NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafia

Tawanan Hasrat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Julianto

Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.

Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.

Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.

Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.

Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pijat Relaksasi

Rayga menahan kalimat yang belum keluar dari mulut yang baru terbuka hendak bicara.

Dia yang sudah siap memaki Xander karena terlalu lama membelikan bakso untuknya, kembali mengunci mulut karena melihat ternyata yang masuk ke dalam kamarnya buka Xander, melainkan Aurellia.

"Hai, suamiku," sapa Aurellia dengan suara bergetar.

Dia kembali menutup pintu rapat-rapat.

Walau dia lancar memanggil Rayga dengan panggilan 'suamiku', tetapi tetap saja rasa takut menyelimuti hatinya.

Sedangkan Rayga yang mendengar panggilan baru dari Aurellia membuat benih bunga di hatinya terasa bermekaran.

Rasa rindu Rayga terobati dengan hadirnya Aurellia di sana, tetapi egonya tetap membuat dia menunjukkan sikap dingin pada wanita yang menghampirinya.

"Ini pesananmu." Aurellia menunjukkan makanan yang ditentengnya, tetapi Rayga tidak melirik makanan tersebut, melainkan dia fokus melihat wajah Aurellia yang terlihat berseri dan lebih fresh dari sebelumnya.

"Mau dimakan sekarang?" tanya Aurellia mencoba berbicara kembali, karena Rayga tidak menanggapinya.

"Hu'um," jawab Rayga singkat.

Aurellia keluar dari kamar, dia mencari mangkok untuk bakso yang dibawanya.

"Permisi," sapa Aurellia pada pelayan yang berada di dapur sedang mencuci peralatan masak.

Pelayan itu menoleh pada Aurellia, menelisik Aurellia seolah mencari sesuatu.

"Ada mangkuk atau piring?" tanya Aurellia padanya.

"A-ada ...," jawabnya tergagap.

Karena orang itu tidak mengambilkannya, Aurellia langsung saja mengambil sebuah mangkuk dan sepasang sendok-garpu di lemari piring.

"Terima kasih," ucap Aurellia sopan dan ramah, walau pelayan itu tidak mengambilkan mangkuk untuknya.

Aurellia berjalan cepat hendak keluar dari dapur.

Namun, saat dia berada di ambang pintu, langkahnya terhenti karena pelayan memanggilnya.

"Apakah Anda istri Tuan Rayga?" tanya pelayan itu yang memang tidak ikut hadir saat resepsi pernikahan majikannya.

"Iya," jawab Aurellia.

"Semoga pernikahan kalian langgeng selamanya," ucapnya yang hanya dibalas senyuman Aurellia.

"Terima kasih, aku harus segera kembali ke kamar," sahut Aurellia yang tidak mengaminkan doa dari pelayan itu, tetapi hanya mengucapkan terima kasih saja.

Aurellia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan pelayan yang masih setia menatap kepergiannya.

"Mana mungkin hubunganku sama pria aneh itu bisa langgeng selamanya, perceraian saja sudah menanti dan hanya tinggal menunggu waktunya tiba saja," gumam Aurellia terus melangkah dan masuk ke dalam kamar Rayga.

"Apa tadi kau berbicara dengan pelayan?" tanya Rayga.

"Enggak banyak, aku menanyakan mangkuk dan dia menjawab di mana letaknya. Hanya itu saja," jawab Aurellia sambil menuangkan bakso ke dalam mangkok.

"Hanya itu saja? Apa dia tadi menatapmu?" tanya Rayga terdengar posesif.

"Aku tidak memperhatikannya. Aku rasa dia tidak menatapku, karena dia sibuk dengan pekerjaannya," bohong Aurellia yang tidak mau cari masalah.

"Berani kau berbohong, akan kupenggal kepala pelayan itu!" kata Rayga penuh penekanan dan ancaman.

"Aku yang bohong, kenapa kepala pelayan yang dipenggal?" batin Aurellia tak habis pikir pada pria yang berstatus suaminya itu.

"Apa mau dihangatkan baksonya?" tanya Aurellia melirik pada Rayga yang duduk berjuntai di tepi tempat tidur.

"Tidak usah," jawab Rayga yang sebetulnya mau memakan bakso dalam keadaan hangat, tapi mengingat di apartemennya ada pelayan pria, dia merasa keberatan Aurellia ke dapur bertemu dengan pelayan tersebut.

Aurellia membawa semangkuk bakso mendekati Rayga, sedangkan pria itu beralih duduk ke atas sofa.

"Ini." Aurellia meletakkan bakso ke atas meja, tepat di depan Rayga.

Rayga mengulurkan tangannya mau mengambil bakso di meja, secara bersamaan tangan Aurellia juga menjangkau mangkuk bakso itu.

Karena tangan Aurellia yang duluan menjangkaunya, sehingga tangan Rayga hanya menggantung saja dan kembali ditariknya.

Aurellia membawa bakso itu duduk di samping Rayga.

"Aku suapin, ya," ucapnya.

"Aku bisa sendiri!" Rayga meraih mangkok bakso yang ada di tangan Aurellia.

Ego Rayga masih tinggi dan gengsi pada Aurellia yang akan menyuapinya.

Daripada tumpah kuah bakso karena ditarik Rayga, terpaksa Aurellia melepaskan mangkuk yang ditangannya.

Rayga menelan salivanya melihat bakso yang kuahnya memerah karena kelebihan cabe.

Nikmatnya makanan yang belum pernah dicicipinya itu sudah langsung terasa di lidahnya.

Tanpa berbasa-basi pada Aurellia, bakso itu dimakan Rayga dengan rakus.

Namun, baru beberapa suapan, Rayga mulai menghentikan menyendok bakso dari mangkuknya.

Bahkan mangkuk tersebut kembali diletakkannya ke atas meja.

"Kenapa?" tanya Aurellia yang memperhatikan Rayga sedari tadi dan melihat perubahan raut wajah pria itu.

Rayga diam dengan tangan memegang perutnya.

Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya dan sedetik kemudian dia langsung berlari ke kamar mandi.

Seperti biasa, Rayga selalu merasa mual saat memakan apapun dan akan kembali memuntahkan makanannya sebelum makanan itu dicerna tubuhnya.

Aurellia heran, tetapi dia juga penasaran kenapa Rayga seperti itu.

Melihat bakso di atas meja yang masih belum seberapa dimakan Rayga, dia teringat percakapannya dengan Xander sebelumnya.

"Kata Tuan Xander kan dia hamil simpatik. Bodoh, kenapa aku diam saja." Aurellia bangkit dan menyusul Rayga ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi Rayga memuntahkan semua yang tadi dimakannya, bahkan dia muntah sampai badannya gemetar dan mata memerah.

Aurellia berjalan cepat mendekatinya, lalu memijat punggung bagian atas pria itu.

Mendapat pijatan di punggungnya dari Aurellia sedikit memberi lega untuk rasa mualnya.

"Sudah?" tanya Aurellia karena melihat Rayga hanya diam saja tanpa ada lagi yang dimuntahkannya.

Rayga mengangguk lemah, tenaganya seolah ikut terkuras bersama makanan yang dimuntahkannya.

Wajah Rayga berubah pucat dengan mata berair dan memerah.

"Yuk," Aurellia memapah Rayga balik ke kamar, sedangkan Rayga yang tak bertenaga tak menolak digandeng Aurellia, dia ikut melangkah pelan bersama Aurellia.

Aurellia membantu Rayga merebahkan badannya, lalu menyelimuti pria itu sampai batas bahunya.

"Apa mau minum?" tanya Aurellia setelah Rayga terbaring dalam selimut di tempat tidur.

Rayga menjawab dengan anggukan lemah.

Dengan sigap Aurellia langsung bergerak mengambil segelas air dari dispenser.

"Ini," kata Aurellia memberikan segelas air pada Rayga.

Rayga yang tak bertenaga kesusahan untuk bangun, melihat itu cepat Aurellia meletakkan gelas air di tangannya ke atas nakas.

Dia membantu Rayga untuk bangun, membetulkan posisi bantal di belakang Aurellia untuk menyender oleh pria itu.

Setelah posisi Rayga dirasa pas, baru Aurellia kembali mengambil air di atas nakas dan memberikannya pada Rayga.

Segelas air habis diminum Rayga, kembali dengan lihai Aurellia meletakkan gelas ke atas nakas dan membantu merebahkan Rayga untuk berbaring.

Aurellia menarik selimut dan menyelimuti Rayga seperti sebelumnya.

"Baksonya jangan dibuang. Simpan saja," kata Rayga setelah posisinya nyaman di dalam selimut.

"Baik." Aurellia turun dari tempat tidur dan mengambil mangkuk bakso di atas meja.

Baru saja Aurellia hendak melangkah, Rayga kembali bersuara.

"Jangan dibawa ke dapur. Biarkan saja di meja itu, kamu tutup saja mangkuknya. Sebentar lagi akan aku lanjutin makan baksonya," kata Rayga yang belum puas memakan baksonya.

"Oh, okay." Aurellia kembali meletakkan mangkuk bakso di atas meja dan menutupnya dengan piring kecil yang ada di meja itu.

Mengingat pesan Xander yang menyuruhnya menarik hati Rayga untuk balas budi, setelah menutup mangkuk bakso, Aurellia bergerak mendekati Rayga.

Dia duduk di samping Rayga, lalu memberanikan diri untuk memijat punggung pria itu.

Rayga yang hanya memejamkan mata, tetapi tidak tidur, dia bisa merasakan pijatan lembut dari Aurellia di punggungnya.

Ada sensasi yang luar biasa dia rasakan saat Aurellia terus memijat punggungnya, bahkan Rayga merasa jauh lebih rilex dan rasa pusingnya mulai memudar.

"Kepalaku," kata Rayga tanpa membuka mata.

"Kepalanya kenapa?" tanya Aurellia tak mengerti, karena Rayga tidak mengatakan kepalanya sakit atau kenapa.

Dia hanya mengatakan sebatas kepala saja.

Rayga merubah posisinya jadi menghadap pada Aurellia, lalu mengambil tangan Aurellia dan meletakkan di kepalanya.

"Pijat," ucap Rayga meminta Aurellia memijat kepalanya.

Walau tidak ada cinta, tetap saja Aurellia grogi ketika harus memijat kepala pria itu dengan posisi Rayga menghadap kearahnya.

Wajah tampan dengan rahang tegas sungguh sempurna bak pahatan Dewa Yunani.

Aurellia memijat lembut kepala Rayga, membuat pria itu begitu nyaman dan hampir saja tertidur.

Saat Aurellia terus memijat kepalanya, Rayga bergerak dan menggeser posisinya.

Kini kepalanya tak lagi di atas bantal, melainkan sudah berada di kaki Aurellia, lebih tepatnya dalam pelukan wanita itu.

Jantung Aurellia berdebar kencang, dadanya bergemuruh ketika tiba-tiba saja Rayga merubah posisinya seperti itu.

"Tu-Tuan, apa kau sedang mengigau?" tanya Aurellia terbata.

"Tidak. Lanjut pijat lagi," sahut Rayga menarik tangan Aurellia yang sempat dilepaskan dari kepala Rayga.

1
Mita Paramita
so sweet 😘😘😘 lanjut Thor double up
Mita Paramita
lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
Mita Paramita: ok 😁 ditunggu Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Windi Widia Astuti
semagaat kaka...aku selalu menunggu up nya
Lian_06: Thanks ya yang udah mau komentar, soalnya ini yang saya inginkan. terimakasih udah mampir jangan lupa tinggalkan komentar lagi disetiap update nya y😁
total 1 replies
Nurulsafarliza Faizal
menarik juga ada komedi..jln ceritanya bgs juga..tapi harap bertambah seru lanjutan ya..semangat ya👌
Lian_06: Thanks ya udah mampir baca dan rating nya😁. pokoknya ikuti terus cerita nya dijamin bakal seru kok🤭
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut thor up nya jangan bertele tele donk, penasaran jadinya
Lian_06: Ini lagi up kak, saya kalo weekend sebisa mungkin up nya lebih sering. yng penting jangan lupa absen dengan like dan komen saja itu udah cukup kok 😁
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut donk🙏
Lian_06: kakak maaf ya ini saya lagi nulis kak😁. makasih banget ya udah mampir di cerita ini😉
total 1 replies
Dalena Dalena
kok ngak update lagi sih,,🙏 lanjut donk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!