Salam dari author untuk pembaca 😊✨🙏
Putri Adelia yang biasa di panggil adel, usianya kini menginjak 24 tahun. Dia menjalani kisah cinta yang romantis dan begitu membuat iri orang-orang.
Kisah cintanya dengan devan alvano begitu indah dan tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.
Devan adalah sosok pria yang hampir tidak memiliki celah—tampan, mapan, dan selalu bersikap lembut pada Adel. Di hadapannya, Devan seperti pria yang hanya hidup untuk mencintai satu wanita.
Tapi tiba-tiba semuanya runtuh ayah adel memutuskan untuk menjodohkan nya dengan kakak Devan, yaitu Lucas yang usianya sudah 36 tahun terpaut jauh dari usia adel.
HEHEH SEMOGA SUKA YA SAMA NOVEL AKU 🙏😁✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tayanlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23.
Rena melihat Adel yang baru saja keluar dari kamar, tampak Ia bersemangat.
" Susah siap nona " tanya Rena sopan.
" siap "
" apa aku sudah cantik? " tanya Adel.
Rena mengangguk pelan, Ia mengangkat dua ibu jarinya, menunjukkan bahwa Adel terlihat sempurna.
" Eh.. tunggu sebentar, aku belum izin " ucap Adel, Ia pun mengambil ponsel nya dari tas, lalu mengirim pesan singkat ke nomor Lucas.
Pesan:
' Aku pergi keluar bersama Rena ' pesan Adel.
tak lama ponsel Adel berbunyi, notif pesan.
' jangan pulang malam, kirim foto agar aku tahu di mana kamu berada ' tegas, kaku.
" Hah.... " Adel terkejut, Ia mengerutkan keningnya, jari nya yang lincah mulai mengetik pesan untuk Lucas.
' apa kau berniat untuk mengawasiku ' tanya Adel dalam pesannya.
' tidak, ' jawab Lucas singkat.
Adel menggerutu kesal dengan jawaban singkat Lucas.
' lalu, untuk apa aku harus mengirim foto? '
' untuk memastikan kamu tidak melakukan sesuatu yang aneh'
' memangnya aku anak kecil yang harus di awasi ' jawab Adel kesal, jari nya bahkan menekan ponsel dengan kuat.
' bukan, aku hanya ingin memastikan saja apa itu salah ' balas Lucas.
' emangnya kamu siapa? pa-pa aku, '
Adel menatap layar ponsel nya, emosinya mulai naik, jari nya mengetik cepat, akhirnya pesan itu terkirim.
Beberapa detik hening, lalu tak lama ponsel Adel berbunyi lagi, notif pesan berbunyi dan Adel Langsung membukanya tanpa pikir panjang.
' suamimu ' singkat, padat, dan jelas entah kenapa sedikit menekan.
Adel terdiam untuk beberapa detik dia menatap layar ponsel nya tanpa bergerak, nafasnya tertahan sebentar lalu mengendus pelan.
" ih... nyebelin banget sih jadi orang " gumam Adel.
Ada sesuatu dari jawaban itu, yang membuatnya tidak bisa langsung menjawabnya dengan mudah.
Rena yang sejak tadi berdiri di samping Adel hanya diam, tapi matanya menangkap perubahan kecil dari wajah Adel.
" nona...? " panggil Rena pelan.
Adel langsung mengalihkan pandangannya, ponsel nya ia masukan ke dalam tas, dia tidak berniat untuk menjawab pesan Lucas.
" Sudahlah malas aku balas dia " ucap Adel cepat berusaha untuk terdengar santai.
Rena tersenyum tipis.
" jadi kita lanjut? " tanya Rena.
" iya, ayo... sebelum aku berubah pikiran " jawab Adel, dengan nada kesal.
***
* Di sisi lain mike berdiri di depan Lucas dengan tablet di tangannya.
" tuan, nona Adel sudah keluar bersama Rena " lapor mike.
Lucas tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
" ikuti " perintah Lucas.
" sudah tuan " jawab cepat mike.
***
* Sementara itu Adel turun dari mobil dengan mata yang berbinar melihat deretan toko di depannya.
" Akhirnya... " ucap Adel pelan dengan senyum lebar.
" aku tidak sabar untuk menghabiskan uangnya " ucap Adel.
" ayo ren, kita masuk " ajak Adel, merekapun masuk kedalam.
Adel mengajak Rena masuk ke salah satu toko hill's yang cukup terkenal, dengan senyum lebar.
Rena mengikuti Adel dari belakang, tatapannya mengikuti gerakan wanita itu yang terlihat sangat antusias.
Adel duduk di kursi empuk, matanya berbinar melihat deretan heels yang tersusun rapi di depannya berbagai model, warna dan desain yang elegant.
" Ini pertama kalinya aku keluar setelah hari itu " ucap Adel dengan senyum lebar, tangannya mulai menujuk beberapa pasang heels.
Seorang pegawai toko segera menghampiri Adel dengan senyum profesional.
" ada yang bisa saya bantu nona " tanyanya sopan dan senyum ramah.
" aku mau ini,.... ini sama ini " Adel menunjuk tiga heels sekaligus.
Rena berdiri di sampingnya sedikit tersenyum.
" Sepertinya nona sangat senang keluar " ucap Rena pelan.
" iya,... aku tidak ingin mengurung diri di apartemen " Jawa Adel pelan.
Tidak lama pegawai toko kembali dengan membawa tiga kotak di tangannya.
Adel membuka satu per satu lalu mulai mencobanya, Ia berdiri melangkah pelan di dengan cermin besar.
tok...tok... tok
Suara heels menggema lembut, Adel berhenti menatap dirinya di cermin, untuk sesaat senyumannya memudar, bayangan dirinya di cermin terasa sangat asing.
Cantik, elegant, tapi...bukan dirinya yang dulu, bukan Adel yang tertawa bebas bersama Devan, tiba-tiba saja wajah Devan muncul.
Rena menyadari perubahan di wajah Adel, Ia mendekat.
" nona sepatunya cantik " ucap Rena pelan, dengan senyum tipis.
Adel tidak langsung menjawabnya, Ia menurunkan pandangannya ke bawah dan memperhatikan heels yang dia pakai.
" Cantik " gumam Adel.
Lalu Ia kembali tersenyum lebar, pandangannya di angkat menatap dirinya di cermin.
" Sangat cantik " ucap Adel.
" Ya udah deh, aku ambil semuanya " ucap Adel.
" semuanya nona? " tanya Rena sedikit terkejut.
Adel mengangguk pelan, dengan senyum manis di bibirnya.
" iya semuanya, agar aku bisa puas " jawab Adel.
Pegawai toko terlihat sangat bersemangat, Ia tersenyum tipis.
" tolong bungkus semuanya " pinta Adel.
" baik " jawab pegawai toko dengan sopan.
Adel berjalan menuju kasir, Ia menyerahkan kartu hitam yang di berikannya padanya, dengan senyum lebar dan puas.
" aku bayar pake ini " ucap Adel, Ia menyerahkan kartu itu pada pelayan.
" baik " jawabnya sopan dengan senyum formal, transaksi berlangsung cepat.
* Setelah mengunjungi beberapa toko, Adel merasa seperti hidup kembali, kini kedua tangannya penuh oleh kantung belanjaan, belum lagi Rena yang juga menenteng beberapa paperback.
Adel melangkah santai menyusuri koridor mall, lampu-lampu terang, suara ramai, dan hiruk pikuk di sekelilingnya.
" Ren kita kemana lagi ya? " tanya Adel, matanya masih berkeliling penuh rasa ingin tahu.
" Mungkin kita bisa ke kafe dulu nona, istirahat dulu sebelum lanjut " usul Rena.
" ide bagus, aku juga merasa capek " ucap Adel, dengan senyum lebar Adel dan Rena pergi mencari kafe.
* Tak lama Adel dan Rena masuk ke sebuah kafe, Adel menarik kursi lalu duduk di sana.
Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara, Adel duduk di dekat jendela menatap ke luar sambil menopang dagunya.
Adel duduk diam, tidak bicara, tidak tersenyum lebar seperti tadi, tiba-tiba saja Ia merasa hampa meskipun sudah berbelanja menghabiskan uang suaminya.
Rena memperhatikan dari sebrang meja.
" nona kenapa diam aja..?" tanya Rena.
Adel tidak langsung menjawabnya, matanya masih menatap orang-orang yang berlalu-lalang.
" ramai ya.... " ucap Adel pelan.
" tapi... kenapa aku merasa sendiri? " kalimat itu keluar begitu saja tanpa di tahan.
Rena terdiam, Ia juga menatap keluar mengikuti arah pandangan Adel.
" kadang... ramai atau tidaknya tempat...bukan itu yang menentukan perasaan kita nona "ucap Rena lembut.
Adel tersenyum tipis.
" iya mungkin " ucap Adel.
Pelayan datang meletakkan minuman yang di pesan di meja.
Adel menoleh ke arah Rena.
" Ren, menurut kamu... seseorang bisa benar-benar melupakan orang yang dia cintai? " tanya Adel tiba-tiba.
Rena terdiam sejenak, Ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Adel yang tiba-tiba, Ia menatap mata Adel dalam.
" saya tidak tahu pasti nona... "
" tapi... mungkin bukan melupakan, melainkan belajar hidup tanpa dia " jawab Rena hati-hati.
Kalimat itu membuat Adel sadar, tapi juga menyakitkan.
* Adel menikmati kopi dan roti yang Ia pesan.
Bunyi bel pintu kaca yang ada di kafe berbunyi menandakan bahwa ada pelanggan yang datang, Adel tidak menghiraukannya, tapi saat dia mendengar suara yang tidak asing, Adel segera menoleh ke arahnya.
" kita bisa bicarakan bisnis nanti, lebih baik kita isi tenaga kita dulu " ucap pria patuh baya.
Adel membeku, cangkir kopi yang hampir menyentuh bibirnya berhenti di udara, matanya menatap lurus ke arah pintu, tepat pada sosok pria yang baru saja masuk.
Lu doyan ma perempuan kaga sih 🙄🙄🙄🙄
a elaaaaaaah lu lambat banget jadi cwo.
Readers kecewa nih 😒😒😒
Reader : elu nyesel khan Cas, yg begitu lu anggurin.
Udeh buruan lu tubruk deh...udah halal juga khan
Lu gimana sih Lucaaaaaasss, masa iya lu diem aja dibilang laki ga normal.
Harusnya tuh lu tunjukin ke Adel...kasih paham ke Adel, kl lu laki tulen
Hanya Othorlah pemegang kendali atas segalanya
Tunjukkan kl kamu ga terpengaruh ocehan Karina, biar Karina tidak memandangmu remeh.