NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Gara-gara Baskara, hidup Andara yang tadinya adem ayem mulai berubah jadi seperti benang kusut.

Padahal belum ada kata setuju keluar dari mulut Andara. Hanya gara-gara bibir mereka sudah bertemu, secara sepihak Baskara menganggap Andara sudah pasti menerima tawarannya.

“Besok langsung ajukan pengunduran diri.”

“Kenapa harus buru-buru ?”

“Semester baru tinggal beberapa bulan lagi jadi kamu fokus saja memilih kampus dan jurusan yang kamu mau.”

“Saya mau kuliah di PTN, swasta mahal !”

“Tidak bisa ! Pilih kampus swasta, toh kamu tidak usah pusing soal biaya, aku yang akan menanggung semuanya.”

“Tapi…..”

Baskara mengangkat telapak tangannya. “Aku akan memberi hukuman seperti tadi setiap kali kamu membantah.”

“Mana bisa begitu ? Bapak bukan siapa-siapa saya !” protes Andara sambil melotot

“Mau coba ?” Baskara mendekat sambil tersenyum smirk membuat Andara mundur sambil menutup mulutnya dan menggeleng.

“Anak pintar !” Baskara mengacak rambut Andara sambil terkekeh.

“ANDARA !”

Tepukan di bahu dan panggilan yang cukup keras itu membuat lamunan Andara buyar bahkan ia langsung berdiri dan berbalik badan.

“Ngg… Maaf Pak.”

Wajahnya tersipu melihat Dani sedang berdiri di hadapannya dengan kedua alis menaut.

“Kamu tidak enak badan ?”

Buru-buru Andara menggeleng sambil menggerakkan kedua telapak tangannya.

“Saya baik-baik saja Pak.”

Tubuh Dani condong ke kanan supaya pandangannya bisa melihat ke layar laptop yang sejak tadi dipandangi Andara.

Sebelah alisnya terangkat lalu ekspresinya berubah layaknya orang terkejut..

“Kamu ingin mengundurkan diri ?”

Mata Andara membola dan tubuhnya sempat menegang, lupa kalau sejak tadi ia sedang berselancar mencari contoh surat pengunduran diri.

“Nggg…. Saya….”

“Baskara yang menyuruhmu ? Siapa dia bagimu ?”

Nada bicara Dani meninggi dan wajahnya berubah lagi antara kesal dan tidak suka.

Kepala Andara menunduk, memikirkan jawaban yang tepat karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.

“Jadi apa yang dia katakan waktu di cafe benar ? Dia calon suamimu ? Kamu yakin dia tulus ingin menikahimu ?”

“Pak Baskara belum jadi calon suami,” sahut Andara dengan wajah polos.

Dani menghela nafas. Satu tangannya di pinggang dan satu lagi menyugar rambutnya.

“Lalu itu ?” Dani menunjuk ke arah laptop Andara dengan nada bicara bernada kesal.

“Saya memang sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri sebelum masa percobaan saya berakhir.” Andara memberanikan diri mengangkat kepala dan bertatapan dengan Dani.

Pria itu menautkan kedua alisnya dengan kedua tangan di pinggang.

“Karena pria brengsek itu kan ?”

Kepala Andara menggeleng. “Bukan.”

“Kita bicara di ruanganku.”

Andara mengikuti Dani masuk ke ruang kerja pria itu dan duduk sebelum disuruh.

“Kamu tahu kenapa aku begitu membencinya ?”

“Hanya dari cerita Mbak Dita.”

Dani menarik nafas dalam-dalam, merapatkan tubuhnya sampai menempel dengan meja.

“Aku paham kalau dia sombong karena kaya tapi memanfaatkan Fanny sebagai alat untuk mencapai keinginannya, bagiku sangat tidak manusiawi !”

“Memanfaatkan bagaimana ?”

“Fanny diperlakukan seperti mesin pencetak anak, tidak peduli resiko yang harua dihadapi Fanny karena menderita praklemsia.”

“Sepertinya bapak salah paham. Pak Baskara….”

Melihat tatapan Dani, Andara langsung sadar dan tidak berani melanjutkan kalimatnya.

“Kamu tidak tahu apa-apa,” sinis Dani. “Dia memang pandai memikat perempuan apalagi gadis desa seperti kamu yang masih polos dan lugu.”

Hati Andara mendadak panas, melihat tatapan Dani seperti ejekan padahal Baskara pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.

“Hhhmm…. Ucapan bapak sangat tepat,” sindir Andara dengan bibir tersenyum hingga Dani tidak menyadarinya.

“Jangan mau dibodohi olehnya ! Aku bisa melindungimu dan tidak akan membiarkannya….”

“Terima kasih,” potong Andara. “Maaf saya memotong ucapan bapak tapi keinginan saya untuk mundur dari pekerjaan ini bukan semata-mata karena pak Baskara.”

”Lalu ?”

“Saya sangat berterima kasih atas segala kebaikan bapak dan mbak Dita termasuk melindungi saya dari mas Irfan tapi saya merasa tempat ini bukanlah dunia saya.”

Andara bangkit, membungkukkan badan dengan sopan.

“Saya akan segera menyerahkan surat pengunduran diri.”

Sambil menarik nafas panjang, Dani hanya bisa menatap punggung Andara yang meninggalkan ruangannya.

****

Dahi pria itu berkerut saat menatap layar handphonenya yang menamplikan sejumlah angka saat mengecek saldo rekening bank.

“Jumlahnya masih kurang 100 juta.”

Savira tersenyum sinis. “Sisanya plus duaratus juta aku transfer setelah tugas keduamu beres. Kali ini kamu harus memastikan dia tidak akan pernah bisa kembali lagi !”

“Anda menyuruh saya membunuh Andara ?” Irfan menyipitkan matanya.

“Kalau memang diperlukan !”

“Saya bukan pembunuh bayaran Nona !”

“Jangan munafik ! Apa yang kamu lakukan pada Andara di masa lalu sama saja seperti membunuh masa depannya.”

Irfan malah meraih cangkir kopi panas lalu menyeruputnya pelan-pelan.

“Menyingkirkan dia tidak berarti harus membunuhnya. Buat dia sendiri yang ingin menghilang dan tidak mau bertemu lagi dengan Baskara.”

Tiba-tiba Irfan tertawa membuat Savira mengerutkan dahi.

“Apanya yang lucu ?”

“Anda yang membuat saya tertawa nona Savira.”

“Jangan kurang ajar ! Biar bagaimana kamu mendadak kaya karena aku.”

“Semula saya pikir anda benar-benar mencintai Baskara ternyata anda hanya obsesi.”

“Aku tidak obses pada Baskara !”

“Anda benar-benar gambaran anak manja dari keluarga kaya yang selalu mendapatkan keinginan dengan uang. Perempuan seperti anda tidak menerima penolakan apalagi dikalahkan oleh pesaing sekelas Andara, orang kampung dengan pendidikan rendah.”

“Dia memang tidak pantas bersanding dengan Baskara !” tukas Savira dengan suara meninggi.

“Pantas atau tidaknya bukan anda yang memutuskan !”

Savira menggeram. “Tidak usah bicara Tuhan seolah-olah kamu lebih baik dariku. Tanpa bicara, bau busuk hatimu sudah tercium kemana-mana.”

Bukannya tersinggung Irfan malah kembali tertawa.

“Karena kita sama, anda pasti langsung mengenali baunya.”

“Banyak tingkah ! Kalau kamu merasa keberatan, aku bisa mencari orang lain.”

“Saya bersedia tapi biaya tambahannya tigaratus limapuluh juta.”

“Aku tidak menerima negosiasi !” tolak Savira dengan nada tegas.

Seakan tidak mendengar suara Savira, Irfan mencondongkan tubuhnya supaya bisikan suaranya tidak terdengar dari meja di sekitar mereka.

“Tugas kali ini lebih berat.”

“Aku tidak peduli dan jangan coba-coba menekanku !”

Irfan tersenyum smirk, tatapannya licik dan menyeramkan namun Savira tidak tergoyahkan.

“Saya tahu darimana uang empatratus juta ini berasal dan bukan anda yang ingin menyingkirkan Andara selamanya.”

Mata Savira sempat membola membuat Irfan tertawa sinis.

“Saya yakin uang tambahan seratus limapuluh juta tidak berarti apa-apa untuknya.”

“Tidak ada orang lain….”

“Tidak usah memikirkan kebohongan di depan saya nona Savira ! Hubungi dia dan katakan kalau saya bersedia dengan biaya tambahan.”

“Kamu….. “

Savira mengangkat tangan dengan posisi siap memukul Irfan namun dua orang yang melintas di samping meja membuatnya sadar dan urung mempermalukan dirinya sendiri.

“Saya tunggu kabar balik dari anda nona Savira dan terima kasih untuk traktiran kopinya.”

Irfan pergi duluan dan Savira yang masih duduk hanya bisa menggeram kesal.

1
Fera Susanti
siapa emg yg kerjasama sama Safira??Dita or Dani??
Fera Susanti
makin penasaran
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!