Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Icibos
"Istrimu kenapa, Bos?" tanya Xander saat dia sudah berada di kamar yang ditempati Rayga dan Aurellia.
"Pingsan," jawab Rayga singkat.
Xander melongo dan menatap Rayga dengan berbagai praduga. "Pingsan?" tanya Xander mengulang perkataan Rayga.
"Bukan, dia sedang menari!" Suara Rayga meninggi, tidak suka ditanya begitu oleh Xander.
Mata Xander terpaku melihat wajah Aurellia yang begitu pucat.
Sekitaran mata wanita itu sembab karena tadi dia terlalu lama menangis di kamar mandi.
"Apa kamu begitu bernaf-shu pada dia, sehingga kau tidak bisa menahannya sampai tenaga istrimu pulih, Bro?" Xander menoleh pada Rayga yang berdiri di sampingnya.
"Maksudmu apa?!" Rayga menatap tajam pada Xander, seolah dia hendak memakan Xander dengan utuh.
"Bukankah Dokter sudah bilang kalau istrimu tadi kecapekan dan harus banyak istirahat dulu. Bukannya membiarkan dia istirahat, malah disuruh mandi wajib begitu," sindir Xander membuat seluruh wajah Rayga merah padam.
"Pikiranmu terlalu kotor. Dia bukan mandi wajib, tetapi sengaja merendam dirinya dalam air dingin," kata Rayga geram dan marah karena tidak terima dituding begitu oleh Xander.
"Sekarang, gimana caranya supaya dia sadar tanpa diketahui kakekku kondisinya," kata Rayga.
"Panggil Dokter," jawab Xander.
"Itu sama saja dengan memberitahu Kakek," bantah Rayga, dia tidak menyetujui usulan dari Xander.
"Coba kamu pijat dia seperti saat pingsan sebelumnya, Bro. Aku kasihan melihat dia, kamu malah tega menyakitinya," ujar Xander membuat Rayga melotot tajam padanya.
"Daripada dia jadi pelampiasan dendammu, lebih baik lepaskan dia. Kaum perempuan memang pernah menorehkan kesan jahat di mata dan pikiranmu, tetapi tidak semua wanita begitu. Jika kamu melepaskan Aurellia, aku siap menerima dia dan mengganti semua kerugianmu saat m memenangkan dia di pelelangan rumah bordil," lanjut Xander bersungguh-sungguh.
"Ternyata kau bukan lagi teman yang bisa kupercaya, tetapi kau telah berubah menjadi duri yang siap menusuk masuk ke dalam dagingku," sahut Rayga berkobar kemarahannya.
"Pantas saja kau memberikan informasi tentang wanita ini pada Kakek, ternyata ada tujuan licikmu di balik itu." Napas Rayga memburu, dadanya bergemuruh dengan emosi yang membara.
Xander tertawa kecil menanggapi ucapan Rayga.
"Bisa jadi benar, bisa juga itu salah." Ucapan Xander menyulut emosi Rayga makin jadi.
Matanya mengkilap penuh amarah.
Bahkan Rayga mengayunkan cepat tangannya hendak memukul Xander, tetapi secepat kilat Xander menepisnya.
"Bukan waktunya kau menghajarku, Bro. Saat ini istrimu lebih memerlukan pertolonganmu," kata Xander melepaskan tangan Rayga yang dicekalnya.
"Coba skin to skin agar badannya kembali hangat," lanjut Xander memberi saran.
"Kau kira dia anak kecil yang lagi demam?!" bantah Rayga yang enggan melakukan saran dari Xander.
"Ya, sudah! Kalau kamu tidak mau, biar aku yang melakukannya." Xander langsung membuka kaos oblongnya.
"G!la, pergi kau ke luar. Aku bisa melakukannya," usir Rayga mendorong Xander.
"Kalau kamu tidak mau berurusan dengan Tuan Dekha, jangan sampai terjadi apa-apa pada Aurellia. Sekarang kamu bukan lagi cucu kesayangan Tuan Dekha, tetapi posisi kamu sebagai cucu kesayangan telah digantikan Aurellia"
"Aku tidak perlu kau atur! Di sini aku yang jadi bos," bentak Rayga.
"Untuk urusan dengan Kakek, jika kamu tidak mengadu padanya, Kakek tidak akan tahu apa yang terjadi di sini," lanjut Rayga tidak dihiraukan oleh Xander.
Dia lebih memilih pergi meninggalkan Rayga di dalam kamar itu dibanding berdebat yang tidak ada habisnya.
Setelah Xander keluar dari kamarnya, Rayga kembali mengunci pintu kamar.
Walau tadi dia membantah saran Xander untuk melakukan skin to skin, tetapi setelah Xander tidak ada lagi di kamarnya, saran itu pun dilakukan oleh Rayga.
Bau menyengat minyak kayu putih yang tadi dia berikan di hidung dan perut Aurellia membuat indra penciuman Rayga terasa pengap.
Rayga memeluk erat Aurellia yang masih belum sadarkan diri, mencoba mempraktekkan teknik skin to skin yang sebetulnya diperuntukkan untuk anak kecil.
Tidak munafik, di antara rasa bencinya yang bergejolak, ada rasa kasihan dan penasaran di hati Rayga ketika melihat wajah Aurellia yang terus memancarkan kesedihan.
Namun, rasa kasihan itu dilindas oleh dendam yang tak pernah usai di hati Rayga pada kaum perempuan.
"Jujur Saja, ketika aku membaca riwayat kehidupanmu selama ini, aku kasihan padamu. Namun, perilaku kaum wanita terlalu licik dan bermuka dua untuk dikasihani. Aku tidak boleh m gegabah dan terpedaya oleh kisah menyedihkan." Rayga menatap lamat-lamat wajah Aurellia yang berdekatan dengan wajahnya.
Antara rasa benci dan kasihan menyatu dalam pancaran mata Rayga.
Sedangkan tangannya terus bergerak mengusap punggung Aurellia, memberikan pijatan lembut di sana.
Setengah jam kemudian, Aurellia sudah memberikan tanda-tanda kalau dia sudah sadar.
Kepalanya bergerak dikuti dengan tangan yang juga ikut bergerak.
"Tu-tuan ...." Aurellia mengerjapkan matanya beberapa kali.
Sepertinya teknik skin to skin dan pijatan lembut di punggung Aurellia yang diberikan oleh Rayga membuahkan hasil.
Buktinya, Aurellia sadar dari pingsan setelah teknik itu dilakukan oleh Rayga padanya.
"Bisa, gak, sih, hidupmu itu tidak menyusah kan orang lain?!" gerutu Rayga menyambut Aurellia yang baru saja berhasil sadar dari pingsan.
"Maaf, Tuan," ucap Aurellia dengan suara lemah.
Tenaga Aurellia terasa telah terkuras habis.
Badannya lunglai dengan kepala yang terasa berdenyut dan berat.
Beberapa kali dia hendak mencoba bangun karena tenggorokannya terasa kering dan Aurellia hendak mencari minum.
Namun, usahanya hanya sia-sia karena Aurellia tidak punya tenaga untuk sekedar bangun dan mengambil air.
"Tuan, aku haus. Bolehkah aku minta minum?" tanya Aurellia hati-hati, karena tidak bisa menahan rasa haus, makanya Aurellia memberanikan diri untuk meminta air minum kepada Rayga.
Rayga yang mempunyai karakter keras dan sangat tidak suka diperintah oleh siapapun kecuali kakeknya, malah di saat Aurellia meminta minum dia langsung bangkit dari posisinya menuju di mana dispenser berada.
Segelas air minum diambilnya dan diberikan pada Aurellia.
"Duduk dulu."
Karena Aurellia tidak bisa duduk dan tenaganya masih lemah, Rayga inisiatif untuk membantu Aurellia duduk tanpa diminta oleh wanita itu.
"Terima kasih, Tuan," ucap Aurellia menarik gelas minum di tangan Rayga.
Karena sangat haus, sepersekian detik saja air di dalam gelas itu langsung ludes.
Rayga terus memperhatikan bagaimana Aurellia menghabiskan minuman itu hanya beberapa kali tegukan saja.
Setelah meletakkan kembali gelas pada tempatnya, Rayga membetulkan posisi tidur Aurellia yang asal meringkuk saja.
Di saat dia membetulkan posisi tidur Aurellia, tanpa sengaja tangannya menyentuh bukit gundul dengan pucuk berwarna pink kecoklatan tanpa ada penghalang itu, karena tadi dia melakukan teknik skin to skin pada Aurellia, tentu semua yang berbahan benang tidak mereka kenakan.
Hanya dengan sentuhan tanpa sengaja, mampu membangunkan Sang Icibos yang tertidur dibalik celana Rayga.
"Sial!" umpat Rayga mengetahui Cacing Alaska langsung mengeras dan mendesak minta di hangatkan juga.
Aurellia yang mendengar umpatan Rayga, dia mengira umpatan itu ditujukan padanya.
"Maafkan aku yang selalu merepotkan, Tuan," ucap Aurellia menahan sedih.
"Benar, kamu selalu merepotkanku.
Sekarang giliran aku yang akan merepotkanmu." Rayga mendekat pada Aurellia, bahkan hembusan nafasnya menerpa wajah Aurellia, memberikan rasa hangat di wajahnya yang masih pucat.