SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Taktik Monopoli Hati dan Pajak Hibah
"Gila! Gila! Gila! Lucas, ini apa-apaan?!"
Aura berdiri di tengah ruang kerja VIP-nya sambil menjambak rambutnya sendiri. Matanya melotot ngeri melihat pemandangan di depannya.
Ruangan yang biasanya rapi dan elegan itu kini dipenuhi oleh dua puluh peti kayu berlapis beludru merah. Tutup peti-peti itu terbuka lebar, menampilkan tumpukan koin emas, batangan emas, dan berbagai perhiasan berlian yang menyilaukan mata hingga membuat ruangan itu terlihat seperti gua harta karun bajak laut.
Lucas berdiri di sudut ruangan, memegang tablet laporannya dengan wajah pasrah. Kacamata tebalnya sedikit merosot.
"Itu adalah pengiriman gelombang pertama, Nona Elara. Hadiah pribadi dari Yang Mulia Pangeran Caden untuk Anda."
"Gelombang pertama?! Maksud lo bakal ada gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya?!" jerit Aura histeris. Ia berlari mendekati salah satu peti dan memegang kepalanya. "Lucas! Lo tahu nggak berapa nilai valuasi semua barang ini?!"
"Kurang lebih sepuluh juta koin emas, Nona."
"Sepuluh juta! Dan Bos ngirim ini ke kantor pakai dalih hadiah?! Ini bencana finansial, Lucas! Bencana!" Aura mulai mondar-mandir seperti setrikaan.
"Bencana bagaimana, Bu Bos? Bukannya kita malah jadi super kaya?" tanya Mia polos dari meja kerjanya. Gadis berambut merah muda itu sedang memakai kacamata hitam karena silau melihat pantulan cahaya dari tumpukan berlian.
"Mia, dengerin gue! Di mata hukum kekaisaran, pemindahan aset dalam jumlah masif tanpa transaksi jual-beli itu masuk ke kategori Hibah atau Hadiah! Pajak Hibah untuk non-keluarga inti itu gila-gilaan, bisa nyentuh angka empat puluh persen! Lo mau kita nombok empat juta emas ke kas negara cuma buat bayar pajak barang ginian?!"
Aura menggebrak salah satu peti. "Lagian, masukin emas batangan berton-ton ke dalam sirkulasi ekonomi secara tiba-tiba tanpa ada underlying asset (aset penjamin) itu bakal memicu inflasi! Nilai tukar mata uang kita bisa anjlok, Mia! Bos lo itu mau pamer kekayaan atau mau ngancurin ekonomi makro sih?!"
Pintu ganda ruangan tiba-tiba terbuka. Pangeran Caden melangkah masuk dengan santai, mengenakan kemeja biru gelap yang membuat mata peraknya semakin tajam.
"Aku mendengar namaku disebut dengan nada penuh kepanikan, Asisten Elara," sapa Caden dengan suara bariton yang berat dan memikat. "Apakah kau tidak menyukai taktik monopoli hatiku?"
Aura langsung berkacak pinggang dan menuding wajah tampan bosnya.
"Bos! Taktik monopoli hati macam apa yang berpotensi bikin gue dipenjara karena penggelapan pajak hibah?! Ini gratifikasi tingkat dewa! Kalau Komite Audit tahu Bos ngasih gue sepuluh juta emas cuma-cuma, besok pagi gue udah digantung di alun-alun!"
Caden terkekeh pelan. Ia berjalan mendekati Aura, sama sekali tidak mempedulikan peti-peti emas yang menghalangi jalannya. Ia bahkan menendang pelan salah satu peti berisi zamrud agar jalannya terbuka.
"Kau terlalu banyak berpikir, Elara. Aku adalah Menteri Keuangan. Aku yang memegang stempel pajak kekaisaran. Tidak akan ada satu pun auditor yang berani menyentuh sehelai rambutmu," bisik Caden, berdiri sangat dekat di hadapan Aura.
"Hukum tetap hukum, Bos! Hukum nggak kenal stempel, hukum kenalnya bukti tertulis!" bantah Aura, meski jantungnya mulai berdebar kencang mencium aroma cologne mint pria itu. "Kalau Bos emang niat monopoli hati gue, jangan pakai cara ilegal dong! Bikin skema investasi yang bener! Bikin Trust Fund (dana perwalian) kek, atau masukin asetnya ke Holding Company luar negeri biar bebas pajak!"
Tawa Caden pecah. Tawanya begitu lepas dan bergema di seluruh ruangan VIP itu. Ia merengkuh pinggang Aura, menarik tubuh mungil gadis itu hingga menempel padanya.
"Hanya kau, Elara. Hanya kau wanita di dunia ini yang diberi sepuluh juta emas, tapi malah memarahiku karena masalah inflasi dan struktur pajak hibah," ucap Caden di sela tawanya. Ibu jarinya mengusap pipi Aura yang mulai memerah.
"Y-iyalah! Cinta itu buta, tapi pajak itu melek, Bos!" Aura mencoba melepaskan diri, tapi pelukan lengan Caden terlalu kuat. "Lepas dulu, Bos! Ini emasnya harus kita urus! Harus masuk pembukuan!"
"Biar Lucas yang mengurusnya," Caden menatap lurus ke dalam mata Aura, senyum sadis nan tampannya kembali muncul. "Aku membawakan ini semua bukan untuk didebat. Kemarin kau bilang aku bisa memonopoli hatimu. Jadi, aku membeli hatimu hari ini. Secara tunai."
"Bos, hati manusia nggak ada price tag-nya!"
"Lalu kenapa kemarin kau meminta persenan laba panen sebagai ganti Garis Batas Gulingmu?" goda Caden tajam.
"Itu... itu kan hitungan teritorial kasur, bukan hitungan hati! Beda chart!" Aura beralasan panik, wajahnya semakin panas.
"Bagi asisten matre sepertimu, chart hati dan chart dompet itu berada di satu layar yang sama, Elara." Caden menundukkan wajahnya, napas hangatnya menyapu bibir Aura. "Dan aku berniat membuat kedua chart itu limit up setiap hari. Bersamaku."
"T-tunggu, Bos! Skema transaksinya belum jelas! Gue belum tanda tangan—"
Kalimat Aura kembali dibungkam oleh ciuman Caden. Kali ini bukan ciuman menuntut yang kasar, melainkan ciuman lembut yang penuh dominasi dan afeksi, membuat otak kalkulator Aura mendadak kehabisan baterai.
Di sudut ruangan, Mia dengan cepat menekan tombol buta (blind) pada kaca ruangan dan memakai penutup mata, sementara Lucas hanya bisa menghela napas panjang melihat Pangeran Kekaisaran yang kejam itu benar-benar telah berubah menjadi budak cinta seorang asisten bar-bar.
"Lucas," bisik Mia dari balik penutup matanya. "Emas-emas ini mau diapakan?"
"Kita masukkan ke brankas bawah tanah, Mia. Sebelum Nona Elara sadar dari ciuman itu dan menyuruh kita membuat perusahaan fiktif (shell company) untuk menghindari pajak," balas Lucas pasrah.
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein