NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPULANGAN SANG PEWARIS.

Enam tahun kemudian...

"Bunda, frekuensi detak jantungmu meningkat 15 persen sejak kita memasuki wilayah udara Jakarta. Apa kau cemas?"

Alisha menoleh, menatap putra kecilnya yang duduk tenang di kursi first class. Ghifari tidak sedang bermain game seperti anak lima tahun pada umumnya. Jemari kecilnya menari lincah di atas layar tablet hitam, memantau grafik kesehatan yang terhubung dengan jam tangan pintar yang dipakai Alisha.

Alisha tersenyum tipis, membetulkan letak hijab pasmina instannya yang berwarna krem. Penampilannya kini jauh berbeda. Keikhlasan yang diajarkan Henry dan istrinya selama di London telah mengubahnya menjadi wanita yang lebih tenang dan tertutup. "Bunda hanya sedikit lelah, Sayang. Tidurlah, perjalanan ini masih panjang."

"Fari tidak lelah. Fari baru saja memperkuat enkripsi pada data pribadi kita di server imigrasi. Tidak akan ada yang bisa melacak nama asli kita selain sebagai delegasi Henry Corp," ujar Ghifari datar, lalu kembali fokus pada dunianya.

Di samping Ghifari, Lucas tertawa kecil. Pria berdarah campuran Inggris-Indonesia itu mengusap rambut Ghifari dengan gemas. "Kau terlalu protektif pada Bundamu, jagoan. Padahal ada aku di sini."

"Paman Lucas hanya otot, aku adalah otaknya," sahut Ghifari tanpa menoleh, membuat Lucas menggelengkan kepala.

Pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan mulus. Begitu keluar dari pintu kedatangan, sosok Sarah sudah melambai heboh. Sahabatnya itu terpaku saat melihat Alisha. Hijab yang melilit kepala Alisha membuatnya terlihat jauh lebih anggun dan bercahaya.

"Alisha! Kau benar-benar kembali!" Sarah memeluknya erat, lalu beralih pada bocah di samping Alisha. "Dan ini... Ya Tuhan, dia benar-benar fotokopi pria itu, Al."

"Namaku Ghifari, Tante Sarah. Senang bertemu denganmu," potong Ghifari sopan namun formal, menjulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Genius kecil ini sudah menyiapkan apartemen untuk kalian sendiri lewat jaringan rahasianya, tapi aku tetap mencarikan yang paling aman di Jakarta Selatan. Jauh dari jangkauan Raffasyah Group," bisik Sarah saat mereka berjalan menuju parkiran.

Sesampainya di apartemen, Alisha tidak membuang waktu. Tugas dari Henry, ayah angkatnya, adalah prioritas utama. Henry telah menyelamatkannya dari keterpurukan pasca melahirkan, memberinya pekerjaan, dan menganggapnya anak sendiri. Ia tidak boleh mengecewakan kepercayaan itu.

"Sarah, tolong jaga Ghifari sebentar. Aku harus ke kantor cabang untuk memimpin rapat koordinasi pertama," ujar Alisha sambil merapikan blazernya.

"Fari ikut, Bunda," potong Ghifari cepat. Ia sudah berdiri di samping kopernya, memeluk tablet kesayangannya.

"Sayang, ini kantor. Kau bisa bosan di sana."

"Fari tidak akan bosan selama ada koneksi internet. Lagipula, aku harus memastikan sistem keamanan di kantor cabang barumu tidak mudah ditembus," jawab Ghifari dengan tatapan serius yang sulit ditolak.

Lucas menepuk bahu Alisha. "Biarkan dia ikut, Al. Aku yang akan menjaganya di ruanganmu. Dia tidak akan mengganggu."

Akhirnya Alisha mengalah. Mereka bertolak menuju gedung Henry Corp cabang Jakarta. Sambutan hangat menyambut mereka. Banyak karyawan yang sudah mengenal Alisha melalui rapat virtual selama dua tahun terakhir. Alisha langsung menuju ruang rapat utama untuk membahas proyek pengembangan kawasan terpadu senilai triliunan rupiah.

"Selamat siang semuanya. Terima kasih atas laporannya. Sekarang, siapa mitra utama yang akan memimpin konsorsium untuk proyek real estate ini?" tanya Alisha tegas, membuka map di depannya.

Sekretarisnya, seorang wanita muda bernama Dina, berdehem pelan. "Pihak mitra sedang dalam perjalanan ke sini, Bu Alisha. Mereka adalah penguasa pasar properti domestik saat ini. CEO mereka sendiri yang akan memimpin presentasi karena nilai proyeknya yang fantastis."

"Bagus. Pastikan semua berkas sudah siap," perintah Alisha.

Di sofa pojok ruangan, Ghifari duduk tenang dengan headphone melingkar di leher. Matanya sesekali melirik pintu ruangan. Tangannya bergerak cepat di atas tablet, menyusup ke dalam jadwal tamu gedung. Ia melihat sebuah nama yang langsung membuat keningnya berkerut. Fardan Raffasyah.

"Paman Lucas, ada tamu yang tidak menyenangkan akan datang," bisik Ghifari.

Sebelum Lucas sempat bertanya, pintu ruang rapat terbuka lebar. Dua orang pria mengenakan setelan jas mahal melangkah masuk. Pria di depan memiliki aura yang sangat dominan, dingin, dan matanya sekeras batu es.

Alisha berdiri untuk menyambut tamunya. "Selamat datang, saya Alisha Husnah dari Henry Cor—"

Kalimat Alisha terputus. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Map yang ia pegang terlepas, jatuh menghantam lantai hingga kertas-kertas di dalamnya berhamburan. Di hadapannya, berdiri pria yang selama enam tahun ini ia hapus dari ingatannya.

Fardan Raffasyah mematung di ambang pintu. Matanya yang biasanya tajam kini melebar penuh guncangan. Ia menatap wanita berhijab di depannya dengan tatapan tidak percaya. Suaranya tercekat di tenggorokan, hanya mampu membisikkan satu nama yang selama ini menjadi racun dalam hidupnya.

"Alisha?"

Suasana ruangan mendadak menjadi sangat kaku. Para karyawan saling berpandangan bingung, sementara Lucas sudah berdiri siaga di samping Alisha.

"Maaf, Tuan Fardan. Apa Anda mengenal pimpinan kami?" tanya Dina ragu-ragu.

Fardan tidak menjawab. Langkahnya maju satu tindak, seolah ingin memastikan bahwa sosok di depannya bukan sekadar halusinasi. "Enam tahun, Alisha. Enam tahun kau menghilang dan sekarang kau muncul seperti ini?"

Alisha menarik napas dalam, berusaha mengumpulkan kembali sisa kekuatannya. Ia membungkuk singkat untuk mengambil kertas yang berantakan, dibantu oleh Lucas. "Maaf, Tuan Raffasyah. Sepertinya ada kesalahpahaman. Saya di sini sebagai perwakilan Henry Corp untuk membahas bisnis. Mari kita bersikap profesional."

"Profesional? Kau lari meninggalkan surat cerai dan sekarang memintaku profesional?" suara Fardan mulai meninggi, penuh dengan nada benci yang bercampur dengan rasa sakit yang mendalam.

Tiba-tiba, sebuah suara kecil namun sangat tenang memecah ketegangan.

"Tuan, suaramu terlalu tinggi. Anda sedang berada di kantor ibuku, bukan di pasar."

Fardan mengalihkan pandangannya ke arah sofa. Di sana, seorang bocah laki-laki berdiri dengan tangan bersedekap. Bocah itu mengenakan kemeja kecil yang rapi, menatap Fardan dengan tatapan yang sangat mirip dengan cara Fardan menatap musuh-musuh bisnisnya.

Fardan merasa seperti melihat cermin masa kecilnya. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat melihat Alisha. "Siapa... siapa anak ini?"

Alisha segera menarik Ghifari ke belakang tubuhnya. "Dia putraku. Dan kehadirannya bukan urusanmu."

"Putramu?" Fardan tertawa getir, matanya kembali menatap Alisha dengan kemarahan yang meluap. "Berapa usianya? Siapa ayahnya? Apa kau kabur dulu untuk hidup bersama pria lain dan menghasilkan anak ini?"

Ghifari keluar dari balik punggung Alisha sebelum ibunya sempat menjawab. Ia menatap Fardan tanpa rasa takut sedikit pun. "Ibuku tidak butuh pria lain untuk menjadikanku sehebat ini. Dan jika Anda datang hanya untuk membuat Bundaku sedih, lebih baik Anda pergi. Aku baru saja membatalkan otorisasi parkir mobil Anda di gedung ini melalui sistem pusat. Satpam akan segera menderek mobilmu dalam tiga menit."

Fardan tertegun. Ia melirik jam tangannya, lalu beralih pada asistennya yang baru saja menerima panggilan telepon dengan wajah panik. "Tuan, sistem kantor kita juga mengalami glitch mendadak. Semua layar di kantor pusat menampilkan gambar tumpukan sampah."

Fardan kembali menatap Ghifari. Anak itu hanya menaikkan satu alisnya, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sisi tabletnya dengan tenang.

"Alisha, apa yang kau ajarkan pada anak ini?" tanya Fardan dengan suara bergetar.

"Aku mengajarkannya untuk melindungi apa yang menjadi miliknya, Tuan Raffasyah," jawab Alisha dingin. "Sekarang, silakan duduk jika ingin membahas proyek. Jika tidak, pintu keluar ada di sebelah sana."

Fardan mengepalkan tangannya. Ia duduk dengan paksa di kursi seberang Alisha, namun matanya tidak lepas dari Ghifari. Ada sejuta pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Enam tahun penuh kebencian yang ia pelihara kini mulai goyah oleh tatapan tajam seorang bocah yang memiliki mata yang persis sama dengannya.

Pertemuan yang seharusnya menjadi kerja sama bisnis itu kini berubah menjadi medan perang penuh emosi, di mana sang pewaris kecil baru saja menunjukkan taring pertamanya di depan sang ayah kandung.

1
Amy
coba ganti panggilannya kaka othor, masa suami istri tdak ada romantis2nya
Lali Omah: iy betul ganti donk thorrr sedikit romantis gt biar seneng bacanya
total 1 replies
Lia siti marlia
wel wel wel di tunggu pa alex🤣
Linda Muslimah: Seru lanjut kak 🤭
total 1 replies
Tata Hayuningtyas
jgn kelamaan up nya thor 🤭
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan ga bertele2
Amy
Cobalah terbuka alisha, karna seapik apapun kau menyembunyikan masalah, ada anakmu yg super, bisa membaca setiap masalah🤭
Lia siti marlia
untung ada gifari apapun yang di sembunyikan ibunya pasti akan ketahuan olehnya 😄👍
Lia siti marlia
sayng banget yah ayah hrnry sama alisha dan gifari saking sayang nya semua sudah di persiapkan secara matang👍
Lia siti marlia
lucu kamu fardan .....aduh gifari sampai kamar mamjmu di sadapnya nanti kalau mamahmu sama ayahmu lagi bikin adek buat kamu kamu jangan ngintpnya 🤭
Lia siti marlia
semangat fatdan💪
Uba Muhammad Al-varo
karma dibayar lunas dan langsung di terima Maya dan ibunya
Uba Muhammad Al-varo
Fardan........ inilah perjuangan sesungguhnya baru dimulai

perjuangan
Uba Muhammad Al-varo
Fardan ditinggal pergi oleh Alisa dan Ghifari 😭😭😭
Uba Muhammad Al-varo
good 👍👍👌 Fardan kamu tegas jangan kamu mau dikibulin melulu oleh ibu dan kakak mu
Uba Muhammad Al-varo
baru deh melek matanya Fardan setelah selama ini merem karena diselimuti kelicikan ibu dan Sherly
Uba Muhammad Al-varo
good job Ghifari........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
kemenangan sementara ditangan Ghifari tapi perang ini belum usai /Hey//Hey/
Uba Muhammad Al-varo
pertarungan akan dimulai antara bocah dan CEO dingin 🤔🤔🤔
ceuceu
Anak Maya berapa kok ga ada?
tapi di sebutkan anak anak maya
Uba Muhammad Al-varo
Ghifari.........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
fardan kata CEO tapi kena ogeb 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!