Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecel Lele
Matahari sore menyengat kulit saat Shakira dan Nina melangkah keluar dari lobi gedung fakultas. Shakira baru saja merasa sedikit lega setelah draf revisinya diterima—meski dengan catatan setebal kamus—oleh Pak Kusuma. Namun, kelegaan itu menguap seketika saat matanya menangkap pemandangan di depan gerbang utama kampus.
Sebuah motor besar dengan knalpot yang dimodifikasi sedemikian rupa terparkir tepat di tengah jalan masuk. Di atasnya, seorang cowok dengan jaket denim belel dan celana jins belepotan sedikit oli duduk dengan gaya super santai. Begitu melihat sosok Shakira, cowok itu melepaskan kacamata hitamnya dan melambai dengan penuh semangat seolah sedang menyambut pemenang olimpiade.
"SHAKIRA! ISTRIKU! DI SINI!" teriak Zidan tanpa tahu malu.
Nina yang berdiri di samping Shakira langsung meledak dalam tawa geli. "Ra, sumpah, suami lo bener-bener definisi 'Go Public' tanpa rem. Lihat tuh, anak-anak angkatan bawah pada ngeliatin semua."
Wajah Shakira memerah padam, antara malu dan ingin sekali membenamkan diri ke dalam aspal. Ia berjalan dengan langkah cepat, hampir berlari, menuju Zidan. Begitu sampai di depan motor, ia langsung menyemprot suaminya itu.
"Aku kan udah bilang jemput di gerbang belakang! Ngapain malah di sini sih!" desis Shakira, suaranya tertahan tapi penuh penekanan.
Zidan justru nyengir lebar, menunjukkan lesung pipitnya yang menyebalkan. Ia turun dari motor dan merapikan rambut Shakira yang sedikit berantakan terkena angin. "Loh emangnya kenapa? Aku kan cuma mau jemput istri aku, masa lewat gerbang belakang! Rugi dong nanti gak ada yang tau kalo kamu udah punya suami ganteng begini."
"Zidan!" Shakira memukul lengan Zidan dengan bundel laporannya. "Ini kampus, bukan bengkel lo! Liat tuh, semua orang ngeliatin!"
"Iya sayang, kenapa? Biar mereka liat. Biar mereka tau kalau mahasiswi paling judes di Tata Boga ini udah sah jadi milik mekanik paling keren se-kecamatan," balas Zidan santai. Ia mengambil helm cadangan yang digantung di spion dan menyodorkannya pada Shakira.
"Kamu nyebelin!"
"Aku tau," jawab Zidan singkat dengan kedipan mata. "Ayo kita pulang. Perut aku udah konser nih dari tadi pagi gara-gara nungguin kamu selesai revisi."
Shakira mendengus, tapi ia tetap menerima helm itu. "Siapa yang mau masakin kamu sih? Tadi pagi kan udah aku masakin nasi goreng."
"Itu kan sarapan, Sayang. Sekarang udah jam makan sore. Aku mau kamu masakin aku pecel lele. Sambelnya yang pedas nampol ya, khas resep calon sarjana Tata Boga," ujar Zidan sambil naik kembali ke atas motornya.
"Gak. Aku capek. Beli aja di depan komplek," tolak Shakira ketus sambil naik ke boncengan motor dengan susah payah karena celana jins Zidan yang ia pakai masih terasa kaku.
"Nggak mau. Rasanya beda kalau bukan buatan istri sendiri. Ayo cepet sayang, laper nih. Kalau aku pingsan di jalan gara-gara kelaperan, nanti siapa yang jagain kamu dari garis khatulistiwa?" goda Zidan lagi.
Shakira terpaksa melingkarkan tangannya di pinggang Zidan—meski hanya memegang jaketnya—saat motor itu menderu keras. Nina yang masih berdiri di gerbang melambaikan tangan. "Hati-hati ya, Pengantin Baru! Semangat masak pecel lelenya, Ra!"
Sepanjang jalan, Zidan tidak henti-hentinya mengajak Shakira bicara, meskipun suaranya sering teredam angin dan deru knalpot.
"Ra! Nanti mampir ke pasar sebentar ya beli lelenya!" teriak Zidan.
"Hah? Apa?"
"BELI LELE!"
"Iya, iya! Berisik tau!"
Sesampainya di pasar, drama kembali berlanjut. Shakira yang terbiasa memilih bahan makanan dengan standar higienis tinggi harus berhadapan dengan Zidan yang asal pilih.
"Cari yang masih hidup, Dan! Yang gerakannya lincah, itu tandanya seger," instruksi Shakira saat mereka berdiri di depan ember besar penjual ikan.
"Ini udah lincah, Ra. Liat tuh, sampe nyipratin oli eh air ke muka aku," ujar Zidan sambil mencoba menangkap satu ekor lele dengan tangan kosong.
"Zidan, jangan pakai tangan kosong! Nanti dipatil!" teriak Shakira panik.
"Tenang, Sayang. Mesin motor yang panas aja aku pegang, apalagi cuma kumis lele. Nih, dapet satu yang gede!" Zidan mengangkat lele itu dengan bangga.
Shakira hanya bisa memijat pelipisnya. "Terserah kamu deh. Beli empat ekor aja cukup."
Setelah sampai di rumah, Shakira langsung menuju dapur. Ia melepas celana jins Zidan yang menyiksanya dan menggantinya dengan celana kulot yang lebih nyaman, lalu memakai celemek favoritnya. Zidan duduk di meja makan, memperhatikan setiap gerak-gerik Shakira dengan dagu yang ditumpu tangan.
"Kamu beneran mau masakin?" tanya Zidan, suaranya melunak.
"Katanya laper. Daripada kamu pingsan terus aku yang repot harus gotong kamu ke bengkel," sahut Shakira sambil mulai membersihkan lele dengan cekatan.
"Makasih ya, Sayang. Padahal aku tau kamu capek habis revisi sama Pak Kusuma."
Shakira terdiam sejenak. Tangannya yang sedang mengulek cabai berhenti. "Tau dari mana aku capek?"
"Ya taulah. Muka kamu kalau lagi pusing urusan kampus itu beda. Alisnya nyatu terus, kayak mau perang. Makanya aku jemput ke depan, biar kamu senyum dikit liat muka ganteng aku," Zidan nyengir lagi.
Shakira mendengus, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Ganteng dari mananya. Bau bensin gitu."
"Bau bensin ini yang bakal bangun rumah buat kita nanti, Ra," ucap Zidan pelan tapi penuh keyakinan.
Suasana dapur mendadak hening. Hanya terdengar bunyi ulekan sambal dan minyak goreng yang mulai panas di wajan. Shakira mulai menggoreng lele itu hingga garing keemasan. Aroma harum bumbu bawang dan jahe menyeruak, membuat Zidan berkali-kali menelan ludah.
"Wangi banget. Beda emang ya tangan mahasiswi Tata Boga," puji Zidan saat Shakira menyajikan piring berisi lele goreng dan sambal terasi yang masih mengepul di depan Zidan.
"Udah, makan. Jangan banyak omong," perintah Shakira. Ia sendiri mengambil piring kecil untuk ikut makan.
Zidan menyuap nasi dan secuil daging lele yang sudah dicocol sambal. Matanya langsung berbinar. "Gila! Ini enak banget, Ra! Sambelnya... bener-bener juara."
"Pedas nggak?"
"Pedas, tapi nagih. Kayak kamu."
Shakira hampir saja tersedak nasi. "Zidan! Bisa nggak sih makan tuh diem aja?"
Zidan tertawa puas. "Iya, iya. Habis ini aku yang cuci piring ya. Kamu istirahat aja, lanjutin revisinya."
Shakira menatap Zidan dengan heran. Cowok ini memang aneh. Di luar bisa sangat menyebalkan, tengil, dan memalukan, tapi di rumah bisa jadi sangat perhatian dengan caranya yang tak terduga.
"Beneran mau cuci piring?"
"Beneran. Sebagai imbalan pecel lele terenak di dunia. Tapi..." Zidan menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Shakira curiga.
"Tapi nanti malem gulingnya dikurangin satu ya? Kasihan gulingnya kedinginan di tengah-tengah terus," goda Zidan sambil mengedipkan sebelah mata.
Shakira langsung menyambar sepotong timun dan melemparkannya ke arah Zidan. "Nggak ada! Tetap ada garis khatulistiwa!"
Zidan tertawa terbahak-bahak, suaranya memenuhi ruang makan, membuat sore yang melelahkan bagi Shakira terasa sedikit lebih ringan. Meskipun ia tetap tidak akan mengakui, kalau ia mulai terbiasa dengan keberadaan cowok tengil itu di hidupnya.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo