NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sebetulnya Baskara bukan laki-laki yang pandai bersandiwara tapi kali ini ia memutuskan untuk menjadi lawan main Savira.

“Apa kabar sayang ? Kangen banget aku.”

Tanpa malu Savira memeluk dan mencium pipi Baskara sementara pria itu malah tersenyum sinis, tanpa terlihat kekasihnya.

“Baik.”

“Kamu kenapa ?” Savira menatap Baskara dengan dahi berkerut.

“Tidak apa-apa, cuma lapar.”

Meski sambil tersenyum, Savira bisa merasakan perubahan sikap Baskara yang berbeda dibandingkan saat di telepon tadi.

“Nggak biasanya.” Mata Savira memicing, tidak percaya dengan jawaban yang didengarnya.

“Penting banget membahasnya sekarang ? Aku benar-benar lapar.”

Baskara masuk ke dalam restoran, meninggalkan Savira yang langsung cemberut tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Bahkan saat memesan makanan, Baskara tidak bertanya menu mana yang akan dipesan Savira.

Malu berdebat di depan pelayan, masing-masing memesan makanan dan minuman untuk diri mereka sendiri.

“Bas; kamu kenapa sih ? Waktu di telepon baik-baik saja, kenapa sekarang kayak orang marah ? Aku nggak percaya kalau alasannya cuma lapar.”

“Aku tidak memaksamu harus percaya.”

“Baskara ! Kamu kok begitu ngomongnya ?” gerutu Savira dengan bibir makin mengerucut.

“Kalau tidak mau tambah kesal, berhentilah bertanya. Tunggu sampai perutku kenyang.”

Wajah Savira makin ditekuk. Sambil menggerutu ia pergi ke toilet tanpa bilang pada Baskara.

Seorang pelayan yang melintas tiba-tiba berhenti, mengambil sesuatu dan meletakkannya di atas meja,

“Sepertinya handphone anda terjatuh di bawah kursi, Pak.”

Baskara mengerutkan dahi merasa benda itu bukan miliknya atau Savira.

“Sepertinya….”

Handphone bergetar dan di layar muncul tulisan DANYANG (dalam bahasa Jawa bermakna roh penjaga tempat tertentu).

Namun bukan tulisan itu yang menarik perhatian Baskara melainkan sejumlah pesan masuk yang muncul di layar setelah panggilan berakhir.

Kedua alisnya menaut, terbaca dua kata yang membuat rasa ingin tahunya meronta-ronta : nona SAVIRA. Berarti gawai ini benar milik Savira.

Cukup dua kali mencoba memasukkan password, handphone pun terbuka. Fokus Baskara tertuju pada aplikasi whatsapp dan langsung menyentuh nama paling atas : DANYANG (dalam bahasa Jawa Danyang adalah sebutan untuk roh penjaga tempat tertentu).

Ternyata Danyang adalah sebutan untuk Irfan, pria yang ditemui Savira di parkiran beberapa saat yang lalu. Baskara benar-benar tidak menyangka kalau Savira-lah yang membayar Irfan untuk menyingkirkan Andara.

Tapi bukan soal Irfan yang membuat hati Baskara mendidih melainkah sejumlah nama pria yang cukup sering bertukar pesan dengan Savira.

Secara acak Baskara memilih salah satu nama dan rasanya ingin muntah begitu membaca isi percakapannya.

Merasa tidak ada gunanya lagi bersandiwara di depan Savira, Baskara beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari restoran.

“Bas, mau kemana ?”

Baskara menghempaskan tangan Savira yang memegang lengannya saat mereka berpapasan di depan pintu.

“Kali ini hubungan kita benar-benar berakhir !” tegas Baskara dengan tatapan yang membuat Savira bergidik dan mundur beberapa langkah.

Savira bergeming dengan kedua tangan terkepal, menatap Baskara yang masuk ke dalam lift.

“Nona sepertinya handphone bapak tadi ketinggalan.”

Seorang pelayan menghampiri Savira, menyerahkan gawai yang sempat dilihat-lihat Baskara.

Tubuh Savira langsung panas dingin. Dia langsung paham apa yang membuat Baskara marah besar.

“Shh—iitt !” maki Savira pada dirinya sendiri.

***

Rapat internal baru saja selesai, lebih cepat dari biasanya karena Baskara tidak mengajukan satu pertanyaan pun pada masing-masing kepala divisi padahal Rio sudah menyiapkan beberapa catatan untuk bossnya.

Rio yakin ada masalah besar yang terjadi saat makan siang dengan Savira karena Baskara pulang lebih cepat dan ekspresi wajahnya berubah seratus delapanpuluh derajat.

“Pak Galih minta bapak segera turun ke lobi,” ujar Rio saat keduanya keluar dari ruang rapat.

“Ada masalah apa ?”

“Maaf karena pak Galih tidak bilang apa-apa.”

Baskara menghela nafas, menduga ada masalah dengan Deswita dan kedua anak itu.

“Tolong rapikan laptopku dan bawakan ke apartemen.,” perintah Baskara sebelum keluar dari lift di lantai dasar.

“Maaf Pak tapi pak Galih ingin bertemu saya juga.”

Baskara menautkan kedua alisnya lalu menghampiri Galih yang sudah berdiri dekat pintu masuk sedang berbincang dengan asistennya.

“Selamat sore Pak Bas,” sapa Anir sambil menganggukkan kepala.

“Hhhhmmm.” Baskara mengangguk sekilas lalu beralih pada papanya.

“Lily muntah-muntah dan sempat kejang. Mama sudah membawanya ke rumah sakit dan minta kita ke sana sekarang.”

“Aku…”

“Kamu harus ikut Bas !” potong Galih dengan nada cukup tegas.

“Hanya kamu dan Rio yang tahu bagaimana menemukan…. Hhhmmmm… siapa namanya…”

“Andara Pak,” Rio berinisiatif menjawab.

“Ya Andara.”

“Sudah aku katakan bayi itu bukan anakku.”

“Papa percaya padamu tapi meski seperti itu faktanya, kita tidak bisa membiarkan bayi tidak berdaya itu kenapa-napa.”

Baskara membuang muka sambil menghela nafas.

“Kita pergi sekarang !” Kali ini Galih cukup tegas membuat Baskara tidak punya pilihan selain ikut ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, Rio minta ijin berpisah karena ingin menemui dokter Dita sementara Galih dan Baskara langsung menuju PICU.

Dalam perjalanan, Rio sempat menghubungi dokter Dita, minta waktu bertemu. Untungnya pesan Rio langsung dibalas dan sekarang ia menunggu di dekat ruang bayi.

Kira-kira limabelas menit kemudian, dokter Dita keluar dan melihat Rio.

“Selamat sore dokter.”

“Apakah begini cara orang kaya memperlakukan dokter anak mereka ?” sinis Dita mencibirkan bibirnya.

“Tidak ada yang menyuruh saya menemui dokter.”

“Lalu ?”

Rio tersenyum. “Semuanya inisiatif saya sendiri karena saya yakin kalau Andara masih melakukan kontak dengan dokter.”

“Apa ada hukum yang melarang kami bertemu.”

“Tentu saja tidak ada ! Tapi kita sama-sama tahu kalau hanya Andara yang bisa membantu kesembuhan Lily.”

“Lily deman dan muntah-muntah karena terserang bakteri, tidak ada hubungannya dengan Andara.”

Rio tertawa kecil. “Di luar medis saya yakin kondisi Lily ada hubungannya dengan Andara sebagai ibu susunya.”

“Kalau begitu silakan anda yang jadi dokternya,” jetus Dita.

“Bukan maksud saya menggurui dokter tapi ditinggalkan tiba-tiba oleh ibu susunya, batin Lily pasti merasa kehikangan. Sayangnya dia belum bisa bicara pada orang-orang dewasa di sekitarnya.”

Dita tersenyum sinis.

“Tolong berikan Lily kesempatan untuk bertemu Andara. Saya yakin mereka punya ikatan batin yang cukup kuat.”

“Lily pasti bisa sembuh tanpa harus bertemu Andara.”

“Saya paham.”

“Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

Langkah Dita terhenti karena ditahan oleh Rio. “Apa lagi ?”

“Saya benar-benar mohon pada dokter.” Rio menangkup kedua telapak tangannya

“Lepaskan Andara kalau kalian memang punya hati. Dia berhak hidup bahagia meski hanya seorang gadis kampung di mata mereka,” sahut Dita dengan nada ketus.

“Saya tidak bisa jamin..” Rio tersenyum tanpa bermaksud menyindir. “Saya tidak bisa mengatur pikiran dan meinginan tuan saya.”

Dita berdecih dan tersenyum sinis. “Kalau begitu tidak usah mengharapkan Andara lagi !”

Ruo hanya tersenyum tipis, tidak ngotot memaksa Dita mempertemukan dirinya dengan Andara.

“Saya akan mengawasi anda duapuluh empat jam dan saya yakin Andara akan datang menemui Lily,” gumam Rio pada dirinya sendiri.

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!