Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah rumah.
Setelah Rania berpikir bolak balik, minta saran dari bu Arini dan tuan Aditama serta beberapa temannya, akhirnya Rania memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Hal tersebut di sambut gembira oleh tuan Aditama yang sudah menyiapkan rumah serta tempat usaha yang baru untuk Rania.
Toko roti di serahkan ke pada salah satu karyawan yang sudah lama dan juga bisa di percaya, sedangkan rumah yang saat ini masih di tempati akan di titipkan pas orang kepercayaan nya untuk di rawat, jika sekali waktu Rania berkunjung ke Kalimantan tidak usah menginap di hotel.
Persiapan kepindahan sudah seratus persen. Yang paling utama, Rania mempersiapkan twins, yang saat ini sudah berumur delapan bulan, sudah mulai berceloteh dan merangkak mungkin saja akan belajar berjalan karena sangat aktif bisa mendukung twins.
Semuanya sudah siap, tuan Aditama mengirimkan beberapa anak buah nya untuk membantu Rania pindahan. Rania hanya membawa barang barang yang sekiranya dibutuhkan saja, pakaian pun hanya sebagian namun yang paling banyak adalah milik twins, Rania tidak ingin ada satupun yang ketinggalan.
Bu Arini membawa kopernya, kedua suster membawa barang barang milik twins karena milik suster sudah di bawa oleh anak buah tuan Aditama. Rania hanya membawa satu koper pakaian dan beberapa dokumen penting.
Rania hanya berpikir kalau mereka akan naik pesawat komersil saja, karena tuan Aditama tidak dak mengatakan akan memakai private jet miliknya. Tiket pun mungkin sudah fi bayar tuan Aditama sehingga melarang Rania membeli tiket pesawat.
Namun saat sampai di bandara, Rania merasa heran mengapa mereka di arahkan ke pintu lain bukan pintu biasa para penumpang akan naik pesawat. Dan tempat pesawat nya pun terpisah.
Saat Rania masuk ke dalam peswat, interiornya sangat bagus berbeda dengan pesawat komersial biasanya. Rania menjadi heran kemudian bertanya pada pramugari yang sedang bertugas.
"Maaf mba, saya mau tanya? "
"Boleh, mau tanya apa? "
"Pesawat ini kenapa berbeda sekali dengan pesawat yang biasa saya naiki.? "
"Oh itu, karena pesawat ini jenis pesawat pribadi yang di miliki oleh tuan Aditama. " Jelasnya.
Rania terkejut mendengarnya, dalam hati Rania bertanya sekaya apakah tuan Aditama?
Pesawat sudah mulai landing, dan kini sudah berada di atas kota Pontianak, Rania menatap ke bawah melihat kota yang semiskin lama semakin kecil, ada kesedihan dalam hati Rania meninggalkan kota yang pernah menjadi tempat pelarian hidupnya yang penuh dengan luka hati.
Tidak terasa pesawat sudah sampai di bandara, Rania dan rombongan bersiap siap untuk turun, di bantu pramugari dan juga anak buah tuan Aditama, Rania membawa tas yang berisi dokumen penting.
Ternyata tuan Aditama sudah datang untuk menjemput Rania dan keluarganya.
"Bagaimana perjalanan bu Arini, Rania? " tanya tuan Aditama setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
"Alhamdulillah baik dan lancar, cuaca pun bagus. " Jawab bu Arini.
"Kita langsung ke rumah baru pah? " tanya Rania
"Iya, papah sudah mempersiapkan rumah baru untuk cucu papah, mudah mudahan mereka suka dengan suasana nya. "
"Aamiin pah, semoga mereka tidak rewel. "
"Terima kasih banyak lho tuan sudah banyak sekali membantu putri saya. " Bu Arini basa basi.
"Tidak apa apa, jangan sungkan bu, Rania saya anggap sebagian putri saya juga, karena Rania sudah melahirkan penerus keluarga saya. "
" Suatu kebahagiaan bagi saya, ternyata Leon mempunyai seorang putra yang selama ini saya nanti kan, seandainya Rania mau menikah dengan Leon, saya sangat bahagia sekali. "
"Mungkin ke depannya, jika memang jodoh, pasti akan bertemu, biarkan semesta yang akan mempertemukan keluarga mereka. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendo'akan saja yang terbaik untuk putra putri kita. "
"Iya bu, itu yang kita harapkan. "
Tidak terasa, perjalanan satu setengah jam akhirnya sampai juga di depan halaman rumah Rania yang baru. Rumahnya dua lantai sangat besar, gerbangnya menjulang tinggi, halamannya luas di tumbuhi berbagai macam bunga dan juga pohon mangga dan rambutan.
"Pah ini rumah Rania? " tanya nya seperti tidak percaya.
"Iya ini rumahnya, maaf ya Ran, papah memberikan rumah yang kecil. "
"Rumah ini sangat besar sekali pah, bukan kecil. "
"Mungkin buat kamu ini kecil, tapi untuk ukuran papah rumah ini kecil. "
Rania tidak mau berdebat lagi, dirinya sangat bersyukur karena bisa menempati rumah yang sangat besar sekali menurut nya.
Rania dan ibunya turun dari mobil, mengikuti tuan Aditama, berjalan menuju teras rumah. Pintu rumah Terbuka, seorang wanita paruh baya dan seorang wanita masih terlihat muda menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang tuan, selamat datang nyinya, selamat datang nona. " sambut ke duanya.
Rania yang tidak terbiasa menerima sambutan seperti itu merasa sedikit risi, begitu juga bu Arini. Namun demi menghormati tuan Aditama, mereka berdua hanya diam saja. Kedua wanita tadi mempersilahkan semuanya masuk.
Masuk ke dalam rumah di suguhi pemandangan menakjubkan, rumah yang besar tampak dari luar, dan saat masuk ke dalam rumah terlihat sangat mewah dengan perabotannya yang terlihat sangat mahal, bagi bu Arini dan Rania yang biasa hidup sederhana, semuanya terlihat mewah.
"Ayo silakan duduk dulu. " perintah tuan Aditama.
"Terima kasih tuan, pah. "
"Bagaimana menurut kalian, rumah ini. "
"Sangat besar dan mewah pah. "
"Apa kamu suka? "
"Suka sekali. "
"Setelah makan siang kamu bisa menjelajahi rumah ini. Art yang tadi akan mengantar kamu ke kamar, khusus untuk cucu papah kamarnya sudah di desain sesuai dengan karakter masing masing. "
"Maksud papah kamar mereka terpisah? "
"Iya, biar mereka terbiasa sendiri sendiri, nanti di temani babby sitternya. "
"Maaf tuan, makan siang sudah siap "
"Baik, terima kasih. "
"Ayo kita makan siang dulu. "
Rania dan bu Arini serta tuan Aditama makan siang bersama di rumah baru Rania. Makan siang terasa hening, hanya suara sendok dan garpu saja yang terdengar.
Setelah makan siang selesai, tuan Aditama di temani Rania dan juga bu Arini minum kopi dan teh. Sementara bekas makan di bereskan oleh para art. Bu Arini yang biasanya selalu melakukan nya sendiri, sedangkan sekarang harus di layani. Dirinya merasa tidak enak.
"Maaf bu Arini, mulai hari ini semua keperluan ibu akan dilayani oleh art, itu sudah menjadi tugas mereka. " tuan Aditama seperti mengerti kegelisahan bu Arini.
"Iya maaf tuan, biasanya semua saya kerjakan sendiri, sedangkan sekarang sudah ada yang mengerjakan. Lalu saya harus bagaimana? "
"Ibu bisa menanam bunga atau ikut arisan ibu ibu komplek. " Jawab tuan Aditama terkekeh.
Ibu Arini tertawa pelan menanggapi ucapan Tuan Aditama, Rania hanya menggelengkan kepala melihat ke absurd an papahnya. Obrolan santai mereka berlangsung lama, Andai saja tidak ada dering telpon dari tuan Aditama mungkin saja obrolan sampai malam.
Tuan Aditama pamit karena ada telpon dari relasi bisnisnya, tinggal Rania dan Bu Arini yang masih di ruang tamu.
"Ran, ibu mau istirahat dulu, ibu duluan ya. "
"Iya bu, Ran juga mau istirahat dulu. Rasanya sangat lelah padahal perjalanan juga ga lama banget. "
"Gimana twins, ga rewel kan di rumah baru? " tanya bu Arini.
"Seperti nya ga bu, mbanya ga laporan. Tapi Ran sebentar ke kamar twins. kangen juga di tinggal beberapa jam padahal satu rumah. " Rania terkekeh.
Bu Arini naik ke lantai dua tempat kamarnya berada. Karena di lantai dua khusus kamar utama dan kamar tamu terletak di lantai bawah.
Rania menyusul bu Arini, Rania masuk ke dalam kamar khusus untuk bermain twins yang sedang bermain sambil duduk di atas karpet yang empuk, tuan Aditama memprioritaskan cucunya agar nyaman.
"Hai anak-anak mamah, lagi apa sih, anteng banget mainnya. " sapa Rania
Twins menjawab dengan celoteh khas anak bayi, yang hanya mereka saja yang tahu artinya. Rania tertawa bahagia melihat kedua anaknya tumbuh sehat dan bahagia walau tanpa kasih sayang papah nya.
"Twins sudah makan mba? " tanya Rania.
"Sudah bu, tadi makannya lahap banget. "
"Tadi rewel ga pas kita sampai di rumah ini? "
"Alhamdulillah mereka ga rewel. Malah terlihat sangat senang karena melihat dekorasi kamarnya masing masing. "
"Syukur lah kalau mereka tidak rewel. "
Rania mensyukuri kedua anaknya tidak rewel dengan kepindahan mereka ke rumah baru.
"Oh iya, kalau kalian pergi jalan jalan ke taman, jangan sampai lengah ya, saya tidak ingin ada orang yang mengenal kembar, karena wajah kem ar sangat mirip kakeknya, beliau pengusaha terkenal sehingga akan banyak orang yang mengenalnya, dan hal itu akan berimbas pada kembar. "
"Baik bu, akan saya perhatikan. "
"Tapi bu, rumah ini halamannya sangat besar, halaman belakang dan samping juga sangat luas, rasanya hanya bermain di sana kembar pasti akan mau. "
"Iya mungkin itu lebih baik untuk menjaga keamanan kembar. Saya tidak ingin sampai terjadi apa dengan kembar."
"Saya akan usahakan agar kembar tidak dak sampai terlihat oleh orang lain. "
"Saya percaya dengan kalian berdua. Walau saya sendiri tidak tahu sampai kapan akan menyembunyikan kembar dari dunia luar. Bagaimana pun juga member perlu berinteraksi dengan lingkungan luar, cepat atai lambat. " kalimat terakhir Rania ucapkan setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Kalian sudah makan? "
Dengan jawabannya malu dan segan keduanya menjawab belum, dan Rania menyuruh mereka untuk makan dulu sebelum kembar minta untuk bermain lagi.
"Lebih baik kalian makan saja dulu, di belakang ada art, minya saja makan dan minta juga untuk melihat kamar kalian berdua di sebelah mana, karena jika malam kembar tetap akan tidur dengan saya. "
"Baik bu, kami permisi dulu."
"Kalau kalian lelah, lebih baik istirahat saja dulu, biar kembar dengan saya. Sebelum saya besok sibuk dengan pekerjaan, saya akan menemani mereka dulu. Nanti kalau saya perlu nanti kalian saya panggil. "
"Baik bu, terima kasih. " Kedua nya berjalan keluar kamar bermain untuk makan dan istirahat sebentar sebelum Rania memanggil mereka untuk mulai menjaga mereka lagi.
Kedua anak nya sangat menggemaskan, apalagi saat mereka berbicara dengan tidak jelas, bibit nya yang lucu dengan pipi yang montok, berkali kali Rania mencium pipi keduanya. Walaupun mereka terlihat marah karena tidak ingin di ganggu saat main, tapi Rania terus saja menggoda mereka.
Waktu sudah sore, kembar pun tampaknya sudah lelah dan ingin tidur, Rania mengambil asi dari tempat penyimpanan lalu menghangatkan nya, kemudian keduanya minum asi tidak lama kembar tidur, dengan perlahan kembar di pindahkan ke kamar Rania agar mereka bisa tidur bersama nya, karena esok hari mungkin saja tidak akan ada kesempatan lagi untuk tidur siang bersama kembar, karena kesibukan dengan aktivitas nya.
Bu Arini membuka matanya, sedikit bingung dengan kamarnya yang bari hati ini di tempati. rasanya masih terasa sangat asing, namun lama kelamaan akhir ya bu Arini mulai terbiasa dengan kamar barunya.
Bangun dari tempat tidur, duduk sebentar di pinggir tempat tidur untuk memulihkan kesadaran nya, setelah beberapa bu Arini bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Lima belas menit kemudian keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan segar. Mengganti pakaian nya kemudian sholat ashar, dalam sholatnya bu Arini mengucapkan syukur yang tidak terhingga, kehidupannya seperti roller coaster.
Niat hati meninggalkan Jakarta ke Kalimantan untuk menghindari hal buruk yang menimpa Rania, namun takdir berkata lain, mereka kembali ke Jakarta namun dengan keadaan yang lebih baik dan juga lebih terhormat.
Selesai sholat, bu Arini turun ke lantai satu untuk mencoba menjelajah rumah barunya, ruangan bawah tampak sangat sepi sekali, tapi dari arah belakang terdengar suara orang yang sedang bercengkrama, bu Arini berjalan ke arah tempat apra art berkumpul. Ruangan nya terpisah agak jauh di belakang, di sana terdapat tiga kamar untuk tinggal para art. Dari kejauhan tampak empat orang perey yang dua adalah babby sitter cucunya dan yang dua lagi art yang tadi siang menyambutnya.
Dan terlihat seorang laki laki paruh baya, entah security atau entah apa pekerjaan nya bu Arini tidak bisa menebaknya.
Bu Arini mendekati mereka, salah seorang dari mereka melihat kedatangan nya, obrolan mereka mendadak berhenti dan mereka berdiri menunduk menaruh hormat pada bu Arini.
"Duduk saja, tidak usah sungkan kita sama sama manusia tidak ada bedanya. " ujar bu Arini.
"Maaf nyonya kami jelas berbeda dengan anda, kami di sini bekerja sedangkan nyonya majikan kami yang harus kami hormati. " ujar art yang lebih tua.
"Hanya nasib mereka saja yang membedakan, kalian berdua bisa tanya pada babby sitter cucu saya bagaimana saya memperlakukan mereka, kita semua sama di mata Tuhan. "
Kedua babby sitter hanya tersenyum mendengar pernyataan dari bu Arini karena membenarkan ucapannya, karena selama mereka bekerja dengan Rania dan ibunya, mereka berdua memperlakukan merekayasa seperti keluarga tidak ada selatan di antara mereka. Namun kedua babby sitter itu tahu diri di mana posisi mereka.
"Bapak ini kerja di sini sebagai apa ya? " tunjuk bu Arini.
"Maaf nyonya, saya sebagai tukang kebun. "
"Semuanya sudah lama bekerja di rumah ini?"
"Kami baru satu bulan bekerja di rumah ini, setelah rumah ini di beli, tuan Aditama meminya saya untuk bekerja di sini. " Jawab bu Narsih.
...****************...