Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 一
Keheningan adalah hal pertama yang dirasakan Chu Yue. Namun, itu bukan keheningan damai di Paviliun Rembulan miliknya di Kerajaan Ling-Yue yang berbau harum dupa cendana. Keheningan ini terasa dingin, pengap, dan berbau tanah basah yang menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Perlahan, kelopak mata yang terasa seberat bongkahan timah itu terbuka. Chu Yue tertegun. Pandangannya buram sejenak sebelum akhirnya terfokus pada sesuatu yang mengerikan. Alih-alih melihat langit-langit berukir naga dan burung phoenix yang dilapisi emas murni, matanya justru menatap atap rumbia yang reyot dan berlubang di sana-sini, memperlihatkan secuil langit abu-abu yang suram di baliknya.
"Di mana... aku?" bisiknya.
Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Itu bukan suara merdu sang putri yang sering melantunkan puisi, melainkan suara yang serak, parau, dan terasa kering seperti padang pasir yang terpanggang matahari. Saat ia mencoba menelan ludah, tenggorokannya terasa perih, seolah-olah ia baru saja menelan sekam padi.
Baru saja ia ingin menggerakkan tangan untuk meraba kepalanya, sebuah rasa sakit yang tajam dan meledak-ledak menghantam kesadarannya. Chu Yue mengerang, memejamkan mata rapat-rapat. Bersamaan dengan rasa sakit itu, fragmen-fragmen memori yang bukan miliknya berputar paksa di dalam otaknya. Ia melihat kilasan seorang gadis yang bekerja keras di ladang, seorang anak kecil yang menangis meminta makan, dan rasa lapar yang begitu hebat hingga membuat dunia terasa berputar.
Lalu, sebuah suara lembut namun penuh keputusasaan bergema di dalam relung jiwanya, seolah berbisik dari dimensi yang berbeda.
“Yue-er… aku titipkan adikku padamu. Tolong jaga dia… Aku tahu kau jauh lebih mampu melindunginya daripada aku yang lemah ini. Hiduplah sebagai aku… demi dia. Jangan biarkan dia mati sepertiku.”
Chu Yue terperanjat. Sebagai seorang putri kerajaan yang dididik dengan etika dan tata krama yang sangat ketat, ia tahu benar bahwa perpindahan jiwa adalah sesuatu yang melampaui nalar dan sangat sakral. Namun, permintaan itu terdengar begitu tulus, seolah jiwa pemilik tubuh ini, Lin Xiaoxi, telah benar-benar menyerah pada maut dan memilih Chu Yue sebagai ahli waris tubuhnya yang malang.
Dewa, apa Kau sedang bercanda denganku? gerutu Chu Yue dalam batinnya. Sisi pembangkangnya yang selama ini ia sembunyikan di balik wajah anggunnya mulai bergejolak. Kau menarik jiwaku dari kursi kebesaran, melewati batas waktu yang tak masuk akal, hanya untuk menempatkanku di tempat yang lebih buruk dari kandang kuda di istanaku? Apa ini hukuman karena aku sering menyelinap keluar istana untuk meracik obat terlarang? Benar-benar tidak sopan!
Meski hatinya menggerutu, didikan Kerajaan Ling-Yue melarangnya untuk berteriak atau meratapi nasib secara berlebihan. Ia mencoba mengatur napasnya yang pendek-pendek. Namun, sebelum ia sempat memprotes lebih jauh pada takdir, sebuah isakan kecil yang memilukan memecah lamunannya.
"Jie-jie? Apa kau sudah bangun? Tolong buka matamu..."
Chu Yue menolehkan kepalanya dengan gerakan yang kaku dan menyakitkan. Di samping ranjang kayu yang reot dan hanya beralaskan tikar pandan tipis itu, duduk seorang anak laki-laki kecil. Wajahnya kusam terkena debu jelaga, matanya sembab karena terlalu banyak menangis, dan tubuhnya... Chu Yue merasa jantungnya seperti diremas.
Anak itu begitu kurus. Tulang pipinya menonjol tajam, dan tangannya yang memegang pinggiran ranjang tampak seperti ranting kering yang bisa patah hanya dengan satu sentuhan. Pakaian yang dikenakannya penuh dengan tambalan, ukurannya pun terlalu besar untuk tubuh kecil yang hanya tinggal kulit membungkus tulang itu.
"Jie-jie?" anak itu memanggil lagi, suaranya gemetar penuh harap, seolah ia sedang menunggu mukjizat.
Chu Yue terdiam. Dalam memorinya yang baru saja menyatu, ia tahu anak ini adalah Lin Chen, atau yang biasa dipanggil A-Chen. Dan dirinya sekarang adalah Lin Xiaoxi. Gadis desa malang yang tewas kelaparan demi memberikan sisa bubur encer terakhir kepada adiknya ini.
Seketika, rasa panas menjalar di matanya. Bukan karena ia cengeng, tapi karena tubuh ini merespons kehadiran adiknya dengan rasa kasih sayang yang begitu besar.
"Aku... aku baik-baik saja." jawab Chu Yue akhirnya.
Ia sendiri terkejut mendengar suaranya. Meski tubuh ini lemah, cara bicaranya tetap tenang dan memiliki martabat yang tak bisa disembunyikan. Etika kerajaan yang mendarah daging selama belasan tahun membuatnya tidak bisa bicara dengan nada kasar, bahkan dalam kondisi sekarat sekalipun.
Ia mencoba untuk duduk, meski setiap persendian di tubuhnya mengeluarkan bunyi protes yang memilukan. A-Chen dengan sigap mencoba membantunya, meskipun tangan mungil anak itu sendiri tidak memiliki kekuatan yang berarti.
"Jangan dipaksakan Jie-jie. Kau sudah tidur selama dua hari. Aku... aku takut Jie-jie tidak bangun lagi seperti Ayah dan Ibu." isak A-Chen lagi, air mata kembali mengalir di pipinya yang kotor.
Chu Yue menatap A-Chen dengan pandangan seorang tabib jenius. Secara otomatis, otaknya mulai bekerja mendiagnosis. Anak ini kekurangan nutrisi tahap lanjut. Aliran darahnya sangat lambat, dan matanya menunjukkan tanda-tanda anemia akut yang parah. Jika tidak segera diberikan asupan yang tepat, hatinya akan gagal berfungsi dalam hitungan bulan.
Rasa kasihan yang mendalam, yang belum pernah ia rasakan selama hidup sebagai putri yang dimanja, tiba-tiba merayap di hatinya. Hati Chu Yue yang biasanya angkuh, mendadak lumer melihat binar harapan dan ketulusan di mata A-Chen. Anak ini tidak meminta makan, ia hanya meminta kakaknya kembali.
"A-Chen kemarilah." panggil Chu Yue lembut.
Anak itu mendekat dengan ragu, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Chu Yue yang menonjolkan tulang selangka. "Jie-jie, aku lapar, tapi aku lebih takut jika Jie-jie pergi. Jangan tidur terlalu lama lagi, ya? Aku akan mencari rumput liar yang bisa dimakan untuk kita."
Chu Yue memejamkan mata sejenak, menghirup aroma pengap di dalam gubuk itu. Ia kembali menggerutu pada Dewa di dalam hatinya, namun kali ini nadanya lebih menyerupai sebuah sumpah daripada sekadar keluhan.
Baiklah Dewa. Kau membuangku ke sini untuk sebuah alasan, bukan? Jika ini adalah permainan takdirmu, maka aku akan menjadi pemain yang paling mematikan. Tapi jangan salahkan aku jika aku mengubah nasib gadis desa yang malang ini menjadi sesuatu yang melampaui imajinasimu.
Ia mengusap kepala A-Chen dengan gerakan yang sangat anggun dan penuh perlindungan, meski telapak tangannya terasa kasar dan penuh kapalan.
"Dengar A-Chen. Tatap mataku," ucap Chu Yue dengan nada bicara seorang putri yang sedang memberikan titah. A-Chen mendongak, terpana melihat sorot mata kakaknya yang kini terlihat begitu dalam dan berwibawa, sangat berbeda dari biasanya.
"Mulai hari ini, aku bersumpah di bawah langit ini, bahwa aku tidak akan membiarkanmu merasa lapar lagi. Aku akan merawatmu, mengobatimu, dan menjadikanmu sehat. Aku akan memastikan tidak ada satu orang pun yang berani meremehkan kita lagi."
A-Chen hanya bisa mengangguk pelan, ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang dibicarakan kakaknya, tapi ia merasa sangat aman.
Mulai detik ini, Putri Chu Yue dari Kerajaan Ling-Yue telah mati. Yang ada hanyalah Lin Xiaoxi atau Xi-er yang baru. Seorang gadis desa dengan jiwa seorang putri tabib agung.
Namun, di tengah suasana yang dramatis dan penuh tekad itu, perut Lin Xiaoxi tiba-tiba mengeluarkan bunyi keroncongan yang sangat nyaring dan panjang.
Kruyuuukk!
Wajah Chu Yue yang biasanya selalu menjaga martabat, seketika berubah merah padam karena malu. Sifat pembangkangnya kembali muncul saat ia melirik ke arah atap yang bocor.
Dewa! Kau ingin aku menjadi pahlawan bagi anak ini? Setidaknya berikan aku sesuap nasi sekarang juga! Bagaimana aku bisa terlihat berwibawa jika perutku terus berteriak seperti rakyat jelata yang sedang berdemo?!
Ia menghela napas panjang, menatap tangan kurusnya dengan getir. Perjuangan hidupnya di dunia modern baru saja dimulai.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/