Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Di sekolah pada hari Selasa di jam istirahat...
Siang itu di jam istirahat aku keluar dari kelas menuju rooftop sekolah, Maya tiba – tiba mengajak untuk melakukan pertemuan darurat. Dia mengatakan tentang Elma, mungkin dia sudah mendapatkan kesimpulan yang sama denganku dan ingin membahasnya. Di perjalanan menuju rooftop aku mencoba meraba – raba kembali sisa – sisa ingatanku di masa lalu, namun semuanya benar – benar samar hingga aku sampai di rooftop sekolah.
Di sana aku melihat Maya berdiri bersandar pada tembok, Maya pun menoleh menatapku dengan wajah serius dan ini pertama kalinya aku dan Maya bertemu seserius ini. Kalau diingat – ingat, pertemuan kami selalu penuh amarah, rasa kesal, saling ejek, dan lawakan...
“Ini soal kejadian yang menimpa Elma...” celetuk Maya ketika aku baru saja mendekatinya, dia langsung menodongku dengan kalimat yang sulit.
“Jadi... kamu mengingat kejadian dimasa lalu?” tanyaku, Maya pun menggelengkan kepala beberapa kali.
“Bukan itu, aku gak ingat sama sekali sama anak yang bernama Elma. Tapi... aku ingat sesuatu yang sangat mengkhawatirkan...” jawab Maya terdengar dia sedih saat mengucapkannya, dalam kepalaku langsung mencoba mengingat kejadian apa yang mungkin melibatkan Elma sampai aku melupakan ada teman sekelas bernama Elma meski satu tahun penuh kehidupan SMA-ku bersamanya.
Yaah pada akhirnya Maya sudah mencapai pada kesimpulan yang sama denganku tentang roda kenangan, sebagai sesama penjelajah waktu, dia pasti bertanya – tanya kenapa kami bisa lupa satu sosok yang seharusnya juga mengisi kehidupan kita dimasa lalu.
“Tepat sebelum liburan semester pertama kita... beberapa murid menolak untuk.... masuk sekolah...” ucap Maya dengan nada sedih
Apa itu maksudnya Elma? Apa yang terjadi sebenarnya, jujur aku kaget mendengar perkataan Maya. Bagaimana mungkin seorang ekstrovert yang berada di puncak piramida memilih untuk tidak lagi masuk sekolah?
“Ya itu benar, ketika kita libur semester satu ada beberapa murid yang memutuskan untuk berhenti sekolah, Raka!” ucap Maya kali ini dia menekankan kalimatnya, aku hanya mengangguk beberapa kali sambil memastikan kalau Maya tahu aku sedang memperhatikannya.
“Jumlah muridnya... dua orang...” ucap Maya meneruskan kalimatnya dan dia menjadi sedih kembali, dan seketika ingatan masa lalu terbesit di kepalaku...
“Iya... kamu benar, aku mengingatnya... dua murid itu dari kelasku dan salah satunya adalah Elma. Aku benar, kan?” timpalku, Maya mengangguk beberapa kali.
“Benar, seandainya Elma berhenti sekolah...” belum selesai Maya berkata, aku memotongnya.
“Kini aku ingat alasan kenapa aku gak punya ingatan apa pun tentang Elma” dengan helaan nafas aku mengatakannya, aku menggaruk kepala membuat gestur kalau aku sudah puas dengan kesimpulan itu agar Maya tidak lagi memikirkan hal merepotkan seperti ini.
“Gimana sama orang satu lagi? Apa kamu ingat?!” tanya Maya menekanku
“Aku rasa itu adalah.... Sari” jawabku datar
“Dia teman Elma?” tanya Maya lagi
“Tidak, aku rasa mereka saling membenci atau mungkin hanya benci sepihak. Dari yang aku lihat hubungan mereka itu buruk. Sulit juga kalau ambil kesimpulan mereka berhenti sekolah bersamaan secara kebetulan, aku rasa mereka berhenti karena alasan masing – masing karena sesuatu yang terjadi” jawabku datar seolah itu bukanlah sebuah masalah besar, aku benci melihat Maya sedih karena suatu hal...
“Kamu ingat ada kejadian apa?” tanya Maya semakin mengejarku, aku rasa dia terlalu asyik untuk mengurusi hidup orang lain.
“Gak tahu, dititik itu aku sudah jadi serigala penyendiri. Aku gak bisa ditemukan di dalam kelas saat jam kosong ataupun jam istirahat, karena itu aku gak tahu informasi apa pun yang terjadi di dalam kelas dan gak ada orang yang mau repot – repot membahasnya denganku” jawabku datar.
“Gak berguna banget!” bentaknya terdengar sangat kesal padaku, tapi yah mau bagaimana lagi...
“Berisik!” timpalku
Lalu kami terdiam beberapa saat, aku tahu apa yang ada di dalam kepala Maya kali ini. Mungkinkah karena aku sudah lama bersamanya atau karena sifat buruknya sudah sangat aku hafal? Aku meraba dia sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan Elma dan Sari dari kemungkinan mereka akan berhenti sekolah, dan dia pasti...
“Apa kita bisa melakukan sesuatu?” tanya Maya memecah keheningan, dan yak seperti dugaanku ini pasti akan terjadi.
“Tu... tunggu dulu, lagian gak ada jaminan kejadian yang dulu terjadi akan kembali terjadi di kehidupan sekarang, kan?” ucapku mencoba untuk menghentikan sifat suka ikut campurnya, dia pun menatapku dengan tatapan mata sedih.
“I...iya juga sih... tapi apa yang akan Raka lakukan kalau kejadian yang dulu terjadi, terjadi lagi?” tanya Maya dengan raut wajah sedih.
“Apa maksudmu... aku harus menolong mereka kalau itu terjadi lagi? Tapi kamu seharusnya tahu kalau aku ini serigala penyendiri, aku gak bakal bisa lakukan apa pun kalau sampai kejadian buruk menimpa keduanya. Apa coba yang bisa dilakukan olehku?” aku mengatakannya dengan sungguh – sungguh agar Maya sadar aku punya keterbatasan yang kuat untuk menangani kejadian seperti itu, namun Maya bergeming, sepertinya dia tidak menganggap keterbatasanku sebagai sebuah masalah.
“Mungkin kalau kamu memikirkan sesuatu dan membantu mereka di saat yang tepat, kamu akhirnya bisa berteman sama Elma dan Sari. Bukannya itu bagus? Kamu bisa berhenti akting jadi serigala penyendiri” dengan tertawa kecil Maya mengucapkannya, dia sedang mencoba untuk menghinaku, kan?
“Memangnya bakal semudah itu?” tanyaku dengan helaan nafas
“Maaf... aku cuma bercanda tadi... lupakan omonganku barusan...” jawab Maya dan raut wajahnya menjadi semakin sedih, suaranya juga terdengar lembut namun aku tahu dia berusaha keras mencoba untuk tidak terbawa perasaan sedihnya itu...
Lalu... Perasaan aneh apa ini...? mau dipahami dari sudut mana pun, aku tidak memiliki alasan cukup untuk membantu mereka menghindari kemungkinan buruk yang terjadi di kehidupanku sebelumnya. Tapi sikap dan suara Maya membuatku...
“Di kehidupan sebelumnya... aku gak tahu banyak tentang Elma dan Sari... tapi mengetahui mereka berhenti sekolah... mereka... akan berhenti... menurutku itu itu adalah hal buruk...” agak bergumam dan terbata Maya mengatakannya dan kali ini aku melihat genangan air mata di pelipis matanya...
Yah pada akhirnya aku sempat melupakan sosok asli Maya karena dia selalu berbuat sesuka hati dan tidak sopan kepadaku, pada kenyataannya dia adalah sosok gadis baik hati yang pernah menangis begitu keras ketika aku tertabrak truk sampai membuatnya berdoa terus – menerus kepada Tuhan agar aku memiliki kesempatan kedua. Bukankah dia sudah punya banyak teman? Kenapa kamu terganggu dengan masalah ini? mereka orang yang tidak kamu kenal secara langsung loh. Aku.. tidak bisa memahami Maya...
...Mau aku kasih tahu isi kepalaku juga dia pasti tidak bakal terima...
“Haah... Ya sudah, lagi pula aku masih satu kelas sama keduanya. Aku akan mencoba mengawasi mereka, semoga tidak terjadi apa – apa yang menimpa Elma dan Sari” ucapku memecah keheningan
Aku melihatnya terkejut dan terpana menatapku, mungkin baginya, aku kini kembali menjadi sosok pahlawan untuknya dan dia menatapku dengan penuh harap. Dia mungkin akan segera berkata ‘Terima kasih, Raka. Aku mengandalkanmu, aku jadi tidak perlu khawatir lagi’ aku benar, kan?
Tapi perlahan tatapan mata terkejut dan terpana itu berganti menjadi tatapan suram yang dia tujukan padaku...
“Aku... tidak bisa berhenti khawatir...” dengan nada ketakutan Maya mengatakannya, Maya pasti teringat kejadian saat dia menyuruhku membuka obrolan ke Luna yang berakhir dengan kegagalan besar serta kesan yang aneh.
Sudahlah, aku sudah kehabisan energi untuk membahasnya dan aku memilih berbalik untuk kembali ke kelas meninggalkan Maya di rooftop itu... apa benar aku sesuram itu? Boleh aku menangis?
Aku membuka pintu kelas dan mencari keberadaan Elma, sesuai dugaanku, Elma dan teman – temannya sudah pasti meninggalkan kelas di jam istirahat begini. Aku berjalan menuju mejaku sambil terus memikirkan cara untuk mengantisipasi event unik yang mungkin akan menjadi pemicu Elma dan Sari keluar dari sekolah, tapi meski aku bilang aku akan mengawasi keduanya, bahkan aku tidak memiliki rencana apa pun kalau sampai event itu benar – benar terjadi.
Kekuatan spesial yang aku miliki setelah dihidupkan kembali cuma wajah datar dan menghilangkan hawa keberadaan agar teman sekelasku tidak sadar aku ada dikelas yang sama dengan mereka, kemampuan ini tidak ada kegunaannya sama sekali kecuali untuk membaca Manga dan novel di dalam kelas secara diam – diam. Aku sempat terpikirkan ide seperti ‘Apa aku katakan ini ke Luna ya? Dia ketua kelas yang suka ikut campur urusan orang lain kan?’ tapi mengingat kejadiannya saja belum tentu terjadi, nanti aku malah dianggap orang aneh dan Luna akan menyeretku ke kantor polisi.
Jadi aku batalkan rencana itu, aku yakin dia tidak akan mempercayaiku setelah aku mengajaknya mengobrol kemarin. Pada akhirnya aku kehabisan ide, ini seperti aku sudah menyerah bahkan ketika event-nya saja belum di mulai. Aku percaya aku tidak bisa melakukan apa pun, jadi tatapan dan kekhawatiran Maya tadi... aku jadi bisa memahaminya...
Apa boleh buat, pada akhirnya aku tetap pada rencana awal yaitu menjadi serigala penyendiri selama tiga tahun penuh dan untuk jangka pendek ini aku memilih untuk tidak peduli sambil membaca Manga sampai bel masuk berdering apa pun yang terjadi. Bukan, ini bukan maksudnya aku mau kabur dari tanggung jawab setelah mencoba membuat Maya lebih tenang... tapi bahkan dia pun tidak mempercayaiku, jadi aku memang tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah keadaan.... memang sangat disayangkan, ta...
...Grubaaaakk!!!
Suara tabrakan yang begitu ribut terdengar, aku menoleh ke belakang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku lihat saat itu adalah Sari yang menabrak meja Elma sampai dia terjatuh dan merintih kesakitan dilantai, ‘Sebenarnya apa sih yang dilakukan kalian itu?’ tanyaku dalam hati.
“Adu duuu duuuh...” rintih Sari dan teman – temannya mencoba untuk memeriksa keadaan kaki Sari yang sepertinya terkilir karena dia memegangi kakinya terus sejak tadi.
“Gakpapa, Sari?” tanya temannya khawatir
“Sakit bangeet ya ampun, rasanya sampai mau mati~” keluh dan rintih Sari mengucapkannya, sepertinya itu benturan yang sangat keras ya.
“Berarti kamu baik – baik aja, kan?” tanya temannya yang lain dan rasanya aku ingin meneriakinya 'Bisa – bisanya bertanya hal aneh semacam itu ke teman yang sedang merintih kesakitan sampai mau mati begitu!!'
“Ga.. gawat, sampai berhamburan” celetuk temannya yang lain, aku tidak bisa melihat apa yang berhamburan tapi aku rasa itu merajuk pada isi tas Elma yang berantakan dilantai setelah mejanya tertabrak Sari.
Aku segera menoleh kanan – kiri mencoba mencari keberadaan Elma, tapi dia memang belum kembali ke kelas dan aku rasa semua akan baik – baik saja kalau Sari dan lingkarannya berhasil membereskan meja dan tas Elma sebelum Elma datang. Aku menarik nafas dalam – dalam lalu menghembuskannya perlahan, aku sangat kaget dengan apa yang terjadi sampai membuatku menjadi tidak tenang sepanjang jam istirahat ini. Perlahan aku kembali menatap Manga yang ada di atas meja dan mulai untuk membacanya, tapi tiba – tiba lingkaran pertemanan Sari tertawa terbahak - bahak....
“Hei liat deh ini” seru salah satu teman Sari.
“Apa? Eeuuh diih, apaan nih? Ngakak banget” seru Sari menimpali perkataan temannya.
“Eeh serius itu terjatuh dari tas sekolah Elma? Ha ha ha” timpal temannya yang lain, seperti biasa lingkaran pertemanan Sari memang selalu ramai dan heboh sendiri.
“Iih~ ngeri deeh” ucap temannya yang lain, akhirnya aku menjadi penasaran karena mereka semua TIDAK JELAS. ‘Jadi ngeri atau lucu nih? Jangan buat aku jadi bingung!!’ begitu kurang lebih yang ada di kepalaku saat ini.
Ketika menoleh ke belakang, aku melihat Sari memegang sebuah buku yang dia tertawai bersama – sama dengan teman - temannya. Aku jadi semakin tertarik sampai harus usaha ekstra agar bisa melihat buku apa yang dipegang oleh Sari, ketika mendapatkan sudut pandang yang tepat, saat itu aku terkejut setengah mati karena buku itu adalah...
‘HAH?!! Manga Romantis Komedi yang sebelumnya di beli Elma?!!! Kenapa dia bawa ke sekolah?!!!’ aku berteriak dalam hati, itu akan menghancurkan reputasinya, kan? 'Tapi kenapa? Kenapa Elma membawa benda berbahaya itu ke sekolah?! Bukannya dia tidak ingin ada orang yang tahu tentang hobinya?!! Dia ini bodoh atau apa?!’ itulah kalimat lain yang meledak di dalam kepalaku, aku tidak bisa memahami apa yang diinginkan Elma dengan membawa Manga bergenre Romantis Komedi seperti itu ke sekolah.
...Raut wajah sedih, panik, takut, malu dan kikuk Elma sudah terbesit jelas di kepalaku...