Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengarahan martin
Kamis Sore itu, suasana kafe di sudut kota terasa lebih tenang dari biasanya. Di salah satu meja bundar yang agak tersembunyi, Martin duduk dengan kacamata hitam yang ia sangkutkan di kerah kemejanya.
Ia baru saja mendarat, masih membawa aroma maskulin ibu kota yang sibuk, namun sorot matanya tetap sejuk dan penuh pemahaman.
Di depannya, aku dan Rain duduk bersisian dengan kecanggungan yang kental.
Insiden "sidang" foto tadi malam masih menyisakan rona merah di pipiku, sementara Rain terus memainkan kunci motornya, menghindari kontak mata.
Martin menyesap kopinya, lalu menatap kami berdua bergantian. Ia tidak tertawa atau menggoda seperti Cinta. Ia justru bersikap sangat dewasa.
"Tin, ini gila. Mereka pikir foto itu pre-wedding," keluhku sambil menangkup wajah. "Aku tidak enak pada Rain. " ucapku lirih, sedikit melirik padanya."Dia terseret dalam obsesi keluargaku."
Martin meletakkan cangkirnya. "Dengar, aku tidak akan menyuruh kalian berpura-pura pacaran, apalagi melakukan sandiwara picisan seperti nikah kontrak. Itu bukan gaya kita. Kita bertiga adalah sahabat yang saling memahami rahasia masing-masing, bukan?"
Ia memajukan posisi duduknya, menatap Rain dengan serius. "
Kalian berdua sedang terhimpit. Rain dengan desakan sakit neneknya dan kamu, Ra... dengan ketakutanmu akan kehilangan jati diri dalam pernikahan dan juga gangguan kecemasan ibumu yang semakin parah, bahkan mungkin sampai harus berteman dengan obat psikiater jika kamu konsisten melajang sampai tua. Kenapa kalian tidak mengambil sisi yang menguntungkan saja?. Untuk menyelamatkan masalah yabg ada tepat didepan mata dulu."
Aku dan Rain serentak menoleh.
"Maksudmu?"
"Gunakan situasi ini sebagai 'ruang bernapas'. Jangan dibantah, tapi jangan juga dipalsukan. Biarkan keluarga kalian melihat apa yang ingin mereka lihat untuk sementara waktu, agar tekanan itu mereda.
Kalian bisa saling menjadi perisai tanpa harus terikat janji yang mematikan jati diri," jelas Martin tenang.
Ia kemudian menyandarkan punggungnya, menatapku dengan tatapan yang sangat tulus.
"Jika Rain memang tidak bersedia atau merasa ini terlalu berat, aku yang akan maju. Aku akan berdiri di sampingmu sebagai calon suami di depan keluargamu. Aku bisa membuang kesan 'model' atau sisi kemayuku untuk sesaat demi melindungimu."
Martin terdiam sejenak, suaranya melunak. "Tapi kalian tahu prinsipku. Aku tidak bisa jika sampai harus benar-benar menikah denganmu, Ra. Aku hanya akan menikah sekali dengan wanita yang benar-benar kucintai, atau tidak sama sekali.
"Bagiku, kamu adalah belahan jiwaku—sebagai saudara, sebagai sahabat. Dan aku tidak ingin merusak itu dengan pernikahan tanpa rasa yang seharusnya. Kecuali posisiku terdesak"
Rain yang sejak tadi diam, akhirnya mendongak.
Ia menatap Martin, lalu beralih menatapku. Ada kilat tanggung jawab yang muncul di matanya. Sepertinya, tawaran Martin untuk "menggantikannya" justru memicu sesuatu dalam diri Rain.
"Tidak perlu, Tin," potong Rain cepat, suaranya lebih mantap dari sebelumnya.
"Ini masalahku juga. Aku yang membiarkan kesalahpahaman itu tumbuh semalam, dan aku tidak akan membiarkan Ayyara menghadapi keluarganya sendirian atau bersamamu."
Martin tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang terukur.
Ia tahu persis bagaimana cara memancing keberanian Rain.
"Bagus," ucap Martin singkat. "Jadi, rencananya sederhana: Besok di resepsi Bian, kalian cukup hadir bersama. Kalian tidak perlu berbohong, cukup biarkan waktu yang bekerja sementara kalian mencari solusi yang lebih permanen. Anggap saja ini kerja sama tim untuk menjaga kewarasan masing-masing."
Kami bertiga sepakat untuk saling menjaga, memanfaatkan situasi yang ada tanpa kehilangan prinsip pribadi kami.
Lalu aku menatap Martin lekat-lekat, rasa penasaran yang sejak tadi kupendam akhirnya tumpah juga. Di tengah rencana gila untuk resepsi Bian, ada satu hal yang terus mengusik logikaku: bagaimana bisa Martin setenang itu mendengar pengakuan Rain tentang time travel?
"Tin," panggilku pelan.
"Kenapa kamu tidak bertanya lebih banyak soal cerita Rain? Apa kamu tidak merasa itu gila? Atau kamu memang percaya begitu saja tanpa syarat?"
Martin menyesap kopinya, senyumnya tipis namun sarat akan makna. "Ra, bahkan jika kalian bilang kalian berasal dari kahyangan pun, aku tidak akan bertanya."
Ia terdiam sejenak, menatap butiran uap yang naik dari cangkirnya. "Semenjak kalian menerimaku dengan tangan terbuka dan menjadi sahabatku, aku sudah berada di fase antara tidak percaya namun juga sangat mempercayainya.
Perasaan yang aneh, tapi nyata. Bagiku, tidak peduli kalian berasal dari masa depan atau bukan, perasaanku tetap sama. Yang penting adalah kita saling memiliki dan berbagi kehidupan saat ini."
Aku tersentak. Kalimatnya barusan menyimpan sesuatu yang lebih dalam. "Maksudmu... menurutmu aku juga berasal dari masa depan?" tanyaku dengan suara yang hampir berbisik.
Martin tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus. "Kamu percaya pada cerita Rain tanpa keraguan sedikit pun, Ra. Bukankah itu berarti kalian adalah manusia yang sama, atau setidaknya berasal dari dunia yang sama?"
Ia memajukan posisi duduknya, menatapku dan Rain bergantian. "Sejak pertemuan kita di kafe itu, aku sudah merasa kalian bukan sekadar anak kuliahan biasa. Cara kalian bicara, cara kalian memandang masalah... kalian terlalu dewasa untuk usia itu."
Martin menyandarkan punggungnya, sorot matanya menerawang. "Apalagi sejak kalian pingsan bersamaan waktu itu. Saat aku menelepon, kalian benar-benar terasa seperti makhluk asing yang baru mendarat.
Ada aura yang tidak bisa dijelaskan dengan logika manusia biasa seperti aku. Jadi, mau kalian penjelajah waktu atau bukan, itu tidak mengubah fakta kalau kalian adalah orang-orang paling berharga di hidupku sekarang."
Aku tertegun, melirik ke arah Rain yang juga tampak terdiam mendengar analisis tajam Martin. Ternyata, selama ini Martin tidak butuh bukti ilmiah atau penjelasan panjang lebar. Ia hanya menggunakan instingnya sebagai seorang sahabat.
"Jadi, kita bertiga adalah kumpulan orang-orang 'asing' yang saling menemukan, ya?" gumamku pelan. Martin mengangguk mantap.
--
Suasana di kafe yang tadinya hangat mendadak membeku saat ponsel Rain bergetar hebat di atas meja.
Nama "Nenek Elia" muncul di layar. Rain melirikku dan Martin sejenak, lalu memutuskan untuk menyalakan loudspeaker agar kami semua bisa mendengar, seolah ia butuh saksi untuk kegilaan yang mungkin akan terjadi.
"Halo, Rain?" suara Nenek Elia terdengar jernih, penuh wibawa namun menyimpan desakan yang tak bisa dibantah. "Nenek mau kasih tahu apa yang baru saja kami bahas di sini. Kamu sedang sama Ayara, kan? Tolong diajak dengar juga."
Aku menahan napas, mengerutkan kening ke arah Martin yang hanya mengangkat bahu pelan.
"Menurut diskusi keluarga besar semalam, Ayara ini anak pertama. Sangat bagus kalau dia yang menikah pertama kali sebelum adik - adiknya.
Apalagi,
sekarang Nenekmu, Rain, kondisinya sedang sering sadar. Beliau terus menanyakan cucu kesayangannya," lanjut Nenek Elia.
Raut wajah Rain mulai tak tergambarkan. Ia menatapku dengan tatapan minta maaf, sementara aku merasa oksigen di sekitarku mendadak menipis.
"Nenek tahu, Ayara itu bukan tipe wanita yang suka pesta mewah dan hura-hura. Nenek bisa melihat jati dirinya. Pesta intimate dengan beberapa orang terdekat yang sangat sakral, lalu diakhiri makan bersama... itu pasti yang dia mau. Jadi, cobalah bicarakan ini baik-baik dengan Ayara, Rain," ucap Nenek Elia mantap.
Aku tersentak.
Bagaimana bisa Nenek Elia membaca isi kepalaku seakurat itu? Beliau benar, aku memang benci keramaian yang tidak perlu.
"Ayara itu wanita yang mirip seperti Nenek waktu muda," suara Nenek Elia melunak, namun tetap serius.
"Keluarganya pun sudah Nenek ajak diskusi. Menurut mereka, Ayara memang sedikit 'nyeleneh' dibanding gadis-gadis di desanya yang suka keglamoran. Dia lebih suka esensi daripada gengsi."
Nenek Elia terdiam sejenak, memberikan jeda yang terasa sangat berat bagi kami bertiga.
"Rain, Nenek minta dengan serius. Segera putuskan bersama Ayara sore ini, baru hadapi kami semua malam nanti. Karena Nenek pikir, mungkin dengan acaranya dirangkap saja biar praktis ayyara akan merasa prosesinya tak terlalu melelahkan. Gadis seperti dia biasanya tidak suka buang-buang waktu, lebih suka yang intim dan bermakna."
Aku, Rain, dan Martin saling berpandangan dalam keheningan yang menyesakkan. Martin menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan tawa atau mungkin rasa terkejutnya.
"Rain, kamu sudah mengerti atau belum?" desak Nenek Elia lagi. "Jangan lupa, sore ini kalian beli perhiasan berdua. Nenek sudah kirim dananya ke rekeningmu. Itu uang yang dulu dikumpulkan Nenek ane (nenek kandung rain) dan dititipkan pada kami khusus untuk pernikahanmu. Gunakan dengan baik."
Klik.
Sambungan terputus.
Keheningan di meja kami terasa begitu pekat sampai-sampai suara denting sendok di meja sebelah pun terdengar seperti ledakan. Rain menatap ponselnya yang masih menyala, lalu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara bingung, pasrah, dan tanggung jawab yang tiba-tiba meluap.
"Uang perhiasan sudah masuk," gumam Rain pelan, suaranya serak. "Dan kita diminta memutuskan... sore ini."
Martin berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Wah, Ra... sepertinya Nenek Elia benar-benar sudah menyiapkan panggung untukmu. Acara intimate, perhiasan warisan, dan 'strategi rangkap' agar tidak buang waktu. Itu... sangat Ayyara sekali, bukan?"
Aku menyandarkan punggungku ke kursi, menatap langit-langit kafe dengan perasaan yang benar-benar kalut. Di satu sisi, aku merasa terharu karena Nenek Elia memahamiku sedalam itu.
Namun di sisi lain, aku merasa seperti sedang ditarik oleh arus yang sangat kuat menuju sebuah dermaga yang selama tiga puluh empat tahun ini selalu kuhindari: Pernikahan.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Martin hanya bisa melirik bergantian ke arahku dan Rain, mengamati dua wajah yang tampak seperti baru saja dijatuhi vonis tanpa pengadilan.