Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04
"Ini gila, siapapun, beritahu padaku! Sekarang aku ada di mana?"
"Ini kamar siapa?"
"Tunggu, bukannya tadi aku sedang di jalan raya. Di mana mobilku? bukannya seharusnya saat ini aku ada di rumah sakit. Tidak, mungkin malah sudah pemakaman, ini tidak benar, apakah sebenarnya aku sudah mati, aku bahkan tadi sempat merasakan sakit, tapi bagaimana bisa tiba-tiba ada di sini?"
"O yah, aku pasti sudah bermimpi. Aku hanya perlu tidur dan semua akan baik-baik saja, bahkan hubunganku dengan Pak Jordan akan membaik seperti semula".
Maudy kembali merebahan dirinya, ia mencoba untuk kembali tertidur. Namun yang terlintas di benaknya adalah kejadian kecelakaan itu dan berulang secara terus menerus.
"Sial aku benar-benar bisa gila"
Maudy terbangun dari tidurnya, Ia lalu mengacak-acak rambutnya. Saat melihat lengannya, ia pun terheran, "Astaga Naga, apa-apaan ini?" Maudy di buat heran, saat ia melihat bajunya yang telah bertukar menjadi piyama merah yang cantik, bahkan rambutnya kini telah terurai.
"Tunggu, mengapa tidak buram, tapi di mana kacamata milikku?" Ucapnya sebari menutup dan membuka matanya, secara perlahan.
Maudy menatap salah satu bingkai foto yang ada di atas meja, yang tepat berada di sampingnya dan mengambil bingkai foto itu. Terlihat gadis yang cantik dengan gaun putih yang elegan. "Ini siapa?" ujarnya dengan terus menatap kesana kemari.
Ia kemudian turun dari ranjang, berjalan ke sana kemari dengan rasa kagumnya pada kamar itu. "Wah ini benar-benar gila, siapa yang tinggal di kamar semewah ini, dia pasti beruntung sekali"
Saat Maudy berbalik ia kemudian terkejut, "Waaaaaaaaaa" betapa terkejutnya ia saat mendapati dirinya yang berada di cermin itu berbeda, Ia lalu mendekati cermin itu.
"Siapa ini? apa ini aku? Namun bagaimana aku bisa begitu cantik?" ujar nya lantaran tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Siapa yang mengoperasi wajahku, bagaimana semua jerawat itu menghilang, bagaimana bisa mataku menjadi sejernih ini, di mana Maudy yang itu, Ini siapa?" Maudy syok parah, dirinya bahkan luruh di lantai dan kembali mengacak-acak rambutnya.
"Ini gila, benar-benar gila"
"Tok tok tok"
Suara ketukan pintu terdengar, setelah itu seorang pelayan masuk dengan membawa kemoceng di tangannya. "Nona Aurora Anda sudah bangun?" Tanya Pelayan itu dan di balas anggukan setengah sadar oleh Maudy.
"Tunggu, apa kau bilang"
Matanya terbelalak saat itu juga, bagaimana ia tak syok, saat ia terbangun semuanya berubah tak hanya pakaiannya. semua dalam dirinya berubah menjadi orang lain dan hanya menyisakan Jiwanya. Orang yang bahkan sama sekali tak ia kenal sebelumnya, tak ada daftar dalam stok ingatannya.
Dan sekarang ia harus menghadapi fakta bahwa semua orang memanggilnya dengan sebutan Aurora, lantas di mana tubuh Maudy jika jiwanya berada pada tubuh orang lain.
"NONA ANDA MAU KEMANA" teriak pelayan itu saat melihat Maudy yang tiba-tiba membanting pintu dengan keras dan setelahnya langsung lari keluar dari kamar.
Wanita itu turun melalui anak tangga, Seorang wanita cantik dengan gaun Sabrina merah datang menghampirinya.
"Aurora, bukannya mama sudah suruh kamu untuk jangan keluar dari kamar!" Ujar wanita itu sebari menarik lengan milik wanita berama Aurora itu.
"Sorry, tapi saya tidak punya banyak waktu, lepas!" Maudy menghempaskan tangan wanita itu dan dengan cepat dan berlari keluar dari rumah.
"Nona Aurora, Anda mau kemana?" Ujar satpam yang berjaga di luar rumah.
"Kalian gila, bagaimana bisa kalian biarkan Aurora lolos begitu saja. Dia baru saja sembuh, bagaimana jika dia terluka? Sekarang, cepat kejar dia, dan bawa dia kembali." Ucap wanita modis itu kepada para satpam.
"Baik nyonya Grace" Rupanya wanita cantik itu bernama Grace.
"Aurora, kamu mau pergi ke mana? Jangan buat mama ikut cemas?" Ujar Grace dalam hati.
Maudy benar-benar melakukan yang terbaik, ia bahkan sudah berlari sejauh beberapa ratus meter dari rumah itu dan menghindari para penjaga rumah. Namun yang paling membuatnya syok adalah, ia tak tahu sekarang ini ada di mana.
Ia menatap sekitar, menatap gedung besar pencakar langit serta ramainya jalanan pada saat siang hari.
"Ini Jakarta, bagaimana bisa tiba-tiba aku ada di pusat kota?"
Maudy menatap sekitar, menatap para pejalan kaki yang berlalu lalang, berjalan kesana-kemari seperti orang yang kebingungan. "Maaf bisa tolong bantu aku"
"Aku mohon tolong aku"
"Maaf permisi, kalau ke jalan Anggrek lewat jalan mana ya?"
"Maaf boleh tanya tidak ya? ini di jakarta mana?"
Ia berjalan kesana kemari tanpa arah tujuan, meminta bantuan dari semua orang yang ia temui, namun ia benar-benar terabaikan.
"Maaf sebelumnya pak, apa bisa aku bertanya padamu".
Pria itu merasa terusik, ia memaki Maudy di depan semua orang yang melintas di sana. "Hai gelandangan, pergi sana, ganggu saja". Ucap pria paruh baya itu dan kembali bermain ponsel.
Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ia pun menemukan jalannya, rumahnya masih jauh, benar-benar jauh dari sini. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan yang penuh dengan gedung tinggi pencakar langit.
Ia kemudian berhenti sejenak di depan sebuah halte, di saat yang sama, ia juga melihat papan reklame yang menunjukkan sebuah iklan dengan sebuah tahun yang membuatnya tercengang.
"Astaga, ini april mop. bagaimana bisa bercandaan sebesar ini kalau ini September. Tunggu,"
"Ini bukan april mop, tapi kenapa tahunnya 2024 padahal sekarang 2026. Astaga Maudy apa benar ini di surga, apa ini benar-benar halusinasi. Jika iya ini benar-benar membuatku gila". Ujarnya, sampai akhirnya ia menatap selebaran brosur lomba, dan beberapa poster lainnya yang menunjukkan tahun yang sama.
"Haha, ini gila. bagaimana ini bisa terjadi, aku benar-benar tak paham, ini benar-benar menyakitkan".
"Tunggu, tapi itu hanya papan reklame dan poster bisa saja tidak di ganti sebelumnya".
Maudy pun dengan kepercayaan dirinya mencoba bertanya pada seseorang yang tengah duduk halte itu. "Maaf kalau boleh tahu sekarang tanggal berapa ya". Tanya Maudy dan di jawab cepat oleh orang itu.
"ow, ini tanggal 1 September" Ucap wanita itu dan kembali bermain ponsel.
"Kalau boleh tahu, tahunnya berapa ya?" Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Bagaimana bisa orang tidak ingat tahun sedangkan kita hidup di jaman serba canggih bahkan tanggal dan tahun pun ada di ponsel. lantas kenapa harus bertanya pada orang lain?" Orang itu tampaknya benar-benar terlihat sangat kesal dengan semua pertanyaan yang di lontarkan oleh Maudy.
"Ya ampun, dengar ya kakak yang cantik, aku tidak akan bertanya jika aku tahu".
"Ya baiklah, tahun saat ini 2024. Puas kau sekarang? Dasar orang aneh". Orang itu kembali bermain ponsel tanpa memperdulikan Maudy.
Maudy pun berbalik badannya dan berteriak sekuat tenaga. "Apa, tidakkkkkkkkk"
Sontak beberapa orang yang melihat hal itupun tertawa terutama yang sudah berada di sana sejak tadi.
***
Maudy kini menyusuri jalanan yang sempat ia tahu, ia bukannya tak tahu lebih ke heran mengapa ini bisa terjadi pada jalanan ini 3 tahun yang lalu, hanya ada beberapa perbedaan namun itu membuatnya bingung.
Ia kini bahkan menatap kakinya yang berjalan tanpa alas kaki. Ia menekuk kedua kakinya dan mengelus telapak kakinya yang sakit.
"Bagaimana ini, aku bahkan tak tahu di mana jalan pulang"
"Tin tin" sebuah mobil mendekatinya. Mobil sedan hitam dengan plat nomor baru. Mobilnya tampak mengkilap seperti baru saja turun dari diller.
Maudy pun berdiri, ia mengetuk kaca mobil itu 3 kali dan orang di mobil itupun menurunkan kacanya. "Hai sayang, bagaimana mobilku yang terbaru. Bagus bukan?" Ucapnya sebari membenarkan rambutnya yang sudah klimis.
Maudy menatap dari depan ke belakang menatap wajah pria itu, ia menangkup pipi pria itu dan kemudian melepaskannya.
"Yak Aurora, kenapa kamu berjalan keluar dengan Piyama seperti itu?"
"Woooooo, kau. Iya itu benar kau, kau yang berselingkuh dengan Anne kan? Wahhhhhh dasar gila, yak bajingan. Siapa namamu?" Ucapan Maudy itu membuat pria itu bingung.
Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kris, suami Aurora, sekaligus selingkuhan Anne di masa depan.
"Tunggu bagaimana Aurora bisa tau" Ucapnya lirih, namum Maudy dapat mendengar suaranya dengan jelas.
"Aku dengar, dasar pria bodoh. Dasar tukang selingkuh, keluar sekarang. Cepat!!!!!" Maudy membuka mobil itu dan menarik Kris keluar dari mobil.
"Sayang, aku bisa jelaskan!"
"Stop di situ! Kita tidak sedekat itu untuk saling panggil kata sayang. Menjauh dariku!"
"Aurora, kamu tidak hilang ingatan kan? Ini aku Kris. Pacar kamu, kamu ingat kan?"
"Bla bla bla bla, Hei, dasar gila. Sejak dulu sampai sekarang kapan aku pernah berpacaran hah. Jangan pernah mengaku, meski aku tidak secantik para wanita itu aku juga punya hati. Kau pasti juga ingin mengejek wajah berjerawatku kan"
"Tunggu, apa? Jerawat? Sejak kapan skincare mahal membuat wajah berjerawat?"
Kris pun menangkup wajah yang ia pikir pacarnya. "Yak, sejak kapan gadis cantik ini berjerawat? Di mana? Tidak ada?" Kris benar-benar di buat kebingungan dengan Wanita ini.
"Tunggu, aku tidak punya jerawat?"
Maudy mendorong Kris dan berkaca pada spion mobil pria itu. "Aku benar-benar lupa jika ini bukan tubuhku". Ucapnya dalam hati.
Kris mendekati wanita itu, bermaksud ingin memeluknya dari belakang. Namun tanpa aba-aba Maudy pun menoleh dan berbalik.
"Dhuaggggg" Kepala Maudy tak sengaja mengenai dagu Kris yang saat itu ada di belakangnya dan tanpa sengaja mengenai Dagu Kris.
"Hai ini sakit"
Maudy kemudian terkejut saat ia melihat Kris, di hidungnya keluar darah dan itu tidak sedikit.
"AAAAAAAA DARAH, KAU MIMISAN"
"O apa? siapa?" Kris kemudian menyeka darah itu dan mendapati darah di tangannya.
"OOOOOO OOOOO INI DARAH, YAK SIAPAPUN TOLONG. AKU BERDARAH"
"AAAAAAA BAGAIMANA INI BISA TERJADI"
"Aurora, sepertinya akuuuu......" Ucap kris sambil memotong ucapannya.
"Akan pingsan"
"Brukkkkkkkkkk" Pria itu pun terjatuh. Maudy yang melihat kejadian itu pun panik bukan main.
"AAAAAAAAA BANGUN LAH SIALAN, JANGAN MATI DI SINI" Maudy yang panik malah memukul-mukul wajah kris. Mengecek apakah ia masih memiliki detak jantung.
"Aaaaaa bagaimana cara mengecek detak jantung. Astaga jalan ini sepi dan tidak ada orang. Hai kau bangun, jangan buat aku jadi penjahat, bangunlah kau, dasar sialan"
"Aish, sial" Maudy menatap sekitar, ia membuka pintu mobil itu dan menyeret Kris dengan menggunakan kakinya untuk masuk ke dalam mobil.
"Yakkkkk, di mana kuncinya?" Maudy mencari di saku jas milik Kris, ia pun akhirnya menemukan kunci itu dan ada sebuah gantungan kunci dengan gambar dua pasangan di dalamnya.
"Tunggu, jika tidak salah ingat ini bukannya wajah wanita ini?" Maudy pun berkaca pada spion yang ada di dalam mobil itu.
"Wah ini benar-benar gila. Kau selingkuh dengan pacar bosku di saat kau sendiripun punya pacar. Kau dan Anne benar-benar cocok rupanya".
"Aish, apa yang aku pikirkan. Bagaimana jika dia mati, tenanglah Maudy. Bawa pria ini dulu ke rumah sakit dan urus sisanya nanti, ok"
Maudy memutar kunci mobil itu, ia langsung mengemudikan mobil itu pergi dari sana.
"Seharusnya di sekitar sini ada rumah sakit. O, itu dia". Maudy memutar mobil itu, ia langsung pergi ke rumah sakit.
"Suster tolong sus, ada orang sekarat di mobil. Tolong bawa ke IGD!" Ucapnya panik.
Para suster pun langsung berdatangan bersama dokter. Kris lalu di bawa masuk ke ruang IGD.
"Maaf apakah Anda keluarga pasien?"
"O bukan, saya hanya orang lewat yang tak sengaja bertemu dengannya. Ini dompetnya, ktp nya ada di dalam dompet itu. Kau bisa lihat sendiri suster, suruh dia untuk membayar biaya rumah sakitnya sendiri. Karena aku masih ada urusan, bye"
"Kau yakin dia bukan keluargamu, atau pacarmu?"
"Aish, tentu saja bukan,"
"Sudah ya aku harus pergi".
"Maaf nona, permisi sebentar!"
"Apa lagi?" Maudy berbalik badan dan memelototi suster itu.
"Ini ada sepasang sandal jepit, tidakkah kakimu sakit terus berjalan tanpa alas kaki?" Raut wajah wanita itupun langsung berubah.
"Ow astaga terima kasih, kenapa tidak bilang suster. Astaga kau sangat baik sekali". Maudy memeluk suster itu.
"Sekali lagi terima kasih atas kemurahan hatimu, aku akan membalasnya suatu saat. Siapa namamu?"
"Jenny"
"Hemmm, nama yang bagus. Kalau begitu aku pergi dulu dan terima kasih atas bantuannya Jenny, selamat tinggal. See you, bye"
Maudy kembali menaiki mobil Kris, ia memakai sabuk pengaman dan membawa mobil itu pergi dari rumah sakit.
"Jika benar gadis ini adalah Aurora, lalu di mana jiwanya? Dan apa yang terjadi pada tubuhku, bagaimana ini bisa terjadi? Sial, hal macam apa ini? Ini di luar akal manusia".
Bersambung