Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: SEKILAS MASA LALU
Sebelum menjadi Bang Tua yang sekarang, dosen kalem yang lebih suka diam daripada berdebat, ada versi lain dari Sahat Tua yang pernah hidup jauh lebih berisik dari yang orang orang kira, versi yang bahkan sudah lama dia kubur dalam dalam, sampai sampai kadang dia sendiri lupa bahwa dulu dia pernah seberani itu, seolah kenangan itu adalah milik orang lain yang kebetulan pernah menumpang di tubuhnya.
Waktu masih kuliah S1 dulu, di kampus negeri yang sama tempat dia sekarang menempuh program doktoral, ironi yang tidak pernah benar benar dia sadari setiap kali melangkah masuk ke gerbang kampus itu, Sahat muda dikenal sebagai salah satu aktivis kecil di himpunan mahasiswa jurusan. Bukan yang paling vokal, bukan pula yang paling sering orasi di depan umum, tapi cukup rajin ikut rapat, cukup berani menyuarakan pendapat kalau dirasa ada yang tidak beres, dan cukup naif untuk percaya bahwa suara satu orang bisa mengubah sesuatu, asalkan disampaikan dengan cara yang benar, dengan data yang kuat, dan dengan niat yang tulus, tanpa perlu berteriak atau mencari panggung.
Dia ingat betul bagaimana dulu dirinya begitu bersemangat setiap kali ada rapat evaluasi program kerja, selalu membawa catatan rapi dalam buku tulis bersampul biru yang sampai sekarang masih tersimpan di lemari kosnya, entah kenapa tidak pernah benar benar dia buang meski sudah bertahun tahun tidak dia buka lagi. Dulu dia selalu yang pertama mengangkat tangan kalau ada yang tidak sesuai prosedur, sampai sampai beberapa teman seangkatannya suka bercanda memanggilnya "calon ketua BEM" meski dia sendiri tidak pernah punya ambisi sejauh itu, dia hanya ingin semuanya berjalan benar, sesederhana itu, tanpa embel embel jabatan atau pengakuan.
Ada satu kebiasaan kecil dari masa itu yang sampai sekarang masih melekat tanpa dia sadari, cara dia selalu menyusun argumen secara berurutan, poin per poin, seolah sedang menyusun bukti matematis, kebiasaan yang dulu justru membuatnya dihormati di forum forum diskusi mahasiswa, sebelum akhirnya kebiasaan itu berubah fungsi, menjadi alat untuk menyusun alasan kenapa dia sebaiknya diam saja.
Momen yang benar benar mengubahnya terjadi di tahun ketiga kuliahnya. Waktu itu ada dugaan penyelewengan dana kegiatan himpunan, jumlahnya tidak besar, hanya beberapa ratus ribu rupiah dari sisa anggaran acara pelepasan wisuda, tapi cukup untuk membuat beberapa mahasiswa curiga karena laporan pertanggungjawabannya terasa janggal dan terburu buru disusun, dengan beberapa nota yang tulisan tangannya terlihat berbeda dari yang biasa dipakai panitia acara. Sahat, yang kebetulan memegang catatan keuangan sebagai bendahara acara, menemukan selisih yang janggal setelah dia mencocokkan ulang nota nota belanja dengan laporan resmi yang diserahkan ke pengurus inti, sesuatu yang dia lakukan bukan karena curiga sejak awal, tapi karena memang kebiasaannya untuk selalu teliti dengan angka.
Alih alih diam, dia melapor ke ketua himpunan, membawa bukti lengkap, fotokopi nota, catatan pengeluaran, bahkan sudah menyusun rekapitulasi rapi dalam bentuk tabel supaya mudah dipahami, lengkap dengan highlight warna kuning di bagian bagian yang menurutnya paling mencurigakan, menyampaikan dengan cara yang sopan dan penuh data, persis seperti yang diajarkan dosen pembimbing kemahasiswaannya dulu, "kalau mau menyampaikan masalah, jangan cuma emosi, tunjukkan bukti".
Hasilnya tidak seperti yang dia bayangkan. Bukannya diselidiki, dia justru yang dianggap bermasalah. Ketua himpunan, yang ternyata dekat dengan pihak yang diduga menyelewengkan dana, seorang senior yang cukup berpengaruh di jurusan dan punya banyak koneksi di kalangan alumni, memutar cerita seolah Sahat yang salah kelola, bahkan sempat menyebar isu bahwa Sahat "cari sensasi" dan "ingin menjatuhkan nama baik himpunan menjelang pemilihan ketua baru", tuduhan yang sama sekali tidak masuk akal tapi entah kenapa lebih mudah dipercaya orang dibanding kebenaran yang dia bawa lengkap dengan bukti.
Nama baiknya dipertaruhkan, beberapa teman dekat mulai menjauh karena tidak mau terseret masalah, ada yang bahkan berubah sikap secara drastis, dari yang biasanya akrab menyapa jadi seolah tidak mengenalnya sama sekali di lorong kampus, membuang muka setiap kali berpapasan, seolah dia tiba tiba menjadi orang asing yang harus dihindari.
Yang paling menyakitkan, dosen pembimbing kemahasiswaan yang selama ini dia percaya, yang dulu mengajarinya cara menyampaikan masalah dengan data, justru menyarankan agar dia "mengalah saja demi kebaikan bersama" ketika masalah itu akhirnya sampai ke telinga pihak fakultas, seolah semua prinsip yang dulu diajarkan hanya berlaku selama tidak menyinggung kepentingan orang orang tertentu, hanya berlaku di atas kertas tapi runtuh begitu berhadapan dengan kenyataan.
Sahat mengalah. Bukan karena dia salah, dia tahu betul dirinya benar, buktinya lengkap dan jelas, tersimpan rapi dalam map biru yang sampai sekarang masih dia simpan, tapi karena dia lelah, lelah menghadapi tatapan sinis, lelah dikucilkan, lelah harus terus menerus membela diri untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia perdebatkan sama sekali. Skripsinya nyaris terganggu karena dia jadi sulit fokus, sering terbangun tengah malam memikirkan kejadian itu berulang ulang, dan dia tidak mau mempertaruhkan masa depannya demi sesuatu yang, menurut orang orang di sekitarnya, "tidak sebanding untuk diperjuangkan".
Sejak saat itu, sesuatu di dalam dirinya berubah, perlahan tapi pasti, seperti air yang menetes membentuk lubang di batu. Dia tidak lagi percaya bahwa bersuara akan mengubah keadaan. Yang dia pelajari justru sebaliknya, bersuara hanya akan membuat dirinya sendiri jadi sasaran, sementara masalah yang sebenarnya tetap utuh, bahkan kadang bertambah runyam, menyeret lebih banyak orang baik ke dalam pusaran yang sama sekali tidak mereka mulai. Maka dia memilih jalan yang lebih aman, diam, menjaga diri sendiri tetap bersih, dan membiarkan dunia berjalan dengan caranya sendiri, sejelek apa pun itu.
"Yang penting aku nggak ikut jadi kotor," begitu prinsip yang dia pegang sejak saat itu, dan dia bawa terus sampai sekarang, bertahun tahun kemudian, di balik wajah datarnya yang sudah dilatih sedemikian rupa supaya tidak lagi menunjukkan gejolak apa pun, sebuah topeng yang dia bangun perlahan lahan dari puing puing kepercayaannya yang dulu pernah begitu besar, lapis demi lapis, sampai akhirnya topeng itu terasa lebih nyaman dipakai dibanding wajah aslinya sendiri.
Tidak ada yang tahu cerita ini. Bahkan Bu Rohana yang setiap pagi melayaninya kopi pun tidak pernah mendengar sepotong pun tentang masa lalunya itu, begitu pula Pak Ferdinand yang sudah dianggapnya kolega paling dekat sekalipun, orang yang paling sering menghabiskan waktu bersamanya setiap minggu tapi tetap tidak pernah benar benar tahu apa yang pernah terjadi. Bagi orang orang di sekitarnya sekarang, Bang Tua hanyalah dosen kalem yang datang tepat waktu, mengajar dengan baik, lalu pulang tanpa banyak drama, sosok yang terlihat begitu stabil dan tidak tergoyahkan, tanpa ada yang tahu betapa besar harga yang harus dia bayar untuk mencapai ketenangan semacam itu.
Tapi jauh di dalam dirinya, kekesalan yang dulu pernah dia suarakan dengan lantang, dengan bukti dan data yang rapi, kini hanya berubah bentuk menjadi gumaman gumaman kecil yang tak pernah benar benar hilang, tersimpan rapat rapat di suatu tempat dalam dirinya yang bahkan dia sendiri enggan menengoknya terlalu sering, seperti map biru itu, tersimpan rapi di sudut lemari, jarang dibuka, tapi tidak pernah benar benar dia buang.