Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 Teka-teki
Egar menyimpan paper bag tersebut di bawah mejanya, pintu ruangannya kembali terbuka tanpa mengetuk pintu.
"Aku pikir tamu kamu masih berada di dalam?" Maudy melangkah cantik dan anggun memasuki ruangan tersebut.
"Apa kamu menyembunyikannya?" tanya Maudy.
"Tidak memiliki kepentingan untuk menyembunyikan tamu, kenapa datang tanpa mengabariku terlebih dahulu?" tanya Egar.
"Kenapa? Kamu takut, tiba-tiba saja aku ciduk bersama dengan wanita lain?" tanyanya.
"Maudy, jika ditanya maka dijawab dan bukan bertanya kembali," sahut Egar.
"Kebetulan aku ada meeting dengan klien di dekat sini dan aku ingin mampir melihat kamu," jawab Maudy.
"Hmmm, Gina sekretaris kamu mengatakan bahwa kamu memiliki tamu seorang wanita, bukan klien karena tidak ada janji sebelumnya," Maudy ternyata masih ingin mengetahui siapa wanita yang baru saja datang menemui Egar.
"Ya, ada kepentingan dengannya," jawab Egar.
"Siapa dia?" tanya Maudy dengan penasaran.
"Bukan siapa-siapa dan sebaiknya diabaikan saja," jawab Egar.
"Bukan siapa-siapa," Maudy masih saja tetap penasaran dan sementara Egar keluar dari area tempat duduknya.
"Ada keperluan apa untuk menemuiku?" tanyanya.
Maudy menghela nafas dan kemudian memeluk lengan Egar.
"Apa tidak boleh pacar kamu datang untuk melihat kekasihnya, sayang aku ingin kita makan siang berdua hari ini," ucap Maudy tampak begitu manja.
"Tetapi aku sudah janji makan siang bersama dengan klien," jawab Egar.
"Jadi kamu lebih memilih makan siang bersama dengan klien dibandingkan bersama dengan pacar kamu sendiri?" tanya Maudy.
"Hey, ada apa ini? kenapa tiba-tiba kamu membuat pilihan seperti ini, Maudy kita bukan anak kecil lagi," ucap Egar.
"Iya-iya aku hanya bercanda, aku tahu jika kamu sudah memiliki janji makan siang bersama dengan klien, maka tidak akan bisa diubah. Baiklah mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama, tetapi aku akan tetap berada di ruangan kamu, soalnya aku akan bertemu produser sebentar lagi dan aku jenuh harus menunggu di Restaurant," ucap Maudy.
"Baiklah, tetapi jangan mengganggu pekerjaanku," ucap Egar.
"Iya-iya sayang, kamu takut sekali aku mengganggu kamu," sahut Maudy tersenyum.
Egar tidak mengatakan apapun, Egar hanya santai dan biasa saja.
*****
Amanda berdiri di depan kasir yang berada di cafe untuk mengambil pesanan makanan yang telah dia pesan, kepalanya berkeliling melihat di sekitarnya dan tiba-tiba saja matanya tertuju pada salah satu wanita yang tampak duduk gelisah di salah satu bungku.
"Bukankah itu adalah sekretaris laki-laki angkuh itu," batin Amanda melihat secara jelas dengan keberadaan Amanda.
"Ya, aku tidak salah lihat memang dia adalah sekretaris dari pria angkuh itu," batin Amanda benar-benar sangat mengenali.
Amanda tiba-tiba saja tersenyum penuh rencana dengan mengambil pesanannya.
"Hay!" Amanda menyapa Gina dengan menghampiri mejanya membuat Gina berusaha untuk mengenali wanita di depannya.
"Bukankah kamu adalah wanita yang menjadi tamu atasan saya tadi?" tanya Gina memastikan.
"Tepat sekali, hmmmm boleh tidak aku duduk di sini soalny tempatnya penuh," ucap Amanda tampak begitu ragu.
"Boleh, silahkan duduk...." Gina ternyata begitu ramah.
"Terima kasih," sahut Amanda membuat Gina menganggukkan kepala.
"Kamu makan sendirian?" tanya Amanda.
"Ya, aku sedang menunggu bosku yang melakukan pertemuan dengan salah satu kliennya, pertemuan ini sepertinya bersifat pribadi yang tidak harus sekretarisnya ada dan mungkin saja itu hanya pembicaraan di luar pekerjaan," jawab Gina
"Begitu," sahut Amanda mulai menikmati makanannya.
"Nona Amanda sendiri bagaimana? Apa sedang menunggu teman?" tanyanya.
"Tidak! Saya juga hanya makan sendiri, bye bye the way, kamu tidak perlu memanggil saya dengan sebutan Nona, panggil saja saya Amanda," ucap Amanda.
"Terkesan sedikit aneh jika memanggil klien dari pimpinan saya dengan tidak formal," ucap Gina.
"Saya bukan kliennya dan Anggap saja kita bertemu karena memang tidak ada urusannya dengan pekerjaan," jawab Amanda.
"Begitu, baiklah jika memang tidak keberatan jika harus memanggil nama satu sama lain," sahut Gina.
Keduanya sama-sama saling tersenyum, keduanya terlihat saling menikmati makanan mereka masing-masing.
"Hmmmm, pimpinan kamu apa milik perusahaan Lexa?" tanya Amanda di tengah obrolan tersebut.
"Hmmmm, saya bertanya seperti ini karena sebelumnya mengetahui bahwa perusahaan itu milik dari keluarga Cakra Laksmana," ucap Amanda mencoba untuk memberi keterangan agar Gina tidak terlalu berpikirannya aneh-aneh atas pertanyaannya yang mungkin bersifat sedikit privasi.
"Saya juga kurang mengetahui hal itu, tetapi saya bekerja di perusahaan tersebut dan menjadi sekretaris pak Egar, ketika beliau sudah menjadi Direktur utama di perusahaan tersebut," jawab Gina.
"Begitu," sahut Amanda sepertinya tidak mendapat informasi apapun.
"Tetapi sepengetahuan saya perasaan itu sempat bangkrut sekitar 5 tahun yang lalu, pak Egar, pebisnis muda dari Amerika yang merupakan kekasih dari Nona Maudy membantu perusahaan tersebut dengan menanamkan sahamnya, jadi bisa dikatakan Pak Egar menyelamatkan perusahaan itu dan mungkin saja ada kesepakatan di antara keduanya sehingga Pak Egar menjadi Direktur utama di perusahaan tersebut," Gina secara tidak langsung telah menjawab semua rasa penasaran Amanda mengenai laki-laki yang beberapa kali dia temui dan berkaitan dengan perusahaan kedua orang tuanya dan juga Maudy.
"Jadi mereka berdua pasangan kekasih? Grup Lexa nyaris bangkrut dan diselamatkan oleh laki-laki sombong itu, mungkin benar apa yang dikatakan Gina bahwa mungkin ada kesepakatan sehingga dia menjadi Direktur utama, karena memang tidak ada satupun diantara mereka yang memiliki pengetahuan tentang bisnis. Sekalipun itu Reno," batin Amanda.
"Hanya sesingkat itu cerita yang saya dengar mengenai perusahaan tersebut sampai akhirnya saya menjadi sekretaris beliau kurang lebih sudah 3 tahun," jawabnya.
"Begitu, wau pimpinan kamu sungguh hebat bisa menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan," sahut Amanda memberi pujian dengan tersenyum terpaksa.
"Mungkin karena perusahaan itu milik keluarga kekasihnya, jadi harus terlibat untuk menyelesaikan dan lagi pula hal seperti ini sering diberitakan di televisi mengingat Nona Maudy adalah modal terkenal," ucap Gina.
"Benarkah!" sahut Amanda.
Lagi-lagi Amanda merasa dunia ini tidak adil kepadanya di saat orang-orang yang jahat kepadanya tampak hidup baik-baik saja, bahkan selamat dari keterpurukan, karir yang benar-benar sempurna dan sementara dirinya harus sembuh dari mental akibat perbuatan orang-orang tersebut.
"Hmmm, kamu sendiri memangnya ada keperluan apa dengan pak Egar? Apa kalian saling mengenal sebelumnya?" tanya Gina dengan penasaran.
"Tidak! sayang sekali kami tidak mengenal dan tidak ada hubungan apa-apa, hanya tidak sengaja bertemu di jalan dan ada sesuatu barang beliau yang tertinggal, jadi saya harus mengantarkannya karena terdapat kartu nama di dalamnya," jawab Amanda memberi penjelasan.
Bersambung......