NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: PERJANJIAN DI AMBANG MAUT

Dunia di sekitarku seolah-olah sedang dikuliti hidup-hidup. Dinding-dinding koridor rumah sakit yang tadi tampak megah dan bersih kini mengelupas seperti kulit mati, menyingkap kegelapan hampa yang menderu di baliknya. Suara angin badai yang dingin mulai masuk ke dalam ruangan, meniup debu-debu memori yang hancur. Namun, aku tak peduli pada kehancuran dimensi Niskala ini. Mataku terpaku pada sosok kecil di balik pembatas transparan yang kini retak seribu, seperti kaca yang siap hancur hanya dengan satu tiupan napas.

Kinaya terbaring kaku di atas ranjang besi yang dingin. Wajahnya yang biasanya kemerahan kini sepucat kertas kalkir, dan garis lurus di monitor jantung itu mengeluarkan bunyi beeeeeeep yang panjang dan melengking. Bunyi itu bukan sekadar alarm medis; bagiku, itu adalah melodi kematian yang paling kubenci di seluruh jagat raya. Aku bisa merasakan setiap detiknya nyawa Kinaya semakin menjauh dari raganya, mencoba mencari jalan pulang ke arahku.

"Bangun, Nak! Kinaya, dengerin Ayah! Jangan ke sini! Jangan sentuh kabut itu!" aku meraung, menghantamkan telapak tanganku ke kaca yang menghalangi kami hingga tanganku terasa seolah akan hancur menjadi serpihan abu.

Di dunia nyata, kekacauan yang terorganisir pecah. Aku melihat Dokter berteriak memberikan instruksi dengan nada panik yang tertahan, para perawat berlarian dengan gerakan cepat, menyiapkan alat pacu jantung yang tampak seperti mesin penghukum di mataku. Aku melihat mereka mengoleskan gel dingin ke dada kecil Kinaya—dada yang dulu sering kugunakan sebagai tempat menyandarkan kepalaku saat kami menonton kartun bersama.

"Satu... dua... SHOCK!"

Tubuh Kinaya melenting hebat di atas tempat tidur, sebuah reaksi fisik yang menyakitkan untuk ditonton. Namun, garis di monitor itu tetap lurus. Sialan! Aku bisa merasakan energi Kinaya mulai merembes masuk ke duniaku. Kabut abu-abu Niskala mulai merayap naik, menyelimuti kaki tempat tidurnya. Jika dia sampai menyeberang sepenuhnya karena terus memanggilku dalam bawah sadarnya, dia akan terjebak di labirin ini tanpa jalan pulang. Dia akan menjadi anak yang tak memiliki hari esok.

"Dua frekuensi yang berbeda tidak bisa menduduki ruang yang sama tanpa menghancurkan salah satunya," sebuah suara berat dan bergetar bergema tepat di belakang telingaku.

The Watcher yang tadi berdiri di ambang pintu kini sudah berada tepat di belakangku. Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya lubang gelap di tempat yang seharusnya menjadi mata, namun auranya terasa seperti otoritas alam semesta yang tak bisa dibantah. Kehadirannya membuat suhu di sekitarku turun drastis hingga napasku (jika aku masih bernapas) akan membentuk kristal es.

"Kehadiranmu di dalam sisa-sisa pikirannya adalah parasit yang merusak sistem hidupnya," lanjut makhluk itu dengan nada yang dingin dan mekanis. "Gadis kecil itu menolak menyelaraskan dirinya dengan dunia yang nyata karena sinyalmu terlalu kuat di kepalanya. Dia tidak mau bangun karena dia pikir kau menunggunya di sini. Jika kau ingin jantungnya kembali berdetak, kau harus memutus pemancar itu. Kau harus setuju untuk menjadi 'keheningan' yang total."

Aku tertegun, mencoba mencerna kata-katanya yang terasa seperti racun sekaligus obat. "Maksudmu... aku harus pergi dari sini?"

"Bukan sekadar pergi. Kau harus merelakan namamu, wajahmu, dan setiap jejak suaramu di memorinya untuk dihapus secara permanen. Selama dia masih mengenalimu sebagai 'Ayah', otaknya akan terus mencoba menarikmu kembali melintasi batas dimensi, dan itu akan membunuhnya dalam hitungan detik. Pilihannya ada di tanganmu: Kau tetap diingat sebagai pahlawan tapi dia berhenti bernapas selamanya, atau kau menjadi orang asing yang tak pernah ada tapi dia kembali melihat matahari."

Aku menoleh kembali ke arah Kinaya. Dokter sedang melakukan percobaan kedua dengan voltase yang lebih tinggi. "Satu... dua... SHOCK!"

Masih tidak ada respons. Di dunia nyata, Rina menjerit histeris hingga suaranya pecah, dia jatuh terduduk di lantai sebelum diseret keluar oleh perawat agar tidak mengganggu jalannya resusitasi. Di duniaku, Kinaya mulai membuka matanya. Dia bangkit berdiri dari tempat tidurnya di dimensi Niskala, melihat sekeliling dengan wajah bingung yang polos.

"Ayah? Di mana ini? Kok dingin banget?" suaranya terdengar begitu jernih, begitu dekat hingga aku merasa bisa menyentuh helai rambutnya.

Dia melangkah pelan menuju retakan kaca, menuju ke arahku dengan tangan mungil yang terjulur. Aku tahu aturannya sekarang; jika tangannya menyentuh tanganku melewati retakan itu, koneksi kami akan terkunci selamanya di dimensi ini. Dia akan "hidup" bersamaku di sini sebagai roh yang tersesat, tapi raganya di dunia nyata akan dinyatakan mati. Aku bisa memilikinya selamanya di sini. Aku tak perlu lagi kesepian. Aku bisa mengajarinya banyak hal di duniaku sendiri, jauh dari rasa sakit dunia nyata.

Tapi, aku melihat kakinya. Kaki kecil yang masih memakai kaos kaki gambar kucing yang kubelikan bulan lalu. Kaki yang seharusnya masih bisa berlari di rumput hijau Taman, kaki yang seharusnya tumbuh besar untuk menggapai semua mimpi yang pernah dia ceritakan padaku. Jika aku membiarkannya menyentuhku, aku bukan lagi seorang ayah. Aku hanyalah iblis egois yang menahan anaknya di penjara abadi hanya karena aku takut sendirian di kegelapan.

"Jangan mendekat, Kinaya! Berhenti di situ!" teriakku, suaraku pecah oleh emosi yang membakar dadaku.

Kinaya berhenti, matanya berkaca-kaca menatapku dengan penuh tanya. "Ayah nggak mau sama Kinaya lagi? Ayah marah karena Kinaya nangis terus?"

"Ayah sayang banget sama Kinaya... lebih dari apa pun yang ada di dunia ini," aku berbisik, mencoba memaksakan senyum terbaikku meski jiwaku terasa sedang dicabik-cabik. "Tapi di sini tempatnya orang dewasa yang mau tidur lama. Kinaya harus balik, Nak. Di rumah ada es krim, ada Ibu yang nungguin. Janji sama Ayah, Kinaya harus jadi anak yang kuat, ya?"

Aku menatap sang Penjaga dengan tatapan menantang sekaligus memohon. "Lakukan. Putus sinyalnya. Hapus aku dari kepalanya. Biarkan dia hidup, meskipun dia takkan pernah tahu siapa yang menyelamatkannya."

Makhluk itu menjulurkan jarinya yang panjang dan runcing ke arah dadaku. Seketika, aku merasakan sensasi yang jauh lebih menyakitkan daripada kecelakaan truk itu. Rasanya seperti ada jutaan kawat berduri yang ditarik paksa menembus jantungku. Setiap fragmen memori mulai beterbangan keluar dari tubuhku dalam bentuk cahaya keemasan yang redup.

Aku melihat memori saat dia pertama kali lahir dan menggenggam jariku... hilang.

Memori saat aku mengajarinya mengucap kata 'Ayah' untuk pertama kali... lenyap.

Memori saat kami makan nasi bungkus berdua di pinggir jalan... terhapus.

Aku berteriak tanpa suara saat bagian dari diriku di dalam kepalanya dicabut sampai ke akar-akarnya.

"AYAAAHHH!" Kinaya menjerit saat tubuhnya tiba-tiba terlempar ke belakang oleh kekuatan gravitasi dimensi yang kembali menariknya. Cahaya putih yang sangat terang menyelimuti dirinya, membutakan penglihatanku.

Di dunia nyata, monitor jantung itu tiba-tiba berbunyi bip pendek yang stabil. Bip... Bip... Bip...

"Ada denyut nadi! Detak jantungnya kembali normal! Mukjizat!" teriak Dokter dengan nada lega yang luar biasa. "Cepat, pasang oksigen tambahan! Dia berhasil kembali!"

Aku tersungkur di lantai aspal yang kini kembali dingin dan kasar. Aku melihat dari balik kaca yang kini sudah menutup sempurna, kembali menjadi dinding pembatas yang kokoh. Kinaya perlahan membuka matanya di dunia nyata. Rina masuk sambil berlari, memeluk anaknya dengan tangisan syukur yang memecah kesunyian bangsal.

"Kinaya... sayang... ini Ibu di sini..." Rina menciumi seluruh wajah anaknya.

Kinaya menatap ibunya dengan pandangan kosong selama beberapa detik, lalu matanya beralih ke arah pintu gudang di ingatannya, lalu ke foto pernikahan di meja samping yang kini tampak seperti gambar orang asing di matanya. Sinyalku sudah putus. Namaku sudah menjadi corrupted data di otaknya.

"Bu..." bisik Kinaya sangat lemah.

"Iya, Nak? Apa sayang? Mau Ayah?" tanya Rina dengan suara gemetar, mengira anaknya bangun karena rindu padaku.

Kinaya mengerutkan keningnya, tampak berusaha keras menggali sesuatu di dalam ingatannya namun hanya menemukan lubang hitam yang hampa. "Ayah... siapa, Bu? Kenapa dada Kinaya ngerasa nyesek banget, tapi Kinaya nggak tahu siapa yang hilang?"

Kalimat itu adalah belati terakhir yang menghujam jantungku. Berhasil. Dia hidup, tapi aku sudah benar-benar menjadi hantu tanpa identitas di dunianya. Dia merasakannya sebagai sebuah rasa kehilangan yang abstrak, sebuah duka tanpa nama.

Aku berdiri di duniaku yang kini benar-benar gelap gulita. Cahaya emas dari jendela RSJ sudah padam total, digantikan oleh bayang-bayang kelabu yang menakutkan. Aku melihat ke arah tanganku; warnanya mulai memudar, menyatu dengan warna kabut Niskala. Tanpa "jangkar" dari ingatan Kinaya, aku sekarang hanyalah anomali yang menunggu waktu untuk benar-benar lenyap.

Aku telah merelakan segalanya demi napasnya. Aku berjalan gontai menjauh dari rumah sakit itu, kembali ke jalanan lumpur hitam yang tak berujung. Namun kini, aku bukan lagi "Ayah". Aku hanyalah sebuah eksistensi tanpa nama yang mengembara di antara bayang-bayang, menjadi penjaga yang dilupakan oleh orang yang paling dicintainya.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!