuah kantong kertas belanjaan yang terlihat hangat.
"Lukas? Sedang apa kamu di sini?" tanyaku, suaraku terdengar serak. "Ini jam satu pagi. Bukankah kamu harusnya sedang rapat dengan investor dari Eropa melalui video conference?"
Lukas tidak menjawab pertanyaanku. Dia meletakkan kantong kertas itu di meja, tepat di samping laptopku, lalu menarik kursi di sebelahku tanpa minta izin. "Aku membatalkan rapat itu. Ada masalah prioritas yang lebih mendesak."
Aku menatapnya bingung. "Masalah apa? Sistem Arkan-Predictive ada bug lagi?"
Lukas menatapku lekat-lekat. Sorot matanya bukan tatapan seorang CEO yang sedang mencari solusi teknis, melainkan tatapan seorang sahabat yang sedang khawatir. Dia mengulurkan tangan, menyentuh keningku dengan punggung tangannya dengan gerakan yang sangat lembut, sangat... tidak seperti Lukas Arkan yang biasanya.
"Sistemnya baik-baik saja, Rea. Tapi 'perangkat keras' yang menjalankan sistem ini—yaitu kamu—sedang mengalami overheat," ucapnya pelan.
Jantungku berdegup kencang. Wajahnya begitu dekat. Aroma parfumnya yang maskulin bercampur dengan wangi hujan yang terbawa dari luar ruangan. Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang gelap—aku yang terlihat berantakan, pucat, dan sangat lelah.
"Aku baik-baik saja," bohongku.
"Pembohong," desisnya. Dia membuka kantong kertas itu. Isinya adalah dua porsi Bubur Ayam hangat dan segelas teh jahe panas. "Makan. Kamu belum makan malam, kan? Aku tahu kebiasaanmu kalau sedang mengerjakan tugas saat dulu. Kamu pasti akan lupa makan dan hanya mengandalkan kafein."
Aku tertegun. Dia tahu? Dia memperhatikan kebiasaanku sedetail itu?
Lukas mulai menata makanan itu di depanku. Dia bahkan sudah menyiapkan sendoknya. "Dulu, aku melakukan hal yang sama seperti kamu. Bekerja sampai lupa waktu, makan hanya saat diingatkan oleh rasa sakit di lambung. Sampai akhirnya aku sadar, hasil dari kerja keras itu tidak ada gunanya jika aku tidak punya energi untuk menikmatinya, atau tidak ada orang untuk berbagi."
Dia mendorong mangkuk bubur itu ke arahku. "Makan, Rea. Jangan buat aku harus menyuapimu di perpustakaan. Itu akan membuat citra 'CEO Dingin' milikku hancur seketika."
Aku tidak bisa menahan senyum. "Kamu bisa khawatir juga, ya?"
"Aku belajar dari seorang debugger yang sangat gigih," balasnya dengan seringai tipis. "Dia pernah bilang padaku kalau seorang programmer tidak akan meninggalkan sistemnya saat sedang crash. Jadi, sekarang giliranku menjaga sistem yang satu ini."
Aku mulai menyantap bubur itu. Rasanya hangat, lembut, dan sangat menenangkan. Lukas memperhatikanku makan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tidak sedang sibuk dengan ponselnya, tidak sedang mengecek email. Dia hanya duduk di sana, menungguku makan, seolah-olah pekerjaanku menyantap bubur adalah tugas terpenting di dunia saat ini.
"Kenapa kamu membatalkan rapat itu?" tanyaku di sela suapan. "Itu pasti penting."
Lukas mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Investor bisa menunggu. Kesehatanmu tidak. Lagipula, aku baru sadar kalau aku belum mendengar suara tawa yang menyebalkan itu selama 24 jam ini. Kamu terlalu serius, Rea. Kamu hampir menjadi seperti aku yang lama."
"Oh, jadi kamu datang ke sini cuma mau memastikan aku tidak berubah jadi robot?"
"Tepat sekali."
Selesai makan, Lukas mengambil alih laptopku. Tanpa bertanya, dia mulai mengetik dengan cepat. Jari-jarinya menari di atas tuts dengan presisi yang luar biasa. Dia memperbaiki bug yang sejak tadi membuatku pusing hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
"Selesai," katanya sambil memutar laptop itu kembali ke arahku. "Besok pagi kamu bisa langsung melakukan build. Sekarang, tutup laptopmu."
Aku menatap layar. Kode itu berjalan sempurna. Aku menatapnya, merasa takjub. "Kamu... kamu benar-benar hebat, kak Luq."
Dia terdiam saat mendengar namaku memanggilnya 'Luq'. Dia menatapku, tatapannya melembut. "Hanya untukmu, aku akan selalu jadi Luq. Meskipun aku harus memakai jas sutra dan berpura-pura menjadi Lukas Arkan di depan dunia."
Lukas kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah headphone peredam suara (noise-cancelling) yang sangat mahal. Dia memakaikannya ke telingaku. Musik instrumen yang tenang mengalun pelan.
"Tidur lima belas menit di sini," pintanya. "Kepalamu ada di bahuku. Aku akan menjagamu agar tidak ada yang mengganggumu. Setelah itu, kita pulang."
"Bahumu?" tanyaku malu-malu.
"Kenapa? Kamu takut bahu CEO itu terlalu keras?" candanya sambil menarik kepalaku dengan lembut untuk bersandar di bahunya.
Bahunya ternyata tidak keras. Bahunya terasa nyaman, terasa seperti rumah. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang menenangkan. Perasaan lelah yang tadi menghimpitku perlahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa.
Dalam remang-remang cahaya lampu perpustakaan, di tengah suara hujan yang tak kunjung berhenti, aku merasa Lukas sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada Arkan-Predictive Maintenance. Dia sedang membangun kepercayaan. Dan aku tahu, aku sedang jatuh cinta bukan pada Lukas Arkan sang CEO, tapi pada Luq yang ada di baliknya—pria yang tahu kapan harus berhenti bekerja dan kapan harus menjadi seseorang yang peduli.
"Rea?" bisiknya pelan saat dia mengira aku sudah hampir terlelap.
"Ya?"
"Besok malam, mau ikut aku ke Jakarta? Hanya sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Sesuatu yang sudah lama ingin aku perbaiki."
Mataku terbuka sedikit. "Ke Jakarta? Benarkah?"
"Ya. Aku sudah bosan menyembunyikan diri. Dan aku rasa, sudah waktunya bagi Luq untuk pulang sebentar dan menyapa masa lalunya."
Aku tersenyum di balik headphone-ku. "Aku akan ikut ke mana pun kamu pergi, Luq."
Lukas mengusap rambutku dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut jika dia menyentuh terlalu keras, aku akan menghilang. Dia tidak lagi dingin. Dia tidak lagi berjarak. Dia adalah Luq yang sudah menemukan kepingan dirinya yang hilang, dan dia menemukannya di sini, bersamaku.
Dan di luar, hujan masih turun dengan deras, menghapus sisa-sisa jejak keraguan yang pernah ada di antara kami. Episode 27 ini mungkin tentang bubur ayam dan perpustakaan, tapi bagiku, ini adalah episode di mana Lukas Arkan benar-benar 'pulang' ke rumahnya yang sebenarnya.