NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pintu yang Memilih

Makhluk itu tidak bergerak.

Namun justru itulah yang

membuat Raka semakin takut.

Keheningan yang menyelimuti gudang terasa menekan, seolah udara sendiri enggan bergerak.

Sosok hitam di hadapannya tidak memiliki bentuk yang pasti—kadang terlihat seperti bayangan raksasa, kadang seperti kabut yang menggeliat, dan sesekali… seperti wajah-wajah yang berteriak tanpa suara.

Raka berdiri kaku.

Tangannya masih menggenggam pecahan kaca, meskipun jari-jarinya mulai mati rasa.

“Apa… kamu?” tanyanya pelan.

Tidak ada jawaban.

Namun suara itu tetap ada.

Di kepalanya.

“Aku bukan sesuatu yang bisa kau pahami…”

Raka menutup mata sejenak.

Menahan tekanan yang terasa seperti akan memecahkan kepalanya.

Saat ia membuka mata kembali—

Makhluk itu sudah lebih dekat.

Tanpa langkah.

Tanpa suara.

Hanya… ada.

Raka mundur satu langkah.

Lalu satu lagi.

Di belakangnya—dinding cermin terakhir masih berdiri, retak di beberapa bagian, namun belum pecah.

Sinta masih ada di dalamnya.

Menatap.

Tersenyum.

“Kamu tidak bisa lari lagi,”

katanya pelan.

Raka menggeleng.

“Aku tidak mau lari.”

Ia menatap makhluk itu lagi.

Tatapannya kini berbeda.

Bukan lagi penuh ketakutan… tapi tekad.

“Kamu bilang… cuma satu yang bisa keluar,” katanya kepada Sinta.

Sinta mengangguk pelan.

“Dan kamu percaya aku?”

Raka terdiam sejenak.

Lalu menjawab, “Tidak.”

Senyum Sinta memudar.

Makhluk itu bergerak lagi.

Lebih cepat.

Udara di sekitar Raka bergetar.

Suara-suara mulai muncul—bisikan, tangisan, tawa…

semuanya bercampur menjadi satu.

Raka memegang kepalanya.

“Diam…!” teriaknya.

Namun suara itu semakin keras.

“Kau membuka pintu…”

“Kau memanggil kami…”

“Sekarang… kau milik kami…”

Raka jatuh berlutut.

Tubuhnya gemetar.

Namun di tengah kekacauan itu—

Ia melihat sesuatu.

Di lantai.

Buku itu.

Entah bagaimana, buku itu sekarang berada di sana.

Terbuka.

Halaman-halamannya bergetar, seperti tertiup angin yang tidak ada.

Raka merangkak mendekat.

Makhluk itu tidak

menghentikannya.

Seolah… menunggu.

Raka menatap halaman itu.

Tulisan muncul dengan cepat.

“Pintu tidak diciptakan untuk mengurung…”

Ia menelan ludah.

Tulisan berikutnya muncul.

“…tapi untuk dipilih.”

Raka mengernyit.

“Dipilih…?”

Sinta tertawa kecil dari dalam cermin.

“Akhirnya kamu sampai juga ke bagian itu.”

Raka menoleh ke arahnya.

“Apa maksudnya?”

Sinta tidak langsung menjawab.

Ia hanya menunjuk ke arah makhluk itu.

“Lihat baik-baik.”

Raka kembali menatap makhluk itu.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia melihat sesuatu yang

berbeda.

Di dalam kegelapan itu…

Ada banyak wajah.

Bukan satu.

Puluhan.

Ratusan.

Mereka semua… tampak seperti orang biasa.

Seperti manusia.

Dan beberapa—

Terlihat seperti dirinya.

Raka membeku.

“Mereka…?”

“Semua yang gagal,” jawab Sinta pelan.

“Semua yang tidak bisa memilih.”

Raka merasakan napasnya tercekat.

“Memilih apa…?”

Sinta tersenyum tipis.

“Menjadi bagian dari mereka… atau menutup pintu selamanya.”

Sunyi.

Makhluk itu mulai mendekat lagi.

Perlahan.

Namun pasti.

Raka berdiri.

Kakinya masih gemetar.

Namun ia tidak mundur.

“Kalau aku menutupnya…?” tanyanya.

Sinta menatapnya dalam.

“Kamu tidak akan pernah melihat mereka lagi.”

“Dan kalau aku tidak?”

“Kamu akan menjadi mereka.”

Jawaban itu sederhana.

Terlalu sederhana.

Namun konsekuensinya…

Tidak.

Raka menatap buku itu lagi.

Halaman terakhir kini terbuka.

Kosong.

Menunggu.

Ia menatap pecahan kaca di tangannya.

Lalu ke cermin terakhir.

Dan akhirnya—

Ke makhluk itu.

“Selama ini…” katanya pelan.

“Aku cuma penasaran.”

Makhluk itu berhenti.

Seolah mendengarkan.

“Aku ingin melihat… apa yang tidak bisa dilihat orang lain.”

Ia mengangkat kepalanya.

“Tapi aku salah.”

Sinta mengernyit.

Raka melanjutkan.

“Bukan karena mereka tidak bisa dilihat…”

“Melainkan karena… mereka tidak seharusnya dilihat.”

Makhluk itu bergetar.

Wajah-wajah di dalamnya mulai

bergerak liar.

Raka melangkah maju.

“Dan sekarang… aku tahu pilihanku.”

Sinta tiba-tiba tampak panik.

“Raka, tunggu—”

Namun sudah terlambat.

Dengan seluruh tenaga yang tersisa—

Raka menghantamkan pecahan kaca itu ke cermin terakhir.

PRAAAANG!

Suara itu memekakkan telinga.

Cermin itu pecah—

Dan bersamaan dengan itu—

Makhluk itu menjerit.

Jeritan yang tidak manusiawi.

Seluruh ruangan bergetar.

Dinding-dinding cermin yang sudah pecah mulai runtuh.

Bayangan-bayangan menghilang.

Sinta berteriak—

“Tidak! Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan!”

Tubuhnya mulai retak.

Seperti kaca.

Raka menatapnya.

“Aku tahu,” katanya pelan.

“Aku memilih.”

Cahaya terang memenuhi ruangan.

Segalanya menjadi putih.

Suara menghilang.

Rasa hilang.

Dan untuk sesaat—

Tidak ada apa-apa.

Raka membuka mata.

Ia terbaring di tanah.

Di depan gudang tua itu.

Langit sudah gelap.

Angin malam berhembus pelan.

Ia terengah.

Tubuhnya terasa lemah.

Namun…

Ringan.

Perlahan, ia bangkit.

Menatap gudang itu.

Pintu terbuka sedikit.

Sunyi.

Tidak ada apa-apa di dalam.

Raka melangkah mendekat.

Mengintip ke dalam.

Kosong.

Tidak ada cermin.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada Sinta.

Tidak ada makhluk itu.

Hanya ruangan tua yang penuh debu.

Seperti pertama kali ia melihatnya.

Raka terdiam.

“Sudah selesai…?” bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Namun untuk pertama kalinya—

Ia tidak merasakan kehadiran apa pun.

Tidak ada yang mengawasi.

Tidak ada yang berbisik.

Hanya… sunyi.

Raka menatap tangannya.

Luka itu masih ada.

Namun tidak lagi terasa dingin.

Ia menarik napas panjang.

Lalu menghembuskannya perlahan.

“Akhirnya…”

Ia berbalik.

Meninggalkan gudang itu.

Langkahnya pelan.

Namun pasti.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Raka merasa bebas.

Namun…

Di dalam gudang—

Di sudut paling gelap—

Sesuatu bergerak.

Sangat pelan.

Hampir tidak terlihat.

Seperti sisa bayangan yang tertinggal.

Dan di lantai—

Sebuah buku tua… tergeletak.

Halaman terakhirnya terbuka.

Dengan satu kalimat baru yang

perlahan muncul—

“Pintu telah ditutup.”

Lalu—

Tulisan itu berubah.

“Untuk sekarang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!