NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIMPI SEBAGAI AWAL KETERIKATAN BARU

Malam itu datang tanpa banyak suara, tapi ketika Kirana terlelap, mimpinya tidak memberi ruang untuk bernapas pelan.

Ia berdiri di sebuah ruangan yang asing, namun terasa begitu dikenal oleh tubuhnya seperti ingatan yang bukan miliknya, tapi entah bagaimana sudah lama tinggal di dalam dirinya. Lantai batu dingin, dinding merah tua dengan ukiran naga yang melilit pilar-pilar kayu, dan di atasnya… lampion-lampion menggantung rendah, cahayanya berdenyut lembut seperti jantung yang berdetak perlahan.

Udara dipenuhi aroma dupa. Tebal, hampir membuat dada sesak.

Kirana menunduk.

Ia tidak mengenakan pakaian kantornya.

Gaun panjang berwarna merah membungkus tubuhnya, kainnya berat, jatuh hingga menyentuh lantai. Sulaman benang emas menjalar di sepanjang lengan, membentuk pola yang tidak ia mengerti, tapi terasa… sakral. Di kepalanya, sesuatu menekan lembut hiasan pengantin yang dingin, menggantung hingga hampir menutup sebagian pandangannya.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena tubuhnya mengenali momen ini.

Pelan-pelan, suara mulai muncul. Bisikan. Banyak. Tidak jelas kata-katanya, tapi cukup untuk membuat ruang itu terasa penuh. Seolah ada puluhan orang berdiri di sekelilingnya, menyaksikan.

Namun ketika Kirana mencoba mengangkat kepalanya

Tidak ada siapa pun.

Hanya bayangan.

Dan di ujung ruangan, berdiri seseorang.

Li Wei.

Ia mengenakan pakaian pengantin pria berwarna merah tua, bordiran emas di dadanya berkilau redup di bawah cahaya lampion. Wajahnya tenang terlalu tenang untuk seseorang yang dulu menunggu dengan luka yang tidak selesai. Tapi kali ini, tidak ada kesedihan di matanya.

Hanya… kepastian.

Kirana ingin melangkah mundur.

Tapi kakinya tidak bergerak.

Sebaliknya, tubuhnya justru melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Suara kain gaunnya menyapu lantai terdengar jelas, mengisi keheningan yang aneh itu.

“Ini bukan…” suara Kirana nyaris tak terdengar. “Ini bukan milikku.”

Li Wei tersenyum tipis.

Bukan senyum yang memikat.

Bukan juga menakutkan.

Lebih seperti seseorang yang akhirnya melihat sesuatu kembali ke tempatnya.

“Kau datang,” ucapnya pelan.

Suara itu tidak menggema, tapi terasa langsung di dalam dada.

Kirana berhenti beberapa langkah di depannya. Jarak di antara mereka cukup dekat untuk melihat detail wajahnya kulit yang pucat, mata yang dalam, dan sesuatu di sana yang tidak sepenuhnya manusia, tapi juga tidak lagi asing.

“Aku tidak memilih ini,” bisik Kirana.

Li Wei menatapnya tanpa berkedip. “Aku tahu.”

Jawaban itu datang terlalu cepat.

Terlalu yakin.

Seolah ia sudah menunggu kalimat itu.

Tangan Kirana mengepal di samping tubuhnya. “Ini mimpi.”

“Jika ini mimpi,” balas Li Wei pelan, “kenapa kau masih di sini?”

Kirana terdiam.

Ia ingin menyangkal.

Ingin memaksakan logika.

Tapi tubuhnya tidak memberinya ruang untuk itu. Jantungnya berdetak dengan ritme yang tidak biasa lebih lambat, tapi lebih dalam. Seperti mengikuti sesuatu yang bukan miliknya.

Di antara mereka, tiba-tiba muncul sebuah meja kecil.

Tanpa suara.

Tanpa gerakan.

Hanya… ada.

Di atasnya, dua cangkir kecil berisi cairan merah gelap.

Kirana menatapnya. Napasnya sedikit tertahan.

“Ini…” ia tidak melanjutkan.

“Upacara kita tidak pernah selesai,” kata Li Wei.

Kirana langsung mengangkat pandangannya. “Tidak. Itu sudah selesai. Kau sudah pergi.”

Li Wei menggeleng pelan.

Gerakannya halus, hampir seperti bayangan.

“Aku pergi karena kau membiarkanku pergi,” katanya. “Bukan karena semuanya selesai.”

Kirana merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Tidak sakit. Tapi cukup untuk membuatnya ingin menarik napas lebih dalam.

“Lalu ini apa?” tanyanya.

Li Wei melangkah satu langkah lebih dekat.

Sekarang jarak mereka hampir tidak ada.

“Ini bukan tentangku lagi.”

Kalimat itu membuat Kirana mengernyit.

“Lalu tentang siapa?”

Li Wei tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pergelangan tangan Kirana,tempat di mana dulu benang merah itu mengikat mereka.

Hangat.

Sama seperti bunga itu.

Dan di saat itu, Kirana melihat sesuatu.

Bukan di ruangan itu.

Bukan di depan matanya.

Tapi di dalam pikirannya.

Bayangan-bayangan lain.

Wajah-wajah lain.

Sosok-sosok yang berdiri diam di bawah pohon beringin dalam mimpinya sebelumnya.

Menunggu.

Selalu menunggu.

Kirana tersentak pelan, menarik tangannya.

“Ini bukan tentang kita…” bisiknya.

Li Wei mengangguk.

“Akhirnya kau mengerti.”

Kirana mundur satu langkah.

Lalu satu lagi.

“Tapi kenapa aku?” suaranya mulai retak, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih dalam penolakan yang perlahan kehilangan pijakan.

Li Wei menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di matanya.

Bukan kesedihan.

Bukan juga harapan.

Tapi… kepercayaan.

“Karena kau satu-satunya yang tidak menutup mata.”

Sunyi kembali jatuh di antara mereka.

Lampion di atas berayun pelan, meski tidak ada angin.

Cahaya merahnya memantul di wajah Kirana, membuat bayangannya sendiri terlihat asing di lantai batu.

Kirana menatap meja kecil itu lagi.

Dua cangkir.

Dua pilihan.

Tangannya bergerak tanpa benar-benar ia putuskan.

Jari-jarinya menyentuh salah satu cangkir.

Hangat.

Sama seperti bunga itu.

Sama seperti sentuhan di pergelangan tangannya.

“Kalau aku minum ini…” suaranya nyaris tak terdengar, “apa yang terjadi?”

Li Wei tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya menatapnya.

Dan entah kenapa, itu sudah cukup sebagai jawaban.

Kirana menutup mata.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ..............

Suara keras memecah segalanya.

“Kir! Bangun!”

Dunia itu retak.

Lampion padam.

Suara bisikan menghilang.

Dan dalam satu tarikan napas yang terasa terlalu berat, Kirana terbangun di kursinya di kantor, dengan layar komputer yang masih menyala di depannya.

Wei berdiri di sampingnya, wajahnya panik.

“Lo ketiduran! Dari tadi gue panggil!”

Kirana terengah pelan. Tangannya masih terangkat,seperti baru saja memegang sesuatu.

Ia menoleh perlahan ke meja.

Bunga merah itu… tidak lagi di tempatnya.

Sebaliknya, di samping keyboard

Ada dua bekas lingkaran kecil.

Seperti noda cangkir.

Masih hangat.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai

Kirana tidak yakin… apakah ia benar-benar sudah bangun.

1
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CIngakuu🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!