cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
..
Jelita menutup pintu kosannya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Tasnya ia campakkan begitu saja ke atas kasur. Tubuhnya merosot di balik pintu, dadanya naik-turun menghirup oksigen yang terasa menipis. Aroma midnight musk dari mobil Aston Martin Yayan seolah masih menempel di bajunya, mencekik indra penciumannya dengan memori pahit yang baru saja dipaksa terbuka.
Brummm!
Suara knalpot Porsche hitam yang jauh lebih garang terdengar memasuki area kosan. Jelita tersentak. Ia segera berlari ke arah wastafel kecil di sudut kamar, membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin, lalu menyemprotkan parfum strawberry kesukaan Langit sebanyak mungkin. Ia harus menutupi jejak "hantu" itu sebelum sang pemilik wilayah datang.
Tok! Tok! Tok!
"Tembok Beton kesayangan gue! Keluar nggak, atau gue dobrak nih!" teriak Langit dari luar, suaranya terdengar lelah tapi tetap punya energi sengklek yang khas.
Jelita menarik napas panjang, memaksakan senyum di cermin, lalu membuka pintu. Langit berdiri di sana dengan kaos putih yang sedikit kusut, menenteng kantong plastik berisi ayam geprek. Wajahnya terlihat sangat kuyu, matanya merah karena kurang tidur setelah tiga hari "disekap" di perpustakaan pusat.
"Lang..."
Belum sempat Jelita menyelesaikan sapaannya, Langit sudah masuk dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Jelita. Kantong ayam gepreknya diletakkan asal di atas meja. Pria itu memeluk Jelita sangat erat, seolah-olah ia baru saja pulang dari medan perang yang paling mengerikan.
"Gue capek, Jee... gue bener-bener butuh asupan vitamin sekarang. Diem ya, biarin gue kayak gini lima menit aja," gumam Langit serak.
Jelita terdiam, tangannya perlahan naik mengusap rambut Langit yang berantakan. Rasa bersalah menghujam dadanya seperti belati. Di satu sisi, ia merasa aman dalam dekapan Langit, tapi di sisi lain, ketakutan akan rahasia Yayan membuatnya merasa sesak.
"Lang..." panggil Jelita pelan di sela-sela pelukan mereka. "Seandainya... seandainya ada sesuatu yang maksa gue, tapi gue nggak bisa jujur sama lo... lo bakalan ninggalin gue nggak? Kalau ternyata gue nggak bisa terbuka sepenuhnya sama lo?"
Langit melepaskan pelukannya sedikit. Dia tidak menatap Jelita dengan tatapan menghakimi atau menuntut kejujuran. Sebaliknya, dia menatap Jelita dengan tatapan yang sangat datar namun sangat dalam. Dia mengusap pipi Jelita, lalu mencubitnya gemas sampai Jelita meringis.
"Gue nggak peduli, Jee," jawab Langit santai, suaranya kembali ke nada sengklek "Gue nggak peduli lo mau cerita atau nggak soal masalah lo. Lo mau simpen seribu rahasia pun, gue nggak masalah. Gue nggak butuh lo jadi buku yang terbuka buat gue."
Jelita tertegun. "Maksud lo?"
Langit menarik Jelita untuk duduk di kasur, lalu dia sendiri duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di pangkuan Jelita. "Denger ya, Tembok Beton. Tugas gue itu jadi pacar lo, bukan jadi polisi interogasi. Gue nggak butuh kejujuran lo buat tetep sayang sama lo. Yang gue butuh cuma satu: lo tetep aman sama gue."
Langit menatap mata Jelita dengan seringai miring andalannya. "Paling, kalau emang ada 'sesuatu' atau 'seseorang' yang maksa-maksa lo sampe lo nggak berani jujur ke gue... gue pastiin gue yang bakal maksa dia buat tanda tangan kontrak sama malaikat maut saat itu juga. Gue nggak akan nanya alasan lo kenapa, gue cuma bakal pastiin dia nggak bakal punya napas lagi buat ganggu milik gue."
Jelita merinding mendengar kalimat itu. Ini adalah sisi Langit yang serius
"Lo... lo beneran nggak bakal marah kalau gue nyembunyiin sesuatu?" tanya Jelita lagi, memastikan.
Langit tertawa, lalu menarik tangan Jelita untuk menyuapinya ayam geprek level 15 yang pedasnya minta ampun. "Selama lo masih di jangkauan gue, selama lo masih jadi Tembok Beton gue, lo mau nyembunyiin hantu Mars sekalipun gue nggak peduli. Tapi inget, Jee... jangan pernah coba-coba lari dari gue. Karena kalau lo lari, baru gue bakal marah."
Malam semakin larut, dan Langit benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Dia justru semakin manja, meminta Jelita memijat kepalanya, lalu menarik Jelita untuk tidur berpelukan di bawah selimut tipis kosan itu.
"Lang, lo harus balik ke apartemen. Besok lo ada bimbingan pagi kan?" protes Jelita lembut.
"Nggak mau. Gue mau tidur di sini. Perasaan gue nggak enak seharian ini, kayak ada singa lain yang lagi ngincer wilayah gue. Gue mau pastiin lo tetep di sini, di bawah ketiak gue," jawab Langit sambil memeluk pinggang Jelita sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu.
Di bawah temaram lampu tidur, Langit tidak lagi menjadi pria sombong yang pamer Porsche. Dia hanya seorang pria yang sedang "menandai wilayahnya" dengan sangat posesif. Dia menciumi bahu Jelita berulang kali, memberikan tanda-tanda merah yang samar sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani melihatnya besok.
"Lo punya gue, Jelita. Mau lo jujur atau nggak, lo tetep punya gue," gumam Langit sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan mental.
Jelita terjaga di sampingnya, menatap wajah Langit yang sangat tenang dalam tidurnya. Wajah ini... wajah yang sama yang menguncinya di kelas, wajah yang sama yang memberinya jus jeruk tanpa gula. Tapi pria yang ada di dekapannya ini lebih menyeramkan sekaligus lebih menenangkan
Jelita mengusap dahi Langit lembut. Rasa nya campur aduk kayak permen nano nano, gimana kalau langit tau yang maksa dia atau hantu masalalu nya sangat mirip dengan nya? apa dia gak bakalan marah juga? entahlah, capek juga mikirin hal itu
Malam itu, di dalam kosan sempit itu, Langit mendapatkan "asupan vitaminnya
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣