NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Dunia Lain / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.

Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.

Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Keputusan Hidup

Malam itu, Aureliana Virestha tidak langsung tertidur. Lampu kamar rumah sakit sudah diredupkan, menyisakan cahaya tipis dari lorong yang masuk melalui celah pintu. Suara alat medis tetap berdetak stabil, seperti penanda bahwa tubuhnya masih terikat pada dunia yang sama, meskipun pikirannya mulai bergerak ke arah lain.

Ia berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit yang terlihat pucat dalam gelap. Pikirannya perlahan menarik kembali potongan-potongan masa lalu, bukan dengan emosi yang meledak, melainkan seperti mengamati sesuatu dari jarak yang lebih tenang. Semua kejadian itu masih terasa jelas, hanya saja kali ini ia tidak sepenuhnya tenggelam di dalamnya.

Hari-hari yang ia jalani sebelumnya terasa seperti lingkaran yang tidak pernah benar-benar berubah. Ia bangun dengan tubuh lelah, menjalani pekerjaan dengan tekanan yang terus meningkat, lalu pulang tanpa membawa sesuatu yang bisa disebut kemajuan. Semua berjalan, tetapi tidak pernah mengarah ke tempat yang lebih baik.

Wajah-wajah di kantor kembali muncul dalam ingatannya. Cara mereka berbicara, cara mereka melihatnya, semuanya terasa seperti pengingat bahwa posisinya tidak pernah benar-benar dianggap penting. Bahkan ketika ia berusaha lebih keras, hasilnya tetap sama, seolah apa pun yang ia lakukan tidak cukup untuk mengubah penilaian mereka.

Suara Darvian Prasetya terlintas dengan jelas di kepalanya. Nada dingin yang tidak memberi ruang untuk penjelasan, keputusan yang diambil tanpa mempertimbangkan sisi dirinya. Hal itu masih terasa tidak adil, tetapi kali ini ia tidak lagi memikirkannya dengan perasaan yang sama.

Pesan dari penagih utang juga tidak jauh berbeda. Kata-kata yang singkat, tetapi penuh tekanan, seolah hidupnya hanya dihitung dari angka yang belum bisa ia lunasi. Semua itu pernah membuatnya merasa terpojok tanpa jalan keluar.

Aureliana menghela napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Ia membiarkan semua itu lewat, tidak menahannya, tetapi juga tidak membiarkannya menguasai pikirannya seperti sebelumnya.

Ketika ia membuka mata kembali, yang muncul bukan lagi bayangan masa lalu itu. Sebaliknya, ruang itu kembali terlintas dengan jelas. Tanah kecil yang mulai dipenuhi tunas, pertumbuhan yang terjadi tanpa menunggu waktu seperti di dunia luar, dan kemampuan untuk masuk serta keluar tanpa batasan yang terlihat.

Perbandingan itu terasa begitu kontras. Satu sisi hidupnya terasa sempit dan menekan, sementara sisi lainnya justru terbuka luas dengan kemungkinan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Aureliana mengangkat tangannya perlahan, menatap telapak tangannya dalam cahaya redup. Ia tidak melihat sesuatu yang berbeda secara kasat mata, tetapi ia tahu ada hal yang berubah. Sensasi halus yang tidak bisa dijelaskan itu masih ada, seolah mengingatkan bahwa apa yang ia alami bukan sekadar imajinasi.

“Kalau aku tetap diam…” gumamnya pelan.

Kalimat itu tidak selesai, tetapi arah pikirannya sudah jelas. Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak melakukan apa-apa. Semua akan kembali seperti semula, dan mungkin menjadi lebih buruk.

Ia perlahan bangkit dari posisi berbaring, lalu duduk bersandar dengan punggung tegak. Rasa tidak nyaman di tubuhnya masih terasa, tetapi kali ini ia tidak terlalu memedulikannya. Fokusnya bukan lagi pada kondisi fisiknya, melainkan pada apa yang bisa ia lakukan ke depan.

Pikirannya mulai menyusun langkah dengan lebih terarah. Ia tidak mencoba memikirkan sesuatu yang terlalu besar, karena ia tahu itu hanya akan membuatnya ragu. Sebaliknya, ia memilih hal-hal sederhana yang bisa ia kendalikan.

Menyimpan makanan adalah langkah awal yang sudah terbukti berhasil. Ia tidak perlu khawatir soal ketahanan atau pembusukan, karena ruang itu menjaga semuanya tetap dalam kondisi yang sama. Hal kecil, tetapi cukup untuk memberinya sedikit rasa aman.

Namun itu bukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Aureliana menoleh ke arah jendela, melihat cahaya kota yang samar di kejauhan. Pikirannya kembali pada tanah kecil di ruang itu.

“Kalau bisa ditanam…” bisiknya pelan.

Ia mulai membayangkan kemungkinan yang lebih luas. Tidak hanya menyimpan, tetapi juga menciptakan sesuatu dari awal. Jika tanaman bisa tumbuh dengan cepat di sana, maka ia bisa mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar percobaan.

Ia membayangkan membawa lebih banyak biji, mencoba berbagai jenis tanaman, mengamati mana yang tumbuh paling cepat dan mana yang paling berguna. Setiap kemungkinan itu terasa masuk akal di dalam pikirannya, tidak lagi terdengar seperti sesuatu yang mustahil.

Perlahan, sebuah gambaran mulai terbentuk. Ia tidak perlu sepenuhnya bergantung pada dunia luar. Ia bisa menciptakan sumber sendiri, meskipun masih dalam skala kecil.

Namun pikirannya tidak berhenti di situ. Ia juga menyadari bahwa semua ini tidak bisa dilakukan tanpa risiko. Semakin besar sesuatu yang ia bangun, semakin besar kemungkinan untuk menarik perhatian yang tidak diinginkan.

Aureliana menunduk sedikit, tangannya saling menggenggam. Ia tahu bahwa langkahnya harus hati-hati. Tidak boleh terburu-buru, tidak boleh terlihat mencurigakan.

Ponselnya tiba-tiba bergetar, memecah alur pikirannya. Ia menoleh, lalu meraihnya dengan gerakan pelan. Cahaya layar menerangi wajahnya, menampilkan pesan yang langsung membuat ekspresinya berubah.

Darvian Prasetya.

“Besok kamu sudah bisa masuk kerja? Kita perlu bicara soal evaluasi.”

Aureliana membaca pesan itu tanpa terburu-buru. Ia tidak langsung merespons, hanya membiarkan kata-kata itu masuk dan menetap di pikirannya. Tekanan yang sama masih ada, tidak berkurang sedikit pun.

Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari nomor yang berbeda, tetapi isinya tidak jauh berbeda.

“Kami tunggu pembayaran. Jangan buat kami datang lagi.”

Aureliana menutup layar ponselnya, lalu meletakkannya kembali di samping tempat tidur. Ia tidak menghela napas panjang seperti sebelumnya, tidak juga menunjukkan reaksi berlebihan.

Ia hanya diam.

Beberapa detik berlalu, lalu ia menutup mata perlahan.

Kesadarannya berpindah.

Ketika ia membuka mata, ia sudah berada di ruang itu.

Udara yang hening langsung menyambutnya. Tanah kecil di hadapannya kini terlihat lebih hidup dibanding sebelumnya. Tunas-tunas yang tadi kecil kini mulai membesar, daunnya lebih jelas, dan batangnya terlihat lebih kuat.

Aureliana berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan tanaman itu. Tangannya bergerak perlahan, menyentuh salah satu daun dengan hati-hati.

Sensasinya lembut.

Nyata.

Ia tidak menarik tangannya dengan cepat, melainkan membiarkannya beberapa detik di sana, seolah memastikan bahwa apa yang ia rasakan benar-benar ada.

Aureliana menatap tanaman itu dengan lebih lama. Pikirannya tidak lagi dipenuhi pertanyaan yang tidak terjawab, melainkan mulai beralih ke arah yang lebih konkret.

“Ini bisa berkembang…” bisiknya pelan.

Ia duduk di sana cukup lama, mengamati setiap detail yang ada. Tidak ada yang terburu-buru, tidak ada yang perlu dipaksakan. Ia hanya membiarkan dirinya memahami tempat ini sedikit demi sedikit.

Setelah beberapa saat, ia berdiri kembali. Pandangannya menyapu seluruh ruang kecil itu, dari sudut penyimpanan hingga area tanah yang kini mulai dipenuhi kehidupan.

Tempat ini mungkin masih sederhana.

Masih kecil.

Namun potensinya tidak bisa diabaikan.

Aureliana menutup mata, lalu kembali ke dunia nyata.

Ketika ia membuka mata, kamar rumah sakit kembali terlihat seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah di luar, tetapi di dalam dirinya, sesuatu sudah bergerak ke arah yang berbeda.

Ia menoleh ke arah jendela, menatap kegelapan malam yang membentang di luar. Dunia itu masih sama, tidak menjadi lebih mudah hanya karena ia memiliki sesuatu yang baru.

Namun kali ini, ia tidak lagi melihatnya dengan cara yang sama.

Aureliana menyandarkan tubuhnya dengan lebih santai, napasnya perlahan menjadi lebih teratur. Pikirannya sudah mulai membentuk arah, meskipun masih sederhana.

Ia tidak akan terburu-buru mengambil keputusan besar. Ia akan melangkah perlahan, memastikan setiap langkah yang ia ambil benar-benar ia pahami.

Namun satu hal sudah pasti.

Ia tidak akan kembali menjadi orang yang hanya menunggu keadaan berubah.

Aureliana memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan pandangan yang lebih tegas.

Jika dunia tidak memberinya ruang…

maka ia akan menciptakan ruangnya sendiri.

1
SENJA
hapalin cara masuk dan keluar ruang dimensi nya 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Andira Rahmawati
kok bisa keluar masuk dgn bebas pdhl ststusnya msh pasien..
Andira Rahmawati
hadir thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!