Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Napas Seraphina semakin pendek, setiap tarikan terasa seperti melawan sesuatu yang menekan dari dalam tubuhnya. Dada yang sebelumnya hanya terasa sesak kini berubah menjadi nyeri yang perlahan menyebar, menahan udara yang seharusnya masuk dengan mudah. Tubuhnya yang tergeletak di lantai mulai kehilangan kekuatan sedikit demi sedikit, seperti sesuatu yang perlahan terlepas tanpa bisa ia tahan.
Jemarinya masih bergerak, meski lemah dan gemetar. Ia mencoba mengangkat tangannya, berusaha meraih sesuatu yang bisa ia jadikan pegangan, sesuatu yang bisa memastikan bahwa ia tidak benar-benar sendirian. Pandangannya kabur, namun bayangan sosok di hadapannya masih bisa ia kenali dengan sisa kesadarannya.
Kael berdiri paling dekat sekarang, jaraknya hanya beberapa langkah dari tubuhnya yang terbaring di lantai. Wajah anak laki-lakinya itu tetap sama, tidak menunjukkan perubahan, tidak memberikan isyarat apa pun yang bisa ia baca.
Seraphina mengumpulkan sisa tenaganya, mengangkat tangan itu lebih tinggi, mengarah ke arah Kael. Gerakannya lambat, berat, seolah setiap inci yang ia capai membutuhkan seluruh tenaga yang tersisa.
“Kael…”
Suaranya hampir tidak terdengar, hanya berupa hembusan napas yang terputus.
“Tolong… ibu…”
Jarak itu sebenarnya dekat, sangat dekat jika dilihat dari posisi mereka. Ujung jarinya hampir menyentuh tangan Kael, hanya tinggal sedikit lagi.
Namun di detik itu, Kael bergerak.
Bukan untuk menyambut.
Ia mundur satu langkah.
Gerakan itu kecil, tidak tergesa, tetapi cukup untuk membuat jarak itu kembali menjauh. Tangan Seraphina berhenti di udara, tidak menyentuh apa pun, tidak meraih siapa pun.
Tangannya menggantung sesaat sebelum akhirnya jatuh kembali ke lantai, kehilangan arah dan tujuan. Tubuhnya bergetar lebih kuat, namun kali ini bukan hanya karena racun yang menggerogoti tubuhnya.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang jauh lebih dalam.
Pandangan matanya mulai kosong, tetapi di dalam kepalanya, sesuatu mulai bergerak. Kenangan datang satu per satu, tanpa bisa dihentikan, tanpa bisa ia tolak.
Tangis pertama memenuhi ruang bersalin, suara kecil yang nyaring dan hidup. Seraphina yang terbaring lemah di ranjang hanya bisa menangis saat melihat bayi kecil itu untuk pertama kalinya, tubuhnya masih gemetar karena rasa sakit, namun hatinya dipenuhi kehangatan yang tidak bisa dijelaskan.
Lysandra kecil berada dalam pelukannya, begitu rapuh dan bergantung. Jemari kecil itu menggenggam jari tangannya dengan lemah, seolah mencari perlindungan yang hanya bisa ia berikan.
Seraphina tersenyum saat itu, membiarkan air matanya jatuh tanpa ditahan. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan menjadi pelindung, akan memberikan segalanya tanpa syarat.
Kenangan itu bergeser.
Suara tangis lain terdengar, lebih berat dan lebih kuat. Kael lahir dengan tangisan yang keras, seolah menolak dunia sejak awal, membuat Seraphina tertawa pelan meski air matanya masih mengalir.
“Dia akan menjadi kuat,” kata Darius saat itu.
Seraphina mengangguk tanpa ragu, mempercayai setiap kata yang diucapkan. Ia menggendong Kael dengan hati-hati, mengusap wajah kecil itu dengan penuh kasih, tanpa pernah membayangkan bagaimana semua akan berubah.
Kenangan lain muncul, saling bertumpuk tanpa urutan yang jelas.
Langkah kecil yang belum stabil, tangan kecil yang mencoba mencari keseimbangan. Lysandra kecil terjatuh saat mencoba berlari, dan Seraphina langsung menghampiri tanpa berpikir.
Ia mengangkat anak itu, memeluknya erat, menghapus tangisnya dengan sabar.
“Tidak apa-apa,” bisiknya saat itu. “Ibu ada di sini.”
Lysandra menangis di pelukannya, menggenggam bajunya seolah itu adalah tempat paling aman di dunia. Seraphina mengusap punggungnya perlahan, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan selalu ada untuk anaknya.
Kenangan itu kembali berubah.
Hujan deras turun tanpa henti, membasahi jalanan dan udara malam yang dingin. Kael kecil berdiri di depan gerbang sekolah, tubuhnya basah kuyup karena lupa membawa payung.
Seraphina datang terlambat hari itu, napasnya terengah saat akhirnya sampai. Ia masih mengingat rasa bersalah yang menghantamnya saat melihat anaknya berdiri sendirian.
Ia berlari, memeluk Kael erat, menyelimuti tubuh kecil itu dengan jaketnya sendiri.
“Maaf… ibu terlambat,” katanya waktu itu.
Kael tidak banyak bicara, tetapi ia membalas pelukan itu dengan erat. Dan bagi Seraphina, itu sudah cukup untuk membuatnya percaya bahwa ia masih dibutuhkan.
Kenangan itu berganti lagi.
Wajah Darius muncul dalam pikirannya, saat pertama kali ia menatap pria itu dengan penuh kepercayaan. Cara Darius berbicara lembut, cara ia menggenggam tangannya dengan keyakinan yang tidak pernah ia ragukan.
“Aku akan selalu di sisimu,” kata pria itu dulu.
Seraphina mempercayainya sepenuhnya, tanpa mempertanyakan sedikit pun. Ia menyerahkan segalanya, hatinya, hidupnya, masa depannya, tanpa berpikir bahwa suatu hari semuanya akan berbalik seperti ini.
Kenangan-kenangan itu datang dan pergi dengan cepat, seperti kilasan yang terlalu terang untuk ditahan. Setiap momen terasa nyata, terlalu dekat, hingga membuat kenyataan di hadapannya semakin sulit diterima.
Seraphina mengerjap pelan, air matanya terus mengalir membasahi lantai. Ia kembali melihat ke depan, mencoba fokus pada sosok-sosok yang masih berdiri di sana.
Darius.
Lysandra.
Kael.
Mereka tidak berubah, tidak bergerak, tidak menunjukkan tanda bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. Semua kenangan yang ia miliki tentang mereka terasa seperti bukan miliknya lagi, seperti bagian dari kehidupan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Atau mungkin ia yang tidak pernah benar-benar melihat.
Napasnya semakin melemah, dadanya hampir tidak bergerak. Setiap detik terasa lebih berat dari sebelumnya, seperti waktu yang sengaja diperlambat.
Ia mencoba berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar. Hanya pikirannya yang masih berjalan, lambat dan tersendat.
Ia memejamkan matanya sejenak, merasakan kesadaran yang mulai terbentuk dengan jelas. Bukan karena mereka tiba-tiba berubah, bukan karena dunia yang kejam, melainkan karena dirinya sendiri.
Ia terlalu percaya, terlalu yakin bahwa cinta yang ia berikan akan kembali dengan bentuk yang sama. Ia menutup mata terhadap hal-hal kecil yang seharusnya ia sadari sejak awal.
Senyum yang terlalu sempurna, tatapan yang terlalu dingin, jarak yang perlahan terbentuk tanpa ia akui. Semua itu ada, namun ia memilih untuk tidak melihatnya.
Karena ia percaya.
Karena ia mencintai.
Dan karena itu, ia menjadi buta.
Air matanya jatuh lagi, lebih deras dari sebelumnya. Bukan karena rasa sakit di tubuhnya, tetapi karena kesadaran itu datang terlambat.
Seandainya…
Pikiran itu muncul pelan, seperti bisikan terakhir yang tersisa.
Seandainya aku lebih memperhatikan…
Seandainya aku tidak terlalu percaya…
Seandainya aku melihat lebih dalam…
Ia ingin mengulang semuanya, memperbaiki, mengubah, menarik kembali waktu ke saat-saat di mana semuanya masih bisa diselamatkan. Namun tubuhnya tidak memberi kesempatan untuk itu.
Napasnya kini hampir tidak terasa, detak jantungnya melemah perlahan. Satu demi satu, seperti sesuatu yang berhenti tanpa suara.
Ia membuka matanya sekali lagi, meski pandangannya sudah hampir sepenuhnya gelap. Siluet mereka masih ada, tetapi tidak lagi jelas, hanya bayangan samar yang perlahan memudar.
Seraphina tidak lagi mencoba meraih mereka, tidak lagi berharap. Yang tersisa hanya satu perasaan yang tidak bisa ia abaikan.
Penyesalan.
Dan satu keinginan yang tidak akan pernah terwujud.
Memperbaiki semuanya.
Seandainya aku tahu semua ini…
Pikiran itu menjadi yang terakhir, menghilang bersama sisa kesadarannya. Detik berikutnya, tubuhnya akhirnya menyerah, detak jantungnya berhenti, dan keheningan mengambil alih segalanya.