Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Siang itu, di tengah riuh rendahnya jam istirahat, aku melangkah keluar dari kelas menuju rooftop sekolah. Secara mendadak, Maya mengirimiku pesan untuk melakukan pertemuan darurat. Dia menyebut-nyebut nama Elma. Aku berspekulasi kalau dia mungkin sudah menarik benang merah yang sama denganku dan ingin mendiskusikannya segera. Sepanjang perjalanan menaiki tangga menuju rooftop, aku mencoba memeras otak, meraba-raba kembali sisa-sisa ingatanku di masa lalu. Sialnya, serpihan memori itu benar-benar buram bagai tertutup kabut tebal, hingga akhirnya kakiku menapak di area rooftop.
Di sana, aku melihat Maya sedang berdiri bersandar pada tembok pembatas. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Maya menoleh dan menatapku dengan ekspresi wajah yang luar biasa serius. Saking seriusnya, atmosfer di sekitar kami mendadak terasa mencekam. Ini pertama kalinya dalam dua kehidupan aku dan Maya terlibat dalam pertemuan seformal ini. Kalau diingat-ingat kembali, riwayat interaksi kami berdua selalu saja diwarnai amarah, rasa kesal, aksi saling ejek, dan lawakan garing.
"Ini soal kejadian tragis yang menimpa Elma..." celetuk Maya tanpa basa-basi begitu aku baru saja mengikis jarak di antara kami. Dia langsung menodongku dengan premis kalimat yang berat.
"Jadi... kamu berhasil mengingat kejadian di masa lalu?" tanyaku penuh selidik. Maya menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan lesu.
"Bukan itu. Aku tetap tidak ingat sama sekali dengan siswi yang bernama Elma. Tapi... aku mengingat sebuah fakta historis yang sangat mengkhawatirkan..." jawab Maya, suaranya mendadak melunak dan terdengar diselimuti kesedihan.
Melihat perubahan emosinya, otak di dalam kepalaku langsung bekerja keras. Aku mencoba melacak peristiwa masif apa yang kira-kira melibatkan Elma, sampai-sampai aku bisa melupakan keberadaan teman sekelas sendiri yang seharusnya membagi ruang denganku selama satu tahun penuh di masa SMA (Sekolah Menengah Atas) dulu.
Pada akhirnya, Maya tampaknya sudah mencapai kesimpulan logis yang sama denganku mengenai misteri "Roda kenangan". Sebagai sesama penjelajah waktu yang terlempar ke masa lalu, dia pasti dirundung tanda tanya besar mengapa kami berdua bisa kompak melupakan satu sosok yang eksistensinya tergolong mencolok di lini masa sebelumnya.
"Tepat sebelum liburan semester pertama kita di kehidupan lalu... beberapa murid mendadak menolak untuk... masuk sekolah lagi," ucap Maya dengan nada suara yang makin memberat karena sedih.
Apakah murid yang dimaksud itu adalah Elma? Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar? Jujur, aku syok bukan main mendengar penuturan Maya. Bagaimana mungkin seorang gadis ekstrover yang memegang takhta tertinggi di puncak piramida sosial sekolah, memilih untuk mengisolasi diri dan mogok sekolah?
"Ya, itu benar! Ketika kita memasuki masa libur semester satu, ada beberapa murid yang secara radikal memutuskan untuk berhenti sekolah, Raka!" ucap Maya, kali ini dia memberikan penekanan yang kuat pada tiap artikulasinya. Aku hanya bisa mengangguk-angguk kaku, memastikan agar Maya tahu kalau aku sedang menyimak seluruh kalimatnya dengan saksama.
"Jumlah murid yang keluar... ada dua orang..." sambung Maya meneruskan informasinya, auranya kembali meredup sedih.
Deg. Tepat setelah angka "dua" lolos dari bibir Maya, sebuah kilasan memori dari masa lalu mendadak berkelebat ekstrem di kepalaku.
"Iya... kamu benar. Aku mengingatnya, dua murid itu berasal dari kelasku, dan salah satunya adalah Elma. Aku benar, kan?" timpalku menyatukan kepingan puzzle. Maya mengangguk pelan membenarkan.
"Benar. Seandainya Elma sampai berhenti sekolah lagi di kehidupan ini..." Sebelum Maya sempat menyelesaikan kalimat melankolisnya, aku langsung memotong dengan cepat.
"Kini aku tahu alasan kenapa aku tidak punya memori apa pun tentang Elma di masa lalu. Di kehidupan lalu, dia menghilang terlalu cepat dari radar sekolah," ucapku sembari mengembuskan napas panjang. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, sengaja menampilkan gestur santai seolah-olah aku sudah puas dengan kesimpulan tersebut, semata-mata agar Maya tidak perlu lagi memikirkan hal-hal rumit yang bisa merusak kesehatan mentalnya.
"Lalu bagaimana dengan satu murid lainnya?! Apa kamu ingat siapa dia?!" tanya Maya mendesakku, tatapannya menuntut jawaban.
"Aku rasa orang itu adalah... Sari," jawabku dengan nada datar.
"Dia teman dekat Elma?" tanya Maya lagi, mencoba mencari motif.
"Bukan. Sebaliknya, aku rasa mereka berdua saling membenci, atau mungkin cuma kebencian sepihak dari Sari. Dari hasil pengamatanku di kelas, hubungan mereka itu buruk banget. Agak mustahil kalau mereka berhenti sekolah bareng cuma karena kebetulan. Aku tebak mereka berdua mundur karena ada insiden besar di dalam kelas," jawabku tenang, mencoba bersikap biasa saja. Lagi pula, aku paling enggak bisa melihat Maya pasang muka sedih di depanku.
"Kamu ingat enggak, ada kejadian atau konflik apa saat itu?" tanya Maya masih mengejar. Aku mendengus dalam hati, merasa gadis ini kadang rajin banget mengurusi hidup orang lain.
"Enggak tahu. Di titik itu, aku sudah mengukuhkan diri sebagai serigala penyendiri. Eksistensiku enggak bakal bisa ditemukan di kelas saat jam kosong atau istirahat. Jadi, aku enggak punya akses info soal gosip kelas dan enggak ada orang yang mau repot – repot membahasnya denganku" jawabku apa adanya.
"Enggak berguna banget!" bentak Maya, wajah sedihnya langsung menguap digantikan ekspresi kesal yang meledak-ledak.
"Berisik!" timpalku ketus.
Setelah drama bentakan kecil itu, kami berdua diam. Aku bisa membaca dengan jelas apa yang sedang berputar di otak Maya sekarang. Apakah karena kami sudah terlalu sering bersama, atau karena tabiat buruknya sudah sangat aku hafal di luar kepala? Aku meraba dia sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan Elma dan Sari dari kemungkinan mereka akan berhenti sekolah. Dan dia pasti bakal...
"Apakah... kita bisa melakukan sesuatu buat mengubah takdir mereka?" tanya Maya memecah keheningan.
Nah, kan! Tepat seperti dugaanku.
"Tu... tunggu dulu! Lagian, enggak ada jaminan kalau tragedi di masa lalu bakal otomatis terulang lagi di kehidupan yang sekarang, kan?" ucapku, mencoba memasang rem darurat biar dia enggak hobi ikut campur.
Mendengar sanggahanku, Maya menatapku dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Sungguh, ini serangan visual yang curang banget.
"I-iya sih... tapi, apa yang bakal kamu lakukan kalau kejadian buruk di masa lalu itu benar-benar terjadi lagi di depan matamu, Raka?" tanya Maya dengan raut wajah yang sukses membuatku merasa jadi cowok paling berdosa di bumi.
“Apa maksudmu... aku harus menolong mereka kalau itu terjadi lagi? Tapi kamu seharusnya tahu kalau aku ini serigala penyendiri, aku enggak bakal bisa lakukan apa pun kalau sampai kejadian buruk menimpa keduanya. Apa coba yang bisa dilakukan olehku?” Aku mengatakannya seserius mungkin biar Maya sadar kalau aku punya keterbatasan sosial yang akut buat mengurusi krisis remaja perempuan. Tapi, Maya bergeming. Dia tampaknya menolak memasukkan kenyataan pahit itu ke dalam kalkulasinya.
"Mungkin... kalau kamu mau sedikit memutar otak dan mengulurkan tangan di momen yang tepat, kamu akhirnya bisa berteman dengan Elma dan Sari. Bukankah itu progres yang bagus? Dengan begitu, kamu bisa pensiun dari akting konyolmu sebagai serigala penyendiri," ucap Maya diiringi tawa kecil. Sialan, dia sengaja mengejek status sosialku, kan?!
“Memangnya bakal semudah itu?” tanyaku sambil menghela napas lelah.
"Maaf... aku cuma bercanda tadi... lupakan saja omonganku barusan..." jawab Maya, dan raut wajahnya mendadak berubah jadi melankolis lagi. Suaranya terdengar lembut dan rapuh, membuatku tahu kalau dia lagi menahan diri agar enggak menangis di depanku.
Lalu... perasaan aneh apa ini? Mau dipikir pakai logika mana pun, aku enggak punya alasan buat membantu dua cewek asing itu menghindari takdir buruk mereka. Tapi, kombinasi muka melankolis dan getaran suara Maya saat ini benar-benar menghancurkan pertahanan logikaku.
"Di kehidupan sebelumnya... aku memang enggak tahu banyak tentang Elma dan Sari... tapi mengetahui fakta kalau mereka berdua bakal berhenti sekolah... mereka... bakal menghilang... menurutku... itu hal yang kejam banget..." ucap Maya terbata-bata dengan suara yang makin lirih. Di detik itulah, aku bisa melihat air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya.
Ah, sial. Pada akhirnya, aku sempat lupa esensi asli dari seorang Maya karena perilakunya sehari-hari yang selalu bertindak sesuka hati dan kurang sopan kepadaku. Kenyataannya, dia itu gadis berhati malaikat yang pernah menangis histeris meratapi jasadku yang hancur ditabrak truk, bahkan sampai berlutut berdoa tanpa henti demi mengemis kesempatan kedua buatku. Bukankah dia sudah punya banyak teman? Kenapa kamu terganggu dengan masalah ini? mereka orang yang tidak kamu kenal secara langsung loh. Aku.. tidak bisa memahami Maya...
...Mau aku kasih tahu isi kepalaku juga dia pasti tidak bakal terima...
"Haah... Ya sudah, ya sudah! Lagi pula, kebetulan aku masih satu kelas dengan mereka berdua. Aku bakal mencoba mengawasi pergerakan mereka dari balik bayangan. Semoga saja enggak ada hal aneh yang menimpa Elma maupun Sari," ucapku pasrah, mencoba memecah atmosfer melankolis yang makin mencekik ini.
Mendengar kalimatku, kedua mata Maya langsung membelalak bulat karena kaget. Dia terpana menatapku seolah-olah aku baru saja berubah jadi kesatria berbaju zirah yang siap berperang demi dirinya. Tatapannya kini dipenuhi binar harapan yang masif. Di dalam kepalaku, aku sudah PD (Percaya Diri) menebak skenario berikutnya: dia pasti bakal tersenyum manis lalu berkata, "Terima kasih banyak, Raka! Aku benar-benar mengandalkanmu." Aku pasti seratus persen benar, kan?!
Namun, perlahan tapi pasti, binar harapan di matanya mendadak padam secara misterius, digantikan oleh tatapan suram menjurus keputusasaan yang diarahkan tepat ke wajahku.
"Aku... justru makin enggak bisa berhenti khawatir kalau kamu yang turun tangan..." ucap Maya dengan nada ketakutan yang amat jujur. Kurang ajar. Dia pasti mendadak teringat memori kelam saat menyuruhku membuka obrolan dengan Luna minggu lalu, yang berakhir dengan kegagalan total serta meninggalkan kesan kalau aku ini cowok aneh.
Sudahlah, lupakan. Energi sosialku sudah habis buat hari ini. Aku memilih balik badan dan melangkah pergi meninggalkan Maya sendirian di rooftop yang berangin itu. Pertanyaan reflektif: apa benar aku sesuram itu? Boleh aku menangis sekarang?
Aku membuka pintu kelas dan mencari keberadaan Elma, sesuai dugaanku, Elma dan teman – temannya sudah pasti meninggalkan kelas di jam istirahat begini. Aku berjalan menuju mejaku sambil terus memikirkan cara untuk mengantisipasi event unik yang mungkin akan menjadi pemicu Elma dan Sari keluar dari sekolah, tapi meski aku bilang aku akan mengawasi keduanya, bahkan aku tidak memiliki rencana apa pun kalau sampai event itu benar – benar terjadi.
Kekuatan spesial yang aku miliki setelah dihidupkan kembali cuma wajah datar dan menghilangkan hawa keberadaan agar teman sekelasku tidak sadar aku ada dikelas yang sama dengan mereka, kemampuan ini tidak ada kegunaannya sama sekali kecuali untuk membaca Manga dan novel di dalam kelas secara diam – diam. Aku sempat terpikirkan ide seperti ‘Apa aku katakan ini ke Luna ya? Dia ketua kelas yang suka ikut campur urusan orang lain kan?’ tapi mengingat kejadiannya saja belum tentu terjadi, nanti aku malah dianggap orang aneh dan Luna akan menyeretku ke kantor polisi.
Jadi aku batalkan rencana itu, aku yakin dia tidak akan mempercayaiku setelah aku mengajaknya mengobrol kemarin. Pada akhirnya aku kehabisan ide, ini seperti aku sudah menyerah bahkan ketika event-nya saja belum di mulai. Aku percaya aku tidak bisa melakukan apa pun, jadi tatapan dan kekhawatiran Maya tadi... aku jadi bisa memahaminya...
Apa boleh buat, pada akhirnya aku tetap pada rencana awal yaitu menjadi serigala penyendiri selama tiga tahun penuh dan untuk jangka pendek ini aku memilih untuk tidak peduli sambil membaca Manga sampai bel masuk berdering apa pun yang terjadi. Bukan, ini bukan maksudnya aku mau kabur dari tanggung jawab setelah mencoba membuat Maya lebih tenang... tapi bahkan dia pun tidak mempercayaiku, jadi aku memang tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah keadaan.... memang sangat disayangkan, ta...
...Grubaaaakk!!!
Suara tabrakan yang begitu ribut terdengar, aku menoleh ke belakang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku lihat saat itu adalah Sari yang menabrak meja Elma sampai dia terjatuh dan merintih kesakitan dilantai, ‘Sebenarnya apa sih yang dilakukan kalian itu?’ tanyaku dalam hati.
“Adu duuu duuuh...” rintih Sari dan teman – temannya mencoba untuk memeriksa keadaan kaki Sari yang sepertinya terkilir karena dia memegangi kakinya terus sejak tadi.
“Gakpapa, Sari?” tanya temannya khawatir
“Sakit bangeet ya ampun, rasanya sampai mau mati~” keluh dan rintih Sari mengucapkannya, sepertinya itu benturan yang sangat keras ya.
“Berarti kamu baik – baik aja, kan?” tanya temannya yang lain dan rasanya aku ingin meneriakinya 'Bisa – bisanya bertanya hal aneh semacam itu ke teman yang sedang merintih kesakitan sampai mau mati begitu!!'
“Ga.. gawat, sampai berhamburan” celetuk temannya yang lain, aku tidak bisa melihat apa yang berhamburan tapi aku rasa itu merajuk pada isi tas Elma yang berantakan dilantai setelah mejanya tertabrak Sari.
Aku segera menoleh kanan – kiri mencoba mencari keberadaan Elma, tapi dia memang belum kembali ke kelas dan aku rasa semua akan baik – baik saja kalau Sari dan lingkarannya berhasil membereskan meja dan tas Elma sebelum Elma datang. Aku menarik nafas dalam – dalam lalu menghembuskannya perlahan, aku sangat kaget dengan apa yang terjadi sampai membuatku menjadi tidak tenang sepanjang jam istirahat ini. Perlahan aku kembali menatap Manga yang ada di atas meja dan mulai untuk membacanya, tapi tiba – tiba lingkaran pertemanan Sari tertawa terbahak - bahak....
“Hei liat deh ini” seru salah satu teman Sari.
“Apa? Eeuuh diih, apaan nih? Ngakak banget” seru Sari menimpali perkataan temannya.
“Eeh serius itu terjatuh dari tas sekolah Elma? Ha ha ha” timpal temannya yang lain, seperti biasa lingkaran pertemanan Sari memang selalu ramai dan heboh sendiri.
“Iih~ ngeri deeh” ucap temannya yang lain, akhirnya aku menjadi penasaran karena mereka semua TIDAK JELAS. ‘Jadi ngeri atau lucu nih? Jangan buat aku jadi bingung!!’ begitu kurang lebih yang ada di kepalaku saat ini.
Ketika menoleh ke belakang, aku melihat Sari memegang sebuah buku yang dia tertawai bersama – sama dengan teman - temannya. Aku jadi semakin tertarik sampai harus usaha ekstra agar bisa melihat buku apa yang dipegang oleh Sari, ketika mendapatkan sudut pandang yang tepat, saat itu aku terkejut setengah mati karena buku itu adalah...
‘HAH?!! Manga Romantis Komedi yang sebelumnya di beli Elma?!!! Kenapa dia bawa ke sekolah?!!!’ aku berteriak dalam hati, itu akan menghancurkan reputasinya, kan? 'Tapi kenapa? Kenapa Elma membawa benda berbahaya itu ke sekolah?! Bukannya dia tidak ingin ada orang yang tahu tentang hobinya?!! Dia ini bodoh atau apa?!’ itulah kalimat lain yang meledak di dalam kepalaku, aku tidak bisa memahami apa yang diinginkan Elma dengan membawa Manga bergenre Romantis Komedi seperti itu ke sekolah.
...Raut wajah sedih, panik, takut, malu dan kikuk Elma sudah terbesit jelas di kepalaku...