NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Senyum tipis justru muncul di bibir Reno saat mendengar ancaman itu. Namun senyum tersebut sama sekali tidak mengandung kehangatan. Sebaliknya, ada sesuatu yang membuatnya terlihat jauh lebih berbahaya. Tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan menegang sebelum tiba-tiba terangkat dan mencengkeram leher Zoya.

"Zoya, sepertinya selama ini aku terlalu lunak sama kamu," ucapnya dengan suara rendah yang sarat peringatan. "Sampai kamu berani mengancamku seperti ini."

Urat di pelipis Reno tampak berdenyut. Kesabaran yang sejak tadi ia pertahankan akhirnya retak.

"Kamu paling tahu seperti apa aku." Cengkeramannya sedikit menguat. "Sekali lagi kamu mencoba melakukan hal semacam ini, aku pastikan kamu benar-benar berurusan dengan hukum."

Mata Zoya membelalak. Kedua tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan Reno, berusaha melepaskan diri. Baru kali ini ia benar-benar dilanda kepanikan. Tadinya ia mengira Reno sudah kehilangan ketegasannya. Ia pikir pria itu akan terus mengalah seperti beberapa waktu terakhir. Namun kini ia sadar bahwa dirinya telah melangkah terlalu jauh.

"Le... lepaskan aku, Reno..." suaranya keluar tersendat karena kesulitan bernapas.

Reno tidak segera melepaskannya. Sampai sebuah tarikan kecil di ujung bajunya membuat kesadarannya kembali.

"Yah..." Suara Zidan terdengar bergetar.

Reno menoleh. Anak itu sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, tubuh kecilnya tampak membeku di tempat. Dalam sekejap, cengkeramannya terlepas.

Zoya langsung terhuyung ke belakang. Ia terbatuk-batuk keras sambil memegangi lehernya yang terasa perih akibat cengkeraman tadi.

Beberapa detik berlalu sebelum napasnya kembali teratur. Reno menatapnya tanpa ekspresi.

"Selagi aku masih membiarkan kamu pergi dengan baik-baik, keluar dari rumah ini."

Zoya mengangkat wajahnya. Dadanya masih bergemuruh oleh campuran syok dan kemarahan. "Reno, kamu benar-benar keterlaluan. Aku—"

"Jangan." Reno memotongnya tajam.

Tatapannya membuat Zoya tercekat. Untuk sesaat, semua bantahan yang sudah berada di ujung lidahnya mendadak lenyap. "Jangan pernah mengancamku lagi. Apalagi kalau ancaman itu menyangkut Inara."

Reno melangkah satu langkah mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris tidak tersisa. Tatapannya lurus menembus mata Zoya yang kini tampak goyah.

"Ingat baik-baik, Zoya," ucap Reno dengan suara rendah, tetapi justru terdengar lebih mengintimidasi daripada bentakan sebelumnya. "Aku bukan Reno yang dulu selalu menuruti semua kemauanmu."

Hening sesaat menyelimuti ruangan. Tidak ada yang berbicara. Bahkan Zidan yang sejak tadi menangis hanya memandang mereka dengan wajah tegang.

Dalam suasana setegang itu, Reno tiba-tiba meraih ponsel yang masih berada di tangan Zoya. Wanita itu refleks berusaha mempertahankannya, tetapi Reno bergerak lebih cepat. Jemarinya menari di atas layar, menghapus satu per satu video yang baru saja direkam di siaran langsung yang tersimpan Zoya tanpa menyisakan apa pun.

"Reno!" seru Zoya tidak terima.

Namun Reno sama sekali tidak menggubris protes itu. Setelah memastikan seluruh rekaman telah hilang, ia mengembalikan ponsel tersebut ke tangan Zoya lalu menatapnya datar.

"Dan jangan pernah menguji sampai di mana batas kesabaranku."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat Zoya merasakan dadanya sesak oleh amarah. Wanita itu menarik napas panjang untuk menahan ledakan emosinya, sementara Reno sudah mengangkat tangan dan menunjuk ke arah pintu.

"Keluar."

Tidak ada teriakan kali ini dan tidak ada bentakan. Namun justru nada datar itu terasa jauh lebih mengusir daripada apa pun.

Zoya menatap Reno beberapa saat seolah berharap pria itu berubah pikiran. Sayangnya, yang ia temukan hanya keputusan yang tak tergoyahkan. Pada akhirnya ia membalikkan badan dengan gerakan kasar lalu meninggalkan rumah itu. Pintu yang tertutup keras di belakangnya menjadi satu-satunya pelampiasan yang tersisa.

Begitu keluar dari rumah, Zoya langsung mengembuskan napas panjang. Tenggorokannya masih terasa nyeri, sementara pikirannya dipenuhi berbagai emosi yang saling bertabrakan.

"Dasar pengecut," gerutunya sinis. "Tadi ke mana saja saat aku menjadikan Inara sasaran? Sekarang malah sok jadi pahlawan."

Ia menatap layar ponselnya sesaat sebelum menggenggam benda itu begitu erat. Namun kemarahan pada Reno perlahan tergeser oleh hal lain yang jauh lebih mengusik. Bayangan Altaf tiba-tiba muncul di kepalanya.

Keningnya berkerut. Bagaimana bisa Inara mengenal pria itu?

Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Altaf bukan orang yang mudah ditemui sembarang orang. Jangankan sampai datang membela seseorang, banyak orang bahkan kesulitan sekadar mendapat kesempatan bertemu dengannya. Namun hari ini pria itu muncul begitu saja dan berdiri di pihak Inara.

Ada ganjalan yang terus mengusik pikirannya. Selama ini ia selalu menganggap Inara hanyalah wanita biasa yang kebetulan masuk ke dalam hidup Reno. Namun entah sejak kapan, wanita itu seolah selalu berhasil memperoleh sesuatu yang gagal ia pertahankan. Reno, kasih sayang Zidan dan sekarang bahkan dukungan dari orang seperti Altaf.

"Kenapa?" bisiknya pelan sambil menatap lurus ke depan. "Kenapa hidupnya selalu berjalan semudah itu?"

Pertanyaan itu tentu tidak membutuhkan jawaban. Karena jauh di dalam hatinya, Zoya tahu yang ia rasakan bukan lagi sekadar kesal. Ada rasa pahit yang terus menggerogoti setiap kali memikirkan Inara.

Tatapannya perlahan berubah suram.

"Tidak..." gumamnya lirih. "Kalau aku tidak bisa bahagia, kenapa dia harus bahagia?"

Angin sore berembus pelan, tetapi sama sekali tidak mampu mengusir gejolak yang terus berputar di dalam dirinya. "Harusnya Inara tidak pernah hadir dalam hidup Reno."

Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan. Namun kebencian di baliknya terasa begitu nyata. Dan ketika bayangan wajah Inara kembali muncul di kepalanya, sudut bibir Zoya perlahan melengkung.

"Kamu ingin memulai hidup baru setelah meninggalkan Reno?" bisiknya pelan. "Lihat saja nanti, Inara."

Matanya menyipit tipis, seolah sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

***

Di sisi lain, Inara baru saja tiba di apartemen Nila setelah diantar oleh Altaf dan Baba. Baru beberapa langkah masuk ke ruang tamu, sebuah bantal melayang tepat ke wajahnya.

Pluk!

"Dasar bodoh!"

Inara bahkan tidak perlu menebak siapa pelakunya.

Nila berdiri di depan sofa dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya memerah karena kesal. Sejak tadi ia mengikuti siaran langsung yang dibuat Zoya. Karena itulah, melihat Inara pulang dalam keadaan seperti sekarang justru membuat emosinya semakin sulit dikendalikan.

"Nila, jangan marah. Aku cuma—"

"Cuma apa?" potong Nila cepat. "Ra, kamu sudah tahu seperti apa Reno dan kamu masih aja ketipu. Kamu juga tahu Zoya itu seperti apa. Terus kenapa masih datang ke sana?"

Inara terdiam.

Nila mengusap wajahnya kasar sebelum kembali menatap sahabatnya itu. "Aku benar-benar gak ngerti sama jalan pikiranmu."

Nada suaranya memang terdengar kesal, tetapi lebih banyak kekhawatiran di sana. "Orang-orang sekarang menganggap kamu perebut suami orang."

Kalimat itu membuat Inara mengembuskan napas pelan. Ia memungut bantal yang tadi dilempar ke arahnya, lalu berjalan mendekati Nila dan duduk di samping sahabatnya itu.

"La, aku baik-baik aja."

"Itu dia masalahnya." Nila langsung menoleh. "Kamu selalu bilang baik-baik aja seolah semua ini gak penting."

"Aku memang baik-baik aja."

"Ra!"

Nila sampai memijat pelipisnya sendiri. "Kamu masih lajang. Nama baikmu dipertaruhkan di sini."

Melihat sahabatnya mulai frustrasi, Inara hanya tersenyum tipis. "Terus aku harus gimana?"

"Klarifikasi."

Inara langsung menggeleng.

"Aku bukan artis, La. Bukan publik figur juga. Untuk apa klarifikasi?" ujarnya santai. "Percaya deh, masalah seperti ini gak akan bertahan lama. Orang-orang juga bakal lupa sendiri."

Nila menatapnya tidak percaya. "Ya Tuhan, kadang aku heran kamu bisa setenang ini."

Wanita itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa sebelum kembali berbicara. "Ra, dunia sekarang beda. Sekali sesuatu masuk internet, jejaknya bisa bertahan lama. Hari ini mungkin cuma gosip, besok bisa jadi fitnah yang dipercaya semua orang."

Inara terdiam. Meski tidak sepenuhnya setuju, ia tahu Nila tidak sedang melebih-lebihkan.

"Tapi aku mau klarifikasi pakai apa?" tanyanya pelan. "Bagaimanapun juga, aku memang empat tahun tinggal di rumah Reno. Aku memang mengurus Zidan. Aku juga memang hampir menikah dengan dia."

Nila tidak langsung menjawab karena itulah masalahnya. Semua fakta yang ada memang terlihat buruk jika dilihat dari luar.

"Justru karena itu kamu harus melakukan sesuatu," gumam Nila.

Inara mengangkat alis. "Maksudnya?"

Nila tampak berpikir beberapa saat sebelum matanya tiba-tiba berbinar. "Tunggu dulu."

Raut frustrasi di wajahnya perlahan menghilang, digantikan ekspresi seseorang yang baru menemukan ide cemerlang. "Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ada satu cara."

Inara langsung curiga.

"Nila..."

"Atau..." Nila menunjuk wajah Inara. "Kamu terima aja tawaran Pak Al buat jadi ibu Baba."

"Apa?"

1
Anonim
Thor buat nadia lebih pinter thor ,lebih tegas ,tau mana tipuan mana engga .jadikan dia wanita cerdas dan tegas 🤭
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nadia siapa kak? 🤣🤭
total 1 replies
Anonim
Thor jangan tidur terus thor ,,cerita nya belum di lanjutin ini udah berapa purnama 🤭
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤣🤣 autornya siap2 nanti malam update kakak, maafkan autor ini
total 1 replies
Anonim
Mampus kau inara jadi viral nanti di anggap pelakor lagi lu,lu masih percaya aja sama si reno,heran jadi perempuan ko bego
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: kasian ya
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Anonim
Jangan balikin inara sama reno y thor,ga rela aku 🤭 huss sana reno
Anonim
Enak aja lu reno,egois banget lu mau inara jadi pengasuh gretongan lagi
Run inara run
Agunk Setyawan
up nya lama pake banget
Soraya
lanjut
Soraya
mampir thor
falea sezi
😒 jangan balik kayak pengemis aja
falea sezi
😒 inara🤣 knp nama ini selalu goblok y
falea sezi
oon
falea sezi
males cwek bego😒 tinggal prgi aja ngapain ngemis kayak lacur aja menjijikkan
falea sezi
pergi Glblok
Dew666
💄💄💄💄
Anonim
Bagus inara jangan mau balik sama reno,orang egois kaya gitu belum jadi laki aja ribet g percayaan kek mana jadi suami nanti yg ada di jadikan keset terus
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!