Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Darren berdiri di hadapan Jovan dengan sorot mata serius. Sebagai seorang kakak sekaligus anggota kepolisian, ia tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan apa yang terlihat di tempat kejadian.
"Jelaskan dari awal," ujar Darren tegas. "Apa yang sebenarnya terjadi malam ini?"
Jovan menarik napas panjang.
"Sebelum kecelakaan, gue merasa ada yang aneh dengan tubuh gue, Kak. Kepala gue pusing, pandangan gue berkunang-kunang, dan gue kesulitan mengendalikan tubuh."
Darren mengernyit.
"Kau mengonsumsi sesuatu?"
"Nggak."
Jovan menggeleng cepat.
"Gue sama sekali nggak minum atau mengonsumsi obat apa pun."
"Kalau begitu, kenapa hasil pemeriksaan menunjukkan ada zat psikoaktif di dalam tubuhmu?"
Jovan mengepalkan tangannya.
"Itulah yang gue nggak tahu." Ia menatap kakaknya dengan wajah penuh frustrasi.
"Yang gue ingat, sebelum kejadian itu gue masih sadar. Tapi tiba-tiba kepala gue terasa berat dan pandangan gue mulai kabur."
"Bagaimana dengan mobilmu?"
"Remnya blong."
Darren langsung menatap tajam.
"Blong?"
"Iya. Gue sudah injak pedal rem berkali-kali, tapi nggak berfungsi."
Jovan menelan ludah.
"Gue mencoba menghindari orang-orang di jalan. Tapi kondisi tubuh gue semakin nggak terkendali. Sampai akhirnya..."
Jovan terdiam.
Bayangan tubuh Riki yang terpental kembali muncul dalam pikirannya.
"...gue menabrak dia."
Darren menghela napas panjang. "Jadi menurutmu, ada seseorang yang sengaja memasukkan obat ke tubuhmu dan membuat rem mobilmu tidak berfungsi?"
"Sepertinya begitu." jawab Jovan yakin
"Apakah kau punya musuh?" tanya Darren serius
Jovan tertawa hambar. "Gue pembalap, Kak. Orang yang nggak suka sama gue cukup banyak."
"Adakah nama yang kau curigai?" tanya Darren mengintimidasi
Jovan menatapnya. "Belum tahu pasti. Tapi gue punya beberapa dugaan."
Darren mengangguk. "Baik. Jangan membuat tuduhan sebelum kita punya bukti."
Ia kemudian menoleh kepada Iptu Darma.
"Amankan kendaraan Jovan. Jangan ada yang menyentuh bagian rem atau sistem kendaraan sebelum dilakukan pemeriksaan menyeluruh."
"Siap, Pak."
"Ambil rekaman CCTV di sekitar lokasi kecelakaan. Periksa juga kamera dari toko kue, jalan raya, sampai area parkiran."
"Siap."
"Dan lakukan pemeriksaan terhadap semua kemungkinan zat yang masuk ke tubuh Jovan."
"Baik, Pak."
Jovan memperhatikan kakaknya dengan tatapan penuh harap.
"Kak..."
Darren menoleh.
"Ku mohon jangan sampai masalah ini diketahui Mommy dan Daddy."
Darren terdiam sejenak. Kemudian ia menatap adiknya dengan serius.
"Aku tidak bisa jamin, Jovan."
"Kak..."
"Kau seorang pembalap terkenal. Kecelakaan yang melibatkan mu dan menewaskan seseorang seperti ini hampir pasti akan menjadi berita."
Jovan menundukkan kepala.
"Mommy dan Daddy lambat laun pasti akan tahu."
Darren menepuk bahu adiknya."Sebagai pria sejati, hadapi semua kenyataan ini."
Jovan terdiam.
Darren kemudian melirik ke arah Serina. Wanita itu masih berdiri di dekat ranjangnya Riki sambil memeluk Farel. Tangisnya belum berhenti. Sesekali tangannya mengusap kepala putranya yang terus memanggil nama ayahnya.
"Ayah..."
Suara kecil Farel kembali terdengar. Darren terdiam. Ada rasa sesak yang muncul di dadanya. Ia mengenal Serina sebagai gadis yang dahulu pernah menjadi cinta pertamanya. Namun sekarang, wanita itu berdiri di hadapannya sebagai seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya.
Darren mengalihkan pandangannya. Sementara Jovan ikut menatap Serina. Wajahnya penuh penyesalan.
"Kak..."
"Hmm?"
"Gue akan bertanggung jawab."
Darren menatapnya. "Pastikan ucapanmu itu bukan sekadar karena rasa bersalah."
Jovan menggeleng. "Nggak." Tatapannya tertuju kepada Farel. "Gue tahu gue nggak bisa menghidupkan kembali ayahnya. Tapi gue nggak mau anak itu kehilangan masa depannya gara-gara gue."
Darren terdiam. Ia tidak langsung menjawab.
Sebab ia tahu, jalan yang akan dilalui adiknya tidak akan mudah. Di sisi lain, Serina masih menangis dalam diam. Ia menatap wajah Riki yang kini telah tertutup kain putih.Tangannya menyentuh ujung kain tersebut.
"Mas..." Suaranya nyaris berbisik."Kenapa harus secepat ini?" Air matanya kembali jatuh. "Farel bahkan belum sempat memakan kue yang kamu belikan."
Farel memeluk kaki ibunya.
"Bunda..."
Serina berjongkok dan memeluk putranya.
"Ayah sudah pergi, ya, Bunda?"
Pertanyaan polos itu membuat hati Serina kembali hancur. Ia memejamkan mata.
"Farel..."
Ia tidak sanggup mengucapkan kata meninggal kepada putranya. Sementara dari kejauhan, Jovan menyaksikan semuanya.
Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa pertanggungjawaban yang harus ia jalani jauh lebih berat daripada sekadar menghadapi hukum.
Ada seorang wanita yang kehilangan suaminya. Ada seorang anak kecil yang kehilangan ayahnya. Dan ada sebuah keluarga yang hidupnya berubah hanya dalam satu malam. Jovan mengepalkan tangannya .Dalam hati ia berjanji,
"Aku akan menemukan siapa yang melakukan semua ini."
Namun, ada satu hal yang belum diketahui siapa pun. Jika benar Jovan dijebak, maka orang yang berada di balik kecelakaan tersebut masih bebas berkeliaran. Dan cepat atau lambat, kebenaran akan mulai terungkap.
Malam itu akhirnya berubah menjadi malam yang paling kelam bagi keluarga kecil Serina.
Setelah dokter memastikan Riki telah pergi untuk selamanya, jenazahnya dibawa pulang ke rumah kontrakan sederhana yang selama empat tahun menjadi tempat mereka membangun kehidupan bersama.
Kabar duka dengan cepat menyebar di antara tetangga.
Beberapa warga mulai berdatangan untuk membantu mempersiapkan rumah duka. Suasana yang biasanya dipenuhi suara tawa Farel kini berubah menjadi isak tangis.
Serina duduk di samping jenazah Riki yang telah dimandikan dan dibaringkan dengan kain putih. Tatapannya kosong, seolah sebagian dari dirinya ikut pergi bersama pria yang selama empat tahun menjadi pendamping hidupnya.
"Mas..." Tangannya menyentuh kain putih yang menutupi tubuh Riki.
"Kenapa kamu pergi secepat ini?" Air matanya kembali membasahi pipinya. "Farel masih menunggumu..."
Di sampingnya, Farel duduk sambil memeluk boneka Doraemon miliknya.
"Bunda..."
"Iya, Sayang?"
"Ayah tidur terus?"
Serina terdiam.
"Iya..."
"Kenapa Ayah nggak bangun?"
Pertanyaan sederhana itu kembali menghancurkan hati Serina. Ia menarik Farel ke dalam pelukannya.
"Ayah sedang istirahat, Sayang."
Farel mengangguk polos.
"Kalau Ayah bangun, bilang sama Ayah kalau Farel masih mau kue ulang tahun."
Serina memejamkan matanya. "Iya..." Suaranya bergetar. "Bunda akan bilang."
*
*
Keesokan harinya, setelah prosesi pemakaman selesai, warga mulai membawa jenazah Riki menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Serina berjalan dengan langkah lemas. Tangannya menggenggam tangan Farel erat.
Di tengah perjalanan, Farel terus menoleh ke arah keranda yang dibawa oleh beberapa warga.
"Ayah mau pergi ke mana, Bunda?"
Serina menahan tangis.
"Ayah mau pergi ke tempat yang tenang."
"Farel ikut?"
Serina memeluk putranya.
"Tidak, Sayang. Farel tetap bersama Bunda."
Sesampainya di pemakaman, suasana semakin mengharukan. Serina berdiri di sisi liang lahat dengan tubuh gemetar ketika keranda Riki perlahan diturunkan.
"Mas Riki..." Air matanya mengalir tanpa henti.
"Semoga kamu tenang di sana." Ia menggenggam tangan Farel. "Maafkan Bunda kalau selama ini ada salah."
Farel menatap liang lahat dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah..." Suara kecil itu membuat semua orang terdiam.
"Ayah, jangan pergi..."
Serina langsung memeluk putranya.
Sementara itu, di rumah sakit, Jovan sama sekali tidak bisa tenang. Ia masih belum diperbolehkan pulang karena kondisinya belum stabil. Namun, pikirannya hanya tertuju kepada satu hal. Yakni Pemakaman Riki.
"Aku harus pergi ke sana." Jovan berusaha turun dari ranjang pasien.
Leo yang melihatnya langsung menahannya.
"Jo, jangan!"
"Lepasin gue!"
"Kondisi lo belum memungkinkan!"
"Gue harus datang!"
Jovan mencoba berdiri, tetapi tubuhnya masih sempoyongan.
"Gue yang menyebabkan semua ini. Setidaknya gue harus menghadiri pemakamannya."
Leo menggeleng. "Lo datang ke sana sekarang justru bisa memperburuk keadaan."
Jovan tetap memaksa melangkah.
Namun baru beberapa langkah, Darren muncul dan langsung berdiri di hadapannya.
"Jovan."
Jovan berhenti.
"Kak, minggir."
"Tidak."
"Gue harus ke pemakaman Riki."
Darren menatap adiknya dengan tegas.
"Jovan, ini bukan saatnya kamu melakukan hal itu."
"Tapi Kak..."
"Luka yang sedang dialami oleh istri korban tidak akan mudah menerima kehadiranmu."
Jovan terdiam. Darren melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Apakah kau mau menjadi sasaran dan amukan warga sekitar?"
Jovan mengepalkan tangannya. "Gue cuma ingin meminta maaf."
"Aku tahu."
"Tapi gue harus bertanggung jawab!"
"Dan kau akan bertanggung jawab."
Darren menatap mata adiknya. "Namun, bukan dengan mempertaruhkan keselamatanmu dan membuat keadaan keluarga korban semakin buruk."
Jovan terdiam. Darren kemudian menepuk bahunya. "Sebaiknya kau pulihkan dulu kondisi tubuhmu."
Jovan menundukkan kepalanya.
"Setelah itu, kita bicarakan lagi soal istri dan anak dari mendiang Riki."
Jovan perlahan mengangkat wajahnya.
"Aku juga akan mulai mengusut siapa yang telah berani mencelakai dan menjebakmu."
Tatapan Darren berubah serius.
"Kalau benar kecelakaan ini bukan kebetulan, aku akan mencari tahu siapa pelakunya."
Jovan menghela napas panjang. "Lalu bagaimana dengan Serina?"
Darren terdiam sesaat. Tatapannya tanpa sadar mengarah ke lorong rumah sakit.
"Untuk sekarang, biarkan dia berduka."
Jovan menundukkan kepalanya. Ia tahu kakaknya benar. Namun hatinya tetap terasa berat.
"Baik, Kak."
Darren mengangguk. "Percayalah. Akan ada waktunya kau bertemu dengannya lagi."
Jovan tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela rumah sakit dengan wajah penuh penyesalan.
Sementara jauh di tempat lain, tanah terakhir telah menutup jasadnya Riki.
Serina kini harus menjalani hidup hanya bersama Farel. Dan tanpa mereka sadari, sebuah takdir baru perlahan mulai mempertemukan kehidupan Serina dengan Jovan Narendra.
Takdir yang bermula dari sebuah kecelakaan.
Takdir yang kelak akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.
Bersambung...
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭